TNBBS Berhasil Kembangkan Sistem Pengamatan Harimau

Sorry, this entry is only available in Indonesian. For the sake of viewer convenience, the content is shown below in the alternative language. You may click the link to switch the active language.

Taman Nasional Bukit Barisan Selatan (TNBBS) mencakup total area seluas 330.853,23 ha, terletak di dua provinsi, Provinsi Lampung dan Bengkulu (dengan proporsi luasan terbesar di Provinsi Lampung).

Visi dari TNBBS adalah sebagai habitat pelestarian harimau sumatera, badak sumatera dan gajah sumatera serta perlindungan sistem peyangga kehidupan yang didukung oleh pemberdayaan masyarakat secara berkelanjutan.

TNBBS juga menjadi satu dari tiga taman nasional di Sumatera yang menjadi bagian dari Tropical Rainforest Heritage of Sumatra (TRHS) yang ditetapkan oleh UNESCO karena nilai universal yang luar biasa dari budaya/properti alam yang membutuhkan perlindungan untuk kepentingan seluruh umat manusia.

Pengamatan adalah survei secara berkala terhadap satu objek tertentu untuk melihat dinamika/perubahan yang terjadi terhadap objek tersebut serta untuk memahami kemungkinan faktor-faktor yang menyebabkan perubahan tersebut terjadi. Dalam hal ini obyek yang diamati adalah harimau, satwa-mangsa, dan hutan (deforestasi) di TNBBS.

Secara lebih spesifik sistem pengamatan harimau Sumatra merujuk pada perkembangan pengelolaan pusat data (database) kamera penjebak dengan fokus pada individu harimau.

Kamera penjebak merupakan alat yang sering digunakan di dalam survei pendugaan populasi harimau. Dari survei dengan mempergunakan kamera penjebak maka data dasar yang akan diperoleh adalah berupa gambar/video dari individu harimau serta lokasi dimana individu tersebut tertangkap oleh kamera penjebak.

Data yang terkumpul dari survei dengan mempergunakan kamera penjebak secara berkala selain dapat memberikan informasi populasi (kepadatan) harimau dalam waktu tertentu dapat juga digunakan untuk memonitor apakah individu harimau (setiap individu harimau memiliki keunikan pada pola loreng) yang tertangkap pada survei kamera penjebak pemasangan kamera penjebak sebelumnya masih tertangkap juga pada periode pemasangan berikutnya.

Kamera penjebak juga sering digunakan dalam kegiatan mitigasi konflik satwa liar dengan manusia dengan tujuan untuk memastikan keberadaan harimau di sekitar desa/pemukiman serta kegiatan pengamatan (monitoring) aktivitas manusia dan satwa liar pada area-area tertentu (misalnya pengamatan dampak jalan).

Balai Besar Taman Nasional Bukit Barisan Selatan didukung oleh Proyek Sumatran Tiger dan mitra sejak awal tahun 2017 mulai merapikan data kamera penjebak hasil dari berbagai kegiatan yang menggunakan kamera penjebak.

Perangkat lunak yang dipakai untuk identifikasi individu harimau adalah  ExtractCompare. ExtractCompare merupakan sebuah perangkat lunak yang dikembangkan oleh Conservation Research, Ltd. untuk pengelolaan foto-foto satwa. Perangkat lunak ini dapat mengenali individu satwa berdasarkan pola unik alami yang terlihat pada tubuhnya.

Saat ini, ExtractCompare sudah diaplikasikan untuk berbagai jenis satwa yang memiliki penanda individu pada tubuhnya, seperti harimau, macan tutul, hiu, dan salamander. Perangkat lunak tersebut diintegrasikan dengan Microsoft Access sebagai sistem manajemen data untuk menyimpan informasi foto yang diproses.

Hasil dari proses analisis dari semua data sampai dengan bulan Maret 2019 diperoleh 425 foto harimau dalam pangkalan data ExtractCompare yang terdiri dari 151 foto sisi kiri dan 154 foto sisi kanan (120 foto tidak diekstrak karena merupakan foto dari event yang sama atau foto yang buram).

Data yang telah dimasukkan dalam pangkalan data berasal dari tahun 2010 hingga 2018. Berdasarkan perpustakaan foto tersebut, telah diidentifikasi 106 individu (43 betina, 16 jantan, 47 tidak diketahui jenis kelaminnya). Data juga mencatat terdapat 31 individu harimau (20 betina, 5 jantan) yang memiliki informasi pola loreng lengkap di kedua tubuhnya.

Perlu dicatat bahwa jumlah 106 individu bukanlah merupakan jumlah harimau yang ada di TNBBS saat ini, melainkan jumlah individu yang ada di pangkalan data foto harimau TNBBS. Angka tersebut merupakan total individu yang terekam sejak tahun 2010 dan terdapat kemungkinan bahwa ada harimau mati selama kisaran waktu 2010 hingga 2019. Penambahan data-data yang baru akan lebih memperkuat hasil identifikasi individu harimau ini.

Dari 106 individu harimau yang telah diidentifikasi di TNBBS terlihat bahwa jantan dan betina ditemukan cukup tersebar merata di TNBBS tetapi dengan jumlah individu betina yang lebih banyak dibandingkan dengan yang jantan.

Yang tak kalah menarik, dari data yang tersedia ini juga bisa diperkirakan ruang jelajah harimau walaupun hanya berupa perkiraan kasar (penentuan area jelajah berdasarkan data kamera perangkap bukan merupakan metoda yang ideal dimana disarankan untuk mempergunakan GPS Collar). Diperlukan paling sedikit data 3 lokasi temuan suatu individu harimau untuk memperkirakannya.

Dari hasil analisis data kamera perangkap terlihat harimau jantan memiliki ruang jelajah (rata-rata 3.795 ha) yang lebih luas daripada harimau betina (rata-rata 787 ha). Harimau bersifat teritorial (dan dengan daerah jelajah yang lebih luas, kurang lebih pernah tercatat di Sumatera seluas 23.600 hektar) dengan rata-rata ruang teritori jantan seluas 1.500 – 2.000 hektar. Harimau betina biasanya memiliki teritori yang lebih kecil. Luasan area jelajah dan teritori sangat tergantung pada kondisi lingkungan, sumber pakan, jenis kelamin, dan kelas umur.

Dari hasil sementara ini, dengan luas area jelajah yang hampir sama atau lebih kecil dari luasan teritori (sumber data luasan teritori dari referensi) kemungkinan menunjukkan potensi satwa mangsa yang masih baik untuk mempertahankan populasi harimau di TNBBS. Hasil dari survei populasi harimau pada tahun 2015 menunjukkan bahwa area survei (IPZ-Intensive Protection Zone TNBBS) memiliki potensi satwa mangsa yang masih banyak (Pusparini dkk. 2018).

Ketersediaan sistem pengamatan harimau sangat penting guna memastikan sistem perlindungan terhadap harimau Sumatra dilakukan berdasarkan data dan informasi yang tepat. Yang diperlukan adalah memastikan keberlanjutan sistem pengamatan harimau yang telah dibangun dan peningkatan kapasitas staf taman nasional yang telah dilakukan.

@SumatranTigerID

 

TNKS Restorasi 51,24 Hektar Lahan

Sorry, this entry is only available in Indonesian. For the sake of viewer convenience, the content is shown below in the alternative language. You may click the link to switch the active language.

Balai Besar Taman Nasional Kerinci Seblat (BB TNKS) dan Kelompok Tani Hutan (KTH) “Renah Kasah Lestari” menandatangani perjanjian kerjasama kemitraan konservasi dalam rangka pemulihan ekosistem kawasan Taman Nasional Kerinci Seblat di Desa Renah Kasah, Kecamatan Kayu Aro, Kabupaten Kerinci.

Hal ini merupakan tindak lanjut dari keputusan Kepala Balai Besar Taman Nasional Kerinci Seblat kepada Pemerintah Desa Renah Kasah, Kecamatan Kayu Aro, Kabupaten Kerinci, Nomor: SK.136/T.1/TU/KSA/05/2019 tentang Pemberian Ijin Pemanfaatan Energi Air (IPEA) di Kawasan Taman Nasional Kerinci Seblat Seksi PTN Wilayah I Kerinci, Resort Kerinci Utara.

Kepala BBTNKS, Tamen Sitorus menyatakan, pemberian ijin ini adalah kontribusi positif taman nasional kepada masyarakat yang tinggal di sekitar kawasan TNKS. Oleh sebab itu masyarakat Desa Renah Kasah berkewajiban untuk melestarikan kawasan TNKS, khususnya di kawasan tangkapan air pembangunan PLTMH yang sedang dilaksanakan.

Masyarakat dibantu oleh Perkumpulan Walestra yang mendapat dana hibah dari Proyek Sumatran Tiger akan melakukan pemulihan ekosistem kawasan TNKS di kawasan tangkapan air pembangunan PLTMH yang berada di zona rehabilitasi TNKS.

Proyek Sumatran Tiger berkomitmen melaksanakan konservasi keanekaragaman hayati dan rehabilitasi habitat satwa penting dan terancam punah. Salah satu areal implementasi kegiatan tersebut adalah di Taman Nasional Kerinci Seblat yang saat ini sedang menghadapi ancaman degradasi hutan dan lahan.

Kegiatan restorasi ekosistem juga mendukung kegiatan Direktorat Jenderal Energi Baru Terbarukan dan Konservasi Energi bekerja sama dengan United Nations Development Programme (UNDP) dalam aksi mitigasi perubahan iklim di sektor pembangkit energi dan penghematan energi melalui Proyek Market Transformation through Design and Implementation of Appropriate Mitigation Actions in the Energy Sector (MTRE3).

Salah satu kegiatan MTRE3 adalah melakukan pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Micro Hydro di Desa Renah kasah, yang juga didukung oleh kerja sama antara UNDP dengan Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS) dan kerja sama UNDP dengan Bank Jambi untuk mencapai Target Pembangunan Berkelanjutan (SDG) dalam penyediaan listrik bagi masyarakat miskin yang tinggal di desa yang belum tersambung dengan jaringan listrik PLN.

SumatranTigerID

Pengetahuan Staff di 4 Taman Nasional Meningkat

Sorry, this entry is only available in Indonesian. For the sake of viewer convenience, the content is shown below in the alternative language. You may click the link to switch the active language.

Upaya pengembangan kapasitas staf oleh Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan didukung oleh Proyek Sumatran Tiger dinilai berhasil meningkatkan pengetahuan staff di empat taman nasional sebesar rata-rata 47%. Keempat taman nasional tersebut adalah: Taman Nasional Gunung Leuser, Taman Nasional Kerinci Seblat, Taman Nasional Berbak Sembilang dan Taman Nasional Bukit Barisan Selatan.

Kesimpulan ini disampaikan oleh Thomas Oni Veriasa, M.Si dari P4W LPPM IPB University dan Muchammad Muchtar, M.Sc dari PILI Green Network Associate, dalam paparan “Kajian Dampak Pengembangan Kapasitas Bagi Staff Taman Nasional di Region Sumatera” yang dilaksanakan, Jumat, 20 Desember 2019 di Bogor, Jawa Barat.

Dalam kajian yang bertujuan menilai pencapaian serta dampak Proyek Sumatran Tiger ini, kedua peneliti menilai pengembangan kapasitas dari beberapa aspek yaitu: 1) Efektifitas penyelenggaraan pelatihan; 2) Peningkatan pengetahuan individu; 3) Perubahan perilaku individu; 4) Faktor yang mempengaruhi peningkatan softskill.

Lebih dalam lagi, efektifitas pelatihan dinilai dari: kebaruan materi pelatihan; relevansi materi dengan pekerjaan; instruktur atau pelatih; kepuasan terhadap fasilitas pelatihan; dan pengelolaan dinamika peserta & waktu.

Untuk aspek peningkatan pengetahuan individu, kedua peneliti menilai: Pengetahuan sebelum dan sesudah pelatihan. Sementara untuk perubahan perilaku individu, kedua peneliti menilai: motivasi; komunikasi; jejaring dan lobi dari staff yang mengikuti kegiatan pengembangan kapasitas.

Pada aspek yang keempat, menurut peneliti, ada sejumlah faktor yang mempengaruhi softskill dari individu yaitu: jenis kelamin, umur, pendidikan, pengalaman kerja, kesesuaian pendidikan, pengalaman pelatihan dan peningkatan softskill itu sendiri.

Semua analisis di atas akan digunakan untuk mengkaji relevansi program dan dampak pelatihan pada skala lanskap, termasuk menilai bagaimana hubungan atau relasi antar mitra dan seberapa banyak investasi yang dikeluarkan untuk meningkatkan kolaborasi atau kerja sama di tingkat lanskap.

Relevansi Program

Kedua peneliti menilai, Proyek Sumatran Tiger memiliki kesesuaian yang tinggi tidak hanya dengan kebijakan utama Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) namun juga dengan kebutuhan masyarakat setempat dan strategi dari Proyek Sumatran Tiger itu sendiri.

Kebijakan utama KLHK merujuk pada Permenhut No.P.85/Menhut-II/2014 jo. PermenLHK No.P.44/MENLHK/SETJEN/KUM.1/6/2017 yang mengatur tata cara kerjasama penyelenggaraan Kawasan Suaka Alam (KSA) dan Kawasan Pelestarian Alam (KPA), termasuk kerja sama dalam penguatan kelembagaan dan kemitraan konservasi dalam berbagai bidang.

Upaya pengembangan kapasitas staf taman nasional nasional di Sumatra juga sesuai dengan hasil analisis kesenjangan di 4 lanskap TN yang dilakukan oleh Proyek Sumatran Tiger melalui konsultan Sriyanto pada 2017. Sriyanto dalam hasil kajiannya menyebutkan perlunya pendidikan dan pelatihan penyuluhan, pelatihan penguatan kelembagaan masyarakat, penempatan tenaga asing atau teknologi baru terkait konservasi.

Guna mendapatkan informasi yang dipakai untuk menganalisis pengembangan kapasitas staf di 4 taman nasional, Proyek Sumatran Tiger bekerja sama dengan Pusat Informasi Lingkungan Indonesia (PILI) menyelenggarakan program pelatihan dengan memiliki tema dan lokasi sebagai ‘ruang bersama’. Tema dan lokasi bersama ini diperlukan untuk untuk menjembatani konflik versus kepentingan bersama dalam penyelenggaraan fungsi perlindungan, pengawetan dan pemanfaatan di taman nasional.

Di Taman Nasional Bukit Barisan Selatan, PILI menyelenggarakan pelatihan dengan tema “Restorasi hutan berbasis masyarakat” di Resor Ulu Belu. Di Taman Nasional Kerinci Seblat, PILI menfasilitasi pelatihan di Resor Lunang Sako dengan tema “Pengelolaan ekowisata berbasis masyarakat”. Di Taman Nasional Berbak Sembilang, PILI menyelenggarakan pelatihan di Resor Rantau Rassau (yang sekarang disatukan jadi Resor Sungai Rambut), dengan tema “Penyelesaian konflik tenurial dan pemberdayaan masyarakat”, serta di Taman Nasional Gunung Leuser di Resor Kluet Selatan dengan tema “Pengeloaan penyu bersama masyarakat.”

Hasil Analisis Pengembangan Kapasitas

Dengan menggunakan metode di atas, kedua peneliti menyimpulkan, penyelenggaraan pelatihan yang didukung oleh Proyek Sumatran Tiger berjalan dengan efektif. Materi pelatihan juga dinilai memiliki unsur kebaruan, relevan dengan pekerjaan staf taman nasional, serta didukung oleh instruktur dan praktisi yang berkompeten. Namun kedua peneliti juga menemukan kekurangan minor pada penyelenggaraan pelatihan terutama terkait fasilitas pelatihan dan pengelolaan dinamika peserta dan waktu yang bisa menjadi pembelajaran ke depannya.

Secara lebih spesifik, kedua peneliti menemukan peningkatan pengetahuan level individu tertinggi pada staff di Taman Nasional Berbak Sembilang dengan peningkatan pengetahuan sebesar 82%. Posisi kedua diduduki oleh staff di Taman Bukit Barisan Selatan dengan peningkatan pengetahuan sebesar 54%, diikuti oleh staff di Taman Nasional Gunung Leuser dengan peningkatan pengetahuan sebesar 30% dan staff di Taman Nasional Kerinci Seblat dengan peningkatan pengetahuan sebesar 22%.

Sementara untuk nilai perubahan perilaku skala individu – yang dihitung dari keikutsertaan pelatihan – nilai tertinggi diduduki oleh staf Taman Nasional Gunung Leuser dengan nilai 69%, diikuti oleh staf di Taman Nasional Kerinci Seblat dengan nilai 53%, staff di Taman Nasional Berbak Sembilang di posisi ketiga dengan nilai 38% dan staff di Taman Nasional Bukit Barisan Selatan di posisi keempat dengan nilai 33%.

Dari hasil tersebut, kedua peneliti mencatat, telah terjadi peningkatan level pengetahuan (knowledge) dan pemahaman (understanding) dalam tematik tertentu seperti terlihat dari hasil kajian. Level kemampuan (skill) yang meningkat bervariasi pada level individu dan belum bisa dilihat secara keseluruhan. Para peserta pelatihan juga telah mampu menyusun rencana tindak lanjut (RTL) namun masih harus disempurnakan dan sudah ada beberapa inisiatif yang ditindaklanjuti baik oleh staf TN dan masyarakat (investasi sosial – jaringan kerjasama).

Pembelajaran & Rekomendasi

Menutup hasil kajian ini, kedua peneliti menyimpulkan, desain pelatihan berbasis kebutuhan dengan intervensi ketrampilan berjenjang serta asistensi pasca pelatihan dinilai cukup efektif dalam meningkatkan pengetahuan dan softskill dari peserta. “Rekomendasi model dan desain pelatihan seperti ini dapat diadopsi oleh direktorat terkait untuk kegiatan pengembangan kapasitas”, tulis kajian ini.

Guna lebih meningkatkan konsistensi keikutsertaan, komitmen peserta pelatihan harus diperkuat melalui proses pendelegasian dari pimpinan. Peserta muda diharapkan lebih banyak mengikuti proses pelatihan sebagai bentuk dari proses regenerasi.

Kedua peneliti menilai, pengetahuan dan ketrampilan staf di isu sosial ekonomi masih lemah. Untuk itu pelatihan pendekatan partisipatif, resolusi konflik dan business model perlu terus dikembangkan. Yang terakhir, kedua peniliti menilai, rata-rata soft skill yang dimiliki staff taman nasional baru sampai pada pengembangan komunikasi, jejaring, dan rintisan-rintisan kerjasama. “Perlu dukungan pimpinan untuk peningkatan ketrampilan terkait MoU dan ijin-ijin kerjasama,” tulisnya. Sehingga kedua peneliti menyarankan agar prioritas peserta pelatihan soft skill ke depan adalah penyuluh.

@SumatranTiger

Bukit Barisan Selatan National Park Promotes Patrolling Procedures

Bukit Barisan Selatan National Park, supported by Sumatran Tiger Project, promoted patrol procedures (protap) between July 1-2, 2019 at the Regional Office of Bengkunat Region II, Pesisir Barat.

“This patrolling procedures support implementation of patrols so that they can run effectively. The ‘protap’ also accompanied by patrol reporting format so that there is uniformity in reporting. Other attachments could be found in Protap Book and Polhut Pocket Book, “said Jimmy Fonda, SH, Head of Bengkunat Region II SPTN talking about protap in his office.

BBS NP socialized protap book at regional section level and conducted SMART Patrol evaluation at section level.

Socialization was held in collaboration between BBS NP, Sumatran Tiger Project GEF-UNDP, and WCS-IP and attended by four resorts in the region II section of Bengkunat; Way Haru Resort, Ngambur Resort, Pemihan Resort, Biha Resort, MMP (Polhut Partner Community), PEH, PPNPM, WCS patrol team, YABI patrol team, WWF, RC Sumatran Tiger Project.

Agus Hartono, S. Sos, Head of Bengkunat SPTN Region II was resource person for patrol protap. Wawan Eviyanto, S.P, MM, Head of Planning, Protection, Preservation Section was resource person for Patrol Book and Head of North Sumatra National Police Office was resource person for Forestry Pocket Book.

The opportunity was also used to share understanding of contents of the procedure and its attachments, including actions or steps that the patrol team should take when getting findings at field level.

The event also facilitated sharing knowledge session between forest police officers. This event reduced confusion due to lack of clarity in understanding patrolling procedure where it could be consulted with Chief of Forestry Unit as patrol controller.

@SumatranTigerID

Training Increases Capacity of TNKS Patrol Officers

Sumatran Tiger Project supported training to identify trees, raffles, carcasses, birds and animal trails, to collect evidence and compile incident reports on forestry crime for field officers implementing SMART (Spatial Monitoring And Reporting Tool) in Kerinci Seblat National Park from 25 to 27 June 2019. The activity is part of PIU Sumatran Tiger Project’s work plan in TNKS landscape in 2019.

Raflesia, carrion flowers, Sumatran tigers, Sumatran elephants and hornbills are curretly parts of TNKS’s Important Values ​​(NPK). It is important to identify these important faunas and floras for better management planning.

Spatial Monitoring and Reporting Tool (SMART) is a tool to collect systematic and valid spatial data which can be analyzed to improve effectiveness of conservation area management.

The training aims to improve the knowledge, skills and work attitudes of officers, so they could be able to produce field data from quality patrol activities. Patrol activities are carried out as an effort to protect the area, retrieve data and information from the field. The ability of field officers to identify potential biodiversity and threats is important to obtain good quality field data.

Theoretical learning was conducted in class at Sungai Penuh Arafah Hotel, followed by 2 days of field practice around KSNP area at Sungai Penuh Resort, Bukit Tapan, Kerinci Regency.

Training Materials consist of:

1. Vision of SMART-based Patrol facilitated by Wido R Albert (FFI IP, Sungai Penuh)

2. Method to identify potential tree data by Dr. Nurainas, M.Sc (Andalas University Lecturer)

3. Method to identify and collect raffle data and carcass flowers delivered by Septi Andriki from Komunitas Peduli Puspa Langka Bengkulu Utara (KPPLBU)

4. Method to identify and retrieve bird data and animal traces by Dr. Wilson Novarino, M.Sc (Lecturer at Andalas University)

5. Techniques to collect evidence and compile reports on forestry crime by Ipda. Jeki Noviardi, SH.

Training participants were representatives of field officers from 15 resorts of the Central Office of Kerinci Seblat National Park, Jambi Region I BKSDA Conservation Section, Kerinci Unit I KPHP, Bungo Unit II KPHP, Merangin KPHP, ICS Padang Aro Lingkar Institute, Sumatran Tiger Conservation – Kerinci Seblat, Conservation Group Mandiri Bangun Rejo, Lubuk Panjang Nature Lovers Group, Pesisir Selatan Regency and Nagari Sako Tapan-Based Forest Protection.

@SumatranTigerID

MoEF and UNDP Indonesia Visit Berbak Sembilang NP

Ministry of Environment and Forestry and UNDP Indonesia, supported by Sumatran Tiger Project just completed field visits from 28-30 January 2019 to Berbak Sembilang National Park. In this activity, the parties checked various developments and achievements of Sumatran Tiger Project in Berbak Sembilang National Park.

Berbak Sembilang National Park Authority has developed “situational room” to collect SMART patrol data from the field and documented findings for use in decision-making in protection, preservation and utilization of national parks. Some endangered and protected species in this area are Sumatran tiger and tapir. Sembilang National Park is also a Ramsar site and is spot for migratory water birds.

Team from Ministry of Environment and Forestry and UNDP Indonesia also witnessed technical training in wetland ecosystem management implemented by Yapeka to improve management effectiveness in Sembilang Berbilang National Park which is a habitat for Sumatran tiger, Asian elephant, Asian tapir, siamang, gold cats, sambar deer, estuaries crocodiles, Sembilang fish, giant freshwater turtles, freshwater dolphins and various bird species.

On second day, the team also visited Simpang Bungur Post, Air Hitam Dalam using two speedboats to observe condition of wetland ecosystem. The team camped in this area to witness the challenges of managing Berbak Sembilang ecosystem and solutions at field.

MoEF and UNDP Indonesia team also visited Rantau Rasau Village, the oldest village in Tanjung Jabung Timur District to witness participatory GIS mapping and training by PILI Green Network. The team met Rantau Rasau Village Head and witnessed the training that was expected to be an innovative resolution of tenurial conflict around Sungai Rambut Resort, Berbak Sembilang National Park.

The team also observed human and tiger conflict mitigation solutions at Berbak Sembilang National Park in Telago Limo Village, where Sumatran Tiger Project with its partner, ZSL, created a mural at village hall to increase public’s awareness on the importance of Sumatran tiger and other wildlife and plants. The village hall that is used for meetings and community activities – including weddings – is the right location to increase community awareness.

@SumatranTigerID

Increasing Law Enforcement Capacity, Urgent Duty

Conflict between humans and wildlife, illegal wildlife hunting activities and deforestation activities that lead to destruction of wildlife habitat, until now have not been handled properly and received maximum penalty by law enforcement stakeholders.

Illegal activities have also increased wildlife trading activities in black market network and demand for Sumatran tiger skin and body parts, elephant ivory, and other wildlife’s body parts.

Weak law enforcement capacity along with increasingly limited allocation of human resources and funding become the main barriers to tackle illegal wildlife hunting and trading.

Several other factors include the existence of laws which are no longer relevant to present conditions. These laws becoming barriers used by environmental and forestry actors to justify their illicit actions.

These weaknesses should be immediately revised to optimize law enforcement capacity in environment and forestry sectors to be able to play their roles accordingly and to receive support from other related institutions.

Sumatran Tiger Project supports pre-study of law enforcement capacity in forestry sector, as concrete form of efforts to strengthening law enforcement capacity within Ministry Environment and Forestry (KLHK) as imposed by regulations.

This activity was held for 2 days from 25-26 September 2018, at Antares Hotel Medan and fully organized by PIU Sumatran Tiger – Leuser with team of technical committees at Gunung Leuser National Park Office.

This activity was attended by law enforcement agencies, Provincial Forest Service, representatives of relevant UPT KLHK, representatives of academics and collaborative partners of UPT KSDAE-LHK in Leuser landscape. Darmawan Liswanto, is consultant who facilitated the pre-study of law enforcement capacity of forestry sector.

@SumatranTiger

TNKS Promotes Biodiversity Protection to Police Cadets

Sumatran Tiger Project supported Kerinci Seblat National Park’s initiative to promote “Biodiversity Protection and Introduction to Kerinci Seblat National Park Area” to students of Bukit Kaba National Police School – Bengkulu Regional Police, in Curup, Rejang Lebong Regency, Bengkulu Province, on Friday, September 21.

Bukit Kaba National Police School (SPN) Principal, AKBP Abdul Muis, S.I.K appreciated the initiative mentioning that, “The Socialization of Biodiversity Protection and the Introduction of the Kerinci Seblat National Park Area to students will be very effective because these knowledge will be spread by students throughout the Bengkulu Province.

“Students who have received these information from very beginning, will be placed in different divisions, including Criminal Investigation. They have become familiar with issues of protecting biodiversity and Kerinci Seblat National Park Area,” he said.

As many as 45 SPN officers / personnel and 125 SPN students attended the socialization event. The Head of the National Police School warmly welcomed this socialization and hoped that it could be carried out annually at the SPN.

Head of TNKS, Tamen Sitorus, supported the initiative and TNKS will continue the socialization in the future. “We (TNKS and Police) both implementing the law, we need to work together in the future,” he said.

Socialization of biodiversity protection and the introduction of Kerinci Seblat National Park area were also held at PT. Supreme Energy Muara Laboh, South Solok Regency, West Sumatra Province attended by 40 participants and at PT. Brantas Abipraya – MHP Muaro Sako, Pesisir Selatan Regency, West Sumatra Province that was attended by 40 participants. These activities received a warm welcome from the Head of the SPN. The leaders of the companies also expressed their appreciation to Kerinci Seblat National Park Authority for initiating these socialization activities.

@SumatranTiger

Implementing SMART in Gunung Leuser National Park

Transforming Effectiveness of Biodiversity Project Conservation in Priority Sumatran Landscapes (Sumatran Tiger Project) conducted training on implementation of SMART-based Patrol Data Collection and Reporting System for Resort Team Scope of BPTN-I Tapaktuan – Gunung Leuser National Park Center.

This activity is part of efforts to build management of national park at site level in safeguarding and protecting area of ​​Gunung Leuser National Park BPTN-I Tapaktuan area. This activity was held for 2 days between 13-14 August 2018, which was held in Tapaktuan, South Aceh.

This activity aimed to improve skills and understanding of SMART Patrol team at site level in dealing with routine data collection, reporting system and SMART-based Patrol procedures in accordance with current requirements.

The event was attended by a total of 31 participants in scope of SPTN-I Blangpidie (Aceh Barat Daya) and SPTN-II Kluet (Aceh Selatan) within BPTN in Area I-Tapaktuan region.

This activity was organized by technical team from Gunung Leuser National Park Office, with support from facilitator team’s from WCS IP and funding from GEF-UNDP Sumatran Tiger Project.

@SumatranTigerID