Terus Bersinergi Tangani Konflik Satwa Liar

Sorry, this entry is only available in Indonesian. For the sake of viewer convenience, the content is shown below in the alternative language. You may click the link to switch the active language.

Pelepasliaran Danau Putra dan Penanganan Konflik Manusia dan Harimau di Taman Nasional Gunung Leuser.
Danau Putra namanya. Danau Putra adalah individu harimau berjenis kelamin jantan, berusia 1-1,5 tahun dengan berat badan mencapai 45–50 Kg. Harimau ini sebelumnya dilaporkan masyarakat pada 22 Januari 2021 dalam kondisi lemah dan terluka akibat terkena jerat yang dipasang oleh orang yang tidak bertanggung jawab.
Jerat ini berupa sling kawat yang mengenai kaki depan sebelah kanan yang mengakibatkan luka yang cukup dalam saat Danau Putra mencoba berusaha melepaskan jerat yang melilit kakinya.
Pada 23 Januari 2021, tim BKSDA Aceh yang terdiri dari tim medis balai dan Resor Wilayah 14 Aceh Tenggara- SKW II Subulussalam bersama BBTNGL, didukung pihak kepolisian, TNI dan aparat desa terkait berhasil melakukan upaya penyelamatan harimau Sumatra tersebut.
Sabtu pagi (30/1), tim gabungan yang terdiri dari Balai Besar Taman Nasional Gunung Leuser (BBTNGL), Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Aceh, Camat Darul Hasanah, Kapolsek Darul Hasanah, Danpos Koramil Darul Hasanah, Kepala Desa Gulo bersama dengan mitra WCS-IP (Wildlife Conservation Society-Indonesia Program), FKL (Forum Konservasi Leuser) dan Sumatran Tiger Project melakukan pelepasliaran Danau Putra kembali ke habitat alaminya.
Sebelumnya Proyek Sumatran Tiger juga telah bekerja sama dengan Tim BBTNGL SPTN Wilayah-V Bahorok dan Tim BBKSDASU Seksi Wilayah-II Stabat terkait penghalauan harimau Sumatera kembali ke dalam kawasan TNGL dari tanggal 19-26 Januari 2021. Kekuatan tim yang terlibat masing-masing dari BBTNGL 5 orang dan BBKSDASU 5 orang. Tim tersebut juga dibantu oleh tim mitigasi konflik HS dari WRU/WCS-IP & Yayasan Hutan untuk Anak (YHUA), serta masyarakat setempat.
Foto-foto: Tim Balai Besar Taman Nasional Gunung Leuser
@SumatranTigerID

Alam adalah Solusi, Mari Jaga Keanekaragaman Hayati

Sorry, this entry is only available in Indonesian. For the sake of viewer convenience, the content is shown below in the alternative language. You may click the link to switch the active language.

Peringatan Hari Keanekaragaman Hayati Dunia, 22 Mei 2020

“Our Solution are in Nature

Jakarta, Tanggal 22 Mei ditetapkan oleh Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB) sebagai hari Keanekaragaman Hayati Internasional (the International Day for Biological Diversity/IDB) untuk meningkatkan pemahaman dan kesadaran akan keanekaragaman hayati secara global. Tanggal tersebut dipilih sebagai peringatan atas adopsi Convention on Biological Diversity (CBD) tanggal 22 Mei 1992 di Nairobi. Dalam rangka peringatan IDB, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan menyelenggarakan beberapa kegiatan sebagai pekan keanekaragaman hayati pada tanggal 18-22 Mei dengan pilihan sub tema yang dipilih oleh Sekretariat CBD.

Peringatan Hari Keanekaragaman Hayati Internasional memiliki tema yang berbeda setiap tahun. Tahun 2020, tema yang dipilih adalah “Our Solution are in Nature” untuk meningkatkan harapan, solidaritas dan pentingnya bekerja sama dalam setiap tingkatan untuk membangun kehidupan mendatang yang harmonis dengan alam. Selanjutnya sub tema yang diangkat adalah science and knowledge, awareness (conservation and biodiversity, health and food, people and culture), and actions.

Tema tersebut dipilih oleh Sekretariat CBD untuk mengingatkan kembali pentingnya keanekaragaman hayati sebagai solusi atas tantangan pembangunan yang berkelanjutan, ketahanan iklim, ketahanan pangan dan air, energi serta kesehatan manusia yang didukung dengan ketahanan ekonomi.

Keanekaragaman hayati di Indonesia sangat beragam mulai keanekaragaman tumbuhan, satwa, mikroorganisme, termasuk gen yang terkandung di dalamnya, serta keanekaragaman ekosistem, yang kemudian dapat dibagi menjadi 3 level, yaitu: genetik, spesies dan ekosistem. Keanekaragaman hayati merupakan satu kesatuan yang dapat memberikan manfaat kepada manusia baik dari aspek ekonomi, sosial termasuk budaya dan tentunya aspek ekologi dalam wujud mendukung ketahanan pangan, air dan energi.

Indonesia, sebagai salah satu negara Mega-biodiversity Country memiliki keanekaragaman ekosistem mulai dari daratan sampai lautan dengan lebih kurang 90 tipe ekosistem unik. Pada level jenis, Indonesia memiliki lebih dari 30.000 – 40.000 spesies flora tumbuhan berbiji, 1.500 spesies alga, 80.000 spesies tumbuhan berspora berua jamur, 595 spesies lumut kerak, 2.197 spesies paku-pakuan, 8.157 spesies fauna vertebrata dan 1900 spesies kupu-kupu (LIPI, 2014). Sementara pada level genetik, Indonesia masih perlu banyak menggali informasi atas manfaat sumberdaya genetik yang masih belum diketahui. Keanekaragaman hayati juga sangat erat kaitannya dengan kesehatan manusia.

Keragaman hayati di tingkatan ekosistem juga memiliki fungsi menjadi sistem penyangga kehidupan. Kawasan hutan yang masih utuh dan sehat menjamin suplai air bersih, menjaga kesuburan tanah, kesimbangan siklus hidrologi dan iklim mikro, mencegah banjir dan longsor, sehingga lahan pertanian di bawahnya menjadi lebih subur dan produktif. Kawasan hutan yang sehat juga merupakan habitat serangga yang berfungsi sebagai polinator atau penyerbukan bagi komunitas pohon dan tumbuhan lainnya di kawasan pertanian di sekitarnya. Maka, menjaga hutan berarti menjaga keragaman hayati dan keseimbangan hidup antar komponennya dan berkontribusi untuk ketahanan dan kemandirian pangan, ketersediaan air bersih untuk konsumsi dan kesehatan bagi masyarakat secara luas.

Kasus pandemi saat ini, menjadi relevan dibicarakan di peringatan Hari Keanekaragaman Hayati Internasional, karena penyebab penyakit COVID-19 adalah virus SARS CoV2 yang ditengarai moyangnya berasal dari virus Corona yang ada di dalam tubuh kelelawar. Banyak penelitian yang menyebutkan bahwa kelelawar yang dikonsumsi masyarakat di Wuhan menjadi salah satu penyebab kemunculannya. Hipotesis ini mungkin ada benarnya, akan tetapi kemunculan pandemi COVID-19 ini bisa saja merupakan proses yang kompleks (Naipospos, Tri.S.P, 2020).

Walaupun begitu, penyebaran penyakit dari hewan ke manusia tak bisa dianggap enteng. Setidaknya, 80 persen penyakit menular pada manusia bersumber dari hewan, sementara sekitar 75 persen penyakit baru atau penyakit infeksi emerging pada manusia disebabkan oleh mikroba yang berasal dari hewan atau satwa. Sebagai contoh penyebaran flu burung, virus nipah, HIV, sindrom pernapasan akut (SARS), sindrom pernapasan Timur Tengah-koronavirus (MERS-CoV), Ebola ataupun penyakit baru yang bersifat zoonotik lainnya.

Beberapa upaya penghentian penyebaran penyakit baru dengan memusnahkan satwa liar di alam tidak dapat menyelesaikan masalah, akan tetapi dapat menimbulkan masalah baru yaitu menyebabkan ketidakseimbangan alam. Perburuan liar dan mengkonsumsi satwa liar sangat beresiko pada kesehatan manusia. Dengan demikian, keseimbangan ekosistem dengan keanekaragaman hayati tinggi dapat melindungi manusia dari penyakit. Sebaliknya, ekosistem dengan populasi spesies homogen sangat rentan terhadap pandemi.

Hal ini kemudian menarik minat peneliti untuk menemukan vaksin dari virus penyebab pandemi. Saat ini, banyak peneliti di dunia melakukan penelitian vaksin dari berbagai sampel yang bersumber dari hidupan liar (tumbuhan dan satwa liar) dan sumber daya genetik yang terkandung didalam hidupan liar dan alamnya. Situasi ini menunjukkan perhatian serius dari peneliti dunia terutama di negara maju untuk pencarian obat maupun vaksin di negara yang memiliki keanekaragaman hayati tinggi. Kegiatan eksplorasi tersebut dalam dunia sains dikenal sebagai bioprospecting.

Bioprospecting sebagai kegiatan eksplorasi, ekstraksi dan penapisan sumber daya alam hayati untuk pemanfaatan komersial dari sumber daya genetik, spesies dan atau biokimia beserta turunannya (Reid, et. All, 1993) yang bersumber dari spesies liar, dipercaya dapat menjadi jawaban atas pandemi COVID-19 yang terjadi saat ini. Pada umumnya kegiatan tersebut disertai dengan eksplorasi atas pengetahuan tradisional (traditional knowledge). Kondisi tersebut dapat dimanfaatkan oleh berbagai pihak untuk mengambil bagian dalam upaya mencari potensi obat serta sekaligus dapat menjadi potensi ekonomi yang mungkin tersembunyi dalam keanekaragaman hayati Indonesia. Hal ini seharusnya menjadi perhatian bersama.

Salah satu contoh terbaru berkembangnya penelitian yang bersumber pada pemanfaatan sumber daya genetik yaitu inovasi Hand-Sanitizer dan Hand-Soap yang mengandung bahan aktif minyak Gaharu yang ditemukan oleh Asep Hidayat seorang peneliti dari Badan Penelitian, Pengembangan dan Inovasi-KLHK. Dalam minyak gaharu terdapat senyawa Sesquiterpenes serta lebih dari 50 senyawa lainnya yang sangat baik untuk membunuh mikroorganisme (bakteri, jamur dan virus), sehingga diharapkan dapat digunakan sebagai upaya pencegahan penyebaran COVID-19.

Artinya, pemanfaatan potensi keanekaragaman hayati dengan bijak dapat menjadi salah satu solusi dalam upaya mengatasi pandemi seperti yang disebabkan oleh coronavirus. Dengan demikian, keanekaragaman hayati sebagai jawaban atas tantangan pembangunan berkelanjutan dimana manusia merupakan bagian dari alam dan tidak dapat dipisahkan dari alam.

Sekiranya benar bahwa ungkapan yang menyatakan dunia setelah pandemi COVID-19 tidak akan sama seperti sebelumnya. Aspek kesehatan kemudian menjadi hal penting dalam upaya konservasi keanekaragaman hayati. Lebih dari itu, pengambilan kebijakan harus berdasarkan atas pertimbangan sains, memperhatikan traditional knowledge serta melibatkan masyarakat dengan pola kemitraan. Semua pihak harus dapat memastikan pembangunan yang berkelanjutan dengan mempertimbangkan keanekaragaman hayati, pada tiga level, yaitu ekosistem, spesies, dan genetik.

Ke depan, segera diidentifikasi dan diinventarisasi 43 juta hektare kawasan ekosistem esensial di luar kawasan konservasi yang telah ada. Juga akan dibangun sistem connectivity antar kluster meta populasi yang terpisah dengan penetapan 1,4 juta hektare High Conservation Value Forest (HCVF) di wilayah konsesi, High Carbon Area, dan kawasan yang unik seperti cloud forest, karst, hutan kerangas, kawasan riparian, mangrove, padang lamun, atau habitat satwa endemik tertentu yang terisolasi pada pulau-pulau kecil.  Di samping itu, terus dilakukan rehabilitasi kawasan hutan dengan melibatkan masyarakat, dan pemegang izin di wilayah konsensinya.

Pada peringatan hari Keanekaragaman Hayati Internasional tahun 2020 ini, kita mencari jawaban, bantuan dan inspirasi dari alam untuk kehidupan yang lebih baik bagi generasi mendatang, agar semakin selaras dengan mekanisme dan keseimbangan alam.

————————-

References:

Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia. 2014. “Kekinian Keanekaragaman Hayati Indonesia 2014”, Jakarta: LIPI Press.

Naipospos, Tri S.P. 2020.  Inang Alamiah Virus Corona“, dalam artikel Center for Indonesian Veterinary Analytical Studies. http://civas.net/2020/03/20/inang-alamiah-virus-corona/.

Reid, W.V., et. Al. 1993.  Biodiversity Prospecting: Using Genetic Resources for Sustainable Development“, World Resources Institute, Washington, DC; Instituto Nacional de Biodiversidad, Santo Domingo de Heredia, Costa Rica; Rainforest Alliance, New York; African Centre for Technology Studies, Nairobi, Kenya.

TNBBS Berhasil Kembangkan Sistem Pengamatan Harimau

Sorry, this entry is only available in Indonesian. For the sake of viewer convenience, the content is shown below in the alternative language. You may click the link to switch the active language.

Taman Nasional Bukit Barisan Selatan (TNBBS) mencakup total area seluas 330.853,23 ha, terletak di dua provinsi, Provinsi Lampung dan Bengkulu (dengan proporsi luasan terbesar di Provinsi Lampung).

Visi dari TNBBS adalah sebagai habitat pelestarian harimau sumatera, badak sumatera dan gajah sumatera serta perlindungan sistem peyangga kehidupan yang didukung oleh pemberdayaan masyarakat secara berkelanjutan.

TNBBS juga menjadi satu dari tiga taman nasional di Sumatera yang menjadi bagian dari Tropical Rainforest Heritage of Sumatra (TRHS) yang ditetapkan oleh UNESCO karena nilai universal yang luar biasa dari budaya/properti alam yang membutuhkan perlindungan untuk kepentingan seluruh umat manusia.

Pengamatan adalah survei secara berkala terhadap satu objek tertentu untuk melihat dinamika/perubahan yang terjadi terhadap objek tersebut serta untuk memahami kemungkinan faktor-faktor yang menyebabkan perubahan tersebut terjadi. Dalam hal ini obyek yang diamati adalah harimau, satwa-mangsa, dan hutan (deforestasi) di TNBBS.

Secara lebih spesifik sistem pengamatan harimau Sumatra merujuk pada perkembangan pengelolaan pusat data (database) kamera penjebak dengan fokus pada individu harimau.

Kamera penjebak merupakan alat yang sering digunakan di dalam survei pendugaan populasi harimau. Dari survei dengan mempergunakan kamera penjebak maka data dasar yang akan diperoleh adalah berupa gambar/video dari individu harimau serta lokasi dimana individu tersebut tertangkap oleh kamera penjebak.

Data yang terkumpul dari survei dengan mempergunakan kamera penjebak secara berkala selain dapat memberikan informasi populasi (kepadatan) harimau dalam waktu tertentu dapat juga digunakan untuk memonitor apakah individu harimau (setiap individu harimau memiliki keunikan pada pola loreng) yang tertangkap pada survei kamera penjebak pemasangan kamera penjebak sebelumnya masih tertangkap juga pada periode pemasangan berikutnya.

Kamera penjebak juga sering digunakan dalam kegiatan mitigasi konflik satwa liar dengan manusia dengan tujuan untuk memastikan keberadaan harimau di sekitar desa/pemukiman serta kegiatan pengamatan (monitoring) aktivitas manusia dan satwa liar pada area-area tertentu (misalnya pengamatan dampak jalan).

Balai Besar Taman Nasional Bukit Barisan Selatan didukung oleh Proyek Sumatran Tiger dan mitra sejak awal tahun 2017 mulai merapikan data kamera penjebak hasil dari berbagai kegiatan yang menggunakan kamera penjebak.

Perangkat lunak yang dipakai untuk identifikasi individu harimau adalah  ExtractCompare. ExtractCompare merupakan sebuah perangkat lunak yang dikembangkan oleh Conservation Research, Ltd. untuk pengelolaan foto-foto satwa. Perangkat lunak ini dapat mengenali individu satwa berdasarkan pola unik alami yang terlihat pada tubuhnya.

Saat ini, ExtractCompare sudah diaplikasikan untuk berbagai jenis satwa yang memiliki penanda individu pada tubuhnya, seperti harimau, macan tutul, hiu, dan salamander. Perangkat lunak tersebut diintegrasikan dengan Microsoft Access sebagai sistem manajemen data untuk menyimpan informasi foto yang diproses.

Hasil dari proses analisis dari semua data sampai dengan bulan Maret 2019 diperoleh 425 foto harimau dalam pangkalan data ExtractCompare yang terdiri dari 151 foto sisi kiri dan 154 foto sisi kanan (120 foto tidak diekstrak karena merupakan foto dari event yang sama atau foto yang buram).

Data yang telah dimasukkan dalam pangkalan data berasal dari tahun 2010 hingga 2018. Berdasarkan perpustakaan foto tersebut, telah diidentifikasi 106 individu (43 betina, 16 jantan, 47 tidak diketahui jenis kelaminnya). Data juga mencatat terdapat 31 individu harimau (20 betina, 5 jantan) yang memiliki informasi pola loreng lengkap di kedua tubuhnya.

Perlu dicatat bahwa jumlah 106 individu bukanlah merupakan jumlah harimau yang ada di TNBBS saat ini, melainkan jumlah individu yang ada di pangkalan data foto harimau TNBBS. Angka tersebut merupakan total individu yang terekam sejak tahun 2010 dan terdapat kemungkinan bahwa ada harimau mati selama kisaran waktu 2010 hingga 2019. Penambahan data-data yang baru akan lebih memperkuat hasil identifikasi individu harimau ini.

Dari 106 individu harimau yang telah diidentifikasi di TNBBS terlihat bahwa jantan dan betina ditemukan cukup tersebar merata di TNBBS tetapi dengan jumlah individu betina yang lebih banyak dibandingkan dengan yang jantan.

Yang tak kalah menarik, dari data yang tersedia ini juga bisa diperkirakan ruang jelajah harimau walaupun hanya berupa perkiraan kasar (penentuan area jelajah berdasarkan data kamera perangkap bukan merupakan metoda yang ideal dimana disarankan untuk mempergunakan GPS Collar). Diperlukan paling sedikit data 3 lokasi temuan suatu individu harimau untuk memperkirakannya.

Dari hasil analisis data kamera perangkap terlihat harimau jantan memiliki ruang jelajah (rata-rata 3.795 ha) yang lebih luas daripada harimau betina (rata-rata 787 ha). Harimau bersifat teritorial (dan dengan daerah jelajah yang lebih luas, kurang lebih pernah tercatat di Sumatera seluas 23.600 hektar) dengan rata-rata ruang teritori jantan seluas 1.500 – 2.000 hektar. Harimau betina biasanya memiliki teritori yang lebih kecil. Luasan area jelajah dan teritori sangat tergantung pada kondisi lingkungan, sumber pakan, jenis kelamin, dan kelas umur.

Dari hasil sementara ini, dengan luas area jelajah yang hampir sama atau lebih kecil dari luasan teritori (sumber data luasan teritori dari referensi) kemungkinan menunjukkan potensi satwa mangsa yang masih baik untuk mempertahankan populasi harimau di TNBBS. Hasil dari survei populasi harimau pada tahun 2015 menunjukkan bahwa area survei (IPZ-Intensive Protection Zone TNBBS) memiliki potensi satwa mangsa yang masih banyak (Pusparini dkk. 2018).

Ketersediaan sistem pengamatan harimau sangat penting guna memastikan sistem perlindungan terhadap harimau Sumatra dilakukan berdasarkan data dan informasi yang tepat. Yang diperlukan adalah memastikan keberlanjutan sistem pengamatan harimau yang telah dibangun dan peningkatan kapasitas staf taman nasional yang telah dilakukan.

@SumatranTigerID

 

Preventing Wildlife Conflicts, Saving Lifes

The Colt’s engine growling across the dirt road, partly still muddy, from the rain last night. The car whose two rear tires were wrapped around by chains moving slowly but steadily passing sloppy terrains.

Representatives from local government, Ministry of Environment and Forestry, Police, TNI, Sumatran Tiger Project, philanthropic organization and non-governmental organizations sit – some of them standing – on the truck. “The more passengers, the truck becoming more stable on the road,” said the driver who guided our group.

This group has just finished attending village level Wildlife Conflict Task Force Meeting in Margomulyo Village, Semaka District, Tanggamus District, Lampung Province, organized by Wildlife Conservation Society – Indonesia Program (WCS-IP) supported by Sumatran Tiger Project , GEF, UNDP, KFW, German Cooperation and USAID.

WCS-IP in collaboration with Bukit Barisan Selatan National Park Office and Lampung Provincial Forest Service, gathered representatives of human and wildlife conflict mitigation task forces from various villages in Lampung, Bengkulu and Aceh.

Participants in this workshop shared knowledge and experiences in conflict mitigation and promote community-based human and wildlife conflict management approaches at site (village) level. The initiative also strengthened community’s resilient in regional and national platforms.

Indra Exploitasia, Director of Biodiversity Conservation, in her written address stated, “The shrinking living space and home range of large animals such as Sumatran elephant and Sumatran tiger ultimately forced the two species entering village areas and ultimately destroyed community’s farming and preyed on residents’ livestock. ”

According to Indra, strong institutional supports and effective role-sharing between parties are needed to overcome human and wildlife conflicts.

Technical implementation unit in the field responded positively to Indra’s remark. Siti Muksidah, Head of National Park Management Region I at Bukit Barisan Selatan NP stated, “We, at the national park, also placed the handling of human and animal conflicts (KMS) as one of our main priorities,” she said.

According to Siti, collaborating with communities, BB BBSNP has successfully handled 225 human and wildlife cases between 2008 and June 2019. One type of cooperation with community was to form a task force at the village level through Independent Village Community (MDM) program, accompanied by WCS- IP and supported by Sumatran Tiger Project.

Noviar Andayani, WCS-IP Director stated, “By strengthening KMS mitigation at site level, villagers could actively preventing escalation of human and animal conflict at site level by providing an appropriate initial responses.” Until mid-2019, WCS-IP and other parties has been facilitating 22 Independent Village Community units, including establishing task forces for conflict at site level.

The Deputy Governor of Lampung, Chusnunia Chalim, appreciated the workshop which took place on November 24-25. “Government realizes that human and wildlife conflict harming not only to citizens but also adversely affecting number and distribution of tiger and elephant populations which are charismatic animals of Sumatra,” he said.

As living creatures, wildlife and humans have the right to live. Thus we must be able to live side by side with other living creatures by preventing conflict and maintaining ecosystem balance.

“Without animals, the balance of ecosystem could not be materialized. Animals have function controlling pests and pollinating plants such as coffee that is community’s commodity,” Noviar Andayani said. Humans will not be able to do the task themself.

In this workshop, representatives of 16 Villages in Lampung, Bengkulu and Aceh Provinces also signed Margomulyo Declaration. They agreed to form a network of village-level human and wildlife conflict task forces throughout Sumatra.

This network will serve as communication and learning forum in overcoming conflict to help community’s welfare and wildlife conservation in Sumatra. Hopefully this good intention can continue to be implemented with the support of all parties.

@SumatranTigerID

Coordination to Handle Human and Wildlife Conflict

Sumatran Tiger Project, supported coordination meeting on Tuesday, June 18, 2019, to handle human wildlife conflict at BKSDA (Center for Natural Resources Conservation) office, North Sumatra. This coordination meeting is also an effort to respond to current trend of increasing human and wildlife conflicts in the area.

In a meeting chaired by Head of North Sumatra’s BBKSDA, Regent of Padang Lawas, Ali Sutan and people of Padang Lawas Regency, offered supports to overcome human and wildlife conflicts. Communities in Padang Lawas realized Sumatran Tiger is protected animals and needed government support to save these endangered species.

Responding to human and tiger conflict, Padang Lawas District Government has extended Social Emergency Decree until 27 June 2019, which was a follow-up to the parties’ meeting on 14 June 2019 in Sibuhuan.

In this meeting, Governor of North Sumatra gave instruction to not to shoot / kill Sumatran Tiger in Padang Lawas. The meeting also discussed development of Desa Mandiri Konflik or Conflict Resilient Village and alternative economy for people in conflict-affected areas. This year there is no expansion for plantation in North Sumatra Province. Community economic empowerment will involve plantation companies through CSR mechanisms or corporate social responsibility.

The parties participating in this meeting also agreed to immediately revise the North Sumatra Governor’s Decree regarding the Coordination Team and the Task Force on Controlling of Wild Animal Conflict in North Sumatra Province. This revision must include National Disaster Management Agency and financing using available CSR and Local Government Funds.

Short-term solution to human and wildlife conflict, stakeholders agreed to carry out several activities:

1. Building tiger proof enclosures in conflict-prone areas.

2. Developing Conflict Resilient Villages: forming task force teams, Community training, initiate village funds for conflict mitigation team. WCS is willing to help initiate and provide training in developing Conflict Resilient Village in conflict-prone areas, with assistants from North Sumatra Regency and BBKSDA.

3. Encouraging companies to implement their responsibility stated in their RKL (Environmental Management Plan) and RPL (Environmental Monitoring Plan).

4. Strengthening local wisdom that supports conservation of wildlife habitat in Padang Lawas, for example by providing prey for tigers and using barbed wire fences.

In long term, funding from Sumatran Tiger Project (GEF-UNDP) and other non-binding sources will be used to support Governor’s Decree revision regarding conflict prevention team.

Coordination meeting which was also attended by Director of KKH, Indra Exploitasia also agreed to establish the Padang Lawas Tiger Conflict Task Force Team, under Padang Lawas Regent’s Decree. Padang Lawas Regent and BPBD (Regional Disaster Management Agency) will act as board of trustee and Head of the North Sumatra KSDA Office will become daily chief executive.

@SumatranTigerID

 

First Public Consultation for SRAK 2019-2029

Jambi, May 2, 2019 – Sumatran tigers are increasingly threatened, both by hunting and habitat loss due to the conversion of forest areas into plantations, settlements and other development activities. One of the impacts was increasingly numbers of conflict between humans and tigers which in general tigers were killed by being killed or excluded from their habitat.

Efforts to conserve Sumatran tigers have achieved a lot of progress since the formulation of the 2007-2017 Sumatran Tiger Conservation Action Plan (SRAK HARIMAU) Strategy involving various stakeholders. Various conservation actions have been implemented by Government of the Republic of Indonesia, regional governments, non-governmental organizations (NGOs), universities, the private sector and the community. SRAK HARIMAU 2007 – 2017 has ended and the new SRAK draft (2019–2029) has been prepared jointly with various parties.

Director of Biodiversity Conservation, Ministry of Environment and Forestry (KLHK), Indra Exploitasia said, “The government gives full attention to the conservation of endemic species in Indonesia. Therefore, the Ministry of Environment and Forestry which has the authority to protect wild animals will continue to improve coordination with relevant sectors and important partners such as regional government. This aims to protect both the animals and their habitat. Around 61.34% Sumatran Tiger’s habitat and cruising areas are outside the conservation areas which are under the authority of the regional government and private sectors. ”

“Therefore, in an effort to conserve Sumatran tigers and other animals, we will support local government to continue protection and preservation of biodiversity.”

Governor of Jambi through Governor’s Expert Staff for Community and Human Resources, Drs. H. Ahmad Bastari, M.Pd expressed his support for Sumatran tiger conservation in conducting public consultations at BW Luxury Hotel, Jambi on Thursday (02/05/2019).

“Tigers are charismatic animals, they have several dimensions, including ecology, culture and economy that are not separate and complementary. These relationship are very close to humans, if one extinction in ecosystem will adversely affect human survival in future. I am very supportive of Sumatran tiger conservation efforts and I hope that Strategy and Action Plan for Sumatran Tiger Conservation 2019-2029 is also supported by all parties as Sumatran tiger conservation efforts, “Ahmad explained.

Head of the Jambi Natural Resources Conservation Agency (BKSDA), Rahmad Saleh stated that the 2019-2029 SRAK needs to be resolved immediately. “Jambi has 4 areas inhabited by Sumatran tigers. SRAK HARIMAU 2019-2029 needs to be resolved immediately because threat to tigers is getting higher. ”

In its implementation, Directorate General of Natural Resources and Ecosystem Conservation (KSDAE) collaborates with various parties such as the cross-ministerial central government, local governments, NGOs, academics, the private sector and the wider community in ensuring that these work programs are implemented.

Chairperson of HarimauKita Forum (FHK) Munawar Kholis stated that, SRAK HARIMAU 2007-2017 had ended, since the new SRAK document had been prepared since 2018. The draft SRAK HARIMAU 2019-2029 has now being formulated simultaneously with other parties.

This tiger conservation needs to be run with innovation and also really pay attention to various aspects that intersect with the community. Public consultation is needed to ensure synergies with stakeholders, so that it can also refine the strategy for the next 10 years. “The big goal of conservation is a sustainable Sumatran tiger, a prosperous society and that is becoming part of the success of Indonesia’s development,” explained Kholis.

———

Media Contact (contact):

Dit. KKH: Ir. Puja Utama, M.Sc (+62 812-7963-755)
Balai KSDA Jambi (Humas): M. Ali Imron (+62 852-6648-4401)
Chairperson of the HarimauKita Forum: Munawar Kholis (+62 811-1101-281)

Menjaga Benteng Terakhir Harimau Sumatra di Bukit Barisan Selatan

Sorry, this entry is only available in Indonesian. For the sake of viewer convenience, the content is shown below in the alternative language. You may click the link to switch the active language.

Bukit Barisan bagian selatan merupakan lanskap harimau sumatra yang diselimuti oleh hutan tropis lebat. Lanskap harimau adalah sehamparan kawasan yang dihuni pemangsa itu, dengan upaya-upaya konservasi yang melibatkan banyak pihak. Selain kawasan hutan dan taman nasional, lanskap harimau mencakup seluruh bentang alam: lahan pertanian, perkebunan, dan sebagainya. Jantung utama lanskap dan populasi inti harimau ada di kawasan taman nasional.

Taman Nasional Bukit Barisan Selatan diresmikan pada tahun 1982. Kawasan tersebut sebelumnya sudah dinyatakan sebagai suaka margasatwa oleh pemerintah Hindia Belanda pada tahun 1935. Luas taman nasional seluruhnya mencapai 355.511 hektare dengan bentang alam pegunungan di bagian utara dan semenanjung di bagian selatan.

Bagian ujung selatan Taman Nasional Bukit Barisan Selatan, seluas 48.000 hektare lebih sedikit, dikelola oleh Tambling Wildlife Nature Conservation. Kawasan ini terjaga baik, dengan satwa mangsa melimpah. Di sana, juga terdapat fasilitas lengkap terkait rehabilitasi harimau.

Sementara itu, di bagian tengah dan utara, pengelola taman bersama mitra memantau populasi harimau dan mamalia besar di zona perlindungan intensif. Dengan menjaga harimau, taman nasional juga melindungi hutan dan seluruh makhluk hidup di dalamnya. Tidak pelak lagi, Bukit Barisan Selatan adalah lanskap dalam kekuasaan harimau—dan mamalia besar Sumatra.

Hutan produksi dan hutan lindung mengelilingi segenap perbatasan taman nasional. Gabungan taman nasional dan kawasan hutan tersebut membentuk bentang alam hutan yang utuh dan sambung-menyambung. Dari rangkaian di sisi selatan ini, lanskap harimau menyambung ke utara, mengikuti deretan Bukit Barisan yang menjadi tulang punggung Sumatra: Bengkulu, Kerinci, Leuser, hingga Aceh.

Sungguh gambaran di peta yang ideal bagi pelestarian harimau sumatra. Pada kenyataannya di lapangan, sayangnya, lanskap tidak lagi utuh. Perlahan-lahan, populasi manusia menduduki kawasan hutan, dan merambah wilayah taman nasional. Tren ini diketahui dan disadari, tetapi dibiarkan oleh pengelola kawasan hutan—selama bertahun-tahun. Tahu-tahu, segalanya terlambat dan mengejutkan.

Perambahan hutan oleh penduduk setempat untuk dijadikan lahan pertanian, misalnya, mengakibatkan satwa di dalamnya kehilangan habitat, termasuk harimau. Permukiman di kawasan hutan serta infrastruktur jalan juga memecah-belah keutuhan lanskap harimau. Berkurangnya habitat sebagai tempat berlindung dan mencari makan bagi harimau menjadi ancaman bagi keberlangsungan hidupnya.

World Wide Fund (WWF) Indonesia mencatat bahwa saat ini status harimau sumatra terancam kritis dengan populasi kurang dari 400 ekor. Dalam sejumlah kasus, harimau dibunuh akibat memasuki kawasan permukiman penduduk atau diburu untuk dimanfaatkan kulitnya, tulangnya, atau bagian tubuh lainnya.

Manajer lanskap WCS untuk Bukit Barisan Selatan, Firdaus Affandi, mengingatkan, bahwa harimau termasuk makhluk yang meruang. Oleh karena itu, salah satu upaya perlindungan terhadap harimau sebaiknya hendaklah dimulai dari konservasi habitatnya. Caranya adalah dengan mencegah perambahan kembali terjadi, mengatasi penebangan liar, membuat perencanaan tata ruang, dan penggunaan lahan serta merestorasi ekosistem.

Salah satu bentuk implementasi pengelolaan berbasis resor sebagai unit pengelolaan terkecil, di kawasan konservasi Taman Nasional Bukit Barisan Selatan adalah sistem patroli Spatial Monitoring dan Reporting Tool (SMART Patrol). Upaya ini melibatkan tujuh resor taman nasional.

SMART Patrol sudah dimulai sejak 2011 dengan dua tim dan empat tahun kemudian bertambah menjadi enam tim yang dikerahkan untuk mengamankan taman nasional. Tugas tim berpatroli di 11 resor dan mencakup daerah di dalam kawasan seluas 1.454,4 kilometer.

Firdaus menuturkan, seluruh dukungan akan dikerahkan untuk melindungi zona perlindungan intensif. “Kita berpatroli, memantau, mencatat, dan merekam. Hadirnya pemerintah dan LSM di lapangan dapat memberikan efek gentar bagi pemburu. Itu terlihat penerapannya di zona perlindungan intensif di tengah taman nasional,” imbuh Firdaus. “Hasilnya cukup siginifikan, perburuan liar cenderung menurun.”

Penduduk desa di sepanjang perbatasan taman nasional juga diharapkan untuk berpartisipasi menjaga keberlangsungan harimau dan habitatnya. Memang tidak mudah, perlu kesabaran, fokus, dan daya tahan dalam jangka waktu yang panjang. Sebab bila tidak, sungguh kiamat sudah dekat bila lanskap harimau tanpa dihuni harimau.

Sumber: Nationalgeographic.co.id

 

TNKS Patrol Team Does It Again

Patrol team of Kerinci Seblat National Park again showed its capability to capture illegal wildlife poacher. In collaboration with Mukomuko Resort Police, Bengkulu Province, the patrol team managed to arrest Sumatran tiger hunters and trader on Wednesday, 5 September 2018 at Bengkulu – Padang crossing, Bunga Tanjung Village, Teramang Jaya District, Mukomuko Regency.

Last month on August 14, the same team also managed to arrest 2 perpetrators at Jalan Bangko – Kerinci, Pulau Rengas Village, Merangin District, Jambi Province.

The suspect who was arrested this month was named Heri alias Ujang, a resident of Bunga Tanjung Village. Evidence found with perpetrator was one 135 cm long Sumatran tiger skin plus 4 kg of bones.

Sumatran tiger has important value in safeguarding forest ecosystems. As apex predators, Sumatran tigers balance populations of other animals. In other words, protecting tigers can protect forest and its biodiversity.

Head of Kerinci Seblat National Park, Drs. Tamen Sitorus, M.Sc., revealed that TNKS is one of tiger habitats and one of Sumatran tiger conservation areas.

“If tiger trade continues around TNKS area, this will be a loss for people around the TNKS area in particular, and people of Sumatra in general,” Tamen said. “Therefore, I request support from all communities and related parties to jointly conserve this endangered and protected by law species,” he added.

@SumatranTigerID

Human Tiger Conflict Highest in 2010

Human and tiger conflicts continued to increase from 2001 and peaked in 2010. In that year there were 162 conflicts occurring predominantly from cases of tigers attacking cattle and tigers roaming around villages or residential areas.

After 2010, number of human and tiger conflicts continues to decline until 2016. The decline in the number of human and tiger conflicts is likely triggered by an increasing number of tigers being killed and displaced.

In the period 2001-2016, the number of tigers killed and displaced continued to increase. 130 tigers who died due to human and tiger conflicts. Only 5 tigers were transferred to other conservation sites after the conflict. A total of 43 tigers were sent to the zoo.

The number of tigers that ran after the conflict reached 879 tigers. of that number, as many as 8 tigers ran in the wounded condition. The number of dead and displaced tigers could have a negative impact on the tiger population.

@SumatranTigerID

Happy International Cat Day

Tuesday, August 8th is celebrated as #InternationalCatDay. Sumatra has the only remaining big cats, the Sumatran tiger that symbolizes the balance, health and sustainability of the ecosystem. Let’s keep them safe, protect their habitat.

@SumatranTigerID