Catatan Hasil Evaluasi Efektivitas Pengelolaan Kawasan Konservasi di Indonesia

Evaluasi merupakan bagian tidak terpisahkan dari siklus pengelolaan kawasan konservasi. Rencana Strategis Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan 2020-2024 menegaskan berlanjutnya kebijakan peningkatan efektivitas pengelolaan kawasan konservasi.

Oleh karena itu, diperlukan metodologi yang tepat untuk mengukur kinerja pemerintah dalam hal ini Direktorat Jenderal KSDAE terkait dengan peningkatan efektivitas pengelolaan kawasan konservasi. Efektivitas pengelolaan kawasan konservasi di Indonesia dalam lima tahun terakhir diukur menggunakan pendekatan Management Effectiveness Tracking Tool (METT).

Ada beberapa catatan yang bisa dijadikan rujukan untuk pengelolaan kawasan di Indonesia yang lebih baik lagi. Catatan-catatan tersebut bisa diunduh (download) dan dibaca dalam dokumen berikut ini: Risalah Kebijakan Evaluasi Efektivitas Pengelolaan Kawasan Konservasi di Indonesia.

Penyusunan risalah kebijakan ini didukung oleh UNDP GEF Tiger Project sebagai salah satu tindak lanjut dari Workshop Pembelajaran dan Evaluasi Efektivitas Pengelolaan Kawasan Konservasi di Indonesia pada 16-17 Desember 2019 di Hotel Salak Padjadjaran Bogor.

SumatranTigerID

Tiger Fasilitasi Penilaian METT TN Berbak

Balai Taman Nasional Berbak dan Sembilang bekerjasama dengan Zoological Society of London (ZSL) sebagai mitra kerja Balai Taman Nasional Berbak-Sembilang (BTNBS) melalui Project Tiger GEF–UNDP menyelenggarakan penilaian METT kawasan TN Berbak Tahun 2017 pada tanggal 28-29 Agustus 2017 bertempat di Odua Weston Hotel Jambi.

Acara penilaian METT ini dihadiri oleh stakholeder terkait dalam pengeolaan kawasan TN Bebak (Bappeda Propinsi Jambi, Dinas Kehutanan Propinsi Jambi, Universitas Jambi, BKSDA Jambi, BPKH Wilayah XIII Pangkal Pinang, ZSL, Wetland Internasional dan Gita Buana.

Acara penilaian secara resmi dibuka oleh Kepala Balai TNBS, dan dilanjutkan dengan penyampaian materi terkait METT oleh Bapak Rudijanta Nugraha NPM Tiger Project GEF-UNDP dan Ibu Dewi (Direktorat KK) sebagai Fasilitator penilaian METT.

Sebelum penilaian dilakukan Kepala Balai dan para fasilitator menekankan agar tidak terjebak dengan nilai yang ingin dicapai tetapi lebih kepada proses penilaian dan mengidentifikasi ruang-ruang perbaikan pengelolaan.

Penilaian METT dilakukan dengan metode Focus Group Discussion (FGD) dimana setiap peserta merupakan narasumber yang memilki argument, pengalaman dan pemahaman masing-masing untuk menentukan nilai.

@SumatranTigerID