Area Perlindungan Intensif Dukung Peningkatan Populasi Harimau

Proyek Sumatran Tiger, Tim Taman Nasional Bukit Barisan Selatan (TNBBS) dan WCS-IP (Indonesia Program) bekerja sama melaksanakan patroli SMART dan pemasangan kamera perangkap (camera trap) guna mengamankan area perlindungan intensif (intensive protection zone) yang berperan penting dalam peningkatan populasi harimau sumatera di Taman Nasional Bukit Barisan Selatan.

Patroli pengawasan kawasan konservasi merupakan pendekatan utama untuk memastikan perlindungan keanekaragaman hayati di dalam kawasan konservasi.

Untuk memastikan efektivitas dari kegiatan patroli diperlukan sebuah sistem yang tidak hanya dapat digunakan untuk menangani aktivitas-aktivitas ilegal, tetapi juga sebuah sistem yang dapat menyimpan informasi hasil kegiatan patroli secara sistematis untuk kemudian digunakan dalam mengidentifikasi wilayah-wilayah yang rawan akan kegiatan ilegal.

Spatial Monitoring and Reporting Tool (SMART) adalah sistem yang didesain untuk menfasilitasi transformasi data patroli ke dalam bentuk spasial yang dapat memberikan memberikan informasi yang bermanfaat bagi pengelola kawasan konservasi dalam perencanaan kegiatan pengamanan maupun penegakan hukum.

Proyek Sumatran Tiger mendukung WCS dalam melaksanakan kegiatan patroli berbasis SMART di Taman Nasional Bukit Barisan Selatan (TNBBS), khususnya di Area Perlindungan Intensif (Intensive Protection Zones) yang mencakup 7 resor dari 17 resor yang ada di dalam kawasan Taman Nasional Bukit Barisan Selatan. Hal ini sejalan dengan upaya meningkatkan efektivitas pengelolaan kawasan konservasi prioritas di Sumatra yang menjadi salah satu komponen utama proyek.

Area Perlindungan Intensif atau Intensive Prodution Zones, diputuskan melalui Keputusan Direktur Jenderal PHKA No SK.152/IV-Set/2015 Tahun 2015 tentang Kebijakan Pembangunan Area Perlindungan Intensif (Intensive Protection Zone) sebagai upaya peningkatan populasi badak sumatera.

Pada perkembangannya penetapan IPZ tidak hanya bermanfaat bagi spesies badak namun juga bagi spesies kunci lain seperti harimau dan gajah sumatera.

Dari hasil survei kamera perangkap yang dilaksanakan oleh tim WCS, tingkat kepadatan populasi harimau meningkat dari 1,6 harimau/100 km2 pada 2002 menjadi 2,8 harimau /100 km2 pada 2015. Proporsi individu harimau jantan dan betina adalah 1:3.

WCS dan TN BBS dalam periode 21 Mei hingga 20 November 2015 telah menyelesaikan survei populasi harimau dan satwa mangsa dengan menggunakan kamera pengintai. Sebanyak 65 grid berhasil dipasangi kamera berhadapan dengan dua grid tidak bisa diambil data karena kamera hilang.

Hasil survei 2015 ini menjadi dasar untuk survei yang akan dilakukan pada 2018 guna menilai apakah populasi harimau mengalami peningkatan sejalan dengan semakin efektifnya pengamanan di kawasan konservasi.

Proyek Sumatran Tiger Tim mendukung 43 perjalanan (trips) patroli yang dilaksanakan oleh TNBBS dan WCS-IP dengan menempuh jarak 1.472, 33 km dan 229 hari patroli dalam periode Mei-September 2017.

Tim patroli menemukan 25 pelaku aktivitas illegal di wilayah ini dengan 17 pelaku ditemukan di wilayah IPZ dan 8 pelaku ditemukan di wilayah non-IPZ. Tim juga menemukan 70 kasus penggunaan kawasan hutan secara tidak syah di TN BBS dimana sebanyak 25 kasus berada di wilayah IPZ dan 45 kasus berada di kawasan Non-IPZ.

Kasus pembalakan liar yang ditemukan sebanyak 2 kasus (dua-duanya di wilayah Non-IPZ). Tim patroli menemukan 15 aktivitas perburuan (6 di IPZ dan 9 di non-IPS), 4 aktivitas pengambilan HHBK (1 di IPZ dan 3 di Non-IPZ), 19 akses jalan (4 di IPZ dan 15 di Non-IPZ) serta 46 alat & transportasi (27 di IPZ dan 19 di Non-IPZ).

Tim patroli telah memberi tindakan untuk aktivitas illegal tersebut termasuk mendokumentasikan dan memusnahkan jerat harimau dan satwa liar agar tidak bisa digunakan lagi.

@SumatranTigerID

TN Berbak Sembilang Gelar Workshop Ekosistem Lahan Basah

Jambi, 22 Nopember 2017 – Dalam rangka penyusunan Rencana Pengelolaan Jangka Panjang Kawasan Taman Nasional Berbak tahun 2018-2027, Balai Taman Nasional Berbak dan Sembilang melalui Proyek Sumatran Tiger – GEF – UNDP melaksanakan Workshop Ekosistem Lahan Basah Berbak dan Workshop Species Kunci Berbak yang dilaksanakan pada tanggal 21-22 Nopember 2017 di Hotel Odua Weston Jambi.

Kegiatan workshop ini ditujukan untuk mengeksplorasi data dan informasi terkait kawasan TN Berbak untuk merumuskan kembali nilai-nilai penting kawasan TN Berbak dalam penyusunan RPJP TN Berbak tahun 2018-2027 terutama terkait Konservasi lahan basah (wetland) dan species kunci yang merupakan nilai penting yang menjadi mandat utama ditetapkanya kawasan TN Berbak menjadi Taman Nasional.

Kegiatan ini dihadiri oleh stakeholder terkait dalam pengelolaan TN Berbak (Bappeda Propinsi, Dinas Kehutanan Propinsi, BKSDA Jambi, BTNBS, UPT Tahura Rangkayo Hitam, Bappeda Muara Jambi, Bappeda Tanjung Jabung Timur, ZSL, Gita Buana, Wetland Internasional Pinang Sebatang) kegiatan workshop tersebut melibatkan narasumber yang kompeten dalam bidang konservasi lahan basah dan spesies flora-fauna khususnya kawasan Berbak yaitu: Direktorat KK Ditjen KSDAE, Direktorat BPEE Ditjen KSDAE, Direktorat KKH Ditjen KSDAE, Sdr. Yus Rusila Noor- Wetland Internasional, Dr. Cherita Yunnia – Tenaga Ahli Kemenko Maritim, Nursanti-Universitas Jambi, Dr. Dolly Priyatna- member of Tapir Specialist Group-IUCN SSC, Sdr. Yoan Dinata-ZSL, Sdr. Iding Ahmad Haidir-Karya Siswa (S3) KemenLHK, Dr. Irawati-Peneliti LIPI, Dr. Asmadi Saad-Tenaga Ahli BRG, Nursanti, S.Hut, M.Si.-Pengajar Fakultas Kehutanan Universitas Jambi dan Sdr. Madari- Pelaku Sejarah TNB. Proses diskusi workshop dipandu oleh Kristiani Fajar Wianti-Pengajar Fakultas Kehutanan UGM.

Kegiatan workshop yang dilaksanakan selama dua hari ini dibuka secara resmi oleh Kepala Balai TN Berbak dan Sembilang Ir. Pratono Puroso, M.Sc

Pelaksanaan acara workshop ini diharapkan dapat memberikan rekomendasi untuk proyeksi pengelolaan ekosistem lahan basah dan spesies penting di TN Berbak kedepanya hingga terbentukanya satu Dokumen Rencana Pengelolaan Jangka Panjang (RPJP) sebagai pedoman dalam pengelolaan Kawasan TN Berbak.

Rencana Pengelolaan Jangka Panjang (RPJP) merupakan rencana pengelolaan yang disusun berdasarkan hasil inventarisasi potensi kawasan dan penataan kawasan dalam zona/blok dengan memperhatikan fungsi kawasan, aspirasi para pihak dan rencana pembangunan daerah. Rencana pengelolaan akan membantu pengelola untuk memenuhi mandat pengelolaan khusus yang telah ditetapkan bagi suatu kawasan konservasi. Mandat ini merupakan alasan utama perlindungan kawasan (key feature versi IUCN atau Outstanding Universal Value versi UNESCO) dan menjadi indikator utama keberhasilan pengelolaan.

@SumatranTigerID

Degradasi dan Kehilangan Habitat Pemicu Utama Zoonosis

Degradasi dan hilangnya habitat satwa liar menjadi pemicu utama terjadinya zoonosis atau infeksi yang ditularkan di antara hewan (terutama vertebrata) ke manusia atau sebaliknya. Hal ini disampaikan oleh Ibu Lulu’ Agustina, Kasubdit Keamanan Hayati, Focal Point One Health, Direktorat Konservasi Keanekaragaman Hayati, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan.

“Tingkat ancaman zoonosis dari degradasi dan kehilangan habitat mencapai 44,8%,” ujarnya dalam acara Lokakarya “Pemantauan Penyakit Strategis Harimau Sumatera” yang berlangsung hari ini, Rabu, 22 November di Sahira Hotel, di Bogor. Menurut data Forum Harimau Kita, beberapa jenis spesies satwa liar di Indonesia saat ini memiliki populasi yang kecil dan berada di beberapa blok hutan yang terfragmentasi. Salah satu spesies yang mengalami fragmentasi habitat adalah harimau sumatera yang saat ini tercatat berjumlah sekitar 600 ekor di alam di 23 bentang alam sepanjang Sumatera.

Dengan tersekatnya kelompok-kelompok populasi oleh keberadaan manusia dan alih guna lahan untuk pemukiman, maka tekanan / edge effect yang dihadapi oleh populasi harimau ini semakin tinggi. Masyarakat pada umumnya memelihara berbagai jenis ternak dan hewan kesayangan, sebagaian kelompok masyarakat juga masih aktif melakukan perburuan di dalam kawasan dengan membawa anjing buru.

Jenis-jenis penyakit yang biasa menjangkiti satwa maupun hewan dapat mengalami perkembangan dengan adanya kemampuan beradaptasi terhadap kondisi lingkungan dan adanya mutasi genetik.

drh. Munawar Kholis, Ketua Forum Harimau Kita, menyebutkan, salah satu jenis penyakit yang bisa menyebabkan kematian pada individu harimau adalah Canine Distemper yang disebabkan oleh jenis virus RNA dari family Paramyxoviridae. Penyakit yang pada awalnya terdeteksi di Rusia ini dimungkinkan menyebar di berbagai kantung populasi harimau tersisa. Harimau yang paling berpotensi terdampak adalah individu harimau yang berada dalam kantung populasi kecil dan dekat dengan pemukiman manusia yang pada umumnya terdapat hewan felids maupun canids. Selain penyakit ini, ada beberapa jenis penyakit lain yang juga perlu mendapatkan perhatian oleh para praktisi konservasi satwa liar dan otoritas pengelola.

Menurut drh. Kholis, saat ini masih banyak kasus-kasus konflik dan kematian harimau liar yang tidak cukup mendapatkan penanganan, untuk itu sangat diperlukan proses pengambilan, pengelolaan dan pemeriksaan sampel dikoordinir oleh otoritas yang berwenang (Direktorat. KKH) untuk memastikan kasus kasus yang menunjukkan indikasi penyakit berbahaya dapat ditangani secara tepat.

Jenis-jenis satwa liar tertentu tidak selalu dengan mudah diambil sampelnya untuk kebutuhan pemeriksaan kesehatan. Harimau salah satu contohnya, untuk dapat melakukan pengambilan sampel secara sengaja maka perlu menangkap mempergunakan perangkap kandang yang tentu saja beresiko. Di lain pihak sering terjadi konflik yang berujung pada penangkapan harimau, namun sampel tidak terambil secara tepat.

Kondisi lapangan juga sering menemui situasi yang tidak ideal dalam hal pengelolaan dan penyimpanan sampel. Untuk itu diperlukan sebuah tim yang memiliki keahlian yang diberikan mandat untuk melakukan koordinasi dan pengelolaan sampel hingga bekerjasama dengan laboratorium yang dipercaya untuk secara kontinyu dan sistematis dalam mendeteksi jenis-jenis penyakit berbahaya bagi satwa liar dan penyakit yang memiliki potensi saling menular antara satwa liar dan ternak yang dapat menimbulkan kerugian dari segi ekologi.

Forum Harimau Kita merupakan perkumpulan yang memiliki visi dan misi pelestarian Harimau Sumatera dan berkerjasama dengan berbagai lembaga swadaya masyarakat dan pemerintah. Menanggapi kondisi yang terjadi dan kesimpulan diskusi-diskusi bersama para pakar ekologi, kesehatan satwa liar dan pelaku konservasi di lapangan yang memberikan gambaran perlunya sebuah mekanisme yang formal dalam mengelola informasi dan sampel dari berbagai sumber untuk dapat dimanfaatkan sebaik-baiknya dalam mempelajari dan melakukan pendataan jenis-jenis penyakit satwa liar.

Salah satu strategi Forum Harimau Kita dalam mendukung konservasi Harimau Sumatera adalah dengan memfasilitasi inisiatif-inisiatif pada tingkat nasional yang memiliki nilai strategis. Inisiatif ini diharapkan dapat bersinergi dengan program yang telah berjalan di Indonesia terkait pemantauan penyakit berbahaya. Forum Harimau Kita juga merupakan salah satu mitra Proyek Sumatran Tiger.

Pemerintah saat ini telah mengembangkan konsep One-Health untuk memantau penyakit-penyakit dari hewan domestik maupun satwa liar. Menurut Ibu Lulu’ One Health adalah konsep penanganan penyakit penanganan zoonosis dan penyakit infeksi emerging (PIE) yang dilaksanakan secara terintegrasi, melalui pengembangan mekanisme komunikasi, koordinasi serta kolaborasi antar 3 kementerian, yaitu Kementerian Pertanian, Kementerian Kesehatan dan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan.

@SumatranTigerID

BBTNKS Undang ‘Stakeholders’, Sinkronisasi Rencana Kerja 2018

Sungai Penuh, 9 November 2017 – Balai Besar Taman Nasional Kerinci Seblat duduk bersama dengan para pemangku kepentingan (stakeholders) guna membahas sinkronisasi rencana kerja di 2018.

Stakeholders dimaksud dalam hal ini adalah: pemerintahan daerah yang dihadiri oleh BPDAS HL Agam Kuantan; Perusahaan-perusahaan, yaitu PT. Tidar Kerinci Agung (TKA) di Bungo, PT. Supreme Energy Muara Labuh, PT. Tirta Sakti (PDAM) di Kerinci dan PT. Pertamina Geothermal Energy di Lempur; akademisi/ahli dari Universitas Andalas; proyek-proyek konservasi di Kawasan TNKS, yaitu Sumatran Tiger dan FP II (KfW); LSM FFI; LSM ICS di Solok Selatan; serta LSM Lingkar Institut di Bengkulu.

Pertemuan ini berlangsung selama 2 hari yaitu tanggal 8-9 November 2017, di Kota Sungai Penuh. Agenda hari pertama adalah pemaparan program kerja tahun 2018 dari semua peserta undangan, sedangkan agenda hari kedua adalah sinkronisasi rencana kerja tersebut. Sumber dana operasional kegiatan ini adalah Hibah Luar Negeri Proyek Transforming Effectiveness of Biodiversity Conservation in Sumatera Priority Landscapes (proyek Sumatran Tiger).

Sinkronisasi Rencana Kerja Tahun 2018 antara BBTNKS dengan stakeholders yang beraktivitas di dalam dan di sekitar kawasan TNKS memberikan manfaat tersendiri bagi pengelola kawasan TNKS.

Bagian penting yang menjadi tujuan pertemuan ini adalah untuk menghindari tumpang tindih program yang dapat mengakibatkan tidakefektifan. Program kerja yang dimiliki stakeholders BBTNKS diharapkan akan semakin menguatkan pengelolaan kawasan taman nasional. Hasil sinkronisasi rencana kerja tahun 2018 akan digunakan sebagai bahan/materi dalam pembuatan Dokumen Rencana Kerja Tahun 2018 BBTNKS.

Pelestarian kawasan konservasi merupakan tanggung jawab seluruh pihak, baik pengelola maupun para pihak yang menggunakan jasa lingkungan dari kawasan konservasi tersebut.

Pertemuan ini juga memberikan manfaat tersendiri bagi stakeholders yang diundang, sekaligus membuka wawasan terhadap upaya-upaya konservasi apa saja yang dapat diprogramkan di dalam dan di sekitar kawasan TNKS.

Dalam hal ini TNKS berharap untuk kedepannya akan semakin banyak mitra yang membuat program-program konservasi yang dilaksanakan khususnya di sekitar kawasan TNKS, semata-mata bagi pelestarian kawasan Taman Nasional Kerinci Seblat dan keanekaragaman hayati di dalamnya.

@SumatranTigerID

Ke Way Canguk Kami Akan Kembali

UNDP Regional Office di Bangkok diwakili oleh Tashi Dorji, Regional Technical Advisor (RTA) UNDP bersama dengan tim dari Proyek Sumatran Tiger, GEF, Biro Kerjasama Luar Negeri, Direktorat Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem KLHK dan UNDP Indonesia baru saja menyelesaikan kunjungan ke bentang alam Bukit Barisan Selatan, yang menjadi salah satu lokasi Proyek Sumatran Tiger.

Kunjungan lapangan ini dilaksanakan selama empat hari dari tanggal 20-23 Oktober 2017. Pada hari pertama, Jum’at, 20 Oktober 2017, tim berangkat dari Jakarta menuju Lampung melalui perjalanan udara dilanjutkan dengan perjalanan darat menuju Kota Agung, Kabupaten Tanggamus, yang menjadi lokasi Kantor Balai Besar Taman Nasional Bukit Barisan Selatan (TN BBS).

Agus Wahyudiono, Kepala Balai Besar TN BBS dan Ismanto, Kepala Bidang Teknik Konservasi Balai Besar TN BBS sekaligus Pejabat Pembuat Komitmen Proyek Sumatran Tiger bersama staf dan mitra LSM menyambut tim dengan hangat dan berdiskusi membahas upaya konservasi di Balai Besar TN BBS.

Dalam diskusi tersebut Agus menyatakan, kerja sama dengan mitra taman nasional sangat penting karena tidak semua kegiatan di balai besar bisa dibiayai oleh Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN). “Kerja sama yang baik dengan mitra-mitra taman nasional diperlukan untuk meningkatkan indikator kinerja tiga spesies kunci yaitu harimau sumatera, gajah dan badak,” tuturnya.

Selain bermitra dengan Balai Besar Taman Nasional Bukit Barisan Selatan (BB TN BBS), Proyek Sumatran Tiger juga menggandeng Wildlife Conservation Society (WCS) di bentang alam ini. Tashi Dorji beserta tim berkesempatan mengunjungi kantor WCS setelah berdikusi dengan Balai Besar TN BBS.

WCS memiliki Wildlife Response Unit (WRU) yang bertugas mengurangi konflik antara manusia dan harimau yang terjadi di desa-desa di sekitar taman nasional. WCS juga memiliki tim patroli SMART yang bekerja sama dengan balai melakukan pemantauan dan pengawasan di wilayah TN BBS. Proyek Sumatran Tiger turut mendukung inisiatif-inisiatif tersebut.

Dua diskusi dengan mitra menjadi pembuka kegiatan kami di bentang alam Bukit Barisan Selatan. Keesokan harinya pada Sabtu pagi, 21 Oktober 2017, kami berkesempatan mengunjungi Stasiun Penelitian Way Canguk yang dikelola oleh WCS. Stasiun penelitian ini terletak di Taman Nasional Bukit Barisan Selatan bagian selatan.

Perjalanan menuju Way Canguk harus kami tempuh menyebrangi sungai besar dan beberapa sungai kecil, menerobos hutan belantara untuk mencapai pusat penelitian ini.

Perjalanan menuju ke Way Canguk berjalan lancar. Sungai Pemerihan bisa kami sebrangi dengan berjalan kaki. Tim WCS, polisi hutan, Balai Besar Taman Nasional Bukit Barisan Selatan mendampingi kami sepanjang perjalanan. Diperlukan waktu sekitar dua jam bagi seluruh tim untuk mencapai Pusat Penelitian Way Canguk.

Pusat penelitian Way Canguk memiliki empat bangunan utama yang berfungsi sebagai tempat menginap, perpustakaan, lokasi riset, sekaligus kantor. Satu bangunan lagi digunakan untuk dapur dan tempat makan bersama. Kami tiba di lokasi di tengah hujan gerimis sekitar jam 12.00 siang.

Setelah istirahat dan makan siang, pada sore hari sekitar jam 15.00, Tashi Dorji bersama anggota tim kembali masuk hutan untuk melihat lokasi pengamatan tumbuhan dan satwa liar bersama dengan tim WCS, polisi hutan dan tim BB TNBBS.

Sepanjang perjalanan, Tashi beserta tim sempat mengamati beberapa pohon raksasa dan jejak satwa liar seperti babi hutan, rusa, bertemu dengan owa dan siamang dan melihat lokasi sarang burung rangkong yang terancam oleh perburuan liar. Tashi juga sempat merasakan air tawar dari akar merah yang sering dikonsumsi oleh tim patroli hutan saat mereka kesulitan menemukan sumber air tawar yang bersih.

Tim WCS di Pusat Penelitian Way Canguk berhasil mengidentifikasi 348 jenis pohon, 56 jenis mamalia (8 jenis primata), 47 jenis katak, 7 jenis reptil dan 207 jenis burung yang menjadi bagian dari keanekaragaman hayati wilayah ini.

Setelah mengunjungi pusat pengamatan lapangan WCS, kami kemudian kembali ke Stasiun Penelitian Way Canguk untuk berdiskusi, beristirahat dan bermalam. Hujan deras menyirami bumi Way Canguk Sabtu malam. Hujan terus mengguyur hingga Minggu pagi hari.

Derasnya hujan membuat anggota tim khawatir atas kondisi Sungai Pemerihan. Kekhawatiran ini terbukti karena air Sungai Pemerihan yang sebelumnya bisa kami lewati dengan berjalan kaki, hari itu meluap akibat hujan deras yang mengguyur sepanjang malam hingga pagi hari.

Namun kekhawatiran itu bisa teratasi oleh kesigapan tim WCS dan Balai Besar Taman Nasional Bukit Barisan Selatan yang sudah mempersiapkan fasilitas penyebrangan darurat menggunakan ban dalam traktor dibantu dengan tali pengaman dan pelampung untuk semua anggota tim.

Menyebrang sungai di tengah arus yang deras menjadi pengalaman yang tidak terlupakan bagi seluruh anggota tim. Proses penyebrangan ini kami rekam dalam video yang akan kami tayangkan di jaringan komunikasi Sumatran Tiger.

Setelah berhasil menyebrang Sungai Pemerihan dengan selamat, kami kembali berjalan kaki menuju titik berkumpul di Desa Pemerihan untuk membersihkan diri. Baju, celana dan sepatu boots kami semuanya basah dan kotor penuh lumpur. Kami juga harus mengecek keberadaan pacet, binatang pengisap darah, yang menempel di tubuh kami, walau jumlahnya tak lagi sebanyak saat kami tiba di Stasiun Penelitian Way Canguk sehari sebelumnya.

Setelah membersihkan diri, Tashi dan seluruh anggota tim mengunjungi Rhino Camp yang dikelola oleh Yayasan Badak Indonesia dan Pekon Margo Mulyo. Di Pekon atau Desa Margo Mulyo ini, WCS bekerja sama dengan Proyek Sumatran Tiger mengembangkan kandang ternak anti harimau (tiger-proof enclosures/TPE) guna mencegah terjadinya konflik harimau dan satwa liar. Ternak adalah salah satu aset perekonomian utama yang dimiliki oleh penduduk.

Menurut Firdaus Rahman, Landscape Program Manager Bukit Barisan Selatan, WCS Indonesia Program, WCS mencatat, dari awal tahun 2016 hingga Oktober 2017, telah terjadi 46 kasus konflik manusia dan harimau (KMH) di desa-desa di sekitar Taman Nasional Bukit Barisan Selatan.

Menurut Pak Sairin, penduduk desa yang kandangnya menjadi lokasi percontohan TPE, konflik satwa liar tidak hanya terjadi dengan harimau, namun juga dengan satwa-satwa liar lain, seperti beruang. “Beruang sering menyerang ternak kami, menghisap darahnya hingga mati,” ujarnya. Sehingga keberadaan TPE sangat bermanfaat untuk mengurangi konflik satwa liar.

Manfaat lain diungkapkan oleh Ibu Sugiati, istri Pak Sairin. Ketika satwa liar gagal menyerang ternak di kandang TPE yang sudah terlindungi, satwa liar cenderung tidak kembali dan mencari target di kandang lain yang belum menerapkan sistem TPE. Efeknya, ia dan anak-anak merasa lebih aman. “Kami sekarang tidak lagi takut keluar pada pagi dan malam hari untuk berkebun, belajar dan beraktivitas,” tuturnya.

Proyek Sumatran Tiger hingga akhir masa proyek pada 2020, akan terus bekerja sama dengan para pemangku kepentingan untuk meningkatkan aksi konservasi di Bukit Barisan Selatan.

Sinergi bersama WCS, Balai Besar Taman Nasional Bukit Barisan Selatan, pemerintah pusat, pemerintah daerah dan masyarakat diperlukan untuk menciptakan solusi konservasi yang berkelanjutan. Bukti-bukti sinergi tersebut kami temukan dalam kunjungan kami kali ini. Kunjungan yang sangat berkesan. Ke Way Canguk, kami akan kembali.

@SumatranTigerID

 

Harimau Tidak Boleh Punah di Sumatera

Proyek Sumatran Tiger menyelenggarakan evaluasi pelaksanaan kegiatan proyek pada kuartal I dan kuartal II serta pembahasan rencana kegiatan tahun 2018.

Direktur Konservasi Keanekaragaman Hayati, Bapak Bambang Dahono Adji yang juga menjabat National Project Director Proyek Sumatran Tiger membuka acara ini. “Harimau tidak boleh punah di Sumatera. Sinergi dengan mitra proyek dan lembaga swadaya masyarakat membantu kita mencapai target konservasi keanekaragaman hayati,” ujar Bambang.

Perwakilan dari GEF, UNDP, WCS, ZSL, FFI, staff PIU dan PMU Sumatran Tiger turut menghadiri acara yang berlangsung selama 2 hari dari 10-11 Oktober 2017 di Medan, Sumatera Utara.

Bapak Rudijanta Tjahja Nugraha, National Project Manager Sumatran Tiger, memaparkan pencapaian proyek, dilanjutkan dengan paparan PIU (Project Implementation Unit) dan mitra yaitu taman nasional dan NGOs, di semua bentang alam yaitu Gunung Leuser, Bukit Barisan Selatan, Berbak-Sembilang dan Kerinci Seblat.

“Taman Nasional Gunung Leuser memiliki banyak potensi, potensi plasma nutfah, micro hydro, geothermal energy dan ekowisata, namun perambahan, perburuan dan illegal logging, terus menjadi ancaman,” ujar Misran, Kepala Balai Besar Taman Nasional Gunung Leuser. BB TN Gunung Leuser bekerja sama dengan Proyek Sumatran Tiger dan para mitra bersinergi melaksanakan patroli guna menekan ancaman di taman nasional.

Dalam acara ini semua pemangku kepentingan berkomitmen melaksanakan sinkronisasi dan sinergi dalam mendukung aksi konservasi keanekaragaman hayati termasuk aksi konservasi harimau sumatera.

@SumatranTigerID

TN Kerinci Seblat Fasilitasi Pelatihan Komunikasi

Sungai Penuh, 5 Oktober 2016 – Proyek Sumatran Tiger menggelar pelatihan komunikasi dan advokasi dengan tema “Mewujudkan Generasi Pelindung Harimau Sumatera” yang diselenggarakan pada hari Kamis, 5 Oktober 2017 di Hotel Kerinci, Sungai Penuh, Provinsi Jambi, Sumatera.

Kepala Bagian Tata Usaha Balai Besar Taman Nasional Kerinci Seblat, Agusman, S.P. M.Sc membuka acara pelatihan yang diikuti oleh 29 peserta ini. “Kami berterima kasih atas inisiatif Proyek Sumatran Tiger melaksanakan pelatihan komunikasi dan advokasi ini. Taman Nasional sangat memerlukan bantuan para mitra untuk menggaungkan pentingnya konservasi harimau sumatera,” ujarnya.

Acara pelatihan ini melibatkan wartawan, staf humas masyarakat (humas), komunitas pecinta lingkungan, perwakilan Direktorat Konservasi Keanekaragaman Hayati (KKH) dan perwakilan Global Environment Facility (GEF).

Dalam kesempatan pertama Dr. Wilson Novarino, ahli harimau dari Universitas Andalas menyampaikan perkembangan terbaru kondisi spesies harimau sumatera, populasinya, tantangan dalam upaya konservasi harimau sumatera.

Secara khusus Dr. Wilson juga mengupas manfaat pelestarian populasi harimau sumatera dalam menjaga keseimbangan ekosistem. Menurut Dr. Wilson harimau memiliki peran ekologis dan sosial. “Ketika harimau musnah, akan musnah pula kebanggan dan kebudayaannya,” ujarnya.

Sebagai predator utama, menurut Dr. Wilson, harimau menjaga keseimbangan keanekaragaman hayati dengan mengontrol populasi satwa yang menjadi mangsanya seperti babi hutan. Jika tidak terkontrol, populasi babi hutan berpotensi merusak ekosistem dalam hutan terutama saat mereka membuat sarang. “Harga kulit harimau tidak sebanding dengan nilai kerugian akibat kerusakan lingkungan dan bencana, saat populasi harimau berkurang,” tuturnya.

Setelah peserta mendapatkan informasi terbaru mengenai harimau sumatera, Hizbullah Arief, Communication and Reporting Specialist dari Project Management Unit (PMU) Sumatran Tiger, Jakarta, memaparkan strategi komunikasi dan advokasi pelestarian harimau sumatera .

Menurut Arief, semua pihak bisa saling berbagi peran dalam mengkomunikasikan dan menggaungkan isu konservasi harimau sumatera. Arief kemudian memaparkan 10 strategi guna menciptakan berita yang positif yang memberikan solusi dan inspirasi kepada masyarakat.

Peran masing-masing pihak ini dijabarkan dalam pelatihan advokasi yang bertujuan mengubah sikap dan perilaku masyarakat agar mendukung upaya konservasi harimau sumatera, spesies yang menjadi sImbol keseimbangan dan kesehatan ekosistem di pulau Sumatera.

Kampanye #WeAreTigers

Selain pelatihan komunikasi dan advokasi, Proyek Sumatran Tiger juga meluncurkan kampanye sosial media dengan tagar #WeAreTigers – Kami adalah Generasi Pelindung Harimau dengan melibatkan semua peserta.

Semua peserta pelatihan adalah champion yang ke depannya berkomitmen membantu kampanye dan aksi konservasi harimau sumatera, habitatnya dan pelestarian ekosistem di Sumatera.

Kampanye ini sekaligus menjadi awal terbentuknya forum komunikasi harimau sumatera di Kerinci Seblat yang bertujuan untuk mendekatkan jaringan komunikasi resmi pemerintah dan taman nasional dengan awak media dan komunitas, untuk mendukung upaya penegakan hukum, penciptaan kesadaran di masyarakat akan pentingnya konservasi harimau sumatera.

Dalam acara ini setiap peserta mendapatkan PIN khusus #WeAreTigers sebagai bukti mereka menjadi bagian dari jaringan Generasi Pelindung Harimau Sumatera.

Acara ini kemudian ditutup dengan foto bersama para champion yang bertekad untuk menerapkan hasil pelatihan komunikasi dan advokasi dalam mendukung aksi dan kampanye konservasi harimau Sumatera.

Acara pelatihan ini selanjutnya juga akan dilaksanakan di 3 bentang alam lain yang menjadi lokasi Proyek Sumatran Tiger yaitu di Gunung Leuser, Berbak Sembilang dan Bukit Barisan Selatan.

@SumatranTigerID

Proyek Dukung Patroli Rimba Berbasis SMART di TNKS

Kawasan TNKS dengan luasan 1,389 juta ha terletak di 4 provinsi berpotensi menghadapi tekanan (gangguan) berupa pengambilan dan perburuan tumbuhan dan satwa liar, penebangan, pembukaan lahan dan pertambangan. Selain itu, pemantauan keanekaragaman hayati dan fitur alam di dalam kawasan TNKS juga perlu dilakukan secara berkelanjutan.

Guna menekan ancaman dan melakukan pemantauan potensi sumber daya alam di Taman Nasional Kerinci Seblat, proyek Sumatran Tiger mendukung pelaksanaan patroli rimba pada tanggal 29 September, di Seksi PTN Wilayah IV Sangir, Kabupaten Solok Selatan, Provinsi Sumatera Barat.

Balai Besar TNKS (BBTNKS) melibatkan masyarakat melalui pengangkatan anggota masyarakat di sekitar kawasan TNKS sebagai Masyarakat Mitra Polhut (MMP). Langkah ini menjadi alternatif bagi pengelola (BBTNKS) untuk memaksimalkan pengamanan kawasan.

Patroli rimba ini dilakukan oleh anggota Polisi Kehutanan di Seksi Pengelolaan TN Wilayah IV Sangir, MMP Resor Sungai Lambai dan MMP Resor Batang Suliti. Patroli ini targetnya dilaksanakan hingga ke zona inti kawasan TNKS. Petugas/tim akan menggunakan sistem camp berpindah dari satu titik ke titik lainnya di dalam hutan dan keluar di lokasi yang berbeda untuk memperluas wilayah patroli.

SMART (Spatial Monitoring and Reporting Tool) merupakan sistem pengelolaan data kegiatan lapangan yang bermanfaat untuk mengukur serta meningkatkan kinerja pengelolaan dalam mencapai tujuan-tujuan pengelolaan. Patroli rimba di Seksi PTN Wilayah IV Sangir dilaksanakan menggunakan sistem SMART untuk perekaman dan pengolahan data/informasi dari hasil patroli.

@SumatranTigerID

Kucing Besar Jadi Tema Festival Film Internasional

CITES dan Jackson Hole Wildlife Film Festival pada Minggu, 24 September 2017 mengumumkan dilaksanakannya festival film international yang mengangkat tema kucing besar. Festival film ini guna meningkatkan kesadaran mengenai tantangan-tantangan penting dalam konservasi spesies langka ini.

Festival film internasional mengenai kucing besar ini adalah salah satu dari acara skala global guna memperingati Hari Kehidupan Liar Dunia atau World Wildlife Day yang diperingati setiat tanggal 3 Maret. Pemenang dalam festival film ini akan diumumkan dalam acara peringatan World Wildlife Day yang akan akan digelar di markas besar Perserikatan Bangsa-Bangsa di New York.

Pendaftaran bagi festival film ini dimulai pada Oktober dan ditutup pada tanggal 15 Desember 2017. Finalis akan diumumkan pada Januari 2018. Nama para pemenang akan diumumkan dalam acara tingkat tinggi PBB guna memperingati World Wildlife Day tanggal 3 Maret 2018. Film yang menjadi pemenang dan yang masuk tahap final akan diputar di seluruh dunia.

Ada beberapa kategori yang bisa diikuti dalam festival film internasional mengenai kucing besar ini:

1. Masalah dan solusi
2. Pahlawan konservasi
3. Masyarakat dan kucing besar
4. Sains dan konservasi
5. Film pendek (di bawah 5 menit)
6. Aspirasi masyarakat lokal

Film yang diproduksi mulai 1 Januari 2010 boleh diikutsertakan. Untuk keterangan lebih lanjut, silahkan kunjungi laman berikut: International Film Festival for Big Cats 2018.

Indonesia Persiapkan STRAKOHAS 2018-2028

Upaya konservasi harimau sumatera telah mengalami banyak kemajuan sejak dirumuskannya Strategi Rencana Aksi Konservasi Harimau Sumatera (STRAKOHAS) pada tahun 2007 yang melibatkan berbagai pihak terkait.

Dalam periode 2007-2017, berbagai macam aksi konservasi harimau telah dilakukan oleh berbagai komponen baik oleh Pemerintah RI, Pemerintah Daerah, LSM, Perguruan Tinggi, Swasta dan masyarakat.

Upaya penegakan hukum dan perlindungan spesies maupun habitat menjadi sektor yang paling penting untuk diperkuat dalam periode ini. Selama 3 tahun terakhir, sebanyak 48 orang telah dihukum terkait dengan perdagangan harimau sumatera.

Patroli perlindungan kawasan hutan habitat harimau sumatera juga terus ditingkatkan yang menghasilkan total jarak patroli sebesar 12.038 km, 810 jerat ditemukan dan 87 kasus konflik manusia dan harimau ditangani.

Penghitungan estimasi populasi harimau sumatera juga telah dilakukan dengan permodelan Population Viability Analysis (PVA) dan diperkirakan sebanyak 600-an individu terdistribusi di 23 lanskap di seluruh Sumatera baik itu lanskap tipe kecil, sedang maupun besar sehingga strategi konservasi harimau sumatera selanjutnya dapat direncanakan dengan lebih komprehensif.

Namun ancaman terhadap populasi harimau sumatera saat ini masih terus berlangsung baik oleh perburuan maupun kehilangan habitat akibat konversi kawasan hutan menjadi perkebunan, permukiman dan kegiatan pembangunan lainnya, sehingga hal ini juga mengakibatkan terjadinya konflik manusia dengan harimau yang pada umumnya harimau menjadi korban dengan dibunuh atau dikeluarkan dari habitatnya.

Kondisi ini menjadi tantangan seiring dengan berakhirnya STRAKOHAS 2007-2017 pada tahun ini. Untuk itu perlu segera disusun STRAKOHAS baru (2018-2028) yang lebih baik dan menjadi acuan dalam konservasi harimau sumatera serta dilaksanakan oleh berbagai pihak.

Guna membahas dan menyusun rancangan dokumen STRAKOHAS 2018-2028 tersebut sebanyak 61 lembaga yang terdiri dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan dan lembaga-lembaga di bawahnya (Ditjen KSDAE, Balai Besar dan Balai Taman Nasional, KPH, KPHL, KPHK), Bappenas, LIPI, UNDP, PMU GEF-UNDP Sumatran Tiger Project, LSM, Universitas dan perusahaan swasta akan bertemu dalam Thematic Discussion Group (TGD) Penyusunan Dokumen Strakohas 2018-2028, pada tanggal 13-15 September 2017 di Bogor.

Dari pertemuan tersebut diharapkan muncul kesepakatan visi, misi, dan tujuan penyusunan SRAKOHAS 2018-2028; daftar usulan strategis dan aksi konservasi STRAKOHAS 2018-2028; draf dokumen STRAKOHAS 2018-2028 yang akan dibahas oleh tim penyusun.

Dokumen STRAKOHAS 2018-2028 diharapkan selesai akhir tahun ini guna menjaga keberlanjutan pelaksanaan STRAKOHAS 2007-2017.

@SumatranTigerID

Page 4 of 7« First...23456...Last »