Koordinasi Tanggulangi Konflik Manusia dan Satwa Liar

Proyek Sumatran Tiger hari ini, Selasa, 18 Juni 2019, mendukung rapat koordinasi penanggulangan konflik manusia dengan satwa liar yang diselenggarakan di kantor Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam, Sumatra Utara. Rapat koordinasi ini sekaligus menjadi upaya merespon tingginya konflik manusia dan satwa liar yang terjadi dalam waktu belakangan ini.

Dalam rapat yang dipimpin oleh Kepala BB KSDA Sumatra Utara, Hotmauli Sianturi, muncul dukungan terhadap upaya mengatasi konflik manusia dan satwa liar dari Bupati Padang Lawas, Ali Sutan beserta masyarakat Kabupaten Padang Lawas, yang menyadari bahwa Harimau Sumatera adalah satwa yang dilindungi dan memerlukan dukungan pemerintah provinsi dan pusat untuk menyelamatkan satwa langka ini dan masyarakat.

Pemerintah Kabupaten Padang Lawas telah memperpanjang SK Darurat Sosial akibat konflik satwa liar hingga tanggal 27 Juni 2019, yang merupakan tindaklanjut dari pertemuan para pihak tanggal 14 Juni 2019 di Sibuhuan terkait konflik Harimau Sumatera.

Dalam pertemuan ini juga disampaikan instruksi dari Gubernur Sumatera Utara agar tidak dilakukan penembakan terhadap satwa Harimau Sumatera di Padang Lawas. Pertemuan ini juga membahas rencana pengembangan program Desa Mandiri Konflik dan pengembangan ekonomi alternatif untuk desa terdampak konflik. Tahun ini tidak ada perluasan areal perkebunan di Provinsi Sumatera Utara. Untuk pemberdayaan ekonomi masyarakat disepakati bisa melibatkan perusahaan perkebunan melalui mekanisme CSR atau tanggung jawab sosial perusahaan.

Para pihak yang turut serta dalam pertemuan ini juga menyepakati perlunya segera dilakukan revisi SK Gubernur Sumatera Utara terkait Tim Koordinasi dan Tim Satgas Penanggulangan Konflik Satwa Liar dengan Manusia Provinsi Sumatera Utara. Revisi ini harus memasukkan Badan Penanggulangan Bencana Nasional dan pembiayaan yang melibatkan CSR dan Dana Pemerintah Daerah yang tersedia.

Sebagai solusi jangka pendek konflik manusia dan satwa liar, para pemangku kepentingan sepakat akan melaksanakan beberapa kegiatan:

1. Membangun kandang ternak yang anti harimau di daerah yang rawan konfik.

2. Mengembangkan Desa Mandiri Konflik : membentuk tim satgas, Pelatihan kepada masyarakat (peringatan dini, mengusiran, dll), menginisiai untuk dana desa untuk mitigasi konflik. WCS bersedia untuk membantu menginisiasi dan memberikan pelatihan Desa Mandiri konflik di areal yang rawan konflik, dengan pendamping dari Pemkab dan BBKSDA Sumut.

3. Mendorong perusaahan untuk mencadangkan dananya (bukan mekanisme CSR) tetapi sebagai tanggungjwab perusahaan yag tertuang dalam RKL (Rencana Pengelolaan Lingkungan) dan RPL (Rencana Pemantauan Lingkungan) mereka.

4. Memperkuat kearifan lokal yang mendukung konservasi habitat satwa liar di Padang Lawas, yaitu mempertahankan ecotone saat pembukaan ladang dan perternak yang menyediakan satwa mangsa bagi harimau serta menggunakan pagar kawat berduri.

Dalam jangka panjang, rencana tahapan revisi SK Gubernur terkait tim penanggulangan konflik, pendanaannya akan diupayakan dari sumber Proyek Sumatran Tiger (GEF-UNDP) dan sumber dana lain yang tidak mengikat.

Rapat koordinasi yang juga dihadiri oleh Direktur KKH, Indra Exploitasia juga menyepakati pembentukan Tim Satuan Tugas Pernanggulangan Konflik Harimau Padang Lawas, dengan payung hukum SK Bupati Padang Lawas dan sebagai Pembina adalah Bupati Padang Lawas dan BPBD (Badan Penanggulangan Bencana Daerah) Provinsi Sumatra Utara, dan Ketua pelaksana harian adalah Kepala Balai Besar KSDA Sumut.

@SumatranTigerID

TN BBS Laksanakan Pelatihan Restorasi Berbasis Masyarakat

Balai Besar Taman Nasional Bukit Barisan Selatan menyelenggarakan pelatihan pengelolaan kolaboratif untuk staff taman nasional dengan tema restorasi berbasis masyarakat pada 12-14 Februari, di Resort Ulu Belu, Desa/Pekon Sukamaju, Kecamatan Ulu Belu, Kabupaten Tanggamus, Provinsi Lampung. Pelatihan yang berupaya meningkatkan kapasitas tata kelola sosial dan soft skill ini dilaksanakan oleh Yayasan Pusat Informasi Lingkungan Indonesia (PILI-Green Network) didukung oleh Proyek Sumatran Tiger GEF-UNDP.

Pelatihan diikuti oleh 10 (sepuluh) orang staff Taman Nasional Bukit Barisan Selatan (TNBBS) yang terdiri dari Polhut, PEH dan Penyuluh. Para peserta mendapatkan materi tentang pengertian restorasi, kebijakan terkait restorasi di kawasan konservasi, pendekatan restorasi dan tahapannya, dampak dan pengawasannya.

Menurut Evi Indraswati, Koordinator PILI sekaligus fasilitator pelatihan, diperlukan aksi bersama – tidak hanya sekedar minat ataupun niat – untuk memulihkan kawasan hutan TNBBS. Menurutnya, pelatihan soft skill menjadi modal untuk meningkatkan motivasi dengan kemampuan perencanaan dan analisis resiko yang matang terhadap program restorasi hutan berbasis masyarakat.

Rini Rismayani (Direktorat Konservasi Kawasan) sebagai salah satu narasumber mengatakan, ”Lakukan restorasi sesuai aturan yang berlaku.” Menurut Rini, Balai Besar TNBBS adalah TN yang pertama membuat studi/kajian dalam rangka penyusunan Rencana Pemulihan Ekosistem (RPE) 2015-2019. “Dan target pemulihan ekosistem di TNBBS tahun 2018 telah tercapai sesuai dengan IKK,” tuturnya. Rini menambahkan, dalam melakukan PE perlu dicermati berdasarkan open area di lanskap masing-masing.

Para peserta juga memperoleh pelatihan dari Rio Ardi (Yayasan Orang Utan Sumatera Lestari-Orangutan Information Center) yang telah melakukan restorasi di kawasan konservasi Lauser, dan di SM Rawa Singkil.

Menurut Koordinator Penyuluh Balai Besar TNBBS Riyanto, “Perlu segera ada aksi untuk mengatasi keterlanjuran penggarapan illegal yang ada di TNBBS, meskipun kecil tapi dilakukan secara berkelanjutan, kolaboratif pihak TN; Resor, PEH, Penyuluh dengan para mitra dan menjadikan masyarakat sebagai pelaku utama dalam pemulihan ekosistem. Dan tentunya petugas resor pun penting untuk dibekali ilmu kemampuan mengkondisikan masyarakat di sekitar wilayah resornya.”

Di akhir pelatihan, disepakati bersama bahwa pasca pelatihan akan ada upaya membuat demplot restorasi berbasis masyarakat pada wilayah resor masing-masing. Dan untuk lebih memantapkan kolaborasi dalam restorasi berbasis masyarakat, maka akan segera dilaksanakan pelatihan kedua bersama masyarakat.

@SumatranTigerID