Mengenal Jenis Konflik Manusia dan Harimau

Sebagaimana disampaikan dalam artikel sebelumnya, penanganan konflik manusia dan harimau di Sumatera mendapatkan perhatian serius setelah dokumen strategi konservasi harimau Sumatera diterbitkan pada tahun 2007.

Buku “Spatio – Temporal Patterns of Human Tiger Conflicts in Sumatra 2001 – 2016” berupaya memahami lokasi konflik yang menimbulkan korban hewan ternak, manusia dan harimau. Laporan dalam buku ini akan bermanfaat guna mencegah dan mengurangi konflik manusia dan harimau pada masa datang.

Untuk itu penulis mengumpulkan data dari instansi di tingkat provinsi, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, serta lembaga swadaya masyarakat seperti HarimauKita, Wildlife Conservation Society (WCS), WWF, Zoological Society of London (ZSL) – Indonesia Programme, LIF, PKHS, Fauna Flora International (FFI) dan SRI yang bekerja dalam konservasi harimau. Sebelum melakukan analisis data-data ini diverifikasi untuk mencegah data ganda.

Dari data-data ini diperoleh empat jenis konflik manusia dan harimau.

Jenis konflik manusia dan harimau yang pertama adalah insiden harimau liar (stray tiger incidents). Insiden ini terjadi saat harimau berkeliaran di sekitar pemukiman penduduk atau desa sehingga menimbulkan ketakutan namun tidak ada korban baik dari sisi manusia maupun harimaunya.

Jenis konflik manusia dan harimau yang kedua adalah saat harimau memangsa ternak sehingga ternak terluka atau terbunuh.

Jenis konflik manusia dan harimau yang ketiga saat harimau menyerang manusia yang mengakibatkan korban terluka atau terbunuh.

Jenis konflik manusia dan harimau yang keempat adalah saat harimau dibunuh oleh manusia baik dengan racun, jerat, senapan atau alat-alat lain yang menyebabkan kematian harimau.

Dari data tahun 2001-2016 tercatat 1065 kasus konflik antara manusia dan harimau di seluruh wilayah pulau Sumatera. Informasi terkait jenis-jenis konflik dan sebarannya akan dikupas dalam artikel selanjutnya.

@SumatranTigerID

Hanya Harimau Sumatera yang Tersisa

Indonesia memiliki tiga sub-spesies harimau yaitu harimau Sumatera (Panthera tigris sumatrae), harimau Bali (Panthera tigris balica) dan harimau Jawa (Panthera tigris sondaica). Dari tiga harimau bersaudara tersebut hanya harimau Sumatera yang tersisa. Harimau Bali dan harimau Jawa dinyatakan punah berdasarkan laporan IUCN tahun 2014. Hal ini diungkap dalam buku “Spatio – Temporal Patterns of Human Tiger Conflicts in Sumatra 2001 – 2016”.

Manusia sudah hidup berdampingan dengan harimau sejak lama. Konflik manusia dan harimau terus terjadi. Punahnya harimau Jawa adalah bukti, konflik manusia dan harimau bisa menjadi penyebab utama kepunahan spesies langka ini.

Saat ini hanya harimau sumatera yang tersisa di Indonesia. Analisis populasi terbaru oleh Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan tahun ini (2017) menyebutkan populasi harimau Sumatera saat ini kurang dari 700 ekor. Populasi ini terus terancam oleh perburuan liar termasuk oleh konflik manusia dan satwa liar.

Menimbang situasi yang kritis ini, upaya untuk mencegah dan mengurangi semua kasus yang memicu kematian harimau perlu dilakukan untuk menyukseskan konservasi harimau sumatera.

Khusus terkait konflik manusia dan harimau, untuk mencegah dan mengurangi konflik tersebut pemahaman akan skala dan sebaran konflik penting dikenali guna mengalokasikan sumber daya secara efektif dan efisien. Laporan terakhir mengenai karakteristik konflik manusia dan harimau diterbitkan oleh Nyhus & Tilson pada 2004.

Penanganan konflik manusia dan harimau di Sumatera mendapatkan perhatian serius setelah dokumen strategi konservasi harimau Sumatera diterbitkan pada tahun 2007. Buku “Spatio – Temporal Patterns of Human Tiger Conflicts in Sumatra 2001 – 2016” berupaya memahami lokasi konflik yang menimbulkan korban hewan ternak, manusia dan harimau. Laporan dalam buku ini akan bermanfaat guna mencegah dan mengurangi konflik manusia dan harimau pada masa datang. Proyek Sumatran Tiger akan mengupasnya menjadi beberapa artikel untuk Anda.

@SumatranTigerID

Konflik Manusia dan Kucing Liar Terus Meningkat

Di dunia terdapat berbagai jenis mamalia kucing liar, mulai dari karakal, lynx, jaguar, macan tutul, singa, puma, macan tutul salju hingga harimau. Dari semua jenis kucing liar dunia tersebut, sebanyak 75% terlibat konflik dengan manusia.

Hal ini terungkap dalam buku berjudul “Spatio-temporal Patterns of Human Tiger Conflicts in Sumatera” yang diterbitkan bersama antara Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Proyek Sumatran Tiger dan Forum Harimau Kita.

Buku yang ditulis Erlinda C Kartika ini menyebutkan, sebagai hewan pemangsa atau predator, berbagai jenis kucing liar ini dianggap sebagai ancaman bagi manusia dan ternak. Kucing liar memiliki daerah jelajah yang sangat luar dan membutuhkan pasokan makanan yang banyak.

Harimau (Panthera tigris) adalah salah satu spesies kucing liar yang berkonflik dengan manusia. Konflik manusia dan harimau tidak hanya merugikan bagi manusia juga bagi populasi harimau. Manusia dan harimau bisa kehilangan nyawa akibat konflik yang mematikan ini.

Akibat konflik tersebut, keberadaan harimau mendapatkan kesan yang negatif dari masyarakat. Padahal pola pembangunan yang tidak ramah lingkungan yang merusak ekosistem lah yang menjadi penyebab munculnya konflik antara manusia dan harimau. Habitat harimau dirusak, hutan dibabat untuk lahan pertanian dan infrastruktur. Harimau kehilangan wilayah untuk mencari mangsa dan berkembang biak, karena ekosistem penunjang kehidupan mereka terus dirusak.

Dampaknya populasi harimau dunia terus menurun dalam beberapa tahun terakhir. Data IUCN pada 2014 menyebutkan, jumlah harimau di dunia kurang dari 3000 ekor.

Proyek Sumatran Tiger bersama dengan pemerintah dan semua pihak yang berkepentingan, terus berupaya melestarikan ekosistem di Pulau Sumatera dengan menggunakan pemulihan habitat dan populasi harimau sebagai indikator keberhasilannya. Mari kita dukung bersama.

@SumatranTigerID

Polda Aceh Tanda Tangani MOU dengan TNGL

Polda Aceh melalui Direktorat Reserse Kriminal Khusus (Reskrimsus) dan Balai Besar TNGL melaksanakan penandatanganan perjanjian Kerjasama (Mou) antara Balai Besar TNGL dan Dit Reskrimsus Polda Aceh, yang digelar di Aula serbaguna lantai 1 Dit Reskrimsus, Banda Aceh, Kamis (03/08/17).

Dir Reskrimsus Kombes Pol Armensyah Thay mengatakan penandatangan MoU ini merupakan bukti komitmen pihaknya dalam rangka menyelamatkan Kawasan Taman Nasional Gunung Leuser (TNGL) yang notabene 80% berada dalam wilayah hukum Provinsi Aceh.

Penandatanganan MoU ini adalah hasil koordinasi antara Balai Besar Taman Nasional Gunung Leuser (BBTNGL), Proyek Sumatran Tiger bersama POLDA Aceh dalam upaya penegakan hukum terhadap kasus-kasus Tindak Pidana Kehutanan (Tipihut), khususnya terhadap Tipihut kasus-kasus Perburuan dan Perdagangan Harimau dan juga satwa liar dilindungi lainnya, yang berasal dari dan sekitar kawasan TNGL di lingkup wilayah hukum POLDA Aceh.

Kegiatan kunjungan koordinasi ini sebelumnya dilakukan pada tanggal 28 April 2017 bertempat di Mapolda Aceh di Banda Aceh. Kegiatan ini dihadiri oleh tim pihak Balai Besar TNGL, yang meliputi Kepala Subbag.Program & Kerjasama, Kepala Subbag.DEPH & Kepala Seksi PPP, dengan pendampingan dari RC Sumatran Tiger Project – Leuser Lendscape (4 orang).

Kegiatan koordinasi ini melibatkan institusi Balai Besar Taman Nasional Gunung Leuser (BBTNGL) bersama institusi Kepolisian Daerah (POLDA) Aceh. Pihak pendukung lainnya adalah dari Balai Konervasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Aceh dan Balai Pengamanan dan Penegakan Hukum LHK serta institusi local Dinas Lingkungan Hidup & Kehutanan Aceh.

Koordinasi ini menghasilkan kesepakatan untuk menindaklanjuti rencana penyusunan dokumen rencana kerja tahunan bagian dari turunan dari MoU antara Balai Besar Taman Nasional Gunung Leuser (BBTNGL) dengan pihak Kepolisian Daerah (POLDA) Aceh terkait dengan peran-peran yang dapat dilakukan oleh pihak kepolisian sesuai dengan aturan perundang-undangan baru untuk lingkup Kementerian LHK.

@SumatranTigerID

Proyek Tiger Dukung Pemasangan Camera Trap

Guna mengidentifikasi dan mendokumentasikan potensi sebaran harimau di sekitar wilayah Seksi Pengelolaan V Bahorok, Proyek Sumatran Tiger mendukung pemasangan 20 unit kamera trap di kawasan TNGL sekitar Dusun Batu Katak – Bahorok, Kabupaten Langkat pada tanggal 8 s/d 19 Mei 2017.

Kegiatan ini juga bertujuan untuk melakukan pengawasan rutin kondisi habitat harimau dan hutan, serta melakukan identifikasi sebaran okupasi areal TNGL di sekitar wilayah Seksi Pengelolaan V Bahorok.

Kegiatan ini berhasil memasang 20 unit camera trap di 10 titik pantau yang telah direncanakan. Proyek Sumatran Tiger menyediakan anggaran untuk perlengkapan tim lapangan yang digunakan oleh Tim BBTNGL untuk mendukung kegiatan-kegiatan ini.

@SumatranTigerID

Tiger Gelar Koordinasi Bersama TNGL

Proyek Sumatran Tiger gelar rapat koordinasi dan sosialisasi perdana di lanskap Taman Nasional Gunung Leuser. Pertemuan ini untuk membantu para pemangku kepentingan kunci di lingkup institusi sektor kehutanan dan lembaga mitra lokal lainnya memahami sasaran dan tujuan proyek.

Pertemuan kunci ini dilaksanakan selama 1 hari pada hari Senin tanggal 27 Maret 2017, yang bertempat di Aula Balai Besar Taman Nasional Gunung Leuser. Sebanyak 33 orang peserta yang terdiri dari 32 orang laki-laki dan 1 orang perempuan hadir dalam pertemuan ini.

Dari pertemuan ini lahir dukungan antusias dari unit pelaksana di tingkat tapak (Bidang Wilayah & Seksi Wilayah Balai Besar Taman Nasional Gunung Leuser) dan institusi pemerintah terkait lainnya (Balai Penegakan Hukum Lingkungan Hidup dan Kehutanan Wilayah Sumatera, Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam Sumatera Utara & Dinas Kehutanan Sumatera Utara).

Semua pihak memberikan dukungan dan perhatian serius terhadap implementasi proyek ini, baik yang dilaksanakan oleh LSM Mitra (WCS), maupun yang dilaksanakan secara langsung oleh pihak UPT BBTNGL melalui pendampingan dari Project Implementation Unit (PIU) yang ditugaskan di UPT BBTNGL.

@SumatranTigerID