Selamat Hari Polisi Hutan Dunia

Selamat untuk rekan-rekan polisi hutan! Terima kasih sudah menjaga keanekaragaman hayati Indonesia.

Tanggal 31 Juli diperingati sebagai Hari Ranger Sedunia atau World Ranger Day. Proyek Sumatran Tiger bahu membahu bersama pihak-pihak yang berkepentingan berupaya meningkatkan kapasitas pengelolaan wilayah lindung.

Proyek Sumatran Tiger melibatkan polisi hutan (ranger) dalam berbagai inisiatif konservasi seperti patroli SMART – RBM, patroli sapu jerat dan pemasangan kamera pengintai guna mengurangi perburuan harimau dan memantau populasinya.

@SumatranTigerID

Mengapa Kita Harus Menyelamatkan Harimau?

Saat ini populasi harimau di alam liar dunia hanya tinggal 3.500 ekor. Tanpa aksi konservasi, harimau akan punah hanya dalam waktu 20 tahun ke depan (laporan lain menyebutkan hanya dalam waktu 15 tahun).

Sebagai predator utama, harimau membangun ekosistem di mana ia hidup. Harimau memangsa hewan pemakan tanaman (herbivora), mencegah mereka merusak hutan. Dengan begitu, harimau juga turut menjaga keseimbangan ekosistem. Sebagai hewan yang soliter (menyendiri), harimau memiliki daya jelajah yang luas. Wilayah kekuasaan yang luas tersebut memberikan “perlindungan” sempurna bagi spesies lain untuk tumbuh dan berkembang.

Aksi melindungi habitat harimau dan pemulihan kembali hutan yang rusak akan membawa manfaat bagi dunia dan masyarakat sekitar. Aksi konservasi harimau secara lokal bisa mencegah bencana banjir dan memastikan kelestarian sungai dan sumber air bersih. Sementara wilayah konservasi harimau, seperti taman nasional, juga berfungsi untuk menyerap karbon.

Melindungi harimau juga berarti melindungi habitatnya yang kaya akan keanekaragaman hayati sehingga komunitas dan masyarakat lokal akan memeroleh manfaat ekonomi dari ekowisata.

Selama ini pembunuh utama harimau adalah manusia. Manusia adalah pemburu dan predator utama harimau di alam. Tanggung jawab kita bersama untuk menghentikan pembunuhan harimau di alam liar.

Sumber: Tiger Time

 

Inilah Sejarah World Tiger Day

Hari Harimau Dunia atau World Tiger Day diperingati setiap tanggal 29 Juli. Peringatan ini bertujuan untuk meningkatkan kesadaran akan konservasi harimau di seluruh dunia.

Peringatan ini dimulai pada tahun 2010 bersamaan dengan Saint Petersburg Tiger Summit di Rusia. Para ahli menyadari bahwa ancaman terhadap eksistensi harimau semakin tinggi. Berbagai organisasi penyelamat binatang bersatu padu dan menggalang dana guna menyelamatkan spesies yang cantik ini.

Tujuan peringatan Global Tiger Day adalah memastikan harimau mendapat perlindungan yang layak dan habitatnya semakin luas, tidak sebaliknya. Hal ini hanya bisa terwujud jika dunia menyadari pentingnya konservasi harimau.

Populasi harimau terus menurun akibat berbagai faktor diantaranya adalah akibat dampak perubahan iklim, perburuan liar dan urbanisasi (di Indonesia termasuk deforestasi atau penggundulan hutan).

Urbanisasi dan deforestasi memicu alih fungsi lahan sehingga habitat harimau semakin sempit dan mangsa semakin langka. Hal ini memicu terjadinya konflik antara harimau dan manusia. Harimau keluar dari habitatnya yang semakin rusak dan mencari mangsa di wilayah penduduk terdekat. Perburuan liar dan perdagangan organ-organ tubuh harimau masih terus berlangsung dipicu oleh mitos yang salah, yang menganggap bagian tubuh harimau bisa dikonsumsi sebagai makanan penambah vitalitas.

Ancaman perubahan iklim juga memicu penurunan habitat harimau. Kenaikan permukaan air laut mengancam kelestarian hutan dan habitat harimau di seluruh dunia. Beberapa laporan memerkirakan bahwa harimau akan musnah hanya dalam waktu 15 tahun.

Sumber: World Tiger Day

 

Tiger dan TNBBS Inisiasi Patroli Harimau

Unit implementasi proyek (PIU) Sumatran Tiger di Bukit Barisan Selatan dan tim Polisi Kehutanan Balai Taman Nasional Bukit Barisan Selatan melaksanakan patroli bersama perdana pada Mei dan Juni 2017. Patroli ini dilaksanakan di tiga tempat yang menjadi habitat harimau sumatera yaitu Merbak dan Sekincau di Lampung Barat serta Merpas di wilayah Bintuhan, Bengkulu Selatan.

Sebanyak 3 tim dimana masing-masing tim beranggotakan 3 orang yang terdiri dari polisi hutan dan masyarakat mitra polisi (MMP), turut serta dalam kegiatan patroli selama 7 hari ini.

Tim patroli berupaya memantau penyebaran populasi satwa dan aktivitas manusia. Mereka juga memetakan distribusi ancaman, kehidupan liar dan kerusakan kawasan hutan.

Tim patroli berupaya meningkatkan kesadaran hukum masyarakat tentang perlunya menjaga kelestarian hutan, melakukan pendataan atau pembuatan peta kerawanan hutan, serta berupaya menyelesaikan kasus-kasus bidang kehutanan.

Taman Nasional Bukit Barisan Selatan adalah Tiger Conservation Landscape, lanskap yang diperuntukkan bagi kelestarian harimau sumatera.

Estimasi populasi harimau dengan menggunakan pendekatan Capture Mark Recapture pada 2002 menunjukkan angka kepadatan 1,22 ekor harimau/100 km2.

Sementara hasil survey 2015 menggunakan metode Spatially Explicit Capture and Recapture diketahui adanya peningkatan populasi harimau sumatera di TNBBS menjadi 3,2 ekor harimau/100 km2 atau diestimasikan sebesar 55 ekor (di luar areal Tampang Belimbing yang memiliki populasi sebesar 32 ekor).

@SumatranTigerID

Proyek Dukung Patroli Sapu Jerat di TNKS

Kawasan Taman Nasional Kerinci Seblat (TNKS) terletak di empat provinsi (Provinsi Sumatera Barat, Provinsi Jambi, Provinsi Bengkulu dan Provinsi Sumatera Selatan) menghadapi tekanan atau gangguan dari berbagai arah penjuru. Gangguan/kerusakan ekosistem hutan disebabkan oleh berbagai kepentingan seperti pembukaan hutan untuk lahan pertanian masyarakat, penebangan liar, perburuan satwa liar, penambangan illegal, dan pembukaan jalan baru.

Guna menekan perburuan liar dan kegiatan ilegal yang lain, Proyek Sumatran Tiger mendukung patroli sapu jerat bersama tim Polisi Kehutanan dan Masyarakat Mitra Polisi Kehutanan TNKS, serta Tim Pelestarian Harimau Sumatera Kerinci Seblat (PHSKS).

Patroli kali ini terfokus pada pengambilan jerat harimau sumatera dan satwa mangsa, pendokumentasian dan pencatatan data temuan perjumpaan langsung maupun tidak langsung (indikator) keberadaan satwa, serta ancaman terhadap kerusakan kawasan TNKS. Umumnya jerat yang dipasang oleh pemburu dapat menyasar binatang apa saja yang melintas di atas jerat tersebut.

Patroli sapu jerat harimau dan satwa mangsa di kawasan TNKS dilaksanakan pada bulan Juni 2017. Masing-masing lokasi memiliki waktu pelaksanaan sebanyak 7 hari kerja di 3 lokasi yang berbeda, yaitu: Seksi Pengelolaan Taman Nasional (SPTN) Wilayah VI Bengkulu Resort Bengkulu Utara – Mukomuko (4-10 Juni 2017); SPTN Wilayah I Jambi Resort Kerinci Utara (11-17 Juni 2017); dan SPTN Wilayah IV Solok Selatan Resort Sungai Lambai (15-21 Juni 2017).

Patroli ini juga dilaksanakan untuk menindaklanjuti hasil patroli Tim PHSKS pada bulan April yang menemukan banyak jerat yang masih baru dibuat di sekitar lokasi Ladeh Panjang (SPTN Wilayah I Jambi Resort Kerinci Utara).

Patroli sapu jerat ini berjalan dengan baik. Jumlah kehadiran petugas di lapangan meningkat. Tim tidak menemukan titik perambahan baru. Jumlah kilometer patroli yang dilaksanakan oleh petugas TNKS dengan menggunakan dana proyek ini adalah 56,84 km. Jumlah temuan jerat sebanyak 44 jerat. Aktivitas perburuan terhenti sementara, ditemukannya 2 ekor rusa (mati) , dan 2 ekor babi hutan (1 individu masih dalam keadaan hidup) yang terjerat. Diduga pemburu enggan masuk ke kawasan karena 2 bulan sebelumnya juga dilaksanakan patroli rutin oleh tim PHSKS.

@SumatranTigerID

Tiger Fasilitasi Patroli SMART

Proyek Sumatran Tiger memfasilitasi introduksi patroli berbasis SMART dan pengamanan hutan di kawasan Balai TNBS dari kegiatan perambahan dan perburuan, khususnya perburuan harimau sumatera.

Patroli pengamanan hutan berbasis SMART pada Taman Nasional Berbak Sembilang (TNBS) dilaksanakan di Jambi pada tanggal 14-18 Juni 2017 dan di Palembang, 15-18 Juni 2017. Kegiatan ini bertujuan untuk menginternalisasi patroli pengamanan hutan berbasis SMART di Balai TNBS.

Patroli dilakukan selama 5 hari, di 3 SPTN (Seksi Pengelolaan TN) pada 9 resort yaitu: Seksi I: Resort Pematang Raman, Resort Sei Rambut, Resort Rantau Rasau, Seksi II: Resort Lalan, Resort Simpang Satu, Resort Solok Buntu dan Seksi III: Resort Cemara, Resort Simpang Malaka, Resort Terusan Dalam.

Perambahan di dalam kawasan TNBS yang telah terobservasi berbentuk pengambilan kayu dari pohon-pohon mati akibat kebakaran dan membuka lahan bekas terbakar di dalam kawasan TNBS menjadi lahan pertanian. Dalam patroli ini tim berhasil menyita barang bukti berupa 1 buah gergaji mesin berikut peralatan perawatannya.

@SumatranTigerID

Tiger Fasilitasi Pertemuan TNKS dengan 4 Polda

Pertemuan ini dilaksanakan pada tanggal 29 Mei 2017 di Hotel Abadi Suite Tower Kota Jambi. Tujuan kegiatan ini adalah untuk finalisasi pembentukan tim kelompok kerja (Pokja) dan penyusunan perencanaan kerja sebagai implementasi setelah ditandatanganinya Nota Kesepahaman Antara Balai Besar TNKS dengan Kepolisian Daerah Sumatera Selatan, Kepolisian Daerah Sumatera Barat, Kepolisian Daerah Jambi dan Kepolisian Daerah Bengkulu, yang menggunakan sumber dana proyek lain.

Pada bagian akhir acara tersebut dilakukan penandatanganan bersama oleh perwakilan peserta rapat sebanyak 12 orang dan sekaligus menjadi anggota Pokja Pengamanan dan Perlindungan Kawasan TNKS. Menurut Ir. M. Arief Toengkagie selaku kepala balai besar TNKS, pengamanan kawasan taman nasional sebagai habitat satwa liar, penegakan hukum kasus kejahatan tumbuhan dan satwa liar dilindungi, pelestarian biodiversity khususnya harimau sumatera di dalam dan sekitar kawasan TNKS dapat dilakukan dengan memperkuat hubungan kemitraan dengan multi stakeholder.

Aktivitas ini dilaksanakan berdasarkan Nota Kesepahaman Antara Balai Besar Taman Nasional Kerinci Seblat Dengan Kepolisian Daerah Sumatera Selatan, Kepolisian Daerah Sumatera Barat, Kepolisian Daerah Jambi dan Kepolisian Daerah Bengkulu tentang Penguatan Fungsi Kawasan Berupa Pengamanan dan Perlindungan Kawasan Taman Nasional Kerinci Seblat dan sekitarnya, yang ditandatangani pada hari Selasa tanggal 14 Maret 2017 di Jakarta.

Nota kesepahaman ini kemudian telah ditindaklanjuti dengan pembahasan tim kelompok kerja (pokja) dan perencanaan kerja di tingkat bidang wilayah Balai Besar Taman Nasional Kerinci Seblat dengan Kepolisian Resort di Provinsi Sumatera Selatan dan Bengkulu, dengan Kepolisian Resort di Provinsi Jambi, serta dengan Kepolisian Resort di Provinsi Sumatera Barat, yang masing-masing telah terlaksana pada tanggal 15, 17 dan 19 Mei 2017 di Bengkulu, Sarolangun dan Padang. Kegiatan tersebut dilaksanakan menggunakan sumber dana dari proyek lain.

Proyek Transforming Effectiveness of Biodiversity Conservation in Sumatera Priority Landscape diantaranya bertujuan untuk mendukung upaya konservasi keanekaragaman hayati di lanskap TNKS. Melalui kegiatan fasilitasi ini diharapkan kasus perburuan dan perdagangan harimau sumatera di Taman Nasional Kerinci Seblat dan sekitarnya dapat ditekan, sehingga populasi harimau dapat terjaga bahkan mengalami peningkatan jumlah. Selain itu, jumlah kasus kejahatan TSL yang diproses hingga pengadilan diharapkan meningkat.

Hasil yang dicapai dalam pertemuan ini adalah sebagai berikut: Terbentuknya tim Pokja sebagai wadah untuk membangun komunikasi, koordinasi dan sinergitas antar BBTNKS dengan 4 Polda dalam pelaksanaan Program kerja Pengamanan dan Perlindungan Kawasasn TNKS serta tersusunnya rencana pelaksanaan program kerja bersama.

Program kerja tersebut berupa: pertukaran database Tipihut (Tindak Pidana Kehutanan) dan pertukaran Informasi hasil pelaksanaan patroli di masing-masing instansi yang berkaitan dengan Pengamanan dan Perlindungan Kawasan TNKS.

Peningkatan kemampuan sumber daya manusia melalui pelatihan GIS bagi personil kepolisian; pelatihan investigasi dan penanganan perkara Tipihut bagi Polhut; pelatihan Dalkarhut; pelatihan/pengenalan mengenai peredaran/perdagangan illegal TSL dan bagian- bagiannya bagi kepolisian; pelatihan/pengenalan TNKS kepada Babinkamtibmas yang ada di sekitar kawasan TNKS.

Pengamanan dan Perlindungan kawasan melalui Kegiatan Pre-emtif dan Preventif, yaitu Patroli pengamanan hutan; patroli pencegahan Karhutla; pembuatan papan informasi dan papan larangan; membantu BBTNKS dalam mengungkap perburan dan peredaran TSL; penanganan konflik satwa liar dan manusia; pembinaan kemitraan pengamanan hutan.

Pelaksanaan sosialisasi mengenai pengelolaan TNKS; peraturan perundang-undangan terkait; penanganan konflik satwa liar; dan pencegahan Karhutla oleh BBTNKS; serta sosialisasi kesadaran hukum yang diselenggarakan oleh kepolisian.

@SumatranTigerID

Tiger & TNBS Siapkan Pemasangan Kamera Pengintai

Proyek Sumatran Tiger menfasilitasi rapat teknis persiapan pemasangan kamera pengintai atau camera trap oleh Balai TNBS (dibiayai DIPA Balai TNBS), dengan narasumber dari ZSL. Rapat teknis ini bertujuan membekali staf Balai Taman Nasional Berbak Sembilang dengan kemampuan teknis yang memadai untuk melaksanakan kegiatan tersebut.

Pada audit inspektorat jenderal pada tahun 2016, kegiatan ini menjadi temuan dan dianggap tidak efektif karena kamera yang dipasang tidak mendapatkan data/foto spesies kunci seperti harimau sumatera.

Dalam acara ini fasilitator ZSL, Yoan Dinata memberikan panduan teknis mengenai cara pemasangan dan cara mengoperasikan camera trap. Tim Balai TNBS yang mengikuti acara ini terdiri dari 3 tim. Setiap tim akan didampingi oleh 1 personel ZSL untuk memasang camera trap di 4 titik secara berpasangan (dengan total 8 kamera pengintai per tim).

@SumatranTigerID

TNBS Laksanakan Sosialisasi METT

Proyek Sumatran Tiger bekerja sama dengan Balai Taman Nasional Berbak dan Sembilang dan Balai Konservasi Sumber Daya Alam Jambi menyelenggarakan “Sosialisasi dan Pelatihan Penilaian Efektivitas Pengelolaan Kawasan Konservasi menggunakan METT” pada 23-24 Mei 2017, di Hotel Abadi Suite, Jambi.

Maksud kegiatan ini adalah agar penilaian efektivitas pengelolaan kawasan konservasi menggunakan METT di Balai TN Berbak dan Sembilang dan BKSDA Jambi dapat dilakukan dengan baik dan benar, serta menjadikan METT sebagai acuan dalam perencanaan kegiatan dan anggaran.

Kegiatan ini juga meningkatkan pengetahuan dan pemahaman staf Balai TN Berbak dan Sembilang dan Balai KSDA Jambi dalam pelaksanaan monitoring efektivitas pengelolaan kawasan konservasi menggunakan METT.

Sebanyak total 26 peserta dengan rincian 22 orang dari Balai TN Berbak dan Sembilang, 4 orang dari BKSDA Jambi ikut serta dalam sosialisasi dan pelatihan ini. Peserta terdiri dari pejabat struktural (4 orang), staf administrasi (3 orang), tenaga fungsional PEH dan Penyuluh (15 orang), Polhut (2 orang) dan tenaga Bakti Rimbawan (2 orang).

Materi dalam pelatihan ini mencakup: pengenalan METT sebagai alat pemantau efektivitas pengelolaan (kuisioner 1, 2, dan 3), strategi implementasi pencapaian IKK peningkatan efektivitas pengelolaan kawasan konservasi, dan perancangan serta proses penilaian METT.

Hasil penilaian METT Balai TN Berbak dan Sembilang direncanakan pada Juli 2017, akan difasilitasi oleh ZSL.

TN Berbak dan Sembilang membentuk Tim Internal penilai METT melalui surat keputusan kepala balai dan mempersiapkan bahan/dokumen yang diperlukan dalam penilaian. Hasil penilaian METT akan dijadikan acuan dalam perencanaan kegiatan dan anggaran Balai TN Berbak dan Sembilang untuk meningatkan nilai METT pada penilaian berikutnya.

@SumatranTigerID

Proyek Tiger Dukung Pemasangan Camera Trap

Guna mengidentifikasi dan mendokumentasikan potensi sebaran harimau di sekitar wilayah Seksi Pengelolaan V Bahorok, Proyek Sumatran Tiger mendukung pemasangan 20 unit kamera trap di kawasan TNGL sekitar Dusun Batu Katak – Bahorok, Kabupaten Langkat pada tanggal 8 s/d 19 Mei 2017.

Kegiatan ini juga bertujuan untuk melakukan pengawasan rutin kondisi habitat harimau dan hutan, serta melakukan identifikasi sebaran okupasi areal TNGL di sekitar wilayah Seksi Pengelolaan V Bahorok.

Kegiatan ini berhasil memasang 20 unit camera trap di 10 titik pantau yang telah direncanakan. Proyek Sumatran Tiger menyediakan anggaran untuk perlengkapan tim lapangan yang digunakan oleh Tim BBTNGL untuk mendukung kegiatan-kegiatan ini.

@SumatranTigerID

Page 7 of 8« First...45678