Konflik Manusia dan Harimau Memuncak di 2010

Konflik manusia dan harimau terus meningkat dari tahun 2001 dan mencapai puncaknya pada tahun 2010. Pada tahun tersebut tercatat 162 konflik yang terjadi didominasi oleh kasus harimau memangsa ternak dan harimau berkeliaran di sekitar desa atau pemukiman penduduk.

Setelah tahun 2010, jumlah insiden konflik manusia dan harimau terus menurun hingga 2016. Penurunan jumlah konflik manusia dan harimau ini kemungkinan dipicu oleh peningkatan jumlah harimau yang dibunuh dan dipindahkan.

Dalam periode 2001-2016, jumlah harimau yang mati dibunuh dan dipindahkan terus meningkat. Tercatat 130 harimau yang mati akibat konflik antara manusia dan harimau. Hanya 5 harimau yang dipindahkan ke lokasi konservasi lain paska konflik. Sebanyak 43 harimau dikirim ke kebun binatang.

Jumlah harimau yang lari paska konflik mencapai 879 harimau. dari jumlah tersebut sebanyak 8 harimau lari dalam kondisi terluka. Jumlah harimau yang mati dan dipindahkan ini bisa berdampak negatif terhadap populasi harimau.

@SumatranTigerID

Aceh: Provinsi dengan Konflik Manusia dan Harimau Terbanyak

Setelah membahas jenis konflik manusia dan harimau, buku “Spatio – Temporal Patterns of Human Tiger Conflicts in Sumatra 2001 – 2016”, juga memaparkan jumlah konflik manusia dan harimau per provinsi di Sumatera.

Dari data yang dipaparkan dalam tabel terlihat, Provinsi Aceh mencatat jumlah konflik manusia dan harimau terbanyak dibanding provinsi-provinsi lain di Sumatera.

Dari keempat jenis konflik yang sudah dijabarkan, total jumlah konflik manusia dan harimau yang terjadi di Aceh mencapai 230 insiden antara tahun 2001-2016. Kasus harimau memangsa ternak (livestock depredations) menempati jumlah terbanyak di Aceh dengan 122 insiden.

Provinsi Bengkulu menempati posisi kedua konflik manusia dan harimau terbanyak dengan 216 insiden. Kasus harimau menyerang manusia yang menyebabkan manusia terluka atau terbunuh paling banyak terjadi di Provinsi Riau dengan 75 kasus antara tahun 2001 – 2016.

Insiden harimau menyerang satwa (livestock depredations) paling banyak terjadi di Provinsi Aceh dengan jumlah insiden sebanyak 122 kasus.

Sementara insiden penampakan harimau di pemukiman penduduk atau sekitarnya (stray tiger) paling banyak terjadi di Lampung dengan jumlah insiden sebanyak 88 kasus. Provinsi Jambi dan Bengkulu menempati posisi kedua dengan 86 insiden.

Wilayah dengan jumlah harimau terbunuh atau tertangkap terbanyak terjadi di Provinsi Bengkulu dengan 30 insiden diikuti oleh Provinsi Jambi dengan 23 insiden. Konflik di Provinsi Sumatera Utara tampak minimal tidak mencerminkan kondisi sesungguhnya. Hal ini dipicu oleh sulitnya penulis untuk memeroleh data yang valid dari wilayah ini.

@SumatranTigerID

Konflik Manusia dan Harimau dalam Angka

Baru-baru ini kita membaca kasus seekor harimau sumatera betina yang tewas akibat jerat satwa liar yang dipasang pemburu di kawasan hutan Taman Nasional Gunung Leuser. Jenis konflik ini hanyalah salah satu dari empat konflik manusia dan harimau sumatera.

Ada empat jenis konflik manusia dan harimau. Yang pertama adalah insiden harimau liar atau (stray tiger incidents) saat harimau ditemukan berkeliaran di sekitar pemukiman penduduk atau desa sehingga menimbulkan ketakutan namun tidak ada korban baik dari sisi manusia maupun harimaunya.

Jenis konflik kedua saat harimau memangsa ternak sehingga ternak terluka atau terbunuh (livestock attack). Jenis konflik ketiga adalah saat harimau menyerang manusia yang mengakibatkan korban terluka atau terbunuh (human attack). Dan jenis konflik keempat saat harimau dibunuh oleh manusia baik dengan racun, jerat, senapan atau alat-alat lain yang menyebabkan kematian harimau (tiger being killed).

Dari data yang diperoleh dalam buku “Spatio – Temporal Patterns of Human Tiger Conflicts in Sumatra 2001 – 2016”, konflik keempat dimana harimau dibunuh oleh manusia dengan jerat, racun atau alat-alat lain menempati posisi terakhir dalam jumlah konflik manusia dan harimau.

Berdasarkan data yang dikumpulkan dari tahun 2001-2016, tercatat 1065 kasus konflik antara manusia dan harimau di seluruh wilayah pulau Sumatera.

Jumlah konflik terbanyak adalah konflik harimau memangsa ternak dengan 376 kasus. Kasus terbanyak kedua adalah insiden harimau liar yang berkeliaran di sekitar pemukiman penduduk/desa dengan jumlah 375 kasus.

Kasus manusia diserang langsung oleh harimau sehingga manusia terluka atau terbunuh berjumlah 184 kasus. Sementara kasus harimau mati akibat jerat, racun, tembakan senapan dan alat-alat lainnya mencapai 130 kasus.

@SumatranTigerID

Tiger Fasilitasi Penilaian METT TN Berbak

Balai Taman Nasional Berbak dan Sembilang bekerjasama dengan Zoological Society of London (ZSL) sebagai mitra kerja Balai Taman Nasional Berbak-Sembilang (BTNBS) melalui Project Tiger GEF–UNDP menyelenggarakan penilaian METT kawasan TN Berbak Tahun 2017 pada tanggal 28-29 Agustus 2017 bertempat di Odua Weston Hotel Jambi.

Acara penilaian METT ini dihadiri oleh stakholeder terkait dalam pengeolaan kawasan TN Bebak (Bappeda Propinsi Jambi, Dinas Kehutanan Propinsi Jambi, Universitas Jambi, BKSDA Jambi, BPKH Wilayah XIII Pangkal Pinang, ZSL, Wetland Internasional dan Gita Buana.

Acara penilaian secara resmi dibuka oleh Kepala Balai TNBS, dan dilanjutkan dengan penyampaian materi terkait METT oleh Bapak Rudijanta Nugraha NPM Tiger Project GEF-UNDP dan Ibu Dewi (Direktorat KK) sebagai Fasilitator penilaian METT.

Sebelum penilaian dilakukan Kepala Balai dan para fasilitator menekankan agar tidak terjebak dengan nilai yang ingin dicapai tetapi lebih kepada proses penilaian dan mengidentifikasi ruang-ruang perbaikan pengelolaan.

Penilaian METT dilakukan dengan metode Focus Group Discussion (FGD) dimana setiap peserta merupakan narasumber yang memilki argument, pengalaman dan pemahaman masing-masing untuk menentukan nilai.

@SumatranTigerID

Mengenal Jenis Konflik Manusia dan Harimau

Sebagaimana disampaikan dalam artikel sebelumnya, penanganan konflik manusia dan harimau di Sumatera mendapatkan perhatian serius setelah dokumen strategi konservasi harimau Sumatera diterbitkan pada tahun 2007.

Buku “Spatio – Temporal Patterns of Human Tiger Conflicts in Sumatra 2001 – 2016” berupaya memahami lokasi konflik yang menimbulkan korban hewan ternak, manusia dan harimau. Laporan dalam buku ini akan bermanfaat guna mencegah dan mengurangi konflik manusia dan harimau pada masa datang.

Untuk itu penulis mengumpulkan data dari instansi di tingkat provinsi, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, serta lembaga swadaya masyarakat seperti HarimauKita, Wildlife Conservation Society (WCS), WWF, Zoological Society of London (ZSL) – Indonesia Programme, LIF, PKHS, Fauna Flora International (FFI) dan SRI yang bekerja dalam konservasi harimau. Sebelum melakukan analisis data-data ini diverifikasi untuk mencegah data ganda.

Dari data-data ini diperoleh empat jenis konflik manusia dan harimau.

Jenis konflik manusia dan harimau yang pertama adalah insiden harimau liar (stray tiger incidents). Insiden ini terjadi saat harimau berkeliaran di sekitar pemukiman penduduk atau desa sehingga menimbulkan ketakutan namun tidak ada korban baik dari sisi manusia maupun harimaunya.

Jenis konflik manusia dan harimau yang kedua adalah saat harimau memangsa ternak sehingga ternak terluka atau terbunuh.

Jenis konflik manusia dan harimau yang ketiga saat harimau menyerang manusia yang mengakibatkan korban terluka atau terbunuh.

Jenis konflik manusia dan harimau yang keempat adalah saat harimau dibunuh oleh manusia baik dengan racun, jerat, senapan atau alat-alat lain yang menyebabkan kematian harimau.

Dari data tahun 2001-2016 tercatat 1065 kasus konflik antara manusia dan harimau di seluruh wilayah pulau Sumatera. Informasi terkait jenis-jenis konflik dan sebarannya akan dikupas dalam artikel selanjutnya.

@SumatranTigerID

Hanya Harimau Sumatera yang Tersisa

Indonesia memiliki tiga sub-spesies harimau yaitu harimau Sumatera (Panthera tigris sumatrae), harimau Bali (Panthera tigris balica) dan harimau Jawa (Panthera tigris sondaica). Dari tiga harimau bersaudara tersebut hanya harimau Sumatera yang tersisa. Harimau Bali dan harimau Jawa dinyatakan punah berdasarkan laporan IUCN tahun 2014. Hal ini diungkap dalam buku “Spatio – Temporal Patterns of Human Tiger Conflicts in Sumatra 2001 – 2016”.

Manusia sudah hidup berdampingan dengan harimau sejak lama. Konflik manusia dan harimau terus terjadi. Punahnya harimau Jawa adalah bukti, konflik manusia dan harimau bisa menjadi penyebab utama kepunahan spesies langka ini.

Saat ini hanya harimau sumatera yang tersisa di Indonesia. Analisis populasi terbaru oleh Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan tahun ini (2017) menyebutkan populasi harimau Sumatera saat ini kurang dari 700 ekor. Populasi ini terus terancam oleh perburuan liar termasuk oleh konflik manusia dan satwa liar.

Menimbang situasi yang kritis ini, upaya untuk mencegah dan mengurangi semua kasus yang memicu kematian harimau perlu dilakukan untuk menyukseskan konservasi harimau sumatera.

Khusus terkait konflik manusia dan harimau, untuk mencegah dan mengurangi konflik tersebut pemahaman akan skala dan sebaran konflik penting dikenali guna mengalokasikan sumber daya secara efektif dan efisien. Laporan terakhir mengenai karakteristik konflik manusia dan harimau diterbitkan oleh Nyhus & Tilson pada 2004.

Penanganan konflik manusia dan harimau di Sumatera mendapatkan perhatian serius setelah dokumen strategi konservasi harimau Sumatera diterbitkan pada tahun 2007. Buku “Spatio – Temporal Patterns of Human Tiger Conflicts in Sumatra 2001 – 2016” berupaya memahami lokasi konflik yang menimbulkan korban hewan ternak, manusia dan harimau. Laporan dalam buku ini akan bermanfaat guna mencegah dan mengurangi konflik manusia dan harimau pada masa datang. Proyek Sumatran Tiger akan mengupasnya menjadi beberapa artikel untuk Anda.

@SumatranTigerID

Konflik Manusia dan Kucing Liar Terus Meningkat

Di dunia terdapat berbagai jenis mamalia kucing liar, mulai dari karakal, lynx, jaguar, macan tutul, singa, puma, macan tutul salju hingga harimau. Dari semua jenis kucing liar dunia tersebut, sebanyak 75% terlibat konflik dengan manusia.

Hal ini terungkap dalam buku berjudul “Spatio-temporal Patterns of Human Tiger Conflicts in Sumatera” yang diterbitkan bersama antara Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Proyek Sumatran Tiger dan Forum Harimau Kita.

Buku yang ditulis Erlinda C Kartika ini menyebutkan, sebagai hewan pemangsa atau predator, berbagai jenis kucing liar ini dianggap sebagai ancaman bagi manusia dan ternak. Kucing liar memiliki daerah jelajah yang sangat luar dan membutuhkan pasokan makanan yang banyak.

Harimau (Panthera tigris) adalah salah satu spesies kucing liar yang berkonflik dengan manusia. Konflik manusia dan harimau tidak hanya merugikan bagi manusia juga bagi populasi harimau. Manusia dan harimau bisa kehilangan nyawa akibat konflik yang mematikan ini.

Akibat konflik tersebut, keberadaan harimau mendapatkan kesan yang negatif dari masyarakat. Padahal pola pembangunan yang tidak ramah lingkungan yang merusak ekosistem lah yang menjadi penyebab munculnya konflik antara manusia dan harimau. Habitat harimau dirusak, hutan dibabat untuk lahan pertanian dan infrastruktur. Harimau kehilangan wilayah untuk mencari mangsa dan berkembang biak, karena ekosistem penunjang kehidupan mereka terus dirusak.

Dampaknya populasi harimau dunia terus menurun dalam beberapa tahun terakhir. Data IUCN pada 2014 menyebutkan, jumlah harimau di dunia kurang dari 3000 ekor.

Proyek Sumatran Tiger bersama dengan pemerintah dan semua pihak yang berkepentingan, terus berupaya melestarikan ekosistem di Pulau Sumatera dengan menggunakan pemulihan habitat dan populasi harimau sebagai indikator keberhasilannya. Mari kita dukung bersama.

@SumatranTigerID

Tiger Dukung Pengembangan Sistem SMART

Proyek Sumatran Tiger memberikan bantuan berupa perangkat komputer yang akan dipakai untuk pangkalan data patroli SMART. Peralatan komputer yang disediakan adalah: 4 unit Desktop komputer dilengkapi dengan UPS, 4 unit printer laserjet, 4 unit wifi portabel dan 1 unit scanner ADF (Automatic Document Feeder).

Dengan tersedianya peralatan komputer database SMART, data kegiatan patroli dapat direkam secara baik sehingga kegiatan patroli dapat dipantau dan dianalisis untuk perencanaan dan peningkatan patroli.

Tersedianya peralatan komputer untuk pusat data SMART merupakan tahap awal untuk membangun sistem SMART di Taman Nasional Berbak Sembilang (TNBS). TNBS akan menetapkan personil yang menjadi operator SMART melalui surat keputusan kepala balai.

Selanjutnya akan dilakukan pelatihan operator SMART oleh mitra Organisasi Internasional Non Pemerintah yaitu Zoological Society of London (ZSL). Penyerahan komputer akan dilakukan setelah pelatihan penerapan SMART pada 21-25 Agustus ini.

Dalam rangka membangun sistem SMART, proyek juga mendukung kegiatan patroli pengamanan hutan berbasis SMART oleh Balai TNBS. Sebelum pelaksanaan patroli dilakukan briefing persiapan patroli dengan narasumber ZSL. Dalam rapat persiapan tersebut ZSL memaparkan teknik pelaksanaan patroli berbasis SMART guna mengoptimalkan dukungan dari proyek.

Kegiatan Patroli berbasis SMART yang selama ini dilaksanakan adalah patroli TPPU (Tiger Protection Patrol Unit) yang dikelola oleh ZSL dengan melibatkan beberapa petugas Polhut TNBS.

@SumatranTigerID

Tiger Fasilitasi Patroli SMART

Proyek Sumatran Tiger memfasilitasi introduksi patroli berbasis SMART dan pengamanan hutan di kawasan Balai TNBS dari kegiatan perambahan dan perburuan, khususnya perburuan harimau sumatera.

Patroli pengamanan hutan berbasis SMART pada Taman Nasional Berbak Sembilang (TNBS) dilaksanakan di Jambi pada tanggal 14-18 Juni 2017 dan di Palembang, 15-18 Juni 2017. Kegiatan ini bertujuan untuk menginternalisasi patroli pengamanan hutan berbasis SMART di Balai TNBS.

Patroli dilakukan selama 5 hari, di 3 SPTN (Seksi Pengelolaan TN) pada 9 resort yaitu: Seksi I: Resort Pematang Raman, Resort Sei Rambut, Resort Rantau Rasau, Seksi II: Resort Lalan, Resort Simpang Satu, Resort Solok Buntu dan Seksi III: Resort Cemara, Resort Simpang Malaka, Resort Terusan Dalam.

Perambahan di dalam kawasan TNBS yang telah terobservasi berbentuk pengambilan kayu dari pohon-pohon mati akibat kebakaran dan membuka lahan bekas terbakar di dalam kawasan TNBS menjadi lahan pertanian. Dalam patroli ini tim berhasil menyita barang bukti berupa 1 buah gergaji mesin berikut peralatan perawatannya.

@SumatranTigerID

Tiger & TNBS Siapkan Pemasangan Kamera Pengintai

Proyek Sumatran Tiger menfasilitasi rapat teknis persiapan pemasangan kamera pengintai atau camera trap oleh Balai TNBS (dibiayai DIPA Balai TNBS), dengan narasumber dari ZSL. Rapat teknis ini bertujuan membekali staf Balai Taman Nasional Berbak Sembilang dengan kemampuan teknis yang memadai untuk melaksanakan kegiatan tersebut.

Pada audit inspektorat jenderal pada tahun 2016, kegiatan ini menjadi temuan dan dianggap tidak efektif karena kamera yang dipasang tidak mendapatkan data/foto spesies kunci seperti harimau sumatera.

Dalam acara ini fasilitator ZSL, Yoan Dinata memberikan panduan teknis mengenai cara pemasangan dan cara mengoperasikan camera trap. Tim Balai TNBS yang mengikuti acara ini terdiri dari 3 tim. Setiap tim akan didampingi oleh 1 personel ZSL untuk memasang camera trap di 4 titik secara berpasangan (dengan total 8 kamera pengintai per tim).

@SumatranTigerID