Melestarikan Bumi Sekepal Tanah Surga

Keindahan alam dan keanekaragaman hayati Kerinci mendorong para pihak untuk bahu-membahu melestarikannya.

Proyek Sumatran Tiger menutup 2017 dengan berbagai capaian yang signifikan. Dinamika proyek yang berlangsung hingga 2020 ini juga terus berkembang sehingga proyek merasa penting untuk melaksanakan pemantauan kegiatan proyek guna mengantisipasi permasalahan-permasalahan yang mungkin timbul di lapangan.

Upaya pemantauan dan evaluasi Proyek Sumatran Tiger, bersama pihak-pihak terkait, terwujud dari tanggal 9-13 April 2018. Kerinci Seblat menjadi lanskap perdana yang dipilih untuk kegiatan pemantauan ini.

Penguatan kelembagaan pengelola taman nasional dalam perlindungan kawasan; pemantauan perubahan tutupan hutan; pemantauan populasi harimau sumatera; dan pembelajaran inisiatif pengembangan hutan desa sebagai carbon stock menjadi empat fokus dari kegiatan ini.

Pada hari pertama, tim dari Jakarta mendarat di Bandara Muara Bungo, Provinsi Jambi. Perjalanan berlanjut melalui darat selama lima jam menuju Kabupaten Bangko yang menjadi markas mitra Proyek Sumatran Tiger, Fauna and Flora International (FFI).

Tim yang mengikuti pemantauan lapangan terdiri dari perwakilan unsur Direktorat Jenderal Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem, Direktorat Konservasi Keanekaragaman Hayati, Direktorat Kawasan Konservasi, Direktorat Pemolaan dan Informasi Konservasi Alam dan Ekosistem, Direktorat Penegakan Hukum, Kementerian Keuangan, Bappenas, UNDP Indonesia, Global Environment Facility Focal Point, akademisi dari Institut Pertanian Bogor, Balai Taman Nasional Kerinci Seblat dan Proyek Sumatran Tiger.

Pertemuan dengan tim FFI langsung diisi dengan presentasi Donny Gunaryadi, Head of Biodiversity, Fauna and Flora International – Indonesia Program yang memaparkan hasil kemitraan antara FFI dan Proyek Sumatran Tiger dalam melaksanakan penegakan hukum dan patroli berbasis data sistem SMART di Taman Nasional Kerinci Seblat. Upaya penegakan hukum ini melibatkan para pemangku kepentingan seperti kepolisian, BKSDA, taman nasional dan kejaksaan.

Melalui patroli dan aksi penegakan hukum, tim FFI juga mengidentifikasi dan mendeteksi ancaman terhadap kelestarian harimau sumatera dan ekosistemnya, seperti pemasangan jerat, perburuan liar, perambahan serta perubahan tutupan hutan.

Pada kesempatan ini, Donny dari FFI juga melaporkan peningkatan skor METT (Management Effectiveness Tracking Tools) sebesar 12% di Taman Nasional Kerinci Seblat. Skor METT digunakan untuk mengukur peningkatan kualitas pengelolaan taman nasional di seluruh dunia.

Menurut Donny, guna memantau populasi harimau sumatera, tim FFI juga telah memasang kamera perangkap di wilayah inti Taman Nasional Kerinci Seblat yang menjadi habitat harimau sumatera. Diskusi berlangsung hingga sore hari. Semua anggota tim menginap di Bangko untuk selanjutnya mengikuti kegiatan keesokan harinya.

Kunjungan hari kedua

Pagi hari pada hari kedua kunjungan kami ke Bangko, tim berangkat menuju Desa Durian Rambun yang berbatasan langsung dengan Taman Nasional Kerinci Seblat. Di desa ini, tim FFI memberikan pendampingan dalam pengelolaan hutan desa.

Karena kondisi desa yang sangat terpencil, perjalanan ditempuh dengan menggunakan kendaraan dobel gardan. Sebagian kondisi jalan adalah jalan tanah dengan kontur dan kemiringan yang ekstrem menambah nuansa petualangan dalam kunjungan kami. Mata kami dimanjakan oleh keindahan alam Kerinci yang bagaikan sekepal tanah surga.

Di desa ini, tim bertemu dengan lembaga pengelola hutan desa (LPHD) Rio Kemunyang yang dinilai telah berhasil menekan deforestasi, perambahan hutan dan perburuan liar.

Menurut Abton, tokoh pemuda di Desa Durian Rambun yang juga mantan ketua LPHD Rio Kemunyang, keinginan masyarakat dalam menjaga hutan dilandasi oleh kesadaran akan manfaat hutan desa bagi masyarakat.

Belajar dari pengalaman desa-desa di sekitar Durian Rambun, menurut Abton, manfaat pertama dari menjaga hutan desa adalah memberikan rasa aman bagi masyarakat dari ancaman perambahan yang banyak terjadi di wilayah lain dan dilakukan oleh warga pendatang.

Manfaat kedua, dengan menjaga hutan, masyarakat desa berhasil terhindar dari kekeringan. “Hutan desa menjaga 9 mata air yang bermanfaat bagi warga Durian Rambun di musim kemarau, saat desa-desa lain kekeringan,” tutur Abton.

Sedangkan manfaat ketiga dengan menjaga hutan desa, pasokan air untuk Pembangkit Listrik Mikro Hidro terus terjaga sehingga masyarakat Desa Durian Rambun bisa menikmati listrik bersih dari alam. “Ini yang tidak bisa dinilai dengan uang,” ujar Abton. Anak-anak di desa bisa terus belajar pada malam hari menggunakan lampu yang energinya diperoleh dari PLTMH. Desa pun menjadi lebih aman.

FFI telah mendampingi LPHD selama lebih dari tiga tahun. Masyarakat desa mendapatkan insentif dari penerapan skema cadangan karbon untuk menjaga hutan dan mata pencaharian mereka. Insentif yang berupa dana tahunan ini digunakan untuk mendukung patroli pengamanan hutan desa, peningkatan ekonomi masyarakat melalui budidaya kopi dan pemberdayaan pemuda dan kaum perempuan.

Keberhasilan pembinaan hutan desa oleh FFI tercermin oleh besarnya keyakinan warga yang bertekad menjaga hutan yang merupakan warisan nenek moyang. “Hutan adalah warisan nenek moyang yang adatnya harus dikelola secara lestari. Dengan adanya hutan desa, warga merasa aman dan nyaman karena tidak ada perambahan,” tutur Rosidi, mantan kepala desa Durian Rambun.

Rosidi menambahkan, hutan desa Durian Rambun adalah pagar bagi Kecamatan Muara Siau. “Kalau hutan di desa Durian Rambun jebol (dirambah), hutan di wilayah Kecamatan Muara Siau yang lain juga akan dirambah,” ujarnya.

Sebelum pamit, tim berkesempatan mengunjungi lokasi produksi kopi. Perjalanan menuju lokasi yang kami lakukan berjalan kaki, menuruni lembah, menyebrangi sungai, melalui jembatan gantung menjadi pengalaman yang tak terlupakan bagi kami.

Perjalanan ke Desa Durian Rambun menghabiskan waktu sehari penuh. Sehingga waktu telah beranjak malam ketika mobil-mobil dobel gardan yang mengantar kami kembali Bangko.

Kunjungan hari ketiga

Matahari pagi bersinar cerah di Bangko ketika mobil-mobil kami kembali meluncur untuk mengunjungi Desa Tamiai, Kecamatan Batang Merangin, Kabupaten Merangin, Provinsi Jambi. Di desa ini dikembangkan Hutan Kemasyarakatan (HKM) Tamiai. Menurut Heri Cipta, Camat Batang Merangin, Desa Tamiai memiliki aset sumber daya alam yang kaya seperti kayu manis dan kopi. “Namun keamanan di Desa Tamiai kurang, sehingga yang memanen adalah orang lain,” tuturnya.

Kawasan hutang lindung, menurut Heri, banyak dibabat oleh orang luar sehingga menimbulkan konflik sosial baru. Sehingga, “Bantuan jangan sampai menimbulkan kecemburuan pada masyarakat setempat dan berpihak pada pendatang, sehingga bantuan harus selektif,” ujarnya.

Skema hutan kemasyarakatan dianggap menjadi solusi yang tepat dimana masyarakat diberikan hak untuk mengelola dalam jangka waktu tertentu (sampai dengan 35 tahun).

Neneng Susanti, Kepala Pengelolaan Hutan Produksi (KPHP) Kerinci, menyatakan Desa Tamiai berada dalam kawasan penyangga TNKS. Neneng menyatakan pihaknya juga berupaya mengembangkan green coffee dengan menggabungkan antara budi daya kopi dan agroforestry atau wanatani. “Caranya adalah kami menyediakan bibit-bibit yang berkualitas untuk ditanam oleh masyarakat,” tuturnya.

Status hutan di Desa Tamiai menurut Nenang adalah hutan produksi, sehingga masyarakat tidak hanya bisa mengembangkan madu, kopi dan kayu manis, namun juga ekowisata burung migran dan rangkong serta pembibitan kayu.

Abdul Hadison yang biasa dipanggil Didi, Senior Field Manager, Fauna and Flora International menyatakan, luas HKM yang diusulkan mencapai 800 hektar. Saat ini masyarakat Desa Tamiai tengah menunggu surat keputusan untuk pemberlakukan skema hutan kemasyarakatan. Dengan bimbingan FFI diharapkan proses ini berjalan lancar.

Setelah menyelesaikan kunjungan ke Kabupaten Merangin, kami melanjutkan perjalanan menuju Sungai Penuh untuk bermalam. Danau Kerinci yang berada di sisi jalan menuju Sungai Penuh tidak lupa kami singgahi, mensyukuri kelimpahan air bagi masyarakat Kerinci. Rombongan tim juga mengunjungi Bukit Tapan, menyaksikan pembukaan jalan yang membelah wilayah inti Taman Nasional Kerinci Seblat.

Kunjungan hari keempat

Pada hari terakhir kunjungan kami di lanskap Kerinci, tim berdiskusi dengan Balai Taman Nasional Kerinci Seblat, yang dihadiri oleh Kepala Balai Besar TNKS, Ir. M. Arief Toengkagie. Dari beliau kami mendapatkan informasi terakhir mengenai kondisi kawasan TNKS, ancaman dan capaiannya.

Acara ini berlanjut dengan melihat secara langsung proses pemantauan perubahan tutupan hutan yang dilakukan oleh tim FFI di kaki Gunung Kerinci. Proses pemantauan ini menggunakan “drone” yang mempermudah pengamatan melalui udara. Kami berkumpul di Pintu Rimba yang terkenal menjadi pintu masuk jalur pendakian menuju gunung berapi tertinggi di Indonesia itu.

Hasil analisis historis kehilangan hutan di seluruh kawasan Taman Nasional Kerinci Seblat oleh tim FFI menunjukkan kenaikan degradasi hutan yang cukup signifikan pada tahun 2014 – 2016. Total laju kehilangan hutan seluruh TNKS dari tahun 2001 hingga 2016 yaitu 0.15% per tahun dengan asumsi terdapat regenerasi hutan secara alami atau buatan di setiap tahunnya.

Degradasi banyak terjadi di Kabupaten Merangin, Kerinci dan Solok Selatan. Sedangkan luas dari hutan yang terdegradasi di kawasan inti hanya sebesar 0.008% atau hanya seluas 8.2 Ha.

Keseluruhan luas hutan yang hilang selama 2001 sampai 2016 jika tidak di tambahkan dengan wilayah yang sudah kembali menjadi hutan sebesar 136.17 Ha. Sedangkan luas wilayah degradasi hutan yang aktual adalah sebesar 131.22 Ha atau sebesar 0.136% dari luas area inti.

Tren perubahan kembali tampil di kisaran tahun 2014 hingga 2016 yang meningkat tajam. Perubahan fungsi lahan hutan menjadi lahan pertanian dan pembalakan liar menjadi ancaman utama yang dapat diprediksi dari perubahan yang signifikan tersebut.

Verifikasi hasil perhitungan historis data deforestasi dilakukan melalui data uji lapang menggunakan hasil hasil foto udara dengan drone. Verifikasi ini dilakukan pada beberapa perbatasan hutan kawasan TNKS yang telah ditetapkan. Pemantauan drone pertama telah dilakukan pada bulan Desember 2017 dan dipantau kembali setiap tahun berjalan hingga akhir masa proyek.

Penutup

Jadwal kunjungan yang padat di lanskap Kerinci berakhir dengan berakhirnya kunjungan kami ke Gunung Kerinci. Beribu kenangan – dan tentu saja foto-foto yang indah – akan selalu menghiasi pengalaman kami di Bumi Sekepal Tanah Surga.

Menyaksikan kabut turun di Bukit Khayangan sambil menyaksikan terbitnya mentari, menikmati dendeng batokok yang lezat, terpaku menyaksikan burung rangkong terbang rendah melintasi kami, hanyalah sedikit dari rasa takjub melihat keindahan alam Kerinci.

Melestarikan keanekaragaman hayati di lanskap ini menjadi pekerjaan bersama, tidak hanya menjadi perhatian Indonesia namun juga perhatian dunia. Salah satunya dari Proyek Sumatran Tiger yang berupaya melestarikan satu-satunya harimau yang tersisa di Indonesia. Melalui kerja sama dengan para mitra, kami saling bahu membahu melestarikan Bumi Sekepal Tanah Surga. Ke Kerinci kami akan kembali.

@SumatranTigerID

You may also like

Leave a comment