Alam adalah Solusi, Mari Jaga Keanekaragaman Hayati

Sorry, this entry is only available in Indonesian. For the sake of viewer convenience, the content is shown below in the alternative language. You may click the link to switch the active language.

Peringatan Hari Keanekaragaman Hayati Dunia, 22 Mei 2020

“Our Solution are in Nature

Jakarta, Tanggal 22 Mei ditetapkan oleh Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB) sebagai hari Keanekaragaman Hayati Internasional (the International Day for Biological Diversity/IDB) untuk meningkatkan pemahaman dan kesadaran akan keanekaragaman hayati secara global. Tanggal tersebut dipilih sebagai peringatan atas adopsi Convention on Biological Diversity (CBD) tanggal 22 Mei 1992 di Nairobi. Dalam rangka peringatan IDB, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan menyelenggarakan beberapa kegiatan sebagai pekan keanekaragaman hayati pada tanggal 18-22 Mei dengan pilihan sub tema yang dipilih oleh Sekretariat CBD.

Peringatan Hari Keanekaragaman Hayati Internasional memiliki tema yang berbeda setiap tahun. Tahun 2020, tema yang dipilih adalah “Our Solution are in Nature” untuk meningkatkan harapan, solidaritas dan pentingnya bekerja sama dalam setiap tingkatan untuk membangun kehidupan mendatang yang harmonis dengan alam. Selanjutnya sub tema yang diangkat adalah science and knowledge, awareness (conservation and biodiversity, health and food, people and culture), and actions.

Tema tersebut dipilih oleh Sekretariat CBD untuk mengingatkan kembali pentingnya keanekaragaman hayati sebagai solusi atas tantangan pembangunan yang berkelanjutan, ketahanan iklim, ketahanan pangan dan air, energi serta kesehatan manusia yang didukung dengan ketahanan ekonomi.

Keanekaragaman hayati di Indonesia sangat beragam mulai keanekaragaman tumbuhan, satwa, mikroorganisme, termasuk gen yang terkandung di dalamnya, serta keanekaragaman ekosistem, yang kemudian dapat dibagi menjadi 3 level, yaitu: genetik, spesies dan ekosistem. Keanekaragaman hayati merupakan satu kesatuan yang dapat memberikan manfaat kepada manusia baik dari aspek ekonomi, sosial termasuk budaya dan tentunya aspek ekologi dalam wujud mendukung ketahanan pangan, air dan energi.

Indonesia, sebagai salah satu negara Mega-biodiversity Country memiliki keanekaragaman ekosistem mulai dari daratan sampai lautan dengan lebih kurang 90 tipe ekosistem unik. Pada level jenis, Indonesia memiliki lebih dari 30.000 – 40.000 spesies flora tumbuhan berbiji, 1.500 spesies alga, 80.000 spesies tumbuhan berspora berua jamur, 595 spesies lumut kerak, 2.197 spesies paku-pakuan, 8.157 spesies fauna vertebrata dan 1900 spesies kupu-kupu (LIPI, 2014). Sementara pada level genetik, Indonesia masih perlu banyak menggali informasi atas manfaat sumberdaya genetik yang masih belum diketahui. Keanekaragaman hayati juga sangat erat kaitannya dengan kesehatan manusia.

Keragaman hayati di tingkatan ekosistem juga memiliki fungsi menjadi sistem penyangga kehidupan. Kawasan hutan yang masih utuh dan sehat menjamin suplai air bersih, menjaga kesuburan tanah, kesimbangan siklus hidrologi dan iklim mikro, mencegah banjir dan longsor, sehingga lahan pertanian di bawahnya menjadi lebih subur dan produktif. Kawasan hutan yang sehat juga merupakan habitat serangga yang berfungsi sebagai polinator atau penyerbukan bagi komunitas pohon dan tumbuhan lainnya di kawasan pertanian di sekitarnya. Maka, menjaga hutan berarti menjaga keragaman hayati dan keseimbangan hidup antar komponennya dan berkontribusi untuk ketahanan dan kemandirian pangan, ketersediaan air bersih untuk konsumsi dan kesehatan bagi masyarakat secara luas.

Kasus pandemi saat ini, menjadi relevan dibicarakan di peringatan Hari Keanekaragaman Hayati Internasional, karena penyebab penyakit COVID-19 adalah virus SARS CoV2 yang ditengarai moyangnya berasal dari virus Corona yang ada di dalam tubuh kelelawar. Banyak penelitian yang menyebutkan bahwa kelelawar yang dikonsumsi masyarakat di Wuhan menjadi salah satu penyebab kemunculannya. Hipotesis ini mungkin ada benarnya, akan tetapi kemunculan pandemi COVID-19 ini bisa saja merupakan proses yang kompleks (Naipospos, Tri.S.P, 2020).

Walaupun begitu, penyebaran penyakit dari hewan ke manusia tak bisa dianggap enteng. Setidaknya, 80 persen penyakit menular pada manusia bersumber dari hewan, sementara sekitar 75 persen penyakit baru atau penyakit infeksi emerging pada manusia disebabkan oleh mikroba yang berasal dari hewan atau satwa. Sebagai contoh penyebaran flu burung, virus nipah, HIV, sindrom pernapasan akut (SARS), sindrom pernapasan Timur Tengah-koronavirus (MERS-CoV), Ebola ataupun penyakit baru yang bersifat zoonotik lainnya.

Beberapa upaya penghentian penyebaran penyakit baru dengan memusnahkan satwa liar di alam tidak dapat menyelesaikan masalah, akan tetapi dapat menimbulkan masalah baru yaitu menyebabkan ketidakseimbangan alam. Perburuan liar dan mengkonsumsi satwa liar sangat beresiko pada kesehatan manusia. Dengan demikian, keseimbangan ekosistem dengan keanekaragaman hayati tinggi dapat melindungi manusia dari penyakit. Sebaliknya, ekosistem dengan populasi spesies homogen sangat rentan terhadap pandemi.

Hal ini kemudian menarik minat peneliti untuk menemukan vaksin dari virus penyebab pandemi. Saat ini, banyak peneliti di dunia melakukan penelitian vaksin dari berbagai sampel yang bersumber dari hidupan liar (tumbuhan dan satwa liar) dan sumber daya genetik yang terkandung didalam hidupan liar dan alamnya. Situasi ini menunjukkan perhatian serius dari peneliti dunia terutama di negara maju untuk pencarian obat maupun vaksin di negara yang memiliki keanekaragaman hayati tinggi. Kegiatan eksplorasi tersebut dalam dunia sains dikenal sebagai bioprospecting.

Bioprospecting sebagai kegiatan eksplorasi, ekstraksi dan penapisan sumber daya alam hayati untuk pemanfaatan komersial dari sumber daya genetik, spesies dan atau biokimia beserta turunannya (Reid, et. All, 1993) yang bersumber dari spesies liar, dipercaya dapat menjadi jawaban atas pandemi COVID-19 yang terjadi saat ini. Pada umumnya kegiatan tersebut disertai dengan eksplorasi atas pengetahuan tradisional (traditional knowledge). Kondisi tersebut dapat dimanfaatkan oleh berbagai pihak untuk mengambil bagian dalam upaya mencari potensi obat serta sekaligus dapat menjadi potensi ekonomi yang mungkin tersembunyi dalam keanekaragaman hayati Indonesia. Hal ini seharusnya menjadi perhatian bersama.

Salah satu contoh terbaru berkembangnya penelitian yang bersumber pada pemanfaatan sumber daya genetik yaitu inovasi Hand-Sanitizer dan Hand-Soap yang mengandung bahan aktif minyak Gaharu yang ditemukan oleh Asep Hidayat seorang peneliti dari Badan Penelitian, Pengembangan dan Inovasi-KLHK. Dalam minyak gaharu terdapat senyawa Sesquiterpenes serta lebih dari 50 senyawa lainnya yang sangat baik untuk membunuh mikroorganisme (bakteri, jamur dan virus), sehingga diharapkan dapat digunakan sebagai upaya pencegahan penyebaran COVID-19.

Artinya, pemanfaatan potensi keanekaragaman hayati dengan bijak dapat menjadi salah satu solusi dalam upaya mengatasi pandemi seperti yang disebabkan oleh coronavirus. Dengan demikian, keanekaragaman hayati sebagai jawaban atas tantangan pembangunan berkelanjutan dimana manusia merupakan bagian dari alam dan tidak dapat dipisahkan dari alam.

Sekiranya benar bahwa ungkapan yang menyatakan dunia setelah pandemi COVID-19 tidak akan sama seperti sebelumnya. Aspek kesehatan kemudian menjadi hal penting dalam upaya konservasi keanekaragaman hayati. Lebih dari itu, pengambilan kebijakan harus berdasarkan atas pertimbangan sains, memperhatikan traditional knowledge serta melibatkan masyarakat dengan pola kemitraan. Semua pihak harus dapat memastikan pembangunan yang berkelanjutan dengan mempertimbangkan keanekaragaman hayati, pada tiga level, yaitu ekosistem, spesies, dan genetik.

Ke depan, segera diidentifikasi dan diinventarisasi 43 juta hektare kawasan ekosistem esensial di luar kawasan konservasi yang telah ada. Juga akan dibangun sistem connectivity antar kluster meta populasi yang terpisah dengan penetapan 1,4 juta hektare High Conservation Value Forest (HCVF) di wilayah konsesi, High Carbon Area, dan kawasan yang unik seperti cloud forest, karst, hutan kerangas, kawasan riparian, mangrove, padang lamun, atau habitat satwa endemik tertentu yang terisolasi pada pulau-pulau kecil.  Di samping itu, terus dilakukan rehabilitasi kawasan hutan dengan melibatkan masyarakat, dan pemegang izin di wilayah konsensinya.

Pada peringatan hari Keanekaragaman Hayati Internasional tahun 2020 ini, kita mencari jawaban, bantuan dan inspirasi dari alam untuk kehidupan yang lebih baik bagi generasi mendatang, agar semakin selaras dengan mekanisme dan keseimbangan alam.

————————-

References:

Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia. 2014. “Kekinian Keanekaragaman Hayati Indonesia 2014”, Jakarta: LIPI Press.

Naipospos, Tri S.P. 2020.  Inang Alamiah Virus Corona“, dalam artikel Center for Indonesian Veterinary Analytical Studies. http://civas.net/2020/03/20/inang-alamiah-virus-corona/.

Reid, W.V., et. Al. 1993.  Biodiversity Prospecting: Using Genetic Resources for Sustainable Development“, World Resources Institute, Washington, DC; Instituto Nacional de Biodiversidad, Santo Domingo de Heredia, Costa Rica; Rainforest Alliance, New York; African Centre for Technology Studies, Nairobi, Kenya.

TNBBS Berhasil Kembangkan Sistem Pengamatan Harimau

Sorry, this entry is only available in Indonesian. For the sake of viewer convenience, the content is shown below in the alternative language. You may click the link to switch the active language.

Taman Nasional Bukit Barisan Selatan (TNBBS) mencakup total area seluas 330.853,23 ha, terletak di dua provinsi, Provinsi Lampung dan Bengkulu (dengan proporsi luasan terbesar di Provinsi Lampung).

Visi dari TNBBS adalah sebagai habitat pelestarian harimau sumatera, badak sumatera dan gajah sumatera serta perlindungan sistem peyangga kehidupan yang didukung oleh pemberdayaan masyarakat secara berkelanjutan.

TNBBS juga menjadi satu dari tiga taman nasional di Sumatera yang menjadi bagian dari Tropical Rainforest Heritage of Sumatra (TRHS) yang ditetapkan oleh UNESCO karena nilai universal yang luar biasa dari budaya/properti alam yang membutuhkan perlindungan untuk kepentingan seluruh umat manusia.

Pengamatan adalah survei secara berkala terhadap satu objek tertentu untuk melihat dinamika/perubahan yang terjadi terhadap objek tersebut serta untuk memahami kemungkinan faktor-faktor yang menyebabkan perubahan tersebut terjadi. Dalam hal ini obyek yang diamati adalah harimau, satwa-mangsa, dan hutan (deforestasi) di TNBBS.

Secara lebih spesifik sistem pengamatan harimau Sumatra merujuk pada perkembangan pengelolaan pusat data (database) kamera penjebak dengan fokus pada individu harimau.

Kamera penjebak merupakan alat yang sering digunakan di dalam survei pendugaan populasi harimau. Dari survei dengan mempergunakan kamera penjebak maka data dasar yang akan diperoleh adalah berupa gambar/video dari individu harimau serta lokasi dimana individu tersebut tertangkap oleh kamera penjebak.

Data yang terkumpul dari survei dengan mempergunakan kamera penjebak secara berkala selain dapat memberikan informasi populasi (kepadatan) harimau dalam waktu tertentu dapat juga digunakan untuk memonitor apakah individu harimau (setiap individu harimau memiliki keunikan pada pola loreng) yang tertangkap pada survei kamera penjebak pemasangan kamera penjebak sebelumnya masih tertangkap juga pada periode pemasangan berikutnya.

Kamera penjebak juga sering digunakan dalam kegiatan mitigasi konflik satwa liar dengan manusia dengan tujuan untuk memastikan keberadaan harimau di sekitar desa/pemukiman serta kegiatan pengamatan (monitoring) aktivitas manusia dan satwa liar pada area-area tertentu (misalnya pengamatan dampak jalan).

Balai Besar Taman Nasional Bukit Barisan Selatan didukung oleh Proyek Sumatran Tiger dan mitra sejak awal tahun 2017 mulai merapikan data kamera penjebak hasil dari berbagai kegiatan yang menggunakan kamera penjebak.

Perangkat lunak yang dipakai untuk identifikasi individu harimau adalah  ExtractCompare. ExtractCompare merupakan sebuah perangkat lunak yang dikembangkan oleh Conservation Research, Ltd. untuk pengelolaan foto-foto satwa. Perangkat lunak ini dapat mengenali individu satwa berdasarkan pola unik alami yang terlihat pada tubuhnya.

Saat ini, ExtractCompare sudah diaplikasikan untuk berbagai jenis satwa yang memiliki penanda individu pada tubuhnya, seperti harimau, macan tutul, hiu, dan salamander. Perangkat lunak tersebut diintegrasikan dengan Microsoft Access sebagai sistem manajemen data untuk menyimpan informasi foto yang diproses.

Hasil dari proses analisis dari semua data sampai dengan bulan Maret 2019 diperoleh 425 foto harimau dalam pangkalan data ExtractCompare yang terdiri dari 151 foto sisi kiri dan 154 foto sisi kanan (120 foto tidak diekstrak karena merupakan foto dari event yang sama atau foto yang buram).

Data yang telah dimasukkan dalam pangkalan data berasal dari tahun 2010 hingga 2018. Berdasarkan perpustakaan foto tersebut, telah diidentifikasi 106 individu (43 betina, 16 jantan, 47 tidak diketahui jenis kelaminnya). Data juga mencatat terdapat 31 individu harimau (20 betina, 5 jantan) yang memiliki informasi pola loreng lengkap di kedua tubuhnya.

Perlu dicatat bahwa jumlah 106 individu bukanlah merupakan jumlah harimau yang ada di TNBBS saat ini, melainkan jumlah individu yang ada di pangkalan data foto harimau TNBBS. Angka tersebut merupakan total individu yang terekam sejak tahun 2010 dan terdapat kemungkinan bahwa ada harimau mati selama kisaran waktu 2010 hingga 2019. Penambahan data-data yang baru akan lebih memperkuat hasil identifikasi individu harimau ini.

Dari 106 individu harimau yang telah diidentifikasi di TNBBS terlihat bahwa jantan dan betina ditemukan cukup tersebar merata di TNBBS tetapi dengan jumlah individu betina yang lebih banyak dibandingkan dengan yang jantan.

Yang tak kalah menarik, dari data yang tersedia ini juga bisa diperkirakan ruang jelajah harimau walaupun hanya berupa perkiraan kasar (penentuan area jelajah berdasarkan data kamera perangkap bukan merupakan metoda yang ideal dimana disarankan untuk mempergunakan GPS Collar). Diperlukan paling sedikit data 3 lokasi temuan suatu individu harimau untuk memperkirakannya.

Dari hasil analisis data kamera perangkap terlihat harimau jantan memiliki ruang jelajah (rata-rata 3.795 ha) yang lebih luas daripada harimau betina (rata-rata 787 ha). Harimau bersifat teritorial (dan dengan daerah jelajah yang lebih luas, kurang lebih pernah tercatat di Sumatera seluas 23.600 hektar) dengan rata-rata ruang teritori jantan seluas 1.500 – 2.000 hektar. Harimau betina biasanya memiliki teritori yang lebih kecil. Luasan area jelajah dan teritori sangat tergantung pada kondisi lingkungan, sumber pakan, jenis kelamin, dan kelas umur.

Dari hasil sementara ini, dengan luas area jelajah yang hampir sama atau lebih kecil dari luasan teritori (sumber data luasan teritori dari referensi) kemungkinan menunjukkan potensi satwa mangsa yang masih baik untuk mempertahankan populasi harimau di TNBBS. Hasil dari survei populasi harimau pada tahun 2015 menunjukkan bahwa area survei (IPZ-Intensive Protection Zone TNBBS) memiliki potensi satwa mangsa yang masih banyak (Pusparini dkk. 2018).

Ketersediaan sistem pengamatan harimau sangat penting guna memastikan sistem perlindungan terhadap harimau Sumatra dilakukan berdasarkan data dan informasi yang tepat. Yang diperlukan adalah memastikan keberlanjutan sistem pengamatan harimau yang telah dibangun dan peningkatan kapasitas staf taman nasional yang telah dilakukan.

@SumatranTigerID

 

Conservation Rhymes for Sumatran Tiger

“Orang Pitalah ladangnya luas. Berangkatnya pagi pulangnya senja. Harimau adalah binatang buas. Bisa menerkam kapan saja.

Sungai Limau ramainya Minggu. Ramai datang dari Sungai Sirah. Sepanjang harimau tidak terganggu. Maka dia tidak akan marah.

Ada tai lalat tumbuh di dagu.
Tidak hilang dimakan usia.
Kalau habitat harimau terganggu. Bisa mengancam kehidupan manusia.

Tangkap di muara si ikan bada. Ke pinggir pantai perahu berlayar. Harimau Sumatera masih ada. Walaupun ada perburuan liar.

Bila kerbau mandi di hulu.
Mandi berendam di antara batu. Eksistensi harimau ada sejak dahulu. Orang minang paham dengan itu.

Gunung Talamau berbatang sungkai. Burung murai memakan ulat.
Nama harimau terkadang dipakai. Dalam perguruan-perguruan silat.

Berdayung sampan orang Palinggam. Sampai ke pulau baru berhenti.
Ada harimau Pasaman ada harimau Agam. Ada harimau Pasisia dan harimau Panti.

Rasanya kanji tidaklah berbeda.
Semuanya enak untuk dimakan.
Harimau Kuranji juga ada.
Penamaan untuk mempertahankan kemerdekaan.

Pergi ke dangau di hari pagi. Nampak menjulai sidaun sagu. Eksistensi harimau dijunjung tinggi. “Inyiak” itu tidak diganggu.

Kunang-kunang di pohon enau. Pohon enau tumbuhnya rapat. Orang Minang sahabat harimau. Itu filosofi yang kita dapat.

Batang lampasi batang antokan. Di kiri kanan hutannya lebat. Upaya konservasi sudah dilakukan. Banyak pihak yang terlibat.

Dijual cepat dijual murah.
Tidak akan dapat kalau terlambat. Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah. Swasta dan LSM ikut terlibat.

Daun beringin menyentuh tanah. Tempat bermain si murai batu. Kita tidak ingin harimau punah. Seiring dengan perjalanan waktu.

Kayu jati kayunya kuat.
Kayu jati tidaklah murah. Rencana aksi harus dibuat. Perburuan liar harus dicegah.

Tabuik Pariaman di akhir pekan. Ada yang datang dengan taksi. Buku pedoman segera terbitkan. Terus adakan sosialisasi.

Patah di patah si batang rotan.
Ujung ke ujung tolong ditahan.
Harus dicegah kebakaran hutan. Jangan sembarangan membuka lahan.

Ada lobang awas kesandung. Kalau melangkah janganlah ragu. Jangan ditebang hutan lindung. Inyiak balang bisa terganggu.

Pohon limau berduri-duri.
Tapi manis rasa buahnya. Semoga harimau tetap lestari. Lestari juga tempat tinggalnya.

Fungsi hutan jangan dialih.
Nanti Inyiak Balang bisa gaduh.
Cukup sekian dan terima kasih. Wassalamualaikum Warrahmatullahi Wabarakatuh.”

Those beautiful rhymes were delivered by Governor of West Sumatra Prof. Dr. H. Irwan Prayitno, S.Psi, M.Sc when opening West Sumatra Region Tiger Sumatran Tiger Conservation Strategy and Action Plan (SRAK) Public Consultation in Padang, between 18-19 September 2019. This Public Consultation was also attended by Director of KKH, Governor of West Sumatra, Head of Forestry Service West Sumatra, and Head of West Sumatra KSDA.

Irwan Prayitno opened the event by saying “Welcome to Ranah Minang,” The Land of Tiger “. In his speech Irwan stated, disruption of balance of living systems could bring unexpected impacts. For example, when tiger attacked human, this conflict is actually triggered by environmental damage.

Tiger and other animals have basic instinct in their lives. Animal will not interfere human space when the balance of ecosystem is maintained. Based on tiger instinct, human is not their prey. So if tigers attack human, there must be something that disturbs their life balance.

Practically speaking, tigers are actually men’s friends in their environment. Irwan recalled his experience when he and his team conducted a survey in Alahan Panjang – Sungai Baru road construction plan, tiger emerged as savior that guided the team out of the forest.

In other places, the absence of top predators – that balance the ecosystem – has resulted uncontrollable and widespread prey animal populations that in turns triggers disease outbreaks. Today farmers often complain that their gardens have been destroyed by wild boar. Human efforts to limit the population of wild boars did not succeed. This is a sign that human efforts in maintaining balance of nature has also failed.

Irwan added, from a spiritual standpoint, humans act as caliphs who protect nature. If humans do not succeed in carrying out their role, the environment will be damaged and it has an impact on humans.

Minang people really appreciate tigers, this is manifested, among others, using the tiger as the name of the martial arts institution and its moves. Tigers are also often called by the name of Inyek. The same call is used for elderly people, or respected people (officials, elders).

Tiger as a symbol in various forms of culture. This means that the tiger becomes something that is liked or close to the community, and not a hostile creature.

Conservation must be a part of behavior. Because if a tiger has been disturbed, it needs more effort to overcome it. “This action plan is an important document, but it is far more important how the plan is implemented. This requires commitment from the person in charge and the parties,” said Irwan.

West Sumatra, according to Irwan, has already proven its commitment to environmental preservation and is realized with real policies taken by the West Sumatra Regional Government.

Director of Biodiversity Conservation, Drh. Indra Explotasia, M.Sc, in her remarks conveyed that the last period of SRAK had ended in 2017. “We are still in the process of completing the renewal of SRAK, so it is certain that the next SRAK will start in 2019,” he said.

According to Indra, Indonesia is currently conducting a Sumatra Wide Tiger Survey to update the status of latest tiger distribution. “The Sumatran tiger is one of the icons of pride in Sumatra. It should become one of the considerations in regional planning, along with other Sumatran iconic species,” Indra said.

For this reason, “It is necessary to harmonize development efforts with actions to protect biodiversity in Sumatra which are actively developing. SRAK is a joint document, so that a sense of belonging is needed from each local government,” Indra said.

@SumatranTigerID

BB KSDA North Sumatra and BB TNGL Join Hand in Tiger Occupancy Survey Training

North Sumatra Natural Resource Conservation Center and Gunung Leuser National Park carrying out training activities on Sumatran tiger occupancy surveys, supported by Sumatran Tiger Project. This activity was held for 7 days between 1-7 July 2019 at Rudang Hotel Berastagi and Siranggas Wildlife Reserve, Pakpak Bharat attended by total of 39 participants.

Head of Gunung Leuser National Park (BBTNGL), Ir. Jefry Susyafrianto, MM, in his direction during the opening of Sumatran tiger occupancy survey training activity, instructed that all participants could follow this activity seriously, including for field practice. “The team that is currently being trained will become core team in occupancy survey activities of Sumatran tigers in region of North Sumatra,” he said.

This activity will be fully implemented by North Sumatra KSDA Team and Sumatran Tiger Project PIU supported by technical resource persons from Forum HarimauKita, SINTAS Indonesia Foundation and WCS-IP.

Collaboration between FHK and several partner institutions has resulted occupancy survey guide that will be used in 2018 Sumatra Wide Tiger Survey (SWTS), database management at field.

The occupancy survey guide needs to be socialized to field survey members from each partner organization involved in SWTS thus joint training is needed for field survey team. Given large number of survey team members, this training applied Training of Trainer (ToT) concept. Participants sent to this training will become field team leaders.

Field team leaders are expected to apply standard methods at field and understand scientific principles in SWTS survey properly and be able to provide appropriate direction to each team member. This training could also used as forum for exchanging experiences between field team members from each organization.

@SumatranTigerID

Coordination to Handle Human and Wildlife Conflict

Sumatran Tiger Project, supported coordination meeting on Tuesday, June 18, 2019, to handle human wildlife conflict at BKSDA (Center for Natural Resources Conservation) office, North Sumatra. This coordination meeting is also an effort to respond to current trend of increasing human and wildlife conflicts in the area.

In a meeting chaired by Head of North Sumatra’s BBKSDA, Regent of Padang Lawas, Ali Sutan and people of Padang Lawas Regency, offered supports to overcome human and wildlife conflicts. Communities in Padang Lawas realized Sumatran Tiger is protected animals and needed government support to save these endangered species.

Responding to human and tiger conflict, Padang Lawas District Government has extended Social Emergency Decree until 27 June 2019, which was a follow-up to the parties’ meeting on 14 June 2019 in Sibuhuan.

In this meeting, Governor of North Sumatra gave instruction to not to shoot / kill Sumatran Tiger in Padang Lawas. The meeting also discussed development of Desa Mandiri Konflik or Conflict Resilient Village and alternative economy for people in conflict-affected areas. This year there is no expansion for plantation in North Sumatra Province. Community economic empowerment will involve plantation companies through CSR mechanisms or corporate social responsibility.

The parties participating in this meeting also agreed to immediately revise the North Sumatra Governor’s Decree regarding the Coordination Team and the Task Force on Controlling of Wild Animal Conflict in North Sumatra Province. This revision must include National Disaster Management Agency and financing using available CSR and Local Government Funds.

Short-term solution to human and wildlife conflict, stakeholders agreed to carry out several activities:

1. Building tiger proof enclosures in conflict-prone areas.

2. Developing Conflict Resilient Villages: forming task force teams, Community training, initiate village funds for conflict mitigation team. WCS is willing to help initiate and provide training in developing Conflict Resilient Village in conflict-prone areas, with assistants from North Sumatra Regency and BBKSDA.

3. Encouraging companies to implement their responsibility stated in their RKL (Environmental Management Plan) and RPL (Environmental Monitoring Plan).

4. Strengthening local wisdom that supports conservation of wildlife habitat in Padang Lawas, for example by providing prey for tigers and using barbed wire fences.

In long term, funding from Sumatran Tiger Project (GEF-UNDP) and other non-binding sources will be used to support Governor’s Decree revision regarding conflict prevention team.

Coordination meeting which was also attended by Director of KKH, Indra Exploitasia also agreed to establish the Padang Lawas Tiger Conflict Task Force Team, under Padang Lawas Regent’s Decree. Padang Lawas Regent and BPBD (Regional Disaster Management Agency) will act as board of trustee and Head of the North Sumatra KSDA Office will become daily chief executive.

@SumatranTigerID

 

First Public Consultation for SRAK 2019-2029

Jambi, May 2, 2019 – Sumatran tigers are increasingly threatened, both by hunting and habitat loss due to the conversion of forest areas into plantations, settlements and other development activities. One of the impacts was increasingly numbers of conflict between humans and tigers which in general tigers were killed by being killed or excluded from their habitat.

Efforts to conserve Sumatran tigers have achieved a lot of progress since the formulation of the 2007-2017 Sumatran Tiger Conservation Action Plan (SRAK HARIMAU) Strategy involving various stakeholders. Various conservation actions have been implemented by Government of the Republic of Indonesia, regional governments, non-governmental organizations (NGOs), universities, the private sector and the community. SRAK HARIMAU 2007 – 2017 has ended and the new SRAK draft (2019–2029) has been prepared jointly with various parties.

Director of Biodiversity Conservation, Ministry of Environment and Forestry (KLHK), Indra Exploitasia said, “The government gives full attention to the conservation of endemic species in Indonesia. Therefore, the Ministry of Environment and Forestry which has the authority to protect wild animals will continue to improve coordination with relevant sectors and important partners such as regional government. This aims to protect both the animals and their habitat. Around 61.34% Sumatran Tiger’s habitat and cruising areas are outside the conservation areas which are under the authority of the regional government and private sectors. ”

“Therefore, in an effort to conserve Sumatran tigers and other animals, we will support local government to continue protection and preservation of biodiversity.”

Governor of Jambi through Governor’s Expert Staff for Community and Human Resources, Drs. H. Ahmad Bastari, M.Pd expressed his support for Sumatran tiger conservation in conducting public consultations at BW Luxury Hotel, Jambi on Thursday (02/05/2019).

“Tigers are charismatic animals, they have several dimensions, including ecology, culture and economy that are not separate and complementary. These relationship are very close to humans, if one extinction in ecosystem will adversely affect human survival in future. I am very supportive of Sumatran tiger conservation efforts and I hope that Strategy and Action Plan for Sumatran Tiger Conservation 2019-2029 is also supported by all parties as Sumatran tiger conservation efforts, “Ahmad explained.

Head of the Jambi Natural Resources Conservation Agency (BKSDA), Rahmad Saleh stated that the 2019-2029 SRAK needs to be resolved immediately. “Jambi has 4 areas inhabited by Sumatran tigers. SRAK HARIMAU 2019-2029 needs to be resolved immediately because threat to tigers is getting higher. ”

In its implementation, Directorate General of Natural Resources and Ecosystem Conservation (KSDAE) collaborates with various parties such as the cross-ministerial central government, local governments, NGOs, academics, the private sector and the wider community in ensuring that these work programs are implemented.

Chairperson of HarimauKita Forum (FHK) Munawar Kholis stated that, SRAK HARIMAU 2007-2017 had ended, since the new SRAK document had been prepared since 2018. The draft SRAK HARIMAU 2019-2029 has now being formulated simultaneously with other parties.

This tiger conservation needs to be run with innovation and also really pay attention to various aspects that intersect with the community. Public consultation is needed to ensure synergies with stakeholders, so that it can also refine the strategy for the next 10 years. “The big goal of conservation is a sustainable Sumatran tiger, a prosperous society and that is becoming part of the success of Indonesia’s development,” explained Kholis.

———

Media Contact (contact):

Dit. KKH: Ir. Puja Utama, M.Sc (+62 812-7963-755)
Balai KSDA Jambi (Humas): M. Ali Imron (+62 852-6648-4401)
Chairperson of the HarimauKita Forum: Munawar Kholis (+62 811-1101-281)

Sumatra Wide Tiger Survey 2018-2019 Begins

Jakarta, March 13, 2019 – The Indonesian government through the Ministry of Environment and Forestry (KLHK) has targeted number of Sumatran tigers to be doubled by 2022 – a target set out in National Tiger Recovery Program (NTRP) 2010-2022. Ministry of Environment and Forestry together with its partners conduct periodic and systematic monitoring through the activities of the Sumatra Wide Tiger Survey (SWTS) to monitor the effectiveness of Sumatran tiger conservation efforts in order to achieve this target.

The first SWTS held between 2007 and 2009 revealed that 72% of the survey area was still inhabited by Sumatran tigers. According to many experts, this condition perceived to be good. The first SWTS had also been the main reference in the preparation of several strategic Sumatran tiger conservation documents, both on a national and international scale. After approximately 10 years, KLHK and its partners are implementing the second SWTS. The second SWTS activity was carried out to evaluate the effectiveness of Sumatran tiger conservation efforts that have been running for the past 10 years.

The Director General of KSDAE, Wiratno, gave a direction read by the Director of Essential Ecosystem Management, Tandya Tjahjana, at the launch of the survey at Menara Peninsula Hotel, March 13, 2019. “The Ministry of LHK continues to commit and establish good cooperation with relevant parties to promote in-situ Sumatran tiger conservation. Conservation programs had also developed in the past 10 years. I hope, with implementation of this second SWTS activity, the support and active participation of parties towards preserving Sumatran tigers and other wildlife will increase and can be synergized with regional development policies in the region, “he said.

Director of Biodiversity Conservation, Indra Exploitasia stated that the second SWTS activity was important to be carried out considering the increasing threat to preservation of Sumatran tigers in nature. “In addition to information regarding the distribution of Sumatran tigers, the output expected from the second STWS activity is population condition data and distribution of prey, disease and genetic animals in all Sumatran tiger habitat, so that it can map the gap in conservation activities that have been carried out,” she said.

Furthermore, all data, information and studies taken from SWTS activities will be collected in the database of Directorate General of KSDAE and subsequently become a reference for conservation policies not only for Sumatran tigers but also for rhinos, orangutans, elephants and other wildlife on the island of Sumatra.

Hariyo T. Wibisono, Executive Coordinator of SWTS stated, “SWTS 2018-2019 is the largest wildlife survey activity in the world, both in terms of partnerships, human resources involved, and area coverage. A total of 74 survey teams (354 team members) from 30 institutions were deployed to carry out surveys in 23 tiger distribution areas covering 12.9 million hectares, including 6.4 million hectares covered in the first SWTS. “15 technical implementation units (UPT) KLHK, more than 10 KPHs, 21 national and international NGOs, two universities, two companies, and 13 donor institutions have joined to support SWTS activities.” he said.

Prof. Dr. Gono Semiadi from LIPI, explained that there were several things will be produced from this second SWTS. “We hope to be able to find the proportion of areas that are living areas of tigers, information about population genetic diversity in each habitat, increasing national technical capacity, and some tiger conservation strategy documents such as those produced by SWTS first.”

This survey not only involves the government but also all stakeholders in efforts to save tigers. “The 2007-2009 survey was the first largest survey of tigers in the world. With successful collaboration in the past, we are confident that now we can repeat success through good collaboration across organizations. This multi-stakeholder involvement is a step forward in building a comprehensive conservation design at central government and regional government level, “said Munawar Kholis, Chair of the Forum HarimauKita (FHK).

– ## –

Media Contact (contact):

KKH, KLHK: Desy S. Chandradewi (+62 812-9542-679)
SWTS Executive Coordinator: Hariyo T. Wibisono (+62 812-1099-557)
Chairperson of the HarimauKita Forum: Munawar Kholis (+62 811-1101-281)

Upaya Mengajak Masyarakat untuk Mandiri Menangkal Konflik Manusia dengan Satwa Liar

Sorry, this entry is only available in Indonesian. For the sake of viewer convenience, the content is shown below in the alternative language. You may click the link to switch the active language.

Kebijakan tidak mengenal konflik di kawasan hutan. Istilah konflik dalam sebuah kebijakan hanya berlaku bagi konflik yang terjadi di luar kawasan hutan. Logikanya, kawasan hutan memang rumah bagi satwa liar. Lantas, bagaimana dengan kawasan hutan yang dihuni manusia?

Mendung menggantung di langit Desa Margomulyo, Semaka, Tanggamus, Lampung. Dalam cuaca yang redup itu, satuan tugas mandiri konflik satwa liar berkumpul di gardu kecil di tepi jalan. Mereka duduk berdesakan. Penyuluh taman nasional, Riyanto, terpojok di sudut gardu. Ia mengingatkan satgas atas kerawanan desa karena berada tepat di batas Taman Nasional Bukit Barisan Selatan.

“Margomulyo dekat letaknya dengan taman nasional, sehingga satwa liar sering datang. Dampaknya, sering terjadi konflik satwa liar: harimau, gajah, dan beruang. Karena hutan adalah rumahnya satwa, konflik bisa terjadi kapan saja,” terang Riyanto.

Entah sudah berapa kali Riyanto mengingatkan warga untuk waspada. “Taman nasional tidak bosan-bosan mengingatkan untuk menjaga aset ternak dan tanaman kebun dari serangan satwa,” lanjutnya. “Saat ada konflik, WCS (Wildlife Conservation Society) juga membekali mitigasi secara intensif dan menyemangati masyarakat.”

Catatan yang diterbitkan oleh Tim Projek Sumatran Tiger menyebutkan bahwa konflik antara manusia dan harimau secara garis besar terbagi menjadi empat jenis konflik. Pertama adalah harimau liar, terjadi ketika harimau ditemukan berkeliaran di sekitar permukiman atau desa sehingga menyebarkan ketakutan. Namun, tidak ada korban, baik itu manusia atau harimau.

Kedua adalah serangan harimau terhadap ternak. Ternak yang dipelihara warga, seperti sapi, kambing, dan ayam adalah sasaran empuk bagi harimau. Ketiga adalah serangan terhadap manusia, yaitu ketika harimau menyerang manusia sehingga mengakibatkan luka atau jatuh korban. Yang terakhir, pembunuhan harimau oleh manusia dengan menggunakan racun, jerat, senjata, dan peralatan lainnya.

Riyanto menegaskan bahwa konflik telah menjadi fakta hidup. “Hanya ada dua pilihan, masyarakat pindah atau harimau dihabiskan. Sederhananya begitu, tapi itu tidak mungkin,” paparnya. Ia sebenarnya sedang menggugah semangat satgas.

“Ya, tidak mungkin masyarakat pindah,” timpal Lasino, kepala satgas. Lasino juga berperan sebagai Ketua Rukun Tetangga 6 yang wilayahnya berbatasan langsung dengan taman nasional. “Interaksi dengan kawasan taman nasional dan satwa liar bukanlah suatu hal yang baru di Margomulyo. Taman nasional itu tetangga sehingga kami saling menjaga.”

Di sekitar taman nasional, ada dua desa mandiri konflik, yaitu Margomulyo dan Pesanguan. “Melihat tantangan selama ini, seperti pola konflik, terbatasnya sumber daya manusia, lokasi yang jauh dan terpencil, kita akhirnya menggagas masyarakat yang menangani konflik secara mandiri,” papar Tabah, anggota Wildlife Response Unit WCS. “Selama ini, kita hanya menjadi ‘pemadam kebakaran’. Menangani konflik setelah terjadi dan sudah jatuh korban ternak.”

Salah satu bentuk pencegahan adalah kandang ternak antipemangsaan untuk melindungi kambing dari serangan harimau dan beruang. Kambing merupakan tabungan warga untuk memenuhi kebutuhan mendadak, yang tidak bisa dipenuhi dari pendapatan musiman. Upaya serupa juga dilakukan di permukiman sekitar kawasan hutan yang berdampingan dengan taman nasional.

Selain memulai upaya mitigasi konflik di desa-desa, penanganan konflik juga membutuhkan komunikasi berkelanjutan dengan para pihak di lanskap harimau. “Kita membangun kultur kerja duduk bersama dengan banyak pihak untuk membangun pemahaman kolektif,” ungkap Direktur Jenderal Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem, Wiratno.

Hal itu mendorong Direktorat Jenderal menghidupkan call center 24 jam sehingga masyarakat bisa melaporkan adanya konflik secepatnya. “Di zaman sekarang, tidak ada lagi pembatas komunikasi untuk bekerja sama,” tutur Wiratno sambil memperlihatkan aplikasi percakapan daring yang ada di layar gawai.

Salah satu wujudnya, Direktorat Jenderal mendorong tim penanganan konflik multipihak dengan koordinasi di bawah pemerintah Provinsi Lampung. “Pelaku konservasi harimau relatif banyak dan tergabung dalam forum yang aktif berdiskusi dengan pemerintah. Tidak hanya di kawasan konservasi, tetapi juga perusahaan perkebunan maupun hutan produksi,” tutur Wiratno.

Konsepnya, masyarakat hidup berdampingan dengan satwa liar. “Itu biasanya didahului dengan adanya kearifan lokal. Itu yang harus direvitalisasi menjadi bagian dari fondasi pengelolaan satwa liar. Modal budaya termasuk dalam proses untuk menyambungkan hubungan yang terputus antara satwa liar dan manusia akibat dari perubahan pemanfaatan lahan.”

Sumber: Nationalgeographic.co.id

 

History of World Tiger Day

International Tiger Day is celebrated on July 29 with an aim of increasing awareness towards the conservation of tigers worldwide. This day was first started and celebrated in 2010 at the Saint Petersburg Tiger Summit and was conceptualized when experts realized that tigers were very close to extinction. Many animal welfare organizations came forward to pledge the protection of these beautiful creatures by helping to raise funds. The main goal of Tiger Day is to make sure that the protection and expansion of wild tiger habitats is promoted well. And this can happen only with the right awareness for tiger conservation.

Some of the main reasons that led to the dwindling number of tigers are climate change, poaching and urbanization (in Indonesia’s context adds deforestation).

Urbanization – and deforestation – lead to forests shrinking and prey becoming scarce for tigers. This makes the tigers hunt in nearby villages for domestic livestock and in retaliation by humans the tigers are killed. The other main reason climate change also has a big contribution towards the decrease in tigers. Rising sea levels threaten the existence of forests and their wildlife habitats including tigers. Some reports go to the extent of claiming that tigers will become extinct in another 15 years.

Source: World Tiger Day