TN Kerinci Seblat Fasilitasi Pelatihan Komunikasi

Sungai Penuh, 5 Oktober 2016 – Proyek Sumatran Tiger menggelar pelatihan komunikasi dan advokasi dengan tema “Mewujudkan Generasi Pelindung Harimau Sumatera” yang diselenggarakan pada hari Kamis, 5 Oktober 2017 di Hotel Kerinci, Sungai Penuh, Provinsi Jambi, Sumatera.

Kepala Bagian Tata Usaha Balai Besar Taman Nasional Kerinci Seblat, Agusman, S.P. M.Sc membuka acara pelatihan yang diikuti oleh 29 peserta ini. “Kami berterima kasih atas inisiatif Proyek Sumatran Tiger melaksanakan pelatihan komunikasi dan advokasi ini. Taman Nasional sangat memerlukan bantuan para mitra untuk menggaungkan pentingnya konservasi harimau sumatera,” ujarnya.

Acara pelatihan ini melibatkan wartawan, staf humas masyarakat (humas), komunitas pecinta lingkungan, perwakilan Direktorat Konservasi Keanekaragaman Hayati (KKH) dan perwakilan Global Environment Facility (GEF).

Dalam kesempatan pertama Dr. Wilson Novarino, ahli harimau dari Universitas Andalas menyampaikan perkembangan terbaru kondisi spesies harimau sumatera, populasinya, tantangan dalam upaya konservasi harimau sumatera.

Secara khusus Dr. Wilson juga mengupas manfaat pelestarian populasi harimau sumatera dalam menjaga keseimbangan ekosistem. Menurut Dr. Wilson harimau memiliki peran ekologis dan sosial. “Ketika harimau musnah, akan musnah pula kebanggan dan kebudayaannya,” ujarnya.

Sebagai predator utama, menurut Dr. Wilson, harimau menjaga keseimbangan keanekaragaman hayati dengan mengontrol populasi satwa yang menjadi mangsanya seperti babi hutan. Jika tidak terkontrol, populasi babi hutan berpotensi merusak ekosistem dalam hutan terutama saat mereka membuat sarang. “Harga kulit harimau tidak sebanding dengan nilai kerugian akibat kerusakan lingkungan dan bencana, saat populasi harimau berkurang,” tuturnya.

Setelah peserta mendapatkan informasi terbaru mengenai harimau sumatera, Hizbullah Arief, Communication and Reporting Specialist dari Project Management Unit (PMU) Sumatran Tiger, Jakarta, memaparkan strategi komunikasi dan advokasi pelestarian harimau sumatera .

Menurut Arief, semua pihak bisa saling berbagi peran dalam mengkomunikasikan dan menggaungkan isu konservasi harimau sumatera. Arief kemudian memaparkan 10 strategi guna menciptakan berita yang positif yang memberikan solusi dan inspirasi kepada masyarakat.

Peran masing-masing pihak ini dijabarkan dalam pelatihan advokasi yang bertujuan mengubah sikap dan perilaku masyarakat agar mendukung upaya konservasi harimau sumatera, spesies yang menjadi sImbol keseimbangan dan kesehatan ekosistem di pulau Sumatera.

Kampanye #WeAreTigers

Selain pelatihan komunikasi dan advokasi, Proyek Sumatran Tiger juga meluncurkan kampanye sosial media dengan tagar #WeAreTigers – Kami adalah Generasi Pelindung Harimau dengan melibatkan semua peserta.

Semua peserta pelatihan adalah champion yang ke depannya berkomitmen membantu kampanye dan aksi konservasi harimau sumatera, habitatnya dan pelestarian ekosistem di Sumatera.

Kampanye ini sekaligus menjadi awal terbentuknya forum komunikasi harimau sumatera di Kerinci Seblat yang bertujuan untuk mendekatkan jaringan komunikasi resmi pemerintah dan taman nasional dengan awak media dan komunitas, untuk mendukung upaya penegakan hukum, penciptaan kesadaran di masyarakat akan pentingnya konservasi harimau sumatera.

Dalam acara ini setiap peserta mendapatkan PIN khusus #WeAreTigers sebagai bukti mereka menjadi bagian dari jaringan Generasi Pelindung Harimau Sumatera.

Acara ini kemudian ditutup dengan foto bersama para champion yang bertekad untuk menerapkan hasil pelatihan komunikasi dan advokasi dalam mendukung aksi dan kampanye konservasi harimau Sumatera.

Acara pelatihan ini selanjutnya juga akan dilaksanakan di 3 bentang alam lain yang menjadi lokasi Proyek Sumatran Tiger yaitu di Gunung Leuser, Berbak Sembilang dan Bukit Barisan Selatan.

@SumatranTigerID

Kucing Besar Jadi Tema Festival Film Internasional

CITES dan Jackson Hole Wildlife Film Festival pada Minggu, 24 September 2017 mengumumkan dilaksanakannya festival film international yang mengangkat tema kucing besar. Festival film ini guna meningkatkan kesadaran mengenai tantangan-tantangan penting dalam konservasi spesies langka ini.

Festival film internasional mengenai kucing besar ini adalah salah satu dari acara skala global guna memperingati Hari Kehidupan Liar Dunia atau World Wildlife Day yang diperingati setiat tanggal 3 Maret. Pemenang dalam festival film ini akan diumumkan dalam acara peringatan World Wildlife Day yang akan akan digelar di markas besar Perserikatan Bangsa-Bangsa di New York.

Pendaftaran bagi festival film ini dimulai pada Oktober dan ditutup pada tanggal 15 Desember 2017. Finalis akan diumumkan pada Januari 2018. Nama para pemenang akan diumumkan dalam acara tingkat tinggi PBB guna memperingati World Wildlife Day tanggal 3 Maret 2018. Film yang menjadi pemenang dan yang masuk tahap final akan diputar di seluruh dunia.

Ada beberapa kategori yang bisa diikuti dalam festival film internasional mengenai kucing besar ini:

1. Masalah dan solusi
2. Pahlawan konservasi
3. Masyarakat dan kucing besar
4. Sains dan konservasi
5. Film pendek (di bawah 5 menit)
6. Aspirasi masyarakat lokal

Film yang diproduksi mulai 1 Januari 2010 boleh diikutsertakan. Untuk keterangan lebih lanjut, silahkan kunjungi laman berikut: International Film Festival for Big Cats 2018.

Indonesia Persiapkan STRAKOHAS 2018-2028

Upaya konservasi harimau sumatera telah mengalami banyak kemajuan sejak dirumuskannya Strategi Rencana Aksi Konservasi Harimau Sumatera (STRAKOHAS) pada tahun 2007 yang melibatkan berbagai pihak terkait.

Dalam periode 2007-2017, berbagai macam aksi konservasi harimau telah dilakukan oleh berbagai komponen baik oleh Pemerintah RI, Pemerintah Daerah, LSM, Perguruan Tinggi, Swasta dan masyarakat.

Upaya penegakan hukum dan perlindungan spesies maupun habitat menjadi sektor yang paling penting untuk diperkuat dalam periode ini. Selama 3 tahun terakhir, sebanyak 48 orang telah dihukum terkait dengan perdagangan harimau sumatera.

Patroli perlindungan kawasan hutan habitat harimau sumatera juga terus ditingkatkan yang menghasilkan total jarak patroli sebesar 12.038 km, 810 jerat ditemukan dan 87 kasus konflik manusia dan harimau ditangani.

Penghitungan estimasi populasi harimau sumatera juga telah dilakukan dengan permodelan Population Viability Analysis (PVA) dan diperkirakan sebanyak 600-an individu terdistribusi di 23 lanskap di seluruh Sumatera baik itu lanskap tipe kecil, sedang maupun besar sehingga strategi konservasi harimau sumatera selanjutnya dapat direncanakan dengan lebih komprehensif.

Namun ancaman terhadap populasi harimau sumatera saat ini masih terus berlangsung baik oleh perburuan maupun kehilangan habitat akibat konversi kawasan hutan menjadi perkebunan, permukiman dan kegiatan pembangunan lainnya, sehingga hal ini juga mengakibatkan terjadinya konflik manusia dengan harimau yang pada umumnya harimau menjadi korban dengan dibunuh atau dikeluarkan dari habitatnya.

Kondisi ini menjadi tantangan seiring dengan berakhirnya STRAKOHAS 2007-2017 pada tahun ini. Untuk itu perlu segera disusun STRAKOHAS baru (2018-2028) yang lebih baik dan menjadi acuan dalam konservasi harimau sumatera serta dilaksanakan oleh berbagai pihak.

Guna membahas dan menyusun rancangan dokumen STRAKOHAS 2018-2028 tersebut sebanyak 61 lembaga yang terdiri dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan dan lembaga-lembaga di bawahnya (Ditjen KSDAE, Balai Besar dan Balai Taman Nasional, KPH, KPHL, KPHK), Bappenas, LIPI, UNDP, PMU GEF-UNDP Sumatran Tiger Project, LSM, Universitas dan perusahaan swasta akan bertemu dalam Thematic Discussion Group (TGD) Penyusunan Dokumen Strakohas 2018-2028, pada tanggal 13-15 September 2017 di Bogor.

Dari pertemuan tersebut diharapkan muncul kesepakatan visi, misi, dan tujuan penyusunan SRAKOHAS 2018-2028; daftar usulan strategis dan aksi konservasi STRAKOHAS 2018-2028; draf dokumen STRAKOHAS 2018-2028 yang akan dibahas oleh tim penyusun.

Dokumen STRAKOHAS 2018-2028 diharapkan selesai akhir tahun ini guna menjaga keberlanjutan pelaksanaan STRAKOHAS 2007-2017.

@SumatranTigerID

Aksi Mitigasi Kurangi Kerugian Konflik Harimau

Konflik manusia dan harimau (human tiger conflict/HTC) menimbulkan kerugian harta benda dan nyawa manusia. Diperlukan aksi mitigasi konflik guna mencegah kerugian ekonomi dan nyawa manusia, sekaligus melindungi populasi harimau sumatera.

Konflik dengan korban terbanyak adalah saat harimau yang menyerang hewan ternak sehingga ternak terluka atau tewas. Korban nyawa terjadi saat harimau menyerang manusia yang menyebabkan seseorang terluka atau tewas.

Untuk jenis konflik pertama yaitu serangan harimau terhadap hewan ternak, pada periode 2001-2016, telah terjadi 376 kasus atau menempati posisi pertama dari empat jenis konflik harimau dan manusia. Sementara serangan harimau terhadap manusia terjadi 184 kali (data diambil dari buku “Spatio-Temporal Patterns of Human Tiger Conflicts in Sumatra)”.

Dari 376 kasus penyerangan harimau terhadap hewan ternak tersebut, tercatat 1247 ekor ternak menjadi korban. Korban kambing menempati urutan terbanyak dengan 593 ekor (47%). Di posisi kedua adalah sapi dengan jumlah 210 ekor (16,8%), diikuti kerbau sebanyak 83 ekor (6,6%), selanjutnya anjing sebanyak 169 ekor (13,6%) dan ayam sebanyak 193 ekor (13,6%).

Selain menyerang ternak, harimau dalam kondisi tertentu juga menyerang manusia. Jumlah korban yang meninggal atau terluka akibat serangan harimau mencapai 184 orang dalam periode yang sama.

Kerusakan habitat adalah salah satu pemicu konflik manusia dan harimau. Akibat daya dukung dan daya tampung ekosistem yang terus berkurang, sebagai predator utama, harimau harus mencari mangsa di luar wilayah mereka. Jumlah mangsa dan daya jelajah harimau semakin terbatas akibat kerusakan hutan yang menjadi habitat alami mereka.

Aksi mitigasi untuk menjaga populasi harimau dan mencegah kerusakan ekosistem dan habitat harimau dilakukan oleh Proyek Sumatran Tiger.

Bekerja sama dengan berbagai pihak, proyek berupaya meningkatkan kapasitas pengelola wilayah lindung, membangun sistem koordinasi lintas-sektoral untuk lanskap-lanskap prioritas dan pembiayaan berkelanjutan guna mendukung pengelolaan keanekaragaman hayati.

Peningkatan kapasitas manajemen dilakukan dengan penyegaran fasilitator METT (Management Effectiveness Tracking Tools). Bekerja sama dengan Pusat Pendidikan dan Latihan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan dan para pemangku kepentingan lain Proyek Sumatran Tiger juga menyusun panduan SMART (Spatial Monitoring and Reporting Tool) serta menfasilitasi pengembangan sistem SMART – RBM untuk mendukung pelaksanaan patroli di taman nasional.

Edukasi mengenai pentingnya keberadaan harimau sumatera juga terus dilakukan melalui jaringan komunikasi Sumatran Tiger. Proyek Sumatran Tiger juga akan melaksanakan pelatihan komunikasi dan advokasi guna mempromosikan pentingnya konservasi harimau sumatera sebagai simbol ekosistem yang sehat dan seimbang. Jika populasi harimau meningkat, lingkungan juga akan lestari dan sejahtera.

@SumatranTigerID

Konflik Ancam Populasi Harimau Sumatera

Konflik manusia dan harimau berpengaruh negatif terhadap jumlah populasi harimau di Sumatera. Hal ini dibahas dalam buku “Spatio-temporal Patterns of Human-Tiger Conflicts in Sumatera (2001-2016)”.

Ada dua indikator yang menentukan dampak negatif konflik terhadap populasi harimau sumatera.

Indikator yang pertama adalah indeks mortalitas harimau (tiger mortality index) dan indeks pemindahan harimau (tiger removal index).

Indeks mortalitas harimau dinilai dari jumlah harimau yang terbunuh pada saat terjadi konflik. Terbunuhnya harimau ini bisa dikarenakan oleh racun, jerat atau dibunuh/terbunuh setelah diselamatkan oleh aparat maupun staff lembaga swadaya masyarakat.

Sementara indeks pemindahan harimau adalah jumlah harimau yang dipindahkan dari habitatnya saat terjadi konflik. Pemindahan harimau ini bisa terjadi karena harimau itu terbunuh atau tertangkap oleh aparat dan dipindahkan ke kebun binatang.

Data dari tahun 2001-2016 menunjukkan, indeks kematian harimau dan indeks pemindahan harimau terus meningkat.

Semakin banyak jumlah harimau yang dibunuh dan dipindahkan, semakin tinggi dampak negatif konflik terhadap populasi harimau di Sumatera. Populasi harimau akan terus berkurang jika konflik manusia dan harimau tidak berhasil dikurangi atau dicegah. Proyek Sumatran Tiger bekerja sama dengan para pemangku kepentingan berupaya ke arah sana.

@SumatranTigerID

Konflik Manusia dan Harimau Memuncak di 2010

Konflik manusia dan harimau terus meningkat dari tahun 2001 dan mencapai puncaknya pada tahun 2010. Pada tahun tersebut tercatat 162 konflik yang terjadi didominasi oleh kasus harimau memangsa ternak dan harimau berkeliaran di sekitar desa atau pemukiman penduduk.

Setelah tahun 2010, jumlah insiden konflik manusia dan harimau terus menurun hingga 2016. Penurunan jumlah konflik manusia dan harimau ini kemungkinan dipicu oleh peningkatan jumlah harimau yang dibunuh dan dipindahkan.

Dalam periode 2001-2016, jumlah harimau yang mati dibunuh dan dipindahkan terus meningkat. Tercatat 130 harimau yang mati akibat konflik antara manusia dan harimau. Hanya 5 harimau yang dipindahkan ke lokasi konservasi lain paska konflik. Sebanyak 43 harimau dikirim ke kebun binatang.

Jumlah harimau yang lari paska konflik mencapai 879 harimau. dari jumlah tersebut sebanyak 8 harimau lari dalam kondisi terluka. Jumlah harimau yang mati dan dipindahkan ini bisa berdampak negatif terhadap populasi harimau.

@SumatranTigerID

Aceh: Provinsi dengan Konflik Manusia dan Harimau Terbanyak

Setelah membahas jenis konflik manusia dan harimau, buku “Spatio – Temporal Patterns of Human Tiger Conflicts in Sumatra 2001 – 2016”, juga memaparkan jumlah konflik manusia dan harimau per provinsi di Sumatera.

Dari data yang dipaparkan dalam tabel terlihat, Provinsi Aceh mencatat jumlah konflik manusia dan harimau terbanyak dibanding provinsi-provinsi lain di Sumatera.

Dari keempat jenis konflik yang sudah dijabarkan, total jumlah konflik manusia dan harimau yang terjadi di Aceh mencapai 230 insiden antara tahun 2001-2016. Kasus harimau memangsa ternak (livestock depredations) menempati jumlah terbanyak di Aceh dengan 122 insiden.

Provinsi Bengkulu menempati posisi kedua konflik manusia dan harimau terbanyak dengan 216 insiden. Kasus harimau menyerang manusia yang menyebabkan manusia terluka atau terbunuh paling banyak terjadi di Provinsi Riau dengan 75 kasus antara tahun 2001 – 2016.

Insiden harimau menyerang satwa (livestock depredations) paling banyak terjadi di Provinsi Aceh dengan jumlah insiden sebanyak 122 kasus.

Sementara insiden penampakan harimau di pemukiman penduduk atau sekitarnya (stray tiger) paling banyak terjadi di Lampung dengan jumlah insiden sebanyak 88 kasus. Provinsi Jambi dan Bengkulu menempati posisi kedua dengan 86 insiden.

Wilayah dengan jumlah harimau terbunuh atau tertangkap terbanyak terjadi di Provinsi Bengkulu dengan 30 insiden diikuti oleh Provinsi Jambi dengan 23 insiden. Konflik di Provinsi Sumatera Utara tampak minimal tidak mencerminkan kondisi sesungguhnya. Hal ini dipicu oleh sulitnya penulis untuk memeroleh data yang valid dari wilayah ini.

@SumatranTigerID

Konflik Manusia dan Harimau dalam Angka

Baru-baru ini kita membaca kasus seekor harimau sumatera betina yang tewas akibat jerat satwa liar yang dipasang pemburu di kawasan hutan Taman Nasional Gunung Leuser. Jenis konflik ini hanyalah salah satu dari empat konflik manusia dan harimau sumatera.

Ada empat jenis konflik manusia dan harimau. Yang pertama adalah insiden harimau liar atau (stray tiger incidents) saat harimau ditemukan berkeliaran di sekitar pemukiman penduduk atau desa sehingga menimbulkan ketakutan namun tidak ada korban baik dari sisi manusia maupun harimaunya.

Jenis konflik kedua saat harimau memangsa ternak sehingga ternak terluka atau terbunuh (livestock attack). Jenis konflik ketiga adalah saat harimau menyerang manusia yang mengakibatkan korban terluka atau terbunuh (human attack). Dan jenis konflik keempat saat harimau dibunuh oleh manusia baik dengan racun, jerat, senapan atau alat-alat lain yang menyebabkan kematian harimau (tiger being killed).

Dari data yang diperoleh dalam buku “Spatio – Temporal Patterns of Human Tiger Conflicts in Sumatra 2001 – 2016”, konflik keempat dimana harimau dibunuh oleh manusia dengan jerat, racun atau alat-alat lain menempati posisi terakhir dalam jumlah konflik manusia dan harimau.

Berdasarkan data yang dikumpulkan dari tahun 2001-2016, tercatat 1065 kasus konflik antara manusia dan harimau di seluruh wilayah pulau Sumatera.

Jumlah konflik terbanyak adalah konflik harimau memangsa ternak dengan 376 kasus. Kasus terbanyak kedua adalah insiden harimau liar yang berkeliaran di sekitar pemukiman penduduk/desa dengan jumlah 375 kasus.

Kasus manusia diserang langsung oleh harimau sehingga manusia terluka atau terbunuh berjumlah 184 kasus. Sementara kasus harimau mati akibat jerat, racun, tembakan senapan dan alat-alat lainnya mencapai 130 kasus.

@SumatranTigerID

Mengenal Jenis Konflik Manusia dan Harimau

Sebagaimana disampaikan dalam artikel sebelumnya, penanganan konflik manusia dan harimau di Sumatera mendapatkan perhatian serius setelah dokumen strategi konservasi harimau Sumatera diterbitkan pada tahun 2007.

Buku “Spatio – Temporal Patterns of Human Tiger Conflicts in Sumatra 2001 – 2016” berupaya memahami lokasi konflik yang menimbulkan korban hewan ternak, manusia dan harimau. Laporan dalam buku ini akan bermanfaat guna mencegah dan mengurangi konflik manusia dan harimau pada masa datang.

Untuk itu penulis mengumpulkan data dari instansi di tingkat provinsi, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, serta lembaga swadaya masyarakat seperti HarimauKita, Wildlife Conservation Society (WCS), WWF, Zoological Society of London (ZSL) – Indonesia Programme, LIF, PKHS, Fauna Flora International (FFI) dan SRI yang bekerja dalam konservasi harimau. Sebelum melakukan analisis data-data ini diverifikasi untuk mencegah data ganda.

Dari data-data ini diperoleh empat jenis konflik manusia dan harimau.

Jenis konflik manusia dan harimau yang pertama adalah insiden harimau liar (stray tiger incidents). Insiden ini terjadi saat harimau berkeliaran di sekitar pemukiman penduduk atau desa sehingga menimbulkan ketakutan namun tidak ada korban baik dari sisi manusia maupun harimaunya.

Jenis konflik manusia dan harimau yang kedua adalah saat harimau memangsa ternak sehingga ternak terluka atau terbunuh.

Jenis konflik manusia dan harimau yang ketiga saat harimau menyerang manusia yang mengakibatkan korban terluka atau terbunuh.

Jenis konflik manusia dan harimau yang keempat adalah saat harimau dibunuh oleh manusia baik dengan racun, jerat, senapan atau alat-alat lain yang menyebabkan kematian harimau.

Dari data tahun 2001-2016 tercatat 1065 kasus konflik antara manusia dan harimau di seluruh wilayah pulau Sumatera. Informasi terkait jenis-jenis konflik dan sebarannya akan dikupas dalam artikel selanjutnya.

@SumatranTigerID

Hanya Harimau Sumatera yang Tersisa

Indonesia memiliki tiga sub-spesies harimau yaitu harimau Sumatera (Panthera tigris sumatrae), harimau Bali (Panthera tigris balica) dan harimau Jawa (Panthera tigris sondaica). Dari tiga harimau bersaudara tersebut hanya harimau Sumatera yang tersisa. Harimau Bali dan harimau Jawa dinyatakan punah berdasarkan laporan IUCN tahun 2014. Hal ini diungkap dalam buku “Spatio – Temporal Patterns of Human Tiger Conflicts in Sumatra 2001 – 2016”.

Manusia sudah hidup berdampingan dengan harimau sejak lama. Konflik manusia dan harimau terus terjadi. Punahnya harimau Jawa adalah bukti, konflik manusia dan harimau bisa menjadi penyebab utama kepunahan spesies langka ini.

Saat ini hanya harimau sumatera yang tersisa di Indonesia. Analisis populasi terbaru oleh Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan tahun ini (2017) menyebutkan populasi harimau Sumatera saat ini kurang dari 700 ekor. Populasi ini terus terancam oleh perburuan liar termasuk oleh konflik manusia dan satwa liar.

Menimbang situasi yang kritis ini, upaya untuk mencegah dan mengurangi semua kasus yang memicu kematian harimau perlu dilakukan untuk menyukseskan konservasi harimau sumatera.

Khusus terkait konflik manusia dan harimau, untuk mencegah dan mengurangi konflik tersebut pemahaman akan skala dan sebaran konflik penting dikenali guna mengalokasikan sumber daya secara efektif dan efisien. Laporan terakhir mengenai karakteristik konflik manusia dan harimau diterbitkan oleh Nyhus & Tilson pada 2004.

Penanganan konflik manusia dan harimau di Sumatera mendapatkan perhatian serius setelah dokumen strategi konservasi harimau Sumatera diterbitkan pada tahun 2007. Buku “Spatio – Temporal Patterns of Human Tiger Conflicts in Sumatra 2001 – 2016” berupaya memahami lokasi konflik yang menimbulkan korban hewan ternak, manusia dan harimau. Laporan dalam buku ini akan bermanfaat guna mencegah dan mengurangi konflik manusia dan harimau pada masa datang. Proyek Sumatran Tiger akan mengupasnya menjadi beberapa artikel untuk Anda.

@SumatranTigerID

Page 3 of 41234