Alam adalah Solusi, Mari Jaga Keanekaragaman Hayati

Peringatan Hari Keanekaragaman Hayati Dunia, 22 Mei 2020

“Our Solution are in Nature

Jakarta, Tanggal 22 Mei ditetapkan oleh Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB) sebagai hari Keanekaragaman Hayati Internasional (the International Day for Biological Diversity/IDB) untuk meningkatkan pemahaman dan kesadaran akan keanekaragaman hayati secara global. Tanggal tersebut dipilih sebagai peringatan atas adopsi Convention on Biological Diversity (CBD) tanggal 22 Mei 1992 di Nairobi. Dalam rangka peringatan IDB, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan menyelenggarakan beberapa kegiatan sebagai pekan keanekaragaman hayati pada tanggal 18-22 Mei dengan pilihan sub tema yang dipilih oleh Sekretariat CBD.

Peringatan Hari Keanekaragaman Hayati Internasional memiliki tema yang berbeda setiap tahun. Tahun 2020, tema yang dipilih adalah “Our Solution are in Nature” untuk meningkatkan harapan, solidaritas dan pentingnya bekerja sama dalam setiap tingkatan untuk membangun kehidupan mendatang yang harmonis dengan alam. Selanjutnya sub tema yang diangkat adalah science and knowledge, awareness (conservation and biodiversity, health and food, people and culture), and actions.

Tema tersebut dipilih oleh Sekretariat CBD untuk mengingatkan kembali pentingnya keanekaragaman hayati sebagai solusi atas tantangan pembangunan yang berkelanjutan, ketahanan iklim, ketahanan pangan dan air, energi serta kesehatan manusia yang didukung dengan ketahanan ekonomi.

Keanekaragaman hayati di Indonesia sangat beragam mulai keanekaragaman tumbuhan, satwa, mikroorganisme, termasuk gen yang terkandung di dalamnya, serta keanekaragaman ekosistem, yang kemudian dapat dibagi menjadi 3 level, yaitu: genetik, spesies dan ekosistem. Keanekaragaman hayati merupakan satu kesatuan yang dapat memberikan manfaat kepada manusia baik dari aspek ekonomi, sosial termasuk budaya dan tentunya aspek ekologi dalam wujud mendukung ketahanan pangan, air dan energi.

Indonesia, sebagai salah satu negara Mega-biodiversity Country memiliki keanekaragaman ekosistem mulai dari daratan sampai lautan dengan lebih kurang 90 tipe ekosistem unik. Pada level jenis, Indonesia memiliki lebih dari 30.000 – 40.000 spesies flora tumbuhan berbiji, 1.500 spesies alga, 80.000 spesies tumbuhan berspora berua jamur, 595 spesies lumut kerak, 2.197 spesies paku-pakuan, 8.157 spesies fauna vertebrata dan 1900 spesies kupu-kupu (LIPI, 2014). Sementara pada level genetik, Indonesia masih perlu banyak menggali informasi atas manfaat sumberdaya genetik yang masih belum diketahui. Keanekaragaman hayati juga sangat erat kaitannya dengan kesehatan manusia.

Keragaman hayati di tingkatan ekosistem juga memiliki fungsi menjadi sistem penyangga kehidupan. Kawasan hutan yang masih utuh dan sehat menjamin suplai air bersih, menjaga kesuburan tanah, kesimbangan siklus hidrologi dan iklim mikro, mencegah banjir dan longsor, sehingga lahan pertanian di bawahnya menjadi lebih subur dan produktif. Kawasan hutan yang sehat juga merupakan habitat serangga yang berfungsi sebagai polinator atau penyerbukan bagi komunitas pohon dan tumbuhan lainnya di kawasan pertanian di sekitarnya. Maka, menjaga hutan berarti menjaga keragaman hayati dan keseimbangan hidup antar komponennya dan berkontribusi untuk ketahanan dan kemandirian pangan, ketersediaan air bersih untuk konsumsi dan kesehatan bagi masyarakat secara luas.

Kasus pandemi saat ini, menjadi relevan dibicarakan di peringatan Hari Keanekaragaman Hayati Internasional, karena penyebab penyakit COVID-19 adalah virus SARS CoV2 yang ditengarai moyangnya berasal dari virus Corona yang ada di dalam tubuh kelelawar. Banyak penelitian yang menyebutkan bahwa kelelawar yang dikonsumsi masyarakat di Wuhan menjadi salah satu penyebab kemunculannya. Hipotesis ini mungkin ada benarnya, akan tetapi kemunculan pandemi COVID-19 ini bisa saja merupakan proses yang kompleks (Naipospos, Tri.S.P, 2020).

Walaupun begitu, penyebaran penyakit dari hewan ke manusia tak bisa dianggap enteng. Setidaknya, 80 persen penyakit menular pada manusia bersumber dari hewan, sementara sekitar 75 persen penyakit baru atau penyakit infeksi emerging pada manusia disebabkan oleh mikroba yang berasal dari hewan atau satwa. Sebagai contoh penyebaran flu burung, virus nipah, HIV, sindrom pernapasan akut (SARS), sindrom pernapasan Timur Tengah-koronavirus (MERS-CoV), Ebola ataupun penyakit baru yang bersifat zoonotik lainnya.

Beberapa upaya penghentian penyebaran penyakit baru dengan memusnahkan satwa liar di alam tidak dapat menyelesaikan masalah, akan tetapi dapat menimbulkan masalah baru yaitu menyebabkan ketidakseimbangan alam. Perburuan liar dan mengkonsumsi satwa liar sangat beresiko pada kesehatan manusia. Dengan demikian, keseimbangan ekosistem dengan keanekaragaman hayati tinggi dapat melindungi manusia dari penyakit. Sebaliknya, ekosistem dengan populasi spesies homogen sangat rentan terhadap pandemi.

Hal ini kemudian menarik minat peneliti untuk menemukan vaksin dari virus penyebab pandemi. Saat ini, banyak peneliti di dunia melakukan penelitian vaksin dari berbagai sampel yang bersumber dari hidupan liar (tumbuhan dan satwa liar) dan sumber daya genetik yang terkandung didalam hidupan liar dan alamnya. Situasi ini menunjukkan perhatian serius dari peneliti dunia terutama di negara maju untuk pencarian obat maupun vaksin di negara yang memiliki keanekaragaman hayati tinggi. Kegiatan eksplorasi tersebut dalam dunia sains dikenal sebagai bioprospecting.

Bioprospecting sebagai kegiatan eksplorasi, ekstraksi dan penapisan sumber daya alam hayati untuk pemanfaatan komersial dari sumber daya genetik, spesies dan atau biokimia beserta turunannya (Reid, et. All, 1993) yang bersumber dari spesies liar, dipercaya dapat menjadi jawaban atas pandemi COVID-19 yang terjadi saat ini. Pada umumnya kegiatan tersebut disertai dengan eksplorasi atas pengetahuan tradisional (traditional knowledge). Kondisi tersebut dapat dimanfaatkan oleh berbagai pihak untuk mengambil bagian dalam upaya mencari potensi obat serta sekaligus dapat menjadi potensi ekonomi yang mungkin tersembunyi dalam keanekaragaman hayati Indonesia. Hal ini seharusnya menjadi perhatian bersama.

Salah satu contoh terbaru berkembangnya penelitian yang bersumber pada pemanfaatan sumber daya genetik yaitu inovasi Hand-Sanitizer dan Hand-Soap yang mengandung bahan aktif minyak Gaharu yang ditemukan oleh Asep Hidayat seorang peneliti dari Badan Penelitian, Pengembangan dan Inovasi-KLHK. Dalam minyak gaharu terdapat senyawa Sesquiterpenes serta lebih dari 50 senyawa lainnya yang sangat baik untuk membunuh mikroorganisme (bakteri, jamur dan virus), sehingga diharapkan dapat digunakan sebagai upaya pencegahan penyebaran COVID-19.

Artinya, pemanfaatan potensi keanekaragaman hayati dengan bijak dapat menjadi salah satu solusi dalam upaya mengatasi pandemi seperti yang disebabkan oleh coronavirus. Dengan demikian, keanekaragaman hayati sebagai jawaban atas tantangan pembangunan berkelanjutan dimana manusia merupakan bagian dari alam dan tidak dapat dipisahkan dari alam.

Sekiranya benar bahwa ungkapan yang menyatakan dunia setelah pandemi COVID-19 tidak akan sama seperti sebelumnya. Aspek kesehatan kemudian menjadi hal penting dalam upaya konservasi keanekaragaman hayati. Lebih dari itu, pengambilan kebijakan harus berdasarkan atas pertimbangan sains, memperhatikan traditional knowledge serta melibatkan masyarakat dengan pola kemitraan. Semua pihak harus dapat memastikan pembangunan yang berkelanjutan dengan mempertimbangkan keanekaragaman hayati, pada tiga level, yaitu ekosistem, spesies, dan genetik.

Ke depan, segera diidentifikasi dan diinventarisasi 43 juta hektare kawasan ekosistem esensial di luar kawasan konservasi yang telah ada. Juga akan dibangun sistem connectivity antar kluster meta populasi yang terpisah dengan penetapan 1,4 juta hektare High Conservation Value Forest (HCVF) di wilayah konsesi, High Carbon Area, dan kawasan yang unik seperti cloud forest, karst, hutan kerangas, kawasan riparian, mangrove, padang lamun, atau habitat satwa endemik tertentu yang terisolasi pada pulau-pulau kecil.  Di samping itu, terus dilakukan rehabilitasi kawasan hutan dengan melibatkan masyarakat, dan pemegang izin di wilayah konsensinya.

Pada peringatan hari Keanekaragaman Hayati Internasional tahun 2020 ini, kita mencari jawaban, bantuan dan inspirasi dari alam untuk kehidupan yang lebih baik bagi generasi mendatang, agar semakin selaras dengan mekanisme dan keseimbangan alam.

————————-

References:

Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia. 2014. “Kekinian Keanekaragaman Hayati Indonesia 2014”, Jakarta: LIPI Press.

Naipospos, Tri S.P. 2020.  Inang Alamiah Virus Corona“, dalam artikel Center for Indonesian Veterinary Analytical Studies. http://civas.net/2020/03/20/inang-alamiah-virus-corona/.

Reid, W.V., et. Al. 1993.  Biodiversity Prospecting: Using Genetic Resources for Sustainable Development“, World Resources Institute, Washington, DC; Instituto Nacional de Biodiversidad, Santo Domingo de Heredia, Costa Rica; Rainforest Alliance, New York; African Centre for Technology Studies, Nairobi, Kenya.

TNBBS Berhasil Kembangkan Sistem Pengamatan Harimau

Taman Nasional Bukit Barisan Selatan (TNBBS) mencakup total area seluas 330.853,23 ha, terletak di dua provinsi, Provinsi Lampung dan Bengkulu (dengan proporsi luasan terbesar di Provinsi Lampung).

Visi dari TNBBS adalah sebagai habitat pelestarian harimau sumatera, badak sumatera dan gajah sumatera serta perlindungan sistem peyangga kehidupan yang didukung oleh pemberdayaan masyarakat secara berkelanjutan.

TNBBS juga menjadi satu dari tiga taman nasional di Sumatera yang menjadi bagian dari Tropical Rainforest Heritage of Sumatra (TRHS) yang ditetapkan oleh UNESCO karena nilai universal yang luar biasa dari budaya/properti alam yang membutuhkan perlindungan untuk kepentingan seluruh umat manusia.

Pengamatan adalah survei secara berkala terhadap satu objek tertentu untuk melihat dinamika/perubahan yang terjadi terhadap objek tersebut serta untuk memahami kemungkinan faktor-faktor yang menyebabkan perubahan tersebut terjadi. Dalam hal ini obyek yang diamati adalah harimau, satwa-mangsa, dan hutan (deforestasi) di TNBBS.

Secara lebih spesifik sistem pengamatan harimau Sumatra merujuk pada perkembangan pengelolaan pusat data (database) kamera penjebak dengan fokus pada individu harimau.

Kamera penjebak merupakan alat yang sering digunakan di dalam survei pendugaan populasi harimau. Dari survei dengan mempergunakan kamera penjebak maka data dasar yang akan diperoleh adalah berupa gambar/video dari individu harimau serta lokasi dimana individu tersebut tertangkap oleh kamera penjebak.

Data yang terkumpul dari survei dengan mempergunakan kamera penjebak secara berkala selain dapat memberikan informasi populasi (kepadatan) harimau dalam waktu tertentu dapat juga digunakan untuk memonitor apakah individu harimau (setiap individu harimau memiliki keunikan pada pola loreng) yang tertangkap pada survei kamera penjebak pemasangan kamera penjebak sebelumnya masih tertangkap juga pada periode pemasangan berikutnya.

Kamera penjebak juga sering digunakan dalam kegiatan mitigasi konflik satwa liar dengan manusia dengan tujuan untuk memastikan keberadaan harimau di sekitar desa/pemukiman serta kegiatan pengamatan (monitoring) aktivitas manusia dan satwa liar pada area-area tertentu (misalnya pengamatan dampak jalan).

Balai Besar Taman Nasional Bukit Barisan Selatan didukung oleh Proyek Sumatran Tiger dan mitra sejak awal tahun 2017 mulai merapikan data kamera penjebak hasil dari berbagai kegiatan yang menggunakan kamera penjebak.

Perangkat lunak yang dipakai untuk identifikasi individu harimau adalah  ExtractCompare. ExtractCompare merupakan sebuah perangkat lunak yang dikembangkan oleh Conservation Research, Ltd. untuk pengelolaan foto-foto satwa. Perangkat lunak ini dapat mengenali individu satwa berdasarkan pola unik alami yang terlihat pada tubuhnya.

Saat ini, ExtractCompare sudah diaplikasikan untuk berbagai jenis satwa yang memiliki penanda individu pada tubuhnya, seperti harimau, macan tutul, hiu, dan salamander. Perangkat lunak tersebut diintegrasikan dengan Microsoft Access sebagai sistem manajemen data untuk menyimpan informasi foto yang diproses.

Hasil dari proses analisis dari semua data sampai dengan bulan Maret 2019 diperoleh 425 foto harimau dalam pangkalan data ExtractCompare yang terdiri dari 151 foto sisi kiri dan 154 foto sisi kanan (120 foto tidak diekstrak karena merupakan foto dari event yang sama atau foto yang buram).

Data yang telah dimasukkan dalam pangkalan data berasal dari tahun 2010 hingga 2018. Berdasarkan perpustakaan foto tersebut, telah diidentifikasi 106 individu (43 betina, 16 jantan, 47 tidak diketahui jenis kelaminnya). Data juga mencatat terdapat 31 individu harimau (20 betina, 5 jantan) yang memiliki informasi pola loreng lengkap di kedua tubuhnya.

Perlu dicatat bahwa jumlah 106 individu bukanlah merupakan jumlah harimau yang ada di TNBBS saat ini, melainkan jumlah individu yang ada di pangkalan data foto harimau TNBBS. Angka tersebut merupakan total individu yang terekam sejak tahun 2010 dan terdapat kemungkinan bahwa ada harimau mati selama kisaran waktu 2010 hingga 2019. Penambahan data-data yang baru akan lebih memperkuat hasil identifikasi individu harimau ini.

Dari 106 individu harimau yang telah diidentifikasi di TNBBS terlihat bahwa jantan dan betina ditemukan cukup tersebar merata di TNBBS tetapi dengan jumlah individu betina yang lebih banyak dibandingkan dengan yang jantan.

Yang tak kalah menarik, dari data yang tersedia ini juga bisa diperkirakan ruang jelajah harimau walaupun hanya berupa perkiraan kasar (penentuan area jelajah berdasarkan data kamera perangkap bukan merupakan metoda yang ideal dimana disarankan untuk mempergunakan GPS Collar). Diperlukan paling sedikit data 3 lokasi temuan suatu individu harimau untuk memperkirakannya.

Dari hasil analisis data kamera perangkap terlihat harimau jantan memiliki ruang jelajah (rata-rata 3.795 ha) yang lebih luas daripada harimau betina (rata-rata 787 ha). Harimau bersifat teritorial (dan dengan daerah jelajah yang lebih luas, kurang lebih pernah tercatat di Sumatera seluas 23.600 hektar) dengan rata-rata ruang teritori jantan seluas 1.500 – 2.000 hektar. Harimau betina biasanya memiliki teritori yang lebih kecil. Luasan area jelajah dan teritori sangat tergantung pada kondisi lingkungan, sumber pakan, jenis kelamin, dan kelas umur.

Dari hasil sementara ini, dengan luas area jelajah yang hampir sama atau lebih kecil dari luasan teritori (sumber data luasan teritori dari referensi) kemungkinan menunjukkan potensi satwa mangsa yang masih baik untuk mempertahankan populasi harimau di TNBBS. Hasil dari survei populasi harimau pada tahun 2015 menunjukkan bahwa area survei (IPZ-Intensive Protection Zone TNBBS) memiliki potensi satwa mangsa yang masih banyak (Pusparini dkk. 2018).

Ketersediaan sistem pengamatan harimau sangat penting guna memastikan sistem perlindungan terhadap harimau Sumatra dilakukan berdasarkan data dan informasi yang tepat. Yang diperlukan adalah memastikan keberlanjutan sistem pengamatan harimau yang telah dibangun dan peningkatan kapasitas staf taman nasional yang telah dilakukan.

@SumatranTigerID

 

Pelatihan Tingkatkan Kapasitas Petugas Patroli TNKS

Proyek Sumatran Tiger mendukung pelatihan identifikasi pohon, raflesia, bunga bangkai, burung dan jejak satwa, beserta pelatihan teknik pengumpulan alat bukti dan penyusunan laporan kejadian pada tindak pidana kehutanan untuk petugas lapangan pelaksana patroli rimba berbasis SMART (Spatial Monitoring And Reporting Tool) di Taman Nasional Kerinci Seblat.

Raflesia, bunga bangkai, harimau sumatera, gajah sumatera dan rangkong merupakan jenis-jenis keanekaragaman hayati yang menjadi Nilai Penting Kawasan (NPK) TNKS saat ini. Identifikasi keberadaan/sebaran jenis-jenis ini baik secara langsung maupun tidak langsung penting untuk diketahui oleh petugas guna perencanaan pengelolaan yang lebih baik.

Spatial Monitoring and Reporting Tool (SMART) merupakan suatu perangkat untuk mengumpulkan data spatial secara terencana, sistematis dan valid yang selanjutnya dapat dianalisis sebagai bahan evaluasi untuk upaya-upaya peningkatan efektivitas pengelolaan kawasan konservasi.

Pelatihan ini bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan, keterampilan dan sikap kerja petugas, agar mampu menghasilkan data lapangan hasil kegiatan patroli yang berkualitas. Kegiatan patroli dilaksanakan sebagai upaya perlindungan kawasan, pengambilan data dan informasi dari lapangan. Kemampuan petugas lapangan dalam mengidentifikasi potensi keanekaragaman hayati beserta ancaman yang ada sangat diperlukan untuk memperoleh data lapangan yang berkualitas baik.

Pembelajaran secara teori dilaksanakan di kelas di Hotel Arafah Kota Sungai Penuh, yang kemudian dilanjutkan dengan kegiatan praktek lapangan selama 2 hari di sekitar kawasan TNKS di Resor Sungai Penuh di Bukit Tapan Kabupaten Kerinci.

Materi Pelatihan terdiri dari:

1.Selayang pandang Patroli berbasis SMART yang disampaikan oleh Wido R Albert (FFI IP di Sungai Penuh)

2.Identifikasi dan cara pengambilan data pohon potensial yang disampaikan oleh Dr. Nurainas, M.Si (Dosen Universitas Andalas)

3.Identifikasi dan cara pengambilan data raflesia dan bunga bangkai yang disampaikan oleh Septi Andriki dari Komunitas Peduli Puspa Langka Bengkulu Utara (KPPLBU)

4.Identifikasi dan cara pengambilan data burung dan jejak satwa yang disampaikan oleh Dr. Wilson Novarino, M.Si (Dosen Universitas Andalas)

5.Teknik pengumpulan alat bukti dan penyusunan laporan kejadian pada tindak pidana kehutanan yang disampaikan oleh Ipda. Jeki Noviardi, SH.

Peserta pelatihan merupakan perwakilan petugas lapangan dari 15 resor Balai Besar TN Kerinci Seblat, Seksi Konservasi Wilayah I BKSDA Jambi, KPHP Unit I Kerinci, KPHP Unit II Bungo, KPHP Merangin, Lingkar Institute ICS Padang Aro, Pelestarian Harimau Sumatera -Kerinci Seblat, Kelompok Konservasi Mandiri Bangun Rejo, Kelompok Pencinta Alam Lubuk Panjang Kabupaten Pesisir Selatan dan Perlindungan Hutan Berbasis Nagari Sako Tapan.

Kegiatan pelatihan yang berlangsung selama 3 hari yaitu tanggal 25 – 27 Juni 2019 ini merupakan bagian dari rencana kerja PIU Sumatran Tiger Project lanskap TNKS tahun 2019.

@SumatranTigerID

Sumatra Wide Tiger Survey 2018-2019 Dimulai

Jakarta, 13 Maret 2019 – Pemerintah Indonesia melalui Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) telah menargetkan peningkatan jumlah harimau sumatra sebanyak dua kali lipat pada 2022 – sebuah target yang tertuang dalam National Tiger Recovery Program (NTRP) 2010-2022. Salah satu upaya untuk memantau efektivitas upaya konservasi harimau sumatra dalam rangka mencapai target tersebut, KLHK bersama para mitra kerjanya melakukan pemantauan secara berkala dan sistematik melalui kegiatan Sumatra Wide Tiger Survey (SWTS).

SWTS pertama yang pernah dilaksanakan antara tahun 2007 hingga 2009 mengungkap bahwa 72% wilayah survei masih dihuni oleh harimau sumatra. Menurut banyak ahli, kondisi tersebut dikatakan masih baik. SWTS pertama juga telah menjadi rujukan utama dalam penyusunan beberapa dokumen strategis konservasi harimau sumatra, baik dalam skala nasional maupun internasional.  Setelah kurang lebih 10 tahun, KLHK dan mitra kerja sedang melaksanakan SWTS kedua. Sesuai dengan fungsi utamanya, kegiatan SWTS kedua ini dilaksanakan untuk mengevaluasi efektivitas upaya konservasi harimau sumatra yang telah berjalan dalam kurun waktu 10 tahun terakhir.

Direktur Jenderal KSDAE, Wiratno, memberikan arahan yang dibacakan oleh Direktur Bina Pengelolaan Ekosistem Esensial, Tandya Tjahjana, pada acara peluncuran survei tersebut di Hotel Menara Peninsula, 13 Maret 2019. “Kementerian LHK terus berkomitmen dan menjalin kerjasama yang baik dengan para pihak terkait dalam upaya pelestarian harimau sumatra di alam. Program konservasi juga berkembang dalam 10 tahun terakhir. Saya berharap dengan pelaksanaan kegiatan SWTS kedua ini, dukungan dan partisipasi aktif para pihak terhadap upaya pelestarian harimau sumatra dan satwa liar lainnya semakin meningkat dan dapat disinergikan dengan kebijakan pembangunan wilayah di daerah,” ujarnya.

Direktur Konservasi Keanekaragaman Hayati, Indra Exploitasia menyatakan bahwa kegiatan SWTS kedua ini penting untuk dilaksanakan mengingat semakin tingginya ancaman terhadap kelestarian harimau sumatra di alam. “Selain informasi terkait wilayah sebaran harimau sumatra, output yang diharapkan dari kegiatan STWS kedua yaitu terkait dengan data kondisi populasi dan sebaran satwa mangsa, penyakit dan genetik di seluruh kantong habitat harimau sumatra, sehingga dapat memetakan kesenjangan aktivitas konservasi yang dilakukan,” ujarnya. Selanjutnya seluruh data, informasi dan kajian hasil kegiatan SWTS nantinya akan terpusat di database Direktorat Jenderal KSDAE dan selanjutnya menjadi acuan arahan kebijakan konservasi tidak hanya harimau sumatra akan tetapi juga satwa badak, orangutan, gajah dan satwa liar lainnya di Pulau Sumatra.

Hariyo T. Wibisono, Koordinator Pelaksana SWTS menyatakan, “SWTS 2018-2019 adalah kegiatan survei satwa liar terbesar di dunia, baik dalam hal kemitraan, sumber daya manusia yang terlibat, maupun luasan wilayah. Sebanyak 74 tim survei (354 anggota tim) dari 30 lembaga diturunkan untuk melaksanakan survei di 23 wilayah sebaran harimau seluas 12,9 juta hektar, yang 6.4 juta hektar di antaranya adalah habitat yang disurvei pada SWTS pertama.” Tercatat 15 unit pelaksana teknis (UPT) KLHK, lebih dari 10 KPH, 21 LSM nasional dan internasional, dua universitas, dua perusahaan, dan 13 lembaga donor yang telah bergabung mendukung kegiatan SWTS.

Prof. Dr. Gono Semiadi, LIPI, menerangkan bahwa ada beberapa hal yang ingin dihasilkan dari SWTS kedua ini. “Kami mengharapkan dapat menemukan proporsi area yang menjadi wilayah hidup harimau, informasi mengenai keragaman genetika populasi di masing-masing kantong habitat, meningkatkan kapasitas teknis nasional, serta beberapa dokumen strategi konservasi harimau seperti yang dihasilkan oleh SWTS pertama.”

Survei ini tidak hanya melibatkan pemerintah namun juga seluruh pemangku kepentingan dalam upaya penyelamatan harimau. “Survei pada 2007-2009 adalah survei harimau pertama terbesar di dunia. Dengan kolaborasi di masa lalu yang berhasil, kami yakin bahwa saat ini kami bisa mengulang kembali kesuksesan lewat kerjasama yang baik lintas organisasi. Keterlibatan multipihak ini merupakan langkah maju dalam membangun disain konservasi yang komprehensif di level pemerintah pusat maupun pemerintah daerah,” ujar Munawar Kholis, Ketua Forum HarimauKita (FHK).

–##–

Kontak Media (narahubung):

  1. KKH, KLHK : Desy S. Chandradewi (+62 812-9542-679)
  2. Koordinator Pelaksana SWTS : Hariyo T. Wibisono (+62 812-1099-557)
  3. Ketua Forum HarimauKita : Munawar Kholis (+62 811-1101-281)

Buku Panduan Pemantauan Populasi Harimau Sumatera

Sumatran Tiger Project bekerja sama dengan Direktorat Konservasi Keanekaragaman Hayati, Direktorat Jenderal KSDAE, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, telah menerbitkan buku “Panduan Pemantauan Populasi Harimau Sumatera”. Bagi rekan-rekan yang berminat mendapatkan buku ini silahkan unduh melalui tautan berikut: “Panduan Pemantauan Populasi Harimau Sumatera”

@SumatranTigerID

Asian Waterbird Census 2018: Tim Temukan Burung Langka di Pantai Cemara

Dalam menyemarakkan Asian Waterbird Census 2018 yang berlangsung dari tanggal 6-21 Januari 2018, Indonesia melalui Balai TN Berbak-Sembilang dan Balai KSDA Jambi menyelenggarakan Monitoring Burung Air Migran di Pantai Cemara, Kabupaten Tanjung Jabung Timur (Tanjabtim), Provinsi Jambi, dari tanggal 15-17 Januari 2018. Kegiatan ini didukung oleh GEF-UNDP Sumatran Tiger Project.

Pantai Cemara diketahui sebagai salah satu lokasi singgah burung air migran yang sedang bermigrasi dari bagian utara ke bagian selatan bumi. Pantai Cemara juga merupakan bagian dari Berbak Ramsar Site sejak 1992, dan ditetapkan oleh Gubernur Jambi sebagai kawasan perlindungan burung air migran pada melalui SK Gubernur Jambi No.456 tahun 1996.

Kegiatan monitoring ini bertujuan untuk melakukan pendataan jenis dan jumlah populasi burung migran di Pantai Cemara dan mempromosikan Pantai Cemara sebagai salah satu lokasi wisata minat khusus untuk pengamatan Burung Air Migran, sehingga dapat meningkatkan pendapatan ekonomi masyarakat sekitar Pantai Cemara dan TN Berbak-Sembilang. Promosi ini diharapkan juga menumbuhkan minat pengamatan burung (birdwatching) di kalangan pelajar dan masyarakat Provinsi Jambi, serta meningkatkan perhatian masyarakat dan Pemda Tanjabtim terhadap konservasi Pantai Cemara.

Kegiatan ini melibatkan para pemangku kepentingan yang terdiri dari Dinas Pariwisata Pemda Tanjabtim, Organisasi penggiat wisata di Jambi, mahasiswa dan mahasiswi Universitas Jambi, NGO lokal dan internasional (Gita Buana, Zoological Society of London dan Wetlands International Indonesia Program), serta masyarakat Desa Pantai Cemara.

Dalam kegiatan ini, tim pengamat burung migran menemukan 30 jenis burung air di Pantai Cemara dengan total populasi 13.357 individu yang didominasi oleh Biru-laut Ekor-blorok (Limosa lapponica), Biru-laut Ekor-hitam (Limosa limosa), Cerek-pasir Mongolia (Charadrius mongolus), Trinil Bedaran (Xenus cinereus), dan Kedidi Besar (Calidris tenuirostris).

Salah satu jenis Trinil yg teramati adalah Trinil Lumpur Asia (Limnodromus semipalmatus) dengan status IUCN near threaten, dimana jumlah populasinya di dunia diperkirakan hanya 23.000 ekor.  Dari 30 jenis Burung Air tersebut 2 Jenis merupakan jenis residen yaitu Kuntul Kecil (Egretta garzetta) dan Cangak Merah (Ardea purpurea).

Tim juga berhasil menemukan burung air migran yang diberi bendera oranye (dipasang di Victoria, Australia), bendera putih ( dipasang di North Island, New Zealand), dan bendera hitam-putih (dipasang di Chongming Dao-China).

Kawasan Pantai Cemara memiliki potensi sebagai obyek wisata namun memerlukan improvement berupa infrastruktur untuk memudahkan akses mencapai lokasi.  Keberadaan burung migran dapat menjadi daya Tarik wisata minat khusus bagi wisatawan dalam negeri dan luar negeri.  Saat ini untuk mencapai Pantai Cemara dapat dilakukan melalui darat menggunakan kendaraan roda dua atau melalui laut menggunakan speedboat. Namun masih sulit karena jalan dan jembatan yang rusak serta ombak yang tinggi pada musim angin barat (Oktober – April).

Beberapa hal perlu menjadi perhatian terhadap kondisi pantai Cemara adalah adanya abrasi yang tinggi dan aktivitas masyarakat yang menggunakan roda dua untuk mengambil kerang di pantai. Kedua hal ini dapat mengancam fungsi Pantai Cemara sebagai lokasi singgah Burung Air Migran.

Rekapitulasi Hasil Monitoring Burung Air Migran di Pantai Cemara

No. Nama Jenis Nama Lokal Jumlah Individu Keterangan
Pantai Cemara  
1 Egretta garzetta Kuntul kecil                        13 Residen
2 Ardea purpurea Cangak merah                          2 Residen
3 Actitis hypoleucos Trinil pantai                        31 Migran
4 Charadrius alexandrinus Cerek tilil                      654 Migran
5 Charadrius leschenaultii Cerek-pasir besar                      344 Migran
6 Charadrius mongolus Cerek-pasir Mongolia                   2.276 Migran
7 Charadrius dealbatus White-faced Plover                          4 Migran
8 Pluvialis fulva Cerek kernyut                        30 Migran
9 Pluvialis squatarola Cerek besar                      166 Migran
10 Calidris ferruginea Kedidi golgol                      108 Migran
11 Calidris tenuirostris Kedidi besar                   1.054 Migran
12 Calidris alba Kedidi putih                          6 Migran
13 Calidris ruficollis Kedidi leher-merah                        52 Migran
14 Xenus cinereus Trinil bedaran                   1.916 Migran
15 Tringa totanus Trinil kaki-merah                        44 Migran
16 Tringa nebularia Trinil kaki-hijau                      964 Migran
17 Tringa stagnatilis Trinil rawa                        48 Migran
18  Tringa glareola Trinil semak                          2 Migran
19 Limosa limosa Biru-laut ekor-hitam                   2.106 Migran
20 Limosa lapponica Biru-laut ekor-blorok                   3.368 Migran
21 Limnodromus semipalmatus Trinil lumpur Asia                        30 Migran
22 Numenius phaeopus Gajahan penggala                        14 Migran
23 Numenius arquata Gajahan besar                          5 Migran
24 Numenius madagascariensis Gajahan timur                          3 Migran
25 Sterna hirundo Dara-laut kecil                        47 Migran
26 Sterna albifrons Dara-laut kecil                          9 Migran
27 Sterna caspia Dara-laut Kaspia                        16 Migran
28 Sterna bengalensis Dara-laut Benggala                        15 Migran
29 Sterna bergii Dara-laut jambul                          7 Migran
30 Chlidonia hybridus Dara-laut kumis                        23 Migran
Jumlah total                13.357 Burung Lokal dan Migran 

 

Narahubung

Unit Manajemen Proyek Sumatran Tiger

Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan

Gd. Manggala Wanabakti, Blok 1, Lt.15, Ruang B7 Jl. Gatot Subroto, Senayan, Jakarta, 10270

Telp: +62 21 578 52990

Email: info@sumatrantiger.id

Area Perlindungan Intensif Dukung Peningkatan Populasi Harimau

Proyek Sumatran Tiger, Tim Taman Nasional Bukit Barisan Selatan (TNBBS) dan WCS-IP (Indonesia Program) bekerja sama melaksanakan patroli SMART dan pemasangan kamera perangkap (camera trap) guna mengamankan area perlindungan intensif (intensive protection zone) yang berperan penting dalam peningkatan populasi harimau sumatera di Taman Nasional Bukit Barisan Selatan.

Patroli pengawasan kawasan konservasi merupakan pendekatan utama untuk memastikan perlindungan keanekaragaman hayati di dalam kawasan konservasi.

Untuk memastikan efektivitas dari kegiatan patroli diperlukan sebuah sistem yang tidak hanya dapat digunakan untuk menangani aktivitas-aktivitas ilegal, tetapi juga sebuah sistem yang dapat menyimpan informasi hasil kegiatan patroli secara sistematis untuk kemudian digunakan dalam mengidentifikasi wilayah-wilayah yang rawan akan kegiatan ilegal.

Spatial Monitoring and Reporting Tool (SMART) adalah sistem yang didesain untuk menfasilitasi transformasi data patroli ke dalam bentuk spasial yang dapat memberikan memberikan informasi yang bermanfaat bagi pengelola kawasan konservasi dalam perencanaan kegiatan pengamanan maupun penegakan hukum.

Proyek Sumatran Tiger mendukung WCS dalam melaksanakan kegiatan patroli berbasis SMART di Taman Nasional Bukit Barisan Selatan (TNBBS), khususnya di Area Perlindungan Intensif (Intensive Protection Zones) yang mencakup 7 resor dari 17 resor yang ada di dalam kawasan Taman Nasional Bukit Barisan Selatan. Hal ini sejalan dengan upaya meningkatkan efektivitas pengelolaan kawasan konservasi prioritas di Sumatra yang menjadi salah satu komponen utama proyek.

Area Perlindungan Intensif atau Intensive Prodution Zones, diputuskan melalui Keputusan Direktur Jenderal PHKA No SK.152/IV-Set/2015 Tahun 2015 tentang Kebijakan Pembangunan Area Perlindungan Intensif (Intensive Protection Zone) sebagai upaya peningkatan populasi badak sumatera.

Pada perkembangannya penetapan IPZ tidak hanya bermanfaat bagi spesies badak namun juga bagi spesies kunci lain seperti harimau dan gajah sumatera.

Dari hasil survei kamera perangkap yang dilaksanakan oleh tim WCS, tingkat kepadatan populasi harimau meningkat dari 1,6 harimau/100 km2 pada 2002 menjadi 2,8 harimau /100 km2 pada 2015. Proporsi individu harimau jantan dan betina adalah 1:3.

WCS dan TN BBS dalam periode 21 Mei hingga 20 November 2015 telah menyelesaikan survei populasi harimau dan satwa mangsa dengan menggunakan kamera pengintai. Sebanyak 65 grid berhasil dipasangi kamera berhadapan dengan dua grid tidak bisa diambil data karena kamera hilang.

Hasil survei 2015 ini menjadi dasar untuk survei yang akan dilakukan pada 2018 guna menilai apakah populasi harimau mengalami peningkatan sejalan dengan semakin efektifnya pengamanan di kawasan konservasi.

Proyek Sumatran Tiger Tim mendukung 43 perjalanan (trips) patroli yang dilaksanakan oleh TNBBS dan WCS-IP dengan menempuh jarak 1.472, 33 km dan 229 hari patroli dalam periode Mei-September 2017.

Tim patroli menemukan 25 pelaku aktivitas illegal di wilayah ini dengan 17 pelaku ditemukan di wilayah IPZ dan 8 pelaku ditemukan di wilayah non-IPZ. Tim juga menemukan 70 kasus penggunaan kawasan hutan secara tidak syah di TN BBS dimana sebanyak 25 kasus berada di wilayah IPZ dan 45 kasus berada di kawasan Non-IPZ.

Kasus pembalakan liar yang ditemukan sebanyak 2 kasus (dua-duanya di wilayah Non-IPZ). Tim patroli menemukan 15 aktivitas perburuan (6 di IPZ dan 9 di non-IPS), 4 aktivitas pengambilan HHBK (1 di IPZ dan 3 di Non-IPZ), 19 akses jalan (4 di IPZ dan 15 di Non-IPZ) serta 46 alat & transportasi (27 di IPZ dan 19 di Non-IPZ).

Tim patroli telah memberi tindakan untuk aktivitas illegal tersebut termasuk mendokumentasikan dan memusnahkan jerat harimau dan satwa liar agar tidak bisa digunakan lagi.

@SumatranTigerID

TN Berbak Sembilang Gelar Workshop Ekosistem Lahan Basah

Jambi, 22 Nopember 2017 – Dalam rangka penyusunan Rencana Pengelolaan Jangka Panjang Kawasan Taman Nasional Berbak tahun 2018-2027, Balai Taman Nasional Berbak dan Sembilang melalui Proyek Sumatran Tiger – GEF – UNDP melaksanakan Workshop Ekosistem Lahan Basah Berbak dan Workshop Species Kunci Berbak yang dilaksanakan pada tanggal 21-22 Nopember 2017 di Hotel Odua Weston Jambi.

Kegiatan workshop ini ditujukan untuk mengeksplorasi data dan informasi terkait kawasan TN Berbak untuk merumuskan kembali nilai-nilai penting kawasan TN Berbak dalam penyusunan RPJP TN Berbak tahun 2018-2027 terutama terkait Konservasi lahan basah (wetland) dan species kunci yang merupakan nilai penting yang menjadi mandat utama ditetapkanya kawasan TN Berbak menjadi Taman Nasional.

Kegiatan ini dihadiri oleh stakeholder terkait dalam pengelolaan TN Berbak (Bappeda Propinsi, Dinas Kehutanan Propinsi, BKSDA Jambi, BTNBS, UPT Tahura Rangkayo Hitam, Bappeda Muara Jambi, Bappeda Tanjung Jabung Timur, ZSL, Gita Buana, Wetland Internasional Pinang Sebatang) kegiatan workshop tersebut melibatkan narasumber yang kompeten dalam bidang konservasi lahan basah dan spesies flora-fauna khususnya kawasan Berbak yaitu: Direktorat KK Ditjen KSDAE, Direktorat BPEE Ditjen KSDAE, Direktorat KKH Ditjen KSDAE, Sdr. Yus Rusila Noor- Wetland Internasional, Dr. Cherita Yunnia – Tenaga Ahli Kemenko Maritim, Nursanti-Universitas Jambi, Dr. Dolly Priyatna- member of Tapir Specialist Group-IUCN SSC, Sdr. Yoan Dinata-ZSL, Sdr. Iding Ahmad Haidir-Karya Siswa (S3) KemenLHK, Dr. Irawati-Peneliti LIPI, Dr. Asmadi Saad-Tenaga Ahli BRG, Nursanti, S.Hut, M.Si.-Pengajar Fakultas Kehutanan Universitas Jambi dan Sdr. Madari- Pelaku Sejarah TNB. Proses diskusi workshop dipandu oleh Kristiani Fajar Wianti-Pengajar Fakultas Kehutanan UGM.

Kegiatan workshop yang dilaksanakan selama dua hari ini dibuka secara resmi oleh Kepala Balai TN Berbak dan Sembilang Ir. Pratono Puroso, M.Sc

Pelaksanaan acara workshop ini diharapkan dapat memberikan rekomendasi untuk proyeksi pengelolaan ekosistem lahan basah dan spesies penting di TN Berbak kedepanya hingga terbentukanya satu Dokumen Rencana Pengelolaan Jangka Panjang (RPJP) sebagai pedoman dalam pengelolaan Kawasan TN Berbak.

Rencana Pengelolaan Jangka Panjang (RPJP) merupakan rencana pengelolaan yang disusun berdasarkan hasil inventarisasi potensi kawasan dan penataan kawasan dalam zona/blok dengan memperhatikan fungsi kawasan, aspirasi para pihak dan rencana pembangunan daerah. Rencana pengelolaan akan membantu pengelola untuk memenuhi mandat pengelolaan khusus yang telah ditetapkan bagi suatu kawasan konservasi. Mandat ini merupakan alasan utama perlindungan kawasan (key feature versi IUCN atau Outstanding Universal Value versi UNESCO) dan menjadi indikator utama keberhasilan pengelolaan.

@SumatranTigerID

BBTNKS Undang ‘Stakeholders’, Sinkronisasi Rencana Kerja 2018

Sungai Penuh, 9 November 2017 – Balai Besar Taman Nasional Kerinci Seblat duduk bersama dengan para pemangku kepentingan (stakeholders) guna membahas sinkronisasi rencana kerja di 2018.

Stakeholders dimaksud dalam hal ini adalah: pemerintahan daerah yang dihadiri oleh BPDAS HL Agam Kuantan; Perusahaan-perusahaan, yaitu PT. Tidar Kerinci Agung (TKA) di Bungo, PT. Supreme Energy Muara Labuh, PT. Tirta Sakti (PDAM) di Kerinci dan PT. Pertamina Geothermal Energy di Lempur; akademisi/ahli dari Universitas Andalas; proyek-proyek konservasi di Kawasan TNKS, yaitu Sumatran Tiger dan FP II (KfW); LSM FFI; LSM ICS di Solok Selatan; serta LSM Lingkar Institut di Bengkulu.

Pertemuan ini berlangsung selama 2 hari yaitu tanggal 8-9 November 2017, di Kota Sungai Penuh. Agenda hari pertama adalah pemaparan program kerja tahun 2018 dari semua peserta undangan, sedangkan agenda hari kedua adalah sinkronisasi rencana kerja tersebut. Sumber dana operasional kegiatan ini adalah Hibah Luar Negeri Proyek Transforming Effectiveness of Biodiversity Conservation in Sumatera Priority Landscapes (proyek Sumatran Tiger).

Sinkronisasi Rencana Kerja Tahun 2018 antara BBTNKS dengan stakeholders yang beraktivitas di dalam dan di sekitar kawasan TNKS memberikan manfaat tersendiri bagi pengelola kawasan TNKS.

Bagian penting yang menjadi tujuan pertemuan ini adalah untuk menghindari tumpang tindih program yang dapat mengakibatkan tidakefektifan. Program kerja yang dimiliki stakeholders BBTNKS diharapkan akan semakin menguatkan pengelolaan kawasan taman nasional. Hasil sinkronisasi rencana kerja tahun 2018 akan digunakan sebagai bahan/materi dalam pembuatan Dokumen Rencana Kerja Tahun 2018 BBTNKS.

Pelestarian kawasan konservasi merupakan tanggung jawab seluruh pihak, baik pengelola maupun para pihak yang menggunakan jasa lingkungan dari kawasan konservasi tersebut.

Pertemuan ini juga memberikan manfaat tersendiri bagi stakeholders yang diundang, sekaligus membuka wawasan terhadap upaya-upaya konservasi apa saja yang dapat diprogramkan di dalam dan di sekitar kawasan TNKS.

Dalam hal ini TNKS berharap untuk kedepannya akan semakin banyak mitra yang membuat program-program konservasi yang dilaksanakan khususnya di sekitar kawasan TNKS, semata-mata bagi pelestarian kawasan Taman Nasional Kerinci Seblat dan keanekaragaman hayati di dalamnya.

@SumatranTigerID