Catatan Hasil Evaluasi Efektivitas Pengelolaan Kawasan Konservasi di Indonesia

Evaluasi merupakan bagian tidak terpisahkan dari siklus pengelolaan kawasan konservasi. Rencana Strategis Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan 2020-2024 menegaskan berlanjutnya kebijakan peningkatan efektivitas pengelolaan kawasan konservasi.

Oleh karena itu, diperlukan metodologi yang tepat untuk mengukur kinerja pemerintah dalam hal ini Direktorat Jenderal KSDAE terkait dengan peningkatan efektivitas pengelolaan kawasan konservasi. Efektivitas pengelolaan kawasan konservasi di Indonesia dalam lima tahun terakhir diukur menggunakan pendekatan Management Effectiveness Tracking Tool (METT).

Ada beberapa catatan yang bisa dijadikan rujukan untuk pengelolaan kawasan di Indonesia yang lebih baik lagi. Catatan-catatan tersebut bisa diunduh (download) dan dibaca dalam dokumen berikut ini: Risalah Kebijakan Evaluasi Efektivitas Pengelolaan Kawasan Konservasi di Indonesia.

Penyusunan risalah kebijakan ini didukung oleh UNDP GEF Tiger Project sebagai salah satu tindak lanjut dari Workshop Pembelajaran dan Evaluasi Efektivitas Pengelolaan Kawasan Konservasi di Indonesia pada 16-17 Desember 2019 di Hotel Salak Padjadjaran Bogor.

SumatranTigerID

Harimau Tidak Boleh Punah di Sumatera

Proyek Sumatran Tiger menyelenggarakan evaluasi pelaksanaan kegiatan proyek pada kuartal I dan kuartal II serta pembahasan rencana kegiatan tahun 2018.

Direktur Konservasi Keanekaragaman Hayati, Bapak Bambang Dahono Adji yang juga menjabat National Project Director Proyek Sumatran Tiger membuka acara ini. “Harimau tidak boleh punah di Sumatera. Sinergi dengan mitra proyek dan lembaga swadaya masyarakat membantu kita mencapai target konservasi keanekaragaman hayati,” ujar Bambang.

Perwakilan dari GEF, UNDP, WCS, ZSL, FFI, staff PIU dan PMU Sumatran Tiger turut menghadiri acara yang berlangsung selama 2 hari dari 10-11 Oktober 2017 di Medan, Sumatera Utara.

Bapak Rudijanta Tjahja Nugraha, National Project Manager Sumatran Tiger, memaparkan pencapaian proyek, dilanjutkan dengan paparan PIU (Project Implementation Unit) dan mitra yaitu taman nasional dan NGOs, di semua bentang alam yaitu Gunung Leuser, Bukit Barisan Selatan, Berbak-Sembilang dan Kerinci Seblat.

“Taman Nasional Gunung Leuser memiliki banyak potensi, potensi plasma nutfah, micro hydro, geothermal energy dan ekowisata, namun perambahan, perburuan dan illegal logging, terus menjadi ancaman,” ujar Misran, Kepala Balai Besar Taman Nasional Gunung Leuser. BB TN Gunung Leuser bekerja sama dengan Proyek Sumatran Tiger dan para mitra bersinergi melaksanakan patroli guna menekan ancaman di taman nasional.

Dalam acara ini semua pemangku kepentingan berkomitmen melaksanakan sinkronisasi dan sinergi dalam mendukung aksi konservasi keanekaragaman hayati termasuk aksi konservasi harimau sumatera.

@SumatranTigerID