Penghargaan terhadap Aksi Konservasi di TNBBS

Dirjen KSDAE, Ir. Wiratno, M.Sc dalam kunjungan kerja bersama anggota Komisi IV DPR RI, Sudin, SE ke Tanggamus, 28 Pebruari 2021 memberikan penghargaan kepada kelompok masyarakat yang selama ini telah berkontribusi/turut serta dalam pengelolaan kawasan TNBBS.

Penghargaan ini salah satunya diterima oleh Kelompok Cakra Wana atas kontribusinya mengubah ancaman Kawasan hutan di TNBBS yaitu tumbuhan invasivif /tumbuhan perusak hutan jenis mantangan (Merremia Peltate) menjadi peluang ekonomi bagi masyarakat.

KTH Cakra Wana adalah Kelompok Tani Hutan yang dibentuk tahun 2019. Sejak 2019, kelompok ini secara aktif dan mandiri mengendalikan penyebaran tanaman invasif jenis mantangan seluas 20 ha di Resor Pemerihan, SPTN II Bengkunat, BPTN I Semaka.

KTH Cakra Wana mendapatkan pembinaan dari pihak Balai Besar TNBBS dan Sumatran Tiger Project GEF-UNDP. Kelompok ini juga aktif melakukan upaya deteksi dini, penghalauan dan penjagaan terhadap potensi interaksi negatif antara manusia dengan gajah liar di Pekon Pemerihan, Kecamatan Bengkunat, Kabupaten Pesisir Barat.

Pada acara yang berlangsung di Komplek Rumah Dinas DPRD Tanggamus tersebut sekaligus ditampilkan produk-produk pemanfaatan limbah mantangan, yang merupakan tumbuhan perusak hutan, menjadi pupuk kompos dan kerajinan.

“Ini merupakan inovasi baru (mengubah) tanaman mantangan menjadi produk yang menghasilkan untuk masyarakat. (Inisiatif ini) Harus terus di dukung, “ ujar Dirjen KSDAE, Ir. Wiratno, M.Sc.

Dalam kesempatan tersebut Balai Besar TNBBS juga menyerahkan Buku Profil Resor TNBBS, yang dibuat atas kerjasama Balai Besar TNBBS, Sumatran Tiger Project GEF-UNDP, dan WCS-IP.

Penghargaan juga diberikan kepada Satgas Pekon Margomulyo, binaan Balai Besar TNBBS bersama WCS-IP yang didukung juga dari Sumatran Tiger Project GEF-UNDP dalam kiprahnya turut membantu mengatasi konflik manusia dan satwa liar di Provinsi Lampung.

@SumatranTigerID

Terus Bersinergi Tangani Konflik Satwa Liar

Pelepasliaran Danau Putra dan Penanganan Konflik Manusia dan Harimau di Taman Nasional Gunung Leuser.
Danau Putra namanya. Danau Putra adalah individu harimau berjenis kelamin jantan, berusia 1-1,5 tahun dengan berat badan mencapai 45–50 Kg. Harimau ini sebelumnya dilaporkan masyarakat pada 22 Januari 2021 dalam kondisi lemah dan terluka akibat terkena jerat yang dipasang oleh orang yang tidak bertanggung jawab.
Jerat ini berupa sling kawat yang mengenai kaki depan sebelah kanan yang mengakibatkan luka yang cukup dalam saat Danau Putra mencoba berusaha melepaskan jerat yang melilit kakinya.
Pada 23 Januari 2021, tim BKSDA Aceh yang terdiri dari tim medis balai dan Resor Wilayah 14 Aceh Tenggara- SKW II Subulussalam bersama BBTNGL, didukung pihak kepolisian, TNI dan aparat desa terkait berhasil melakukan upaya penyelamatan harimau Sumatra tersebut.
Sabtu pagi (30/1), tim gabungan yang terdiri dari Balai Besar Taman Nasional Gunung Leuser (BBTNGL), Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Aceh, Camat Darul Hasanah, Kapolsek Darul Hasanah, Danpos Koramil Darul Hasanah, Kepala Desa Gulo bersama dengan mitra WCS-IP (Wildlife Conservation Society-Indonesia Program), FKL (Forum Konservasi Leuser) dan Sumatran Tiger Project melakukan pelepasliaran Danau Putra kembali ke habitat alaminya.
Sebelumnya Proyek Sumatran Tiger juga telah bekerja sama dengan Tim BBTNGL SPTN Wilayah-V Bahorok dan Tim BBKSDASU Seksi Wilayah-II Stabat terkait penghalauan harimau Sumatera kembali ke dalam kawasan TNGL dari tanggal 19-26 Januari 2021. Kekuatan tim yang terlibat masing-masing dari BBTNGL 5 orang dan BBKSDASU 5 orang. Tim tersebut juga dibantu oleh tim mitigasi konflik HS dari WRU/WCS-IP & Yayasan Hutan untuk Anak (YHUA), serta masyarakat setempat.
Foto-foto: Tim Balai Besar Taman Nasional Gunung Leuser
@SumatranTigerID

Penegakan Hukum Kejahatan terkait Harimau Sumatra

Proyek Sumatran Tiger bekerja sama dengan para pemangku kepentingan mendukung upaya penegakan hukum terhadap kasus-kasus kejahatan terkait dengan harimau Sumatra, mulai dari perburuan hingga perdagangan satwa liar ilegal. Capaian Proyek Sumatran Tiger di 2019 bisa diunduh dan dibaca pada tautan berikut: FACT SHEET 2.1 – BAHASA.

@SumatranTigerID

 

Alam adalah Solusi, Mari Jaga Keanekaragaman Hayati

Peringatan Hari Keanekaragaman Hayati Dunia, 22 Mei 2020

“Our Solution are in Nature

Jakarta, Tanggal 22 Mei ditetapkan oleh Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB) sebagai hari Keanekaragaman Hayati Internasional (the International Day for Biological Diversity/IDB) untuk meningkatkan pemahaman dan kesadaran akan keanekaragaman hayati secara global. Tanggal tersebut dipilih sebagai peringatan atas adopsi Convention on Biological Diversity (CBD) tanggal 22 Mei 1992 di Nairobi. Dalam rangka peringatan IDB, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan menyelenggarakan beberapa kegiatan sebagai pekan keanekaragaman hayati pada tanggal 18-22 Mei dengan pilihan sub tema yang dipilih oleh Sekretariat CBD.

Peringatan Hari Keanekaragaman Hayati Internasional memiliki tema yang berbeda setiap tahun. Tahun 2020, tema yang dipilih adalah “Our Solution are in Nature” untuk meningkatkan harapan, solidaritas dan pentingnya bekerja sama dalam setiap tingkatan untuk membangun kehidupan mendatang yang harmonis dengan alam. Selanjutnya sub tema yang diangkat adalah science and knowledge, awareness (conservation and biodiversity, health and food, people and culture), and actions.

Tema tersebut dipilih oleh Sekretariat CBD untuk mengingatkan kembali pentingnya keanekaragaman hayati sebagai solusi atas tantangan pembangunan yang berkelanjutan, ketahanan iklim, ketahanan pangan dan air, energi serta kesehatan manusia yang didukung dengan ketahanan ekonomi.

Keanekaragaman hayati di Indonesia sangat beragam mulai keanekaragaman tumbuhan, satwa, mikroorganisme, termasuk gen yang terkandung di dalamnya, serta keanekaragaman ekosistem, yang kemudian dapat dibagi menjadi 3 level, yaitu: genetik, spesies dan ekosistem. Keanekaragaman hayati merupakan satu kesatuan yang dapat memberikan manfaat kepada manusia baik dari aspek ekonomi, sosial termasuk budaya dan tentunya aspek ekologi dalam wujud mendukung ketahanan pangan, air dan energi.

Indonesia, sebagai salah satu negara Mega-biodiversity Country memiliki keanekaragaman ekosistem mulai dari daratan sampai lautan dengan lebih kurang 90 tipe ekosistem unik. Pada level jenis, Indonesia memiliki lebih dari 30.000 – 40.000 spesies flora tumbuhan berbiji, 1.500 spesies alga, 80.000 spesies tumbuhan berspora berua jamur, 595 spesies lumut kerak, 2.197 spesies paku-pakuan, 8.157 spesies fauna vertebrata dan 1900 spesies kupu-kupu (LIPI, 2014). Sementara pada level genetik, Indonesia masih perlu banyak menggali informasi atas manfaat sumberdaya genetik yang masih belum diketahui. Keanekaragaman hayati juga sangat erat kaitannya dengan kesehatan manusia.

Keragaman hayati di tingkatan ekosistem juga memiliki fungsi menjadi sistem penyangga kehidupan. Kawasan hutan yang masih utuh dan sehat menjamin suplai air bersih, menjaga kesuburan tanah, kesimbangan siklus hidrologi dan iklim mikro, mencegah banjir dan longsor, sehingga lahan pertanian di bawahnya menjadi lebih subur dan produktif. Kawasan hutan yang sehat juga merupakan habitat serangga yang berfungsi sebagai polinator atau penyerbukan bagi komunitas pohon dan tumbuhan lainnya di kawasan pertanian di sekitarnya. Maka, menjaga hutan berarti menjaga keragaman hayati dan keseimbangan hidup antar komponennya dan berkontribusi untuk ketahanan dan kemandirian pangan, ketersediaan air bersih untuk konsumsi dan kesehatan bagi masyarakat secara luas.

Kasus pandemi saat ini, menjadi relevan dibicarakan di peringatan Hari Keanekaragaman Hayati Internasional, karena penyebab penyakit COVID-19 adalah virus SARS CoV2 yang ditengarai moyangnya berasal dari virus Corona yang ada di dalam tubuh kelelawar. Banyak penelitian yang menyebutkan bahwa kelelawar yang dikonsumsi masyarakat di Wuhan menjadi salah satu penyebab kemunculannya. Hipotesis ini mungkin ada benarnya, akan tetapi kemunculan pandemi COVID-19 ini bisa saja merupakan proses yang kompleks (Naipospos, Tri.S.P, 2020).

Walaupun begitu, penyebaran penyakit dari hewan ke manusia tak bisa dianggap enteng. Setidaknya, 80 persen penyakit menular pada manusia bersumber dari hewan, sementara sekitar 75 persen penyakit baru atau penyakit infeksi emerging pada manusia disebabkan oleh mikroba yang berasal dari hewan atau satwa. Sebagai contoh penyebaran flu burung, virus nipah, HIV, sindrom pernapasan akut (SARS), sindrom pernapasan Timur Tengah-koronavirus (MERS-CoV), Ebola ataupun penyakit baru yang bersifat zoonotik lainnya.

Beberapa upaya penghentian penyebaran penyakit baru dengan memusnahkan satwa liar di alam tidak dapat menyelesaikan masalah, akan tetapi dapat menimbulkan masalah baru yaitu menyebabkan ketidakseimbangan alam. Perburuan liar dan mengkonsumsi satwa liar sangat beresiko pada kesehatan manusia. Dengan demikian, keseimbangan ekosistem dengan keanekaragaman hayati tinggi dapat melindungi manusia dari penyakit. Sebaliknya, ekosistem dengan populasi spesies homogen sangat rentan terhadap pandemi.

Hal ini kemudian menarik minat peneliti untuk menemukan vaksin dari virus penyebab pandemi. Saat ini, banyak peneliti di dunia melakukan penelitian vaksin dari berbagai sampel yang bersumber dari hidupan liar (tumbuhan dan satwa liar) dan sumber daya genetik yang terkandung didalam hidupan liar dan alamnya. Situasi ini menunjukkan perhatian serius dari peneliti dunia terutama di negara maju untuk pencarian obat maupun vaksin di negara yang memiliki keanekaragaman hayati tinggi. Kegiatan eksplorasi tersebut dalam dunia sains dikenal sebagai bioprospecting.

Bioprospecting sebagai kegiatan eksplorasi, ekstraksi dan penapisan sumber daya alam hayati untuk pemanfaatan komersial dari sumber daya genetik, spesies dan atau biokimia beserta turunannya (Reid, et. All, 1993) yang bersumber dari spesies liar, dipercaya dapat menjadi jawaban atas pandemi COVID-19 yang terjadi saat ini. Pada umumnya kegiatan tersebut disertai dengan eksplorasi atas pengetahuan tradisional (traditional knowledge). Kondisi tersebut dapat dimanfaatkan oleh berbagai pihak untuk mengambil bagian dalam upaya mencari potensi obat serta sekaligus dapat menjadi potensi ekonomi yang mungkin tersembunyi dalam keanekaragaman hayati Indonesia. Hal ini seharusnya menjadi perhatian bersama.

Salah satu contoh terbaru berkembangnya penelitian yang bersumber pada pemanfaatan sumber daya genetik yaitu inovasi Hand-Sanitizer dan Hand-Soap yang mengandung bahan aktif minyak Gaharu yang ditemukan oleh Asep Hidayat seorang peneliti dari Badan Penelitian, Pengembangan dan Inovasi-KLHK. Dalam minyak gaharu terdapat senyawa Sesquiterpenes serta lebih dari 50 senyawa lainnya yang sangat baik untuk membunuh mikroorganisme (bakteri, jamur dan virus), sehingga diharapkan dapat digunakan sebagai upaya pencegahan penyebaran COVID-19.

Artinya, pemanfaatan potensi keanekaragaman hayati dengan bijak dapat menjadi salah satu solusi dalam upaya mengatasi pandemi seperti yang disebabkan oleh coronavirus. Dengan demikian, keanekaragaman hayati sebagai jawaban atas tantangan pembangunan berkelanjutan dimana manusia merupakan bagian dari alam dan tidak dapat dipisahkan dari alam.

Sekiranya benar bahwa ungkapan yang menyatakan dunia setelah pandemi COVID-19 tidak akan sama seperti sebelumnya. Aspek kesehatan kemudian menjadi hal penting dalam upaya konservasi keanekaragaman hayati. Lebih dari itu, pengambilan kebijakan harus berdasarkan atas pertimbangan sains, memperhatikan traditional knowledge serta melibatkan masyarakat dengan pola kemitraan. Semua pihak harus dapat memastikan pembangunan yang berkelanjutan dengan mempertimbangkan keanekaragaman hayati, pada tiga level, yaitu ekosistem, spesies, dan genetik.

Ke depan, segera diidentifikasi dan diinventarisasi 43 juta hektare kawasan ekosistem esensial di luar kawasan konservasi yang telah ada. Juga akan dibangun sistem connectivity antar kluster meta populasi yang terpisah dengan penetapan 1,4 juta hektare High Conservation Value Forest (HCVF) di wilayah konsesi, High Carbon Area, dan kawasan yang unik seperti cloud forest, karst, hutan kerangas, kawasan riparian, mangrove, padang lamun, atau habitat satwa endemik tertentu yang terisolasi pada pulau-pulau kecil.  Di samping itu, terus dilakukan rehabilitasi kawasan hutan dengan melibatkan masyarakat, dan pemegang izin di wilayah konsensinya.

Pada peringatan hari Keanekaragaman Hayati Internasional tahun 2020 ini, kita mencari jawaban, bantuan dan inspirasi dari alam untuk kehidupan yang lebih baik bagi generasi mendatang, agar semakin selaras dengan mekanisme dan keseimbangan alam.

————————-

References:

Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia. 2014. “Kekinian Keanekaragaman Hayati Indonesia 2014”, Jakarta: LIPI Press.

Naipospos, Tri S.P. 2020.  Inang Alamiah Virus Corona“, dalam artikel Center for Indonesian Veterinary Analytical Studies. http://civas.net/2020/03/20/inang-alamiah-virus-corona/.

Reid, W.V., et. Al. 1993.  Biodiversity Prospecting: Using Genetic Resources for Sustainable Development“, World Resources Institute, Washington, DC; Instituto Nacional de Biodiversidad, Santo Domingo de Heredia, Costa Rica; Rainforest Alliance, New York; African Centre for Technology Studies, Nairobi, Kenya.

TNBBS Berhasil Kembangkan Sistem Pengamatan Harimau

Taman Nasional Bukit Barisan Selatan (TNBBS) mencakup total area seluas 330.853,23 ha, terletak di dua provinsi, Provinsi Lampung dan Bengkulu (dengan proporsi luasan terbesar di Provinsi Lampung).

Visi dari TNBBS adalah sebagai habitat pelestarian harimau sumatera, badak sumatera dan gajah sumatera serta perlindungan sistem peyangga kehidupan yang didukung oleh pemberdayaan masyarakat secara berkelanjutan.

TNBBS juga menjadi satu dari tiga taman nasional di Sumatera yang menjadi bagian dari Tropical Rainforest Heritage of Sumatra (TRHS) yang ditetapkan oleh UNESCO karena nilai universal yang luar biasa dari budaya/properti alam yang membutuhkan perlindungan untuk kepentingan seluruh umat manusia.

Pengamatan adalah survei secara berkala terhadap satu objek tertentu untuk melihat dinamika/perubahan yang terjadi terhadap objek tersebut serta untuk memahami kemungkinan faktor-faktor yang menyebabkan perubahan tersebut terjadi. Dalam hal ini obyek yang diamati adalah harimau, satwa-mangsa, dan hutan (deforestasi) di TNBBS.

Secara lebih spesifik sistem pengamatan harimau Sumatra merujuk pada perkembangan pengelolaan pusat data (database) kamera penjebak dengan fokus pada individu harimau.

Kamera penjebak merupakan alat yang sering digunakan di dalam survei pendugaan populasi harimau. Dari survei dengan mempergunakan kamera penjebak maka data dasar yang akan diperoleh adalah berupa gambar/video dari individu harimau serta lokasi dimana individu tersebut tertangkap oleh kamera penjebak.

Data yang terkumpul dari survei dengan mempergunakan kamera penjebak secara berkala selain dapat memberikan informasi populasi (kepadatan) harimau dalam waktu tertentu dapat juga digunakan untuk memonitor apakah individu harimau (setiap individu harimau memiliki keunikan pada pola loreng) yang tertangkap pada survei kamera penjebak pemasangan kamera penjebak sebelumnya masih tertangkap juga pada periode pemasangan berikutnya.

Kamera penjebak juga sering digunakan dalam kegiatan mitigasi konflik satwa liar dengan manusia dengan tujuan untuk memastikan keberadaan harimau di sekitar desa/pemukiman serta kegiatan pengamatan (monitoring) aktivitas manusia dan satwa liar pada area-area tertentu (misalnya pengamatan dampak jalan).

Balai Besar Taman Nasional Bukit Barisan Selatan didukung oleh Proyek Sumatran Tiger dan mitra sejak awal tahun 2017 mulai merapikan data kamera penjebak hasil dari berbagai kegiatan yang menggunakan kamera penjebak.

Perangkat lunak yang dipakai untuk identifikasi individu harimau adalah  ExtractCompare. ExtractCompare merupakan sebuah perangkat lunak yang dikembangkan oleh Conservation Research, Ltd. untuk pengelolaan foto-foto satwa. Perangkat lunak ini dapat mengenali individu satwa berdasarkan pola unik alami yang terlihat pada tubuhnya.

Saat ini, ExtractCompare sudah diaplikasikan untuk berbagai jenis satwa yang memiliki penanda individu pada tubuhnya, seperti harimau, macan tutul, hiu, dan salamander. Perangkat lunak tersebut diintegrasikan dengan Microsoft Access sebagai sistem manajemen data untuk menyimpan informasi foto yang diproses.

Hasil dari proses analisis dari semua data sampai dengan bulan Maret 2019 diperoleh 425 foto harimau dalam pangkalan data ExtractCompare yang terdiri dari 151 foto sisi kiri dan 154 foto sisi kanan (120 foto tidak diekstrak karena merupakan foto dari event yang sama atau foto yang buram).

Data yang telah dimasukkan dalam pangkalan data berasal dari tahun 2010 hingga 2018. Berdasarkan perpustakaan foto tersebut, telah diidentifikasi 106 individu (43 betina, 16 jantan, 47 tidak diketahui jenis kelaminnya). Data juga mencatat terdapat 31 individu harimau (20 betina, 5 jantan) yang memiliki informasi pola loreng lengkap di kedua tubuhnya.

Perlu dicatat bahwa jumlah 106 individu bukanlah merupakan jumlah harimau yang ada di TNBBS saat ini, melainkan jumlah individu yang ada di pangkalan data foto harimau TNBBS. Angka tersebut merupakan total individu yang terekam sejak tahun 2010 dan terdapat kemungkinan bahwa ada harimau mati selama kisaran waktu 2010 hingga 2019. Penambahan data-data yang baru akan lebih memperkuat hasil identifikasi individu harimau ini.

Dari 106 individu harimau yang telah diidentifikasi di TNBBS terlihat bahwa jantan dan betina ditemukan cukup tersebar merata di TNBBS tetapi dengan jumlah individu betina yang lebih banyak dibandingkan dengan yang jantan.

Yang tak kalah menarik, dari data yang tersedia ini juga bisa diperkirakan ruang jelajah harimau walaupun hanya berupa perkiraan kasar (penentuan area jelajah berdasarkan data kamera perangkap bukan merupakan metoda yang ideal dimana disarankan untuk mempergunakan GPS Collar). Diperlukan paling sedikit data 3 lokasi temuan suatu individu harimau untuk memperkirakannya.

Dari hasil analisis data kamera perangkap terlihat harimau jantan memiliki ruang jelajah (rata-rata 3.795 ha) yang lebih luas daripada harimau betina (rata-rata 787 ha). Harimau bersifat teritorial (dan dengan daerah jelajah yang lebih luas, kurang lebih pernah tercatat di Sumatera seluas 23.600 hektar) dengan rata-rata ruang teritori jantan seluas 1.500 – 2.000 hektar. Harimau betina biasanya memiliki teritori yang lebih kecil. Luasan area jelajah dan teritori sangat tergantung pada kondisi lingkungan, sumber pakan, jenis kelamin, dan kelas umur.

Dari hasil sementara ini, dengan luas area jelajah yang hampir sama atau lebih kecil dari luasan teritori (sumber data luasan teritori dari referensi) kemungkinan menunjukkan potensi satwa mangsa yang masih baik untuk mempertahankan populasi harimau di TNBBS. Hasil dari survei populasi harimau pada tahun 2015 menunjukkan bahwa area survei (IPZ-Intensive Protection Zone TNBBS) memiliki potensi satwa mangsa yang masih banyak (Pusparini dkk. 2018).

Ketersediaan sistem pengamatan harimau sangat penting guna memastikan sistem perlindungan terhadap harimau Sumatra dilakukan berdasarkan data dan informasi yang tepat. Yang diperlukan adalah memastikan keberlanjutan sistem pengamatan harimau yang telah dibangun dan peningkatan kapasitas staf taman nasional yang telah dilakukan.

@SumatranTigerID

 

Balai Besar TNGL Bahas RPJP 2020-2029

Balai Besar Taman Nasional Gunung Leuser (BBTNGL), hari ini, Selasa, 10 Maret 2020 melaksanakan kegiatan Focus Group Discussion (FGD) terkait dengan Penyusunan Rencana Pengelolaan Jangka Panjang (RPJP) Taman Nasional Gunung Leuser tahun 2020-2029.

Kegiatan ini dilaksanakan di aula kantor BAPPEDA Kabupaten Langkat di Stabat, yang dihadiri oleh beberapa perwakilan instansi terkait lingkup Kabupaten Langkat dan organisasi-organisasi mitra kerja TNGL untuk Kabupaten Langkat, dengan total jumlah peserta 60 orang.
Kegiatan FGD ini dibuka langsung oleh Asisten Administrasi Tata Pemerintahan Kabupaten Langkat Drs. Abdul Karim, M.AP, yang didampingi oleh Kepala BBTNGL dan Kepala BAPPEDA Kabupaten Langkat.

Focus Group Discussion ini bertujuan untuk mensosialisasikan penyusunan RPJP TNGL 2020-2029 (visi, misi & tujuan); mendapatkan informasi tentang perencanaan daerah (instansi terkait dilingkup Pemerintah Kabupaten langkat); dan mendiskusikan strategi dan rencana aksi. Kegiatan ini berlangsung selama satu hari, dengan dukungan pendanaan dari Proyek Sumatran Tiger dan sumber DIPA TNGL tahun 2020.

SumatranTigerID

TNKS Restorasi 51,24 Hektar Lahan

Balai Besar Taman Nasional Kerinci Seblat (BB TNKS) dan Kelompok Tani Hutan (KTH) “Renah Kasah Lestari” menandatangani perjanjian kerjasama kemitraan konservasi dalam rangka pemulihan ekosistem kawasan Taman Nasional Kerinci Seblat di Desa Renah Kasah, Kecamatan Kayu Aro, Kabupaten Kerinci.

Hal ini merupakan tindak lanjut dari keputusan Kepala Balai Besar Taman Nasional Kerinci Seblat kepada Pemerintah Desa Renah Kasah, Kecamatan Kayu Aro, Kabupaten Kerinci, Nomor: SK.136/T.1/TU/KSA/05/2019 tentang Pemberian Ijin Pemanfaatan Energi Air (IPEA) di Kawasan Taman Nasional Kerinci Seblat Seksi PTN Wilayah I Kerinci, Resort Kerinci Utara.

Kepala BBTNKS, Tamen Sitorus menyatakan, pemberian ijin ini adalah kontribusi positif taman nasional kepada masyarakat yang tinggal di sekitar kawasan TNKS. Oleh sebab itu masyarakat Desa Renah Kasah berkewajiban untuk melestarikan kawasan TNKS, khususnya di kawasan tangkapan air pembangunan PLTMH yang sedang dilaksanakan.

Masyarakat dibantu oleh Perkumpulan Walestra yang mendapat dana hibah dari Proyek Sumatran Tiger akan melakukan pemulihan ekosistem kawasan TNKS di kawasan tangkapan air pembangunan PLTMH yang berada di zona rehabilitasi TNKS.

Proyek Sumatran Tiger berkomitmen melaksanakan konservasi keanekaragaman hayati dan rehabilitasi habitat satwa penting dan terancam punah. Salah satu areal implementasi kegiatan tersebut adalah di Taman Nasional Kerinci Seblat yang saat ini sedang menghadapi ancaman degradasi hutan dan lahan.

Kegiatan restorasi ekosistem juga mendukung kegiatan Direktorat Jenderal Energi Baru Terbarukan dan Konservasi Energi bekerja sama dengan United Nations Development Programme (UNDP) dalam aksi mitigasi perubahan iklim di sektor pembangkit energi dan penghematan energi melalui Proyek Market Transformation through Design and Implementation of Appropriate Mitigation Actions in the Energy Sector (MTRE3).

Salah satu kegiatan MTRE3 adalah melakukan pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Micro Hydro di Desa Renah kasah, yang juga didukung oleh kerja sama antara UNDP dengan Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS) dan kerja sama UNDP dengan Bank Jambi untuk mencapai Target Pembangunan Berkelanjutan (SDG) dalam penyediaan listrik bagi masyarakat miskin yang tinggal di desa yang belum tersambung dengan jaringan listrik PLN.

SumatranTigerID

Catatan Hasil Evaluasi Efektivitas Pengelolaan Kawasan Konservasi di Indonesia

Evaluasi merupakan bagian tidak terpisahkan dari siklus pengelolaan kawasan konservasi. Rencana Strategis Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan 2020-2024 menegaskan berlanjutnya kebijakan peningkatan efektivitas pengelolaan kawasan konservasi.

Oleh karena itu, diperlukan metodologi yang tepat untuk mengukur kinerja pemerintah dalam hal ini Direktorat Jenderal KSDAE terkait dengan peningkatan efektivitas pengelolaan kawasan konservasi. Efektivitas pengelolaan kawasan konservasi di Indonesia dalam lima tahun terakhir diukur menggunakan pendekatan Management Effectiveness Tracking Tool (METT).

Ada beberapa catatan yang bisa dijadikan rujukan untuk pengelolaan kawasan di Indonesia yang lebih baik lagi. Catatan-catatan tersebut bisa diunduh (download) dan dibaca dalam dokumen berikut ini: Risalah Kebijakan Evaluasi Efektivitas Pengelolaan Kawasan Konservasi di Indonesia.

Penyusunan risalah kebijakan ini didukung oleh UNDP GEF Tiger Project sebagai salah satu tindak lanjut dari Workshop Pembelajaran dan Evaluasi Efektivitas Pengelolaan Kawasan Konservasi di Indonesia pada 16-17 Desember 2019 di Hotel Salak Padjadjaran Bogor.

SumatranTigerID

Kesadaran Konservasi Satwa Liar Masih Sangat Rendah

Pernyataan di atas disampaikan oleh Prof. Dr. Satyawan Pudyatmoko, M.Sc., IPU dalam Pidato Pengukuhan Jabatan Guru Besar dalam Bidang Ilmu Pengelolaan Satwa Liar, Fakultas Kehutanan, Universitas Gadjah Mada yang dilaksanakan pada hari Selasa, 25 Februari 2020.

Dalam pidato yang berjudul “Merawat Hubungan Manusia dan Satwa Liar” ini, Profesor Satyawan menyatakan, saat ini, tingkat laju kepunahan spesies telah mencapai 100-1000 kali lebih tinggi dari pada laju kepunahan alami. Kurang lebih 10-30% spesies mamalia, burung dan amfibi terancam punah.

“Sekarang kita telah memasuki gelombang kepunahan massal ke-6,” ujar Prof. Satyawan. Gelombang kepunahan massal sebelumnya, yaitu kepunahan massal yang ke-5, menurut Prof. Satyawan terjadi sekitar 65 juta tahun yang lalu yang menyebabkan musnahnya jenis-jenis dinosaurus.

Salah satu ancaman serius dalam pelestarian keanekaragaman hayati adalah perdagangan global satwa liar.

“Pasar gelap satwa liar adalah bisnis yang sangat menguntungkan setelah obat-obat terlarang, persenjataan dan barang-barang palsu,” tutur Prof. Satyawan mengutip penelitian Campbell et al., 2019. “Nilai jual beli satwa ilegal ditaksir mencapai US$7-23 miliar per tahun dan dioperasikan oleh organisasi kriminal yang sangat profesional,” tambahnya lagi.

Perdagangan satwa liar adalah bentuk kejahatan trans-nasional yang sangat serius dan terkait dengan bentuk-bentuk kejahatan yang lain seperti korupsi dan penguatan jaringan kriminal internasional. “Perdagangan satwa liar ilegal juga mendorong penyebaran penyakit infeksi,” tutur Prof. Satyawan.

Pernyataan ini sangat relevan dengan kasus penyebaran virus corona (COVID-19) yang saat ini masih berlangsung. Sebagaimana diberitakan oleh Kantor Berita Antara, Badan legislatif China akan secepatnya melarang perdagangan dan konsumsi hewan liar sebagai salah satu upaya negara itu mengatasi wabah virus corona (COVID-19) yang telah mengorbankan ribuan jiwa.

Indonesia sebagai negara dengan keanekaragaman hayati yang tinggi menjadi lokasi yang tingkat ancaman terhadap keanekaragaman hayati yang juga tinggi (hot spot). “Salah satu ukuran dari hot spot adalah laju hilangnya habitat. Dengan makin berkurangnya habitat, potensi konflik manusia dan satwa liar makin meningkat,” ujar Prof. Satyawan.

Prof. Satyawan menegaskan, adanya serangan harimau, gajah, monyet ekor panjang ke lahan garapan manusia adalah akibat dari perebutan ruang hidup antara manusia dan satwa liar.

“Pada umumnya hilangnya habitat terjadi akibat perubahan hutan menjadi lahan-lahan budi daya (pertanian, perkebunan dan hutan tanaman industri) serta infrastruktur yang dianggap lebih produktif dan lebih relevan untuk perekonomian negara,” tuturnya.

Padahal dalam perspektif ekonomi, keanekaragaman hayati berpengaruh langsung terhadap kesejahteraan manusia. “Jasa ekosistem yang diperankan oleh keanekaragaman hayati seperti penyerbukan, pemurnian air, pencegahan banjir dan penyerapan karbon ditaksir bernilai US$125-140 triliun per tahun, lebih dari separuh Produk Domestik Bruto Dunia,” ujarnya. “Oleh karena itu satwa liar bukan sekedar sumber daya atau komoditas yang bisa diperjualbelikan atau dinilai dengan uang.” tambahnya lagi.

Prof. Satyawan menyatakan, satwa liar juga memberikan kontribusi yang besar pada perkembangan ilmu kesehatan. Buku “Sustaining Life: How Human Health Depends on Biodiversity” mengidentifikasi tujuh grup organisme yang memiliki peran kunci untuk kesehatan manusia serta menguraikan bagaimana pengaruh hilangnya organisme tersebut terhadap manusia. “Dari tujuh grup organisme tersebut, enam grup diantaranya adalah jenis satwa liar,” tutur Prof. Satyawan.

Manusia adalah sub-sistem dari alam. Dalam perspektif koevolusi tidak ada spesies yang lebih penting dari pada spesies lain dan tidak ada spesies yang lebih berharga. “Oleh karena itu semua spesies harus dihargai keberadaannya dan tidak bisa dinilai semata-mata sebagai sumber daya,” tegas Prof. Satyawan.

Namun Prof. Setyawan mengingatkan, walaupun sudah diuraikan nilai-nilai satwa liar bagi kemaslahatan manusia, namun kesadaran konservasi satwa liar masih sangat rendah, baik di level masyarakat maupun para pengambil kebijakan. Sehingga, “Tidak mudah untuk mendamaikan konflik-konflik kepentingan dalam perebutan ruang hidup antara satwa liar dan manusia,” tuturnya.

Lemahnya inovasi teknologi pertanian dan rendahnya ketersediaan lahan akan meningkatkan kompetisi satwa dan manusia. “Ini adalah tantangan terberat bagi para konservasionis satwa,” ujar Prof. Satyawan.

Menurutnya, konservasi satwa liar adalah ilmu sekaligus seni. “Diperlakukan kemampuan dalam meramu berbagai disiplin ilmu, serta melakukan komunikasi dan persuasi dengan para pemangku kepentingan,” tutur Prof. Satyawan.

@SumatranTigerID