Pantun Konservasi Harimau Pak Gubernur

“Orang Pitalah ladangnya luas. Berangkatnya pagi pulangnya senja. Harimau adalah binatang buas. Bisa menerkam kapan saja.

Sungai Limau ramainya Minggu. Ramai datang dari Sungai Sirah. Sepanjang harimau tidak terganggu. Maka dia tidak akan marah.

Ada tai lalat tumbuh di dagu.
Tidak hilang dimakan usia.
Kalau habitat harimau terganggu. Bisa mengancam kehidupan manusia.

Tangkap di muara si ikan bada. Ke pinggir pantai perahu berlayar. Harimau Sumatera masih ada. Walaupun ada perburuan liar.

Bila kerbau mandi di hulu.
Mandi berendam di antara batu. Eksistensi harimau ada sejak dahulu. Orang minang paham dengan itu.

Gunung Talamau berbatang sungkai. Burung murai memakan ulat.
Nama harimau terkadang dipakai. Dalam perguruan-perguruan silat.

Berdayung sampan orang Palinggam. Sampai ke pulau baru berhenti.
Ada harimau Pasaman ada harimau Agam. Ada harimau Pasisia dan harimau Panti.

Rasanya kanji tidaklah berbeda.
Semuanya enak untuk dimakan.
Harimau Kuranji juga ada.
Penamaan untuk mempertahankan kemerdekaan.

Pergi ke dangau di hari pagi. Nampak menjulai sidaun sagu. Eksistensi harimau dijunjung tinggi. “Inyiak” itu tidak diganggu.

Kunang-kunang di pohon enau. Pohon enau tumbuhnya rapat. Orang Minang sahabat harimau. Itu filosofi yang kita dapat.

Batang lampasi batang antokan. Di kiri kanan hutannya lebat. Upaya konservasi sudah dilakukan. Banyak pihak yang terlibat.

Dijual cepat dijual murah.
Tidak akan dapat kalau terlambat. Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah. Swasta dan LSM ikut terlibat.

Daun beringin menyentuh tanah. Tempat bermain si murai batu. Kita tidak ingin harimau punah. Seiring dengan perjalanan waktu.

Kayu jati kayunya kuat.
Kayu jati tidaklah murah. Rencana aksi harus dibuat. Perburuan liar harus dicegah.

Tabuik Pariaman di akhir pekan. Ada yang datang dengan taksi. Buku pedoman segera terbitkan. Terus adakan sosialisasi.

Patah di patah si batang rotan.
Ujung ke ujung tolong ditahan.
Harus dicegah kebakaran hutan. Jangan sembarangan membuka lahan.

Ada lobang awas kesandung. Kalau melangkah janganlah ragu. Jangan ditebang hutan lindung. Inyiak balang bisa terganggu.

Pohon limau berduri-duri.
Tapi manis rasa buahnya. Semoga harimau tetap lestari. Lestari juga tempat tinggalnya.

Fungsi hutan jangan dialih.
Nanti Inyiak Balang bisa gaduh.
Cukup sekian dan terima kasih. Wassalamualaikum Warrahmatullahi Wabarakatuh.”

Rangkaian pantun yang indah tersebut disampaikan oleh Gubernur Sumatera Barat Prof. Dr. H. Irwan Prayitno, S.Psi, M.Sc saat membuka Konsultasi Publik Strategi Rencana Aksi (SRAK) Harimau region Sumatera Barat di Padang, 18-19 September 2019. Konsultasi Publik ini juga dihadiri oleh Direktur KKH, Gubernur Sumatera Barat, Kepala Dishut Sumatera Barat, dan Kepala Balai KSDA Sumatera Barat.

Irwan Prayitno membuka acara ini dengan mengucapkan selamat datang di Ranah Minang, “The Land of Tiger”. Dalam pidatonya Irwan menyatakan, terganggunya keseimbangan sistem kehidupan dapat menimbulkan dampak yang tidak diharapkan. Sebagai contoh, harimau menyerang manusia, konflik ini sesungguhnya dipicu oleh kerusakan lingkungan.

Harimau, dan satwa-satwa lain mempunyai norma dalam kehidupan mereka. Norma satwa berupa naluri yg tidak mengganggu bila keseimbangan terjaga. Norma harimau antara lain bahwa manusia bukan bagian dari mangsa mereka. Sehingga apabila harimau menyerang manusia, pasti sudah ada sesuatu yang mengganggu keseimbangan hidup mereka.

Secara praktis, harimau sesungguhnya adalah sahabat manusia di lingkungannya. Irwan menyampaikan, pengalaman Tim Gubernur melakukan survei di rencana pembangunan jalan Alahan Panjang – Sungai Baru, harimau muncul sebagai penunjuk jalan bagi tim untuk keluar dari hutan.

Di tempat lain, ketiadaan predator sebagai penjaga keseimbangan ekosistem menyebabkan tidak terkendalinya populasi satwa mangsa dan berimplikasi dalam penyebaran wabah penyakit. Saat ini sering terjadi petani mengeluh karena kebun mereka dirusak babi hutan. Sedangkan upaya manusia membatasi populasi babi tidak berhasil menjaga keseimbangkan alam. Upaya ini bisa terlalu berlebih atau bisa juga tidak memadai.

Irwan menambahkan, dari sisi spiritual, manusia berperan sebagai kalifah yg menjaga alam. Kalau manusia tidak berhasil menjalankan perannya, lingkungan rusak dan berdampak ke manusia.

Orang minang sangat menghargai harimau, ini diwujudkan antara lain menggunakan harimau sebagai nama perguruan silat maupun jurusnya. Harimau juga sering dipanggil dengan nama Inyek. Panggilan yang sama digunakan untuk orang-orang tua, ataupun orang yang dihormati (pejabat, tetua).

Harimau sebagai simbol dalam berbagai bentuk budaya. Hal ini berarti harimau menjadi sesuatu yang disukai atau dekat dengan masyarakat, dan bukan dimusuhi.

Konservasi harus menjadi bagian dari perilaku. Karena kalau harimau sudah terganggu, perlu usaha lebih keras untuk mengatasinya. “Rencana aksi ini adalah dokumen yang penting, tetapi jauh lebih penting bagaimana rencana itu terimplementasi. Hal ini membutuhkan komitmen dari para penanggung jawab dan para pihak,” ujar Irwan.

Sumatera Barat menurut Irwan sudah membuktikan komitmennya terhadap pelestarian lingkungan dan diwujudkan dengan kebijakan-kebijakan nyata yang diambil Pemerintah Daerah Sumatra Barat.

Direktur Konservasi Keanekaragaman Hayati, Drh. Indra Explotasia, M.Si, dalam sambutannya menyampaikan SRAK periode yang lalu telah berakhir di 2017. “Kita masih adalam proses penyelesaian pembaharuan SRAK, sehingga dipastikan SRAK berikutnya akan mulai 2019,” tuturnya.

Menurut Indra, Indonesia saat ini sedang melakukan Sumatra Wide Tiger Survey untuk memperbaharui status penyebaran harimau yang terbaru. “Harimau sumatera merupakan salah satu ikon kebanggaan Sumatera. Diharapkan menjadi salah satu pertimbangan dalam perencanaan wilayah, termasuk jenis-jenis spesies ikonik Sumatera lainnya,” ujar Indra.

Untuk itu, “Perlu harmonisasi upaya pembangunan dengan aksi menjaga keanekaragaman hayati di Sumatera yang sedang giat membangun. SRAK merupakan dokumen bersama, sehingga sangat dibutuhkan sense of belonging dari masing-masing pemerintah daerah,” pesan Indra.

@SumatranTigerID

Konsultasi Publik I SRAK Harimau Sumatra 2019-2029

Jambi, 2 Mei 2019 – Harimau sumatra kondisinya saat ini semakin terancam, baik oleh perburuan maupun kehilangan habitat akibat konversi kawasan hutan menjadi perkebunan, pemukiman dan kegiatan pembangunan lainnya. Salah satu dampak adalah terjadinya konflik antara manusia dengan harimau yang pada umumnya harimau menjadi korban dengan dibunuh atau dikeluarkan dari habitatnya.

Upaya konservasi harimau sumatra sudah mengalami banyak kemajuan sejak dirumuskannya Strategi Rencana Aksi Konservasi Harimau Sumatra (SRAK HARIMAU) 2007-2017 yang melibatkan berbagai pihak terkait. Berbagai macam aksi dan inisiasi konservasi telah dilakukan oleh berbagai komponen baik oleh Pemerintah Republik Indonesia, pemerintah daerah, Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) , perguruan tinggi, swasta dan masyarakat. SRAK HARIMAU 2007 – 2017 telah berakhir dan draft SRAK HARIMAU yang baru (2019–2029) sudah disusun bersama-sama dengan berbagai pihak.

Direktur Konservasi Keanekaragaman Hayati, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), Indra Exploitasia menyampaikan, “Pemerintah memberikan perhatian penuh terhadap konservasi spesies endemik Indonesia. Karena itu, KLHK yang memiliki kewenangan terhadap perlindungan satwa liar akan terus meningkatkan koordinasi dengan sektor terkait dan mitra penting seperti pemerintah daerah. Hal ini bertujuan untuk melindungi baik satwa tersebut juga habitatnya. Mengingat habitat dan jalur jelajah harimau sumatera sekitar 61,34% berada di luar kawasan konservasi yang menjadi kewenangan pemerintah daerah maupun swasta.”

“Oleh karena itu, dalam upaya konservasi harimau sumatra dan satwa lainnya kami akan berada di belakang pemerintah daerah untuk terus mendorong perlindungan dan pelestarian keanekaragaman hayati.” pungkasnya.

Gubernur Jambi melalui Staf Ahli Gubernur Bidang Kemasyarakatan dan SDM, Drs. H. Ahmad Bastari, M.Pd menyatakan dukungannya terhadap konservasi harimau sumatra dalam pelaksanaan konsultasi publik di Hotel BW Luxury, Jambi pada Kamis (02/05/2019).

“Harimau sebagai satwa karismatik memiliki beberapa dimensi, termasuk ekologi, kultural dan ekonomi yang tidak terpisah dan saling melengkapi. Hubungan ini sangat dekat dengan manusia, jika salah satu ekosistem di alam punah akan berdampak buruk bagi kelangsungan hidup manusia ke depan. Saya sangat mendukung upaya pelestarian harimau sumatra dan saya berharap Strategi Rencana Aksi Konservasi Harimau Sumatra 2019 – 2029 ini juga didukung oleh semua pihak sebagai upaya pelestarian harimau sumatra,” jelas Ahmad.

Kepala Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Jambi, Rahmad Saleh menyatakan bahwa SRAK HARIMAU 2019-2029 perlu segera diselesaikan. “Jambi memiliki 4 wilayah yang dihuni harimau sumatra. Pembuatan SRAK HARIMAU 2019-2029 perlu segera diselesaikan mengingat ancaman terhadap harimau semakin tinggi.”

Dalam pelaksanaannya, Direktorat Jenderal Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem (KSDAE) bekerjasama dengan berbagai pihak seperti pemerintah pusat lintas kementerian, pemerintah daerah, LSM, akademisi, swasta dan juga masyarakat luas dalam memastikan program-program kerja ini terlaksana.

Ketua Forum HarimauKita (FHK) Munawar Kholis menyatakan bahwa, SRAK HARIMAU 2007-2017 telah berakhir, sejak 2018 telah disusun dokumen SRAK baru, kini draft SRAK HARIMAU 2019-2029 telah disusun secara partisipastif bersama para pihak.

Konservasi harimau ini perlu dijalankan dengan inovasi dan juga betul-betul memperhatikan berbagai aspek yang bersinggungan dengan masyarakat. Untuk memastikan adanya sinergi dengan para pemangku kepentingan, maka dibutuhkan konsultasi publik, sehingga dapat juga menyempurnakan strategi selama 10 tahun kedepan. “Tujuan besar konservasi adalah harimau sumatra lestari, masyarakat sejahtera dan ini sebagai bagian dari keberhasilan pembangunan di Indonesia,” jelas Kholis.

———

Kontak Media (narahubung):

Dit. KKH : Ir. Puja Utama, M.Sc (+62 812-7963-755)
Balai KSDA Jambi (Humas) : M. Ali Imron (+62 852-6648-4401)
Ketua Forum HarimauKita : Munawar Kholis (+62 811-1101-281)