Alam adalah Solusi, Mari Jaga Keanekaragaman Hayati

Sorry, this entry is only available in Indonesian. For the sake of viewer convenience, the content is shown below in the alternative language. You may click the link to switch the active language.

Peringatan Hari Keanekaragaman Hayati Dunia, 22 Mei 2020

“Our Solution are in Nature

Jakarta, Tanggal 22 Mei ditetapkan oleh Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB) sebagai hari Keanekaragaman Hayati Internasional (the International Day for Biological Diversity/IDB) untuk meningkatkan pemahaman dan kesadaran akan keanekaragaman hayati secara global. Tanggal tersebut dipilih sebagai peringatan atas adopsi Convention on Biological Diversity (CBD) tanggal 22 Mei 1992 di Nairobi. Dalam rangka peringatan IDB, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan menyelenggarakan beberapa kegiatan sebagai pekan keanekaragaman hayati pada tanggal 18-22 Mei dengan pilihan sub tema yang dipilih oleh Sekretariat CBD.

Peringatan Hari Keanekaragaman Hayati Internasional memiliki tema yang berbeda setiap tahun. Tahun 2020, tema yang dipilih adalah “Our Solution are in Nature” untuk meningkatkan harapan, solidaritas dan pentingnya bekerja sama dalam setiap tingkatan untuk membangun kehidupan mendatang yang harmonis dengan alam. Selanjutnya sub tema yang diangkat adalah science and knowledge, awareness (conservation and biodiversity, health and food, people and culture), and actions.

Tema tersebut dipilih oleh Sekretariat CBD untuk mengingatkan kembali pentingnya keanekaragaman hayati sebagai solusi atas tantangan pembangunan yang berkelanjutan, ketahanan iklim, ketahanan pangan dan air, energi serta kesehatan manusia yang didukung dengan ketahanan ekonomi.

Keanekaragaman hayati di Indonesia sangat beragam mulai keanekaragaman tumbuhan, satwa, mikroorganisme, termasuk gen yang terkandung di dalamnya, serta keanekaragaman ekosistem, yang kemudian dapat dibagi menjadi 3 level, yaitu: genetik, spesies dan ekosistem. Keanekaragaman hayati merupakan satu kesatuan yang dapat memberikan manfaat kepada manusia baik dari aspek ekonomi, sosial termasuk budaya dan tentunya aspek ekologi dalam wujud mendukung ketahanan pangan, air dan energi.

Indonesia, sebagai salah satu negara Mega-biodiversity Country memiliki keanekaragaman ekosistem mulai dari daratan sampai lautan dengan lebih kurang 90 tipe ekosistem unik. Pada level jenis, Indonesia memiliki lebih dari 30.000 – 40.000 spesies flora tumbuhan berbiji, 1.500 spesies alga, 80.000 spesies tumbuhan berspora berua jamur, 595 spesies lumut kerak, 2.197 spesies paku-pakuan, 8.157 spesies fauna vertebrata dan 1900 spesies kupu-kupu (LIPI, 2014). Sementara pada level genetik, Indonesia masih perlu banyak menggali informasi atas manfaat sumberdaya genetik yang masih belum diketahui. Keanekaragaman hayati juga sangat erat kaitannya dengan kesehatan manusia.

Keragaman hayati di tingkatan ekosistem juga memiliki fungsi menjadi sistem penyangga kehidupan. Kawasan hutan yang masih utuh dan sehat menjamin suplai air bersih, menjaga kesuburan tanah, kesimbangan siklus hidrologi dan iklim mikro, mencegah banjir dan longsor, sehingga lahan pertanian di bawahnya menjadi lebih subur dan produktif. Kawasan hutan yang sehat juga merupakan habitat serangga yang berfungsi sebagai polinator atau penyerbukan bagi komunitas pohon dan tumbuhan lainnya di kawasan pertanian di sekitarnya. Maka, menjaga hutan berarti menjaga keragaman hayati dan keseimbangan hidup antar komponennya dan berkontribusi untuk ketahanan dan kemandirian pangan, ketersediaan air bersih untuk konsumsi dan kesehatan bagi masyarakat secara luas.

Kasus pandemi saat ini, menjadi relevan dibicarakan di peringatan Hari Keanekaragaman Hayati Internasional, karena penyebab penyakit COVID-19 adalah virus SARS CoV2 yang ditengarai moyangnya berasal dari virus Corona yang ada di dalam tubuh kelelawar. Banyak penelitian yang menyebutkan bahwa kelelawar yang dikonsumsi masyarakat di Wuhan menjadi salah satu penyebab kemunculannya. Hipotesis ini mungkin ada benarnya, akan tetapi kemunculan pandemi COVID-19 ini bisa saja merupakan proses yang kompleks (Naipospos, Tri.S.P, 2020).

Walaupun begitu, penyebaran penyakit dari hewan ke manusia tak bisa dianggap enteng. Setidaknya, 80 persen penyakit menular pada manusia bersumber dari hewan, sementara sekitar 75 persen penyakit baru atau penyakit infeksi emerging pada manusia disebabkan oleh mikroba yang berasal dari hewan atau satwa. Sebagai contoh penyebaran flu burung, virus nipah, HIV, sindrom pernapasan akut (SARS), sindrom pernapasan Timur Tengah-koronavirus (MERS-CoV), Ebola ataupun penyakit baru yang bersifat zoonotik lainnya.

Beberapa upaya penghentian penyebaran penyakit baru dengan memusnahkan satwa liar di alam tidak dapat menyelesaikan masalah, akan tetapi dapat menimbulkan masalah baru yaitu menyebabkan ketidakseimbangan alam. Perburuan liar dan mengkonsumsi satwa liar sangat beresiko pada kesehatan manusia. Dengan demikian, keseimbangan ekosistem dengan keanekaragaman hayati tinggi dapat melindungi manusia dari penyakit. Sebaliknya, ekosistem dengan populasi spesies homogen sangat rentan terhadap pandemi.

Hal ini kemudian menarik minat peneliti untuk menemukan vaksin dari virus penyebab pandemi. Saat ini, banyak peneliti di dunia melakukan penelitian vaksin dari berbagai sampel yang bersumber dari hidupan liar (tumbuhan dan satwa liar) dan sumber daya genetik yang terkandung didalam hidupan liar dan alamnya. Situasi ini menunjukkan perhatian serius dari peneliti dunia terutama di negara maju untuk pencarian obat maupun vaksin di negara yang memiliki keanekaragaman hayati tinggi. Kegiatan eksplorasi tersebut dalam dunia sains dikenal sebagai bioprospecting.

Bioprospecting sebagai kegiatan eksplorasi, ekstraksi dan penapisan sumber daya alam hayati untuk pemanfaatan komersial dari sumber daya genetik, spesies dan atau biokimia beserta turunannya (Reid, et. All, 1993) yang bersumber dari spesies liar, dipercaya dapat menjadi jawaban atas pandemi COVID-19 yang terjadi saat ini. Pada umumnya kegiatan tersebut disertai dengan eksplorasi atas pengetahuan tradisional (traditional knowledge). Kondisi tersebut dapat dimanfaatkan oleh berbagai pihak untuk mengambil bagian dalam upaya mencari potensi obat serta sekaligus dapat menjadi potensi ekonomi yang mungkin tersembunyi dalam keanekaragaman hayati Indonesia. Hal ini seharusnya menjadi perhatian bersama.

Salah satu contoh terbaru berkembangnya penelitian yang bersumber pada pemanfaatan sumber daya genetik yaitu inovasi Hand-Sanitizer dan Hand-Soap yang mengandung bahan aktif minyak Gaharu yang ditemukan oleh Asep Hidayat seorang peneliti dari Badan Penelitian, Pengembangan dan Inovasi-KLHK. Dalam minyak gaharu terdapat senyawa Sesquiterpenes serta lebih dari 50 senyawa lainnya yang sangat baik untuk membunuh mikroorganisme (bakteri, jamur dan virus), sehingga diharapkan dapat digunakan sebagai upaya pencegahan penyebaran COVID-19.

Artinya, pemanfaatan potensi keanekaragaman hayati dengan bijak dapat menjadi salah satu solusi dalam upaya mengatasi pandemi seperti yang disebabkan oleh coronavirus. Dengan demikian, keanekaragaman hayati sebagai jawaban atas tantangan pembangunan berkelanjutan dimana manusia merupakan bagian dari alam dan tidak dapat dipisahkan dari alam.

Sekiranya benar bahwa ungkapan yang menyatakan dunia setelah pandemi COVID-19 tidak akan sama seperti sebelumnya. Aspek kesehatan kemudian menjadi hal penting dalam upaya konservasi keanekaragaman hayati. Lebih dari itu, pengambilan kebijakan harus berdasarkan atas pertimbangan sains, memperhatikan traditional knowledge serta melibatkan masyarakat dengan pola kemitraan. Semua pihak harus dapat memastikan pembangunan yang berkelanjutan dengan mempertimbangkan keanekaragaman hayati, pada tiga level, yaitu ekosistem, spesies, dan genetik.

Ke depan, segera diidentifikasi dan diinventarisasi 43 juta hektare kawasan ekosistem esensial di luar kawasan konservasi yang telah ada. Juga akan dibangun sistem connectivity antar kluster meta populasi yang terpisah dengan penetapan 1,4 juta hektare High Conservation Value Forest (HCVF) di wilayah konsesi, High Carbon Area, dan kawasan yang unik seperti cloud forest, karst, hutan kerangas, kawasan riparian, mangrove, padang lamun, atau habitat satwa endemik tertentu yang terisolasi pada pulau-pulau kecil.  Di samping itu, terus dilakukan rehabilitasi kawasan hutan dengan melibatkan masyarakat, dan pemegang izin di wilayah konsensinya.

Pada peringatan hari Keanekaragaman Hayati Internasional tahun 2020 ini, kita mencari jawaban, bantuan dan inspirasi dari alam untuk kehidupan yang lebih baik bagi generasi mendatang, agar semakin selaras dengan mekanisme dan keseimbangan alam.

————————-

References:

Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia. 2014. “Kekinian Keanekaragaman Hayati Indonesia 2014”, Jakarta: LIPI Press.

Naipospos, Tri S.P. 2020.  Inang Alamiah Virus Corona“, dalam artikel Center for Indonesian Veterinary Analytical Studies. http://civas.net/2020/03/20/inang-alamiah-virus-corona/.

Reid, W.V., et. Al. 1993.  Biodiversity Prospecting: Using Genetic Resources for Sustainable Development“, World Resources Institute, Washington, DC; Instituto Nacional de Biodiversidad, Santo Domingo de Heredia, Costa Rica; Rainforest Alliance, New York; African Centre for Technology Studies, Nairobi, Kenya.

TNBBS Berhasil Kembangkan Sistem Pengamatan Harimau

Sorry, this entry is only available in Indonesian. For the sake of viewer convenience, the content is shown below in the alternative language. You may click the link to switch the active language.

Taman Nasional Bukit Barisan Selatan (TNBBS) mencakup total area seluas 330.853,23 ha, terletak di dua provinsi, Provinsi Lampung dan Bengkulu (dengan proporsi luasan terbesar di Provinsi Lampung).

Visi dari TNBBS adalah sebagai habitat pelestarian harimau sumatera, badak sumatera dan gajah sumatera serta perlindungan sistem peyangga kehidupan yang didukung oleh pemberdayaan masyarakat secara berkelanjutan.

TNBBS juga menjadi satu dari tiga taman nasional di Sumatera yang menjadi bagian dari Tropical Rainforest Heritage of Sumatra (TRHS) yang ditetapkan oleh UNESCO karena nilai universal yang luar biasa dari budaya/properti alam yang membutuhkan perlindungan untuk kepentingan seluruh umat manusia.

Pengamatan adalah survei secara berkala terhadap satu objek tertentu untuk melihat dinamika/perubahan yang terjadi terhadap objek tersebut serta untuk memahami kemungkinan faktor-faktor yang menyebabkan perubahan tersebut terjadi. Dalam hal ini obyek yang diamati adalah harimau, satwa-mangsa, dan hutan (deforestasi) di TNBBS.

Secara lebih spesifik sistem pengamatan harimau Sumatra merujuk pada perkembangan pengelolaan pusat data (database) kamera penjebak dengan fokus pada individu harimau.

Kamera penjebak merupakan alat yang sering digunakan di dalam survei pendugaan populasi harimau. Dari survei dengan mempergunakan kamera penjebak maka data dasar yang akan diperoleh adalah berupa gambar/video dari individu harimau serta lokasi dimana individu tersebut tertangkap oleh kamera penjebak.

Data yang terkumpul dari survei dengan mempergunakan kamera penjebak secara berkala selain dapat memberikan informasi populasi (kepadatan) harimau dalam waktu tertentu dapat juga digunakan untuk memonitor apakah individu harimau (setiap individu harimau memiliki keunikan pada pola loreng) yang tertangkap pada survei kamera penjebak pemasangan kamera penjebak sebelumnya masih tertangkap juga pada periode pemasangan berikutnya.

Kamera penjebak juga sering digunakan dalam kegiatan mitigasi konflik satwa liar dengan manusia dengan tujuan untuk memastikan keberadaan harimau di sekitar desa/pemukiman serta kegiatan pengamatan (monitoring) aktivitas manusia dan satwa liar pada area-area tertentu (misalnya pengamatan dampak jalan).

Balai Besar Taman Nasional Bukit Barisan Selatan didukung oleh Proyek Sumatran Tiger dan mitra sejak awal tahun 2017 mulai merapikan data kamera penjebak hasil dari berbagai kegiatan yang menggunakan kamera penjebak.

Perangkat lunak yang dipakai untuk identifikasi individu harimau adalah  ExtractCompare. ExtractCompare merupakan sebuah perangkat lunak yang dikembangkan oleh Conservation Research, Ltd. untuk pengelolaan foto-foto satwa. Perangkat lunak ini dapat mengenali individu satwa berdasarkan pola unik alami yang terlihat pada tubuhnya.

Saat ini, ExtractCompare sudah diaplikasikan untuk berbagai jenis satwa yang memiliki penanda individu pada tubuhnya, seperti harimau, macan tutul, hiu, dan salamander. Perangkat lunak tersebut diintegrasikan dengan Microsoft Access sebagai sistem manajemen data untuk menyimpan informasi foto yang diproses.

Hasil dari proses analisis dari semua data sampai dengan bulan Maret 2019 diperoleh 425 foto harimau dalam pangkalan data ExtractCompare yang terdiri dari 151 foto sisi kiri dan 154 foto sisi kanan (120 foto tidak diekstrak karena merupakan foto dari event yang sama atau foto yang buram).

Data yang telah dimasukkan dalam pangkalan data berasal dari tahun 2010 hingga 2018. Berdasarkan perpustakaan foto tersebut, telah diidentifikasi 106 individu (43 betina, 16 jantan, 47 tidak diketahui jenis kelaminnya). Data juga mencatat terdapat 31 individu harimau (20 betina, 5 jantan) yang memiliki informasi pola loreng lengkap di kedua tubuhnya.

Perlu dicatat bahwa jumlah 106 individu bukanlah merupakan jumlah harimau yang ada di TNBBS saat ini, melainkan jumlah individu yang ada di pangkalan data foto harimau TNBBS. Angka tersebut merupakan total individu yang terekam sejak tahun 2010 dan terdapat kemungkinan bahwa ada harimau mati selama kisaran waktu 2010 hingga 2019. Penambahan data-data yang baru akan lebih memperkuat hasil identifikasi individu harimau ini.

Dari 106 individu harimau yang telah diidentifikasi di TNBBS terlihat bahwa jantan dan betina ditemukan cukup tersebar merata di TNBBS tetapi dengan jumlah individu betina yang lebih banyak dibandingkan dengan yang jantan.

Yang tak kalah menarik, dari data yang tersedia ini juga bisa diperkirakan ruang jelajah harimau walaupun hanya berupa perkiraan kasar (penentuan area jelajah berdasarkan data kamera perangkap bukan merupakan metoda yang ideal dimana disarankan untuk mempergunakan GPS Collar). Diperlukan paling sedikit data 3 lokasi temuan suatu individu harimau untuk memperkirakannya.

Dari hasil analisis data kamera perangkap terlihat harimau jantan memiliki ruang jelajah (rata-rata 3.795 ha) yang lebih luas daripada harimau betina (rata-rata 787 ha). Harimau bersifat teritorial (dan dengan daerah jelajah yang lebih luas, kurang lebih pernah tercatat di Sumatera seluas 23.600 hektar) dengan rata-rata ruang teritori jantan seluas 1.500 – 2.000 hektar. Harimau betina biasanya memiliki teritori yang lebih kecil. Luasan area jelajah dan teritori sangat tergantung pada kondisi lingkungan, sumber pakan, jenis kelamin, dan kelas umur.

Dari hasil sementara ini, dengan luas area jelajah yang hampir sama atau lebih kecil dari luasan teritori (sumber data luasan teritori dari referensi) kemungkinan menunjukkan potensi satwa mangsa yang masih baik untuk mempertahankan populasi harimau di TNBBS. Hasil dari survei populasi harimau pada tahun 2015 menunjukkan bahwa area survei (IPZ-Intensive Protection Zone TNBBS) memiliki potensi satwa mangsa yang masih banyak (Pusparini dkk. 2018).

Ketersediaan sistem pengamatan harimau sangat penting guna memastikan sistem perlindungan terhadap harimau Sumatra dilakukan berdasarkan data dan informasi yang tepat. Yang diperlukan adalah memastikan keberlanjutan sistem pengamatan harimau yang telah dibangun dan peningkatan kapasitas staf taman nasional yang telah dilakukan.

@SumatranTigerID

 

Training Increases Capacity of TNKS Patrol Officers

Sumatran Tiger Project supported training to identify trees, raffles, carcasses, birds and animal trails, to collect evidence and compile incident reports on forestry crime for field officers implementing SMART (Spatial Monitoring And Reporting Tool) in Kerinci Seblat National Park from 25 to 27 June 2019. The activity is part of PIU Sumatran Tiger Project’s work plan in TNKS landscape in 2019.

Raflesia, carrion flowers, Sumatran tigers, Sumatran elephants and hornbills are curretly parts of TNKS’s Important Values ​​(NPK). It is important to identify these important faunas and floras for better management planning.

Spatial Monitoring and Reporting Tool (SMART) is a tool to collect systematic and valid spatial data which can be analyzed to improve effectiveness of conservation area management.

The training aims to improve the knowledge, skills and work attitudes of officers, so they could be able to produce field data from quality patrol activities. Patrol activities are carried out as an effort to protect the area, retrieve data and information from the field. The ability of field officers to identify potential biodiversity and threats is important to obtain good quality field data.

Theoretical learning was conducted in class at Sungai Penuh Arafah Hotel, followed by 2 days of field practice around KSNP area at Sungai Penuh Resort, Bukit Tapan, Kerinci Regency.

Training Materials consist of:

1. Vision of SMART-based Patrol facilitated by Wido R Albert (FFI IP, Sungai Penuh)

2. Method to identify potential tree data by Dr. Nurainas, M.Sc (Andalas University Lecturer)

3. Method to identify and collect raffle data and carcass flowers delivered by Septi Andriki from Komunitas Peduli Puspa Langka Bengkulu Utara (KPPLBU)

4. Method to identify and retrieve bird data and animal traces by Dr. Wilson Novarino, M.Sc (Lecturer at Andalas University)

5. Techniques to collect evidence and compile reports on forestry crime by Ipda. Jeki Noviardi, SH.

Training participants were representatives of field officers from 15 resorts of the Central Office of Kerinci Seblat National Park, Jambi Region I BKSDA Conservation Section, Kerinci Unit I KPHP, Bungo Unit II KPHP, Merangin KPHP, ICS Padang Aro Lingkar Institute, Sumatran Tiger Conservation – Kerinci Seblat, Conservation Group Mandiri Bangun Rejo, Lubuk Panjang Nature Lovers Group, Pesisir Selatan Regency and Nagari Sako Tapan-Based Forest Protection.

@SumatranTigerID

Sumatra Wide Tiger Survey 2018-2019 Begins

Jakarta, March 13, 2019 – The Indonesian government through the Ministry of Environment and Forestry (KLHK) has targeted number of Sumatran tigers to be doubled by 2022 – a target set out in National Tiger Recovery Program (NTRP) 2010-2022. Ministry of Environment and Forestry together with its partners conduct periodic and systematic monitoring through the activities of the Sumatra Wide Tiger Survey (SWTS) to monitor the effectiveness of Sumatran tiger conservation efforts in order to achieve this target.

The first SWTS held between 2007 and 2009 revealed that 72% of the survey area was still inhabited by Sumatran tigers. According to many experts, this condition perceived to be good. The first SWTS had also been the main reference in the preparation of several strategic Sumatran tiger conservation documents, both on a national and international scale. After approximately 10 years, KLHK and its partners are implementing the second SWTS. The second SWTS activity was carried out to evaluate the effectiveness of Sumatran tiger conservation efforts that have been running for the past 10 years.

The Director General of KSDAE, Wiratno, gave a direction read by the Director of Essential Ecosystem Management, Tandya Tjahjana, at the launch of the survey at Menara Peninsula Hotel, March 13, 2019. “The Ministry of LHK continues to commit and establish good cooperation with relevant parties to promote in-situ Sumatran tiger conservation. Conservation programs had also developed in the past 10 years. I hope, with implementation of this second SWTS activity, the support and active participation of parties towards preserving Sumatran tigers and other wildlife will increase and can be synergized with regional development policies in the region, “he said.

Director of Biodiversity Conservation, Indra Exploitasia stated that the second SWTS activity was important to be carried out considering the increasing threat to preservation of Sumatran tigers in nature. “In addition to information regarding the distribution of Sumatran tigers, the output expected from the second STWS activity is population condition data and distribution of prey, disease and genetic animals in all Sumatran tiger habitat, so that it can map the gap in conservation activities that have been carried out,” she said.

Furthermore, all data, information and studies taken from SWTS activities will be collected in the database of Directorate General of KSDAE and subsequently become a reference for conservation policies not only for Sumatran tigers but also for rhinos, orangutans, elephants and other wildlife on the island of Sumatra.

Hariyo T. Wibisono, Executive Coordinator of SWTS stated, “SWTS 2018-2019 is the largest wildlife survey activity in the world, both in terms of partnerships, human resources involved, and area coverage. A total of 74 survey teams (354 team members) from 30 institutions were deployed to carry out surveys in 23 tiger distribution areas covering 12.9 million hectares, including 6.4 million hectares covered in the first SWTS. “15 technical implementation units (UPT) KLHK, more than 10 KPHs, 21 national and international NGOs, two universities, two companies, and 13 donor institutions have joined to support SWTS activities.” he said.

Prof. Dr. Gono Semiadi from LIPI, explained that there were several things will be produced from this second SWTS. “We hope to be able to find the proportion of areas that are living areas of tigers, information about population genetic diversity in each habitat, increasing national technical capacity, and some tiger conservation strategy documents such as those produced by SWTS first.”

This survey not only involves the government but also all stakeholders in efforts to save tigers. “The 2007-2009 survey was the first largest survey of tigers in the world. With successful collaboration in the past, we are confident that now we can repeat success through good collaboration across organizations. This multi-stakeholder involvement is a step forward in building a comprehensive conservation design at central government and regional government level, “said Munawar Kholis, Chair of the Forum HarimauKita (FHK).

– ## –

Media Contact (contact):

KKH, KLHK: Desy S. Chandradewi (+62 812-9542-679)
SWTS Executive Coordinator: Hariyo T. Wibisono (+62 812-1099-557)
Chairperson of the HarimauKita Forum: Munawar Kholis (+62 811-1101-281)

Book: Sumatran Tiger Population Monitoring Guidance

Sumatran Tiger Project in collaboration with the Directorate of Biodiversity Conservation, Directorate General of KSDAE, Ministry of Environment and Forestry, has published the book “Sumatran Tiger Population Monitoring Guidance”. For colleagues interested in getting this book please download through the following link: “Panduan Pemantauan Populasi Harimau

@SumatranTigerID

Asian Waterbird Census 2018: Team Finds Rare Birds at Cemara Beach

Asian Waterbird Census 2018 from 6 to 21 January 2018 provided opportunity for Berbak-Sembilang National Park and Balai KSDA Jambi to held monitoring of migratory birds at Cemara Beach, Tanjung Jabung Timur Regency (Tanjabtim), Jambi Province, from the 15th -17 January 2018. This activity was supported by GEF-UNDP Sumatran Tiger Project.

Cemara Beach is known as one of the migratory water birds stop locations migrating from the north to the south part of the Earth. Pantai Cemara is also a part of Berbak Ramsar Site since 1992, and it was established by the Governor of Jambi as a migratory waterbird protection area through the Jambi Governor’s Decree No.456 of 1996.

This monitoring activity aimed to collect data on the type and number of migratory bird populations in Pantai Cemara and to promote Pantai Cemara as one of the special interest tourist sites for the observation of the Bird Migrant Bird, thereby increasing the economic income of the people around Cemara Beach and Berbak-Sembilang National Park. The promotion is also expected to foster birdwatching initiatives among students and the communities in Jambi Province, and to increase people’s attention and Tanjabtim Government towards the conservation of Cemara Beach.

This activity involved relevant stakeholders consisting of Tourism Department of Tanjabtim Government, Tourism Activity Organizer in Jambi, students and university students of University of Jambi, local and international NGO (Gita Buana, Zoological Society of London and Wetlands International Indonesia Program), and also local community in Pantai Cemara .

In this activity, migratory birdwatching team found 30 species of aquatic birds on Cemara Beach with a total population of 13,357 individuals dominated by Blue-sea Ekor-blorok (Limosa lapponica), Blue-tailed Sea (Limosa limosa) (Charadrius mongolus), Trinil Bedaran (Xenus cinereus), and Kedidi Besar (Calidris tenuirostris).

One of the observed Trinil species is Trinil Lumpur Asia (Limnodromus semipalmatus) with IUCN near threaten status, where its population is estimated to be only 23,000 in the world. Of the 30 species of Water Birds 2 Type is the type of resident, namely Little Egretta (Egretta garzetta) and Cangak Merah (Ardea purpurea).

The team also managed to find migratory orange-water birds (installed in Victoria, Australia), white flags (installed on North Island, New Zealand), and black-and-white flags (installed in Chongming Dao-China).

Cemara Beach area has the potential as a tourist attraction but requires improvement in infrastructure to facilitate access to the location. The existence of migratory birds can be a special attraction for domestic and foreign tourists. Currently to reach the Cemara Beach can be done by land using two-wheeled vehicles or by sea using a speedboat. But it is still difficult because of damaged roads and bridges and high waves in the west wind season (October – April).

Some conditions need to be of concern in Cemara beach are high abrasion and community activities that use motorcycles to take shells on the beach. Both of these can threaten the function of Pantai Cemara as a stopover location for the Bird Migrant Bird.

Recapitulation of Waterbird Monitoring Results in Pantai Cemara 

No. Name of Species Local name Number of individuals Info
Pantai Cemara  
1 Egretta garzetta Kuntul kecil                        13 Resident
2 Ardea purpurea Cangak merah                          2 Resident
3 Actitis hypoleucos Trinil pantai                        31 Migrant
4 Charadrius alexandrinus Cerek tilil                      654 Migrant
5 Charadrius leschenaultii Cerek-pasir besar                      344 Migrant
6 Charadrius mongolus Cerek-pasir Mongolia                   2.276 Migrant
7 Charadrius dealbatus White-faced Plover                          4 Migrant
8 Pluvialis fulva Cerek kernyut                        30 Migrant
9 Pluvialis squatarola Cerek besar                      166 Migrant
10 Calidris ferruginea Kedidi golgol                      108 Migrant
11 Calidris tenuirostris Kedidi besar                   1.054 Migrant
12 Calidris alba Kedidi putih                          6 Migrant
13 Calidris ruficollis Kedidi leher-merah                        52 Migrant
14 Xenus cinereus Trinil bedaran                   1.916 Migrant
15 Tringa totanus Trinil kaki-merah                        44 Migrant
16 Tringa nebularia Trinil kaki-hijau                      964 Migrant
17 Tringa stagnatilis Trinil rawa                        48 Migrant
18  Tringa glareola Trinil semak                          2 Migrant
19 Limosa limosa Biru-laut ekor-hitam                   2.106 Migrant
20 Limosa lapponica Biru-laut ekor-blorok                   3.368 Migrant
21 Limnodromus semipalmatus Trinil lumpur Asia                        30 Migrant
22 Numenius phaeopus Gajahan penggala                        14 Migrant
23 Numenius arquata Gajahan besar                          5 Migrant
24 Numenius madagascariensis Gajahan timur                          3 Migrant
25 Sterna hirundo Dara-laut kecil                        47 Migrant
26 Sterna albifrons Dara-laut kecil                          9 Migrant
27 Sterna caspia Dara-laut Kaspia                        16 Migrant
28 Sterna bengalensis Dara-laut Benggala                        15 Migrant
29 Sterna bergii Dara-laut jambul                          7 Migran
30 Chlidonia hybridus Dara-laut kumis                        23 Migrant
Total                13.357 Local and migratory birds

Contact 

Unit Manajemen Proyek Sumatran Tiger

Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan

Gd. Manggala Wanabakti, Blok 1, Lt.15, Ruang B7 Jl. Gatot Subroto, Senayan, Jakarta, 10270

Telp: +62 21 578 52990

Email: info@sumatrantiger.id

Sumatran Tiger Project Supports Increasing Tiger Population

Sumatran Tiger Project, Bukit Barisan Selatan National Park(TNBBS) and WCS-IP (Indonesia Program) implement SMART patrols and install camera traps to secure intensive protection zones that play an important role in supporting population growth of Sumatran tiger in Bukit Barisan Selatan.

Patrolling is the key approach to ensuring protection of biodiversity within conservation areas.

A system is needed to ensure effectiveness of patrol activities, that can not only be used to handle illegal activities, but also can store patrol activities information systematically to be used for identifying areas vulnerable to illegal activities.

Spatial Monitoring and Reporting Tool (SMART) is the system designed to facilitate the transformation of patrol data into spatial forms that can provide useful information for conservation area managers in planning of security and law enforcement activities.

Sumatran Tiger project supports WCS in conducting SMART-based patrol activities in Bukit Barisan Selatan National Park (TNBBS), particularly in Intensive Protection Zones covering 7 resorts of 17 resorts within Bukit Barisan Selatan National Park. This is in line with efforts to improve the effectiveness of the management of priority conservation areas in Sumatra, which is one of the main components of the project.

Intensive Prodution Zones, decided by Decree of Director General PHKA No SK.152 / IV-Set / 2015 Year 2015 on Intensive Protection Zone Development Policy as an effort to increase Sumatran rhino population.

In its development, IPZ is not only beneficial for rhino population but also for other key species such as Sumatran tigers and Sumatran elephants.

The result of camera trap surveys conducted by the WCS team, the tiger population density increased from 1.6 tigers / 100 km2 in 2002 to 2.8 tigers / 100 km2 by 2015. The proportion of male and female tigers is 1: 3.

WCS and TN BBS within the period May 21 to November 20, 2015 have completed surveys of tiger populations and prey animals using surveillance cameras. As many as 65 grid successfully installed by camera traps, with two cameras facing to each other in each grid. Data from two cameras could not be analyzed because the camera is lost.

Result from this 2015 surveys becoming the basis for another survey to be conducted in 2018 to assess whether tiger populations have improved in line with increasing effectiveness of protections in conservation areas.

Sumatran Tiger Project supported 43 patrolling trips by TNBBS and WCS-IP patrol teams covering a distance of 1,472, 33 km and 229 patrol days in the period from May to September 2017.

The patrol team found 25 perpetrators of illegal activity in the region with 17 perpetrators found in the IPZ area and 8 perpetrators found in non-IPZ areas. The team also found 70 cases of illegal forest use in BBS National Park where as many as 25 cases were in IPZ area and 45 cases were in Non-IPZ area.

Illegal logging cases were found in 2 cases (both in non-IPZ areas). The patrol team found 15 hunting activities (6 in IPZ and 9 in non-IPS), 4 HHBK collection activities (1 in IPZ and 3 in non-IPZ), 19 access roads (4 in IPZ and 15 in Non-IPZ) and 46 tools & transportation (27 in IPZ and 19 in Non-IPZ).

The patrol team has implemented relevant measures for these illegal activities including documenting and destroying tiger and wildlife traps to prevent new illegal wildlife cases.

@SumatranTigerID

Berbak Sembilang NP Holds Wetland Ecosystem Workshop

Jambi, 22 November 2017 – Berbak and Sembilang National Park facilitated by Sumatran Tiger – GEF – UNDP Project held Wetland Berbak Ecosystem and Key Species Workshop on November 21-22, 2017 at Hotel Odua Weston Jambi as part of the framework to prepare 2018-2027 Berbak National Park Long Term Management Plan.

The workshop explored data and information related to Berbak area to reformulate important values ​​of Berbak National Park in Berbak National Park’s RPJP 2018-2027, especially the important values related to wetland conservation and key species ​​that become the underlying reasons for Berbak was mandated to becoming a National Park.

This activity was attended by relevant stakeholders in Berbak National Park management area (Provincial Bappeda, Provincial Forestry Office, BKSDA Jambi, BTNBS, UPT Tahura Rangkayo Hitam, Bappeda Muara Jambi, Bappeda Tanjung Jabung Timur, ZSL, Gita Buana, Wetland International Pinang Sebatang) involving competent resource persons in the field of wetland conservation and flora-fauna species, especially Berbak areas, namely: Directorate of KK Directorate General KSDAE, Directorate of BPEE Directorate General of KSDAE, Directorate of KKH Directorate General of KSDAE, Bro. Yus Rusila Noor-Wetland International, Dr. Cherita Yunnia – Expert of Kemenko Maritim, Nursanti-Universitas Jambi, Dr. Dolly Priyatna- member of Tapir Specialist Group-IUCN SSC, Yoan Dinata-ZSL, Iding Ahmad Haidir-Student Work (S3) KemenLHK, Dr. Irawati-Researcher LIPI, Dr. Asmadi Saad-Expert BRG, Nursanti, S.Hut, M.Si.-Faculty of Forestry, University of Jambi and Madari – Historian from Bunaken National Park. The workshop discussion process was guided by Kristiani Fajar Wianti-lecturer of Faculty of Forestry UGM.

The workshop which was held for two days was officially opened by the Head of TN Berbak and Sembilang Ir. Pratono Puroso, M.Sc. The workshop is expected to provide recommendations for wetland ecosystem management and important species in TN Berbak before the formation of a Long Term Management Plan Document (RPJP) as a guideline in managing Berbak NP Area.

The Long Term Management Plan (RPJP) is management plan prepared based on the results of potential inventory of the region and the arrangement of zones within zones / blocks by taking into account the functions of the region, aspirations of parties and regional development plan. The management plan will assist the manager to fulfill the specific management mandate set for a conservation area. This mandate is the primary reason for area protection (UNESCO’s Outstanding Universal Value or IUCN key features ) and a key indicator of successful management.

@SumatranTigerID

BBTNKS Invites Stakeholders, Synchronizes 2018 Work Plan

Sungai Penuh, November 9, 2017 – Office of Kerinci Seblat National Park seated together with stakeholders to discuss synchronization of work plans for 2018.  Stakeholders in this regard are: local government attended by BPDAS HL Agam Kuantan; companies, namely PT. Tidar Kerinci Agung (TKA) in Bungo, PT. Supreme Energy Muara Labuh, PT. Tirta Sakti (PDAM) in Kerinci and PT. Pertamina Geothermal Energy in Lempur; academics / experts from Andalas University; and conservation projects in the TNKS area, namely Sumatran Tiger and FP II (KfW); FFI NGO; ICS NGO in South Solok; and Lingkar Institute in Bengkulu.

The two days meeting (8-9 November 2017I was held in Sungai Penuh. All invited participants exposed their work plans on the first day, followed by synchronization of work plans on second day. Transforming Effectiveness of Biodiversity Conservation in Sumatra Priority Landscapes Project (Sumatran Tiger Project) provided funding for these meetings.

Synchronization of 2018 work plan between BBTNKS and its stakeholders is beneficial for TNKS managers to avoid overlapping that can lead to ineffectiveness of TNKS programs. The work plans by BBTNKS stakeholders are expected to strengthen management of national park area. Results from 2018 work plans synchronization will be used to prepare BBTNKS 2018 Work Plan Document.

National park managers and stakeholders who benefitted from environmental services have common responsibility to protect conservation area. The meeting provided insights into conservation efforts that can be developed in and around TNKS area.

TNKS manager hopes in the future, more partners will support and implement conservation programs especially around TNKS area to protect Kerinci Seblat National Park and its biodiversity.

@SumatranTigerID