Sumatra Wide Tiger Survey 2018-2019 Dimulai

Jakarta, 13 Maret 2019 – Pemerintah Indonesia melalui Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) telah menargetkan peningkatan jumlah harimau sumatra sebanyak dua kali lipat pada 2022 – sebuah target yang tertuang dalam National Tiger Recovery Program (NTRP) 2010-2022. Salah satu upaya untuk memantau efektivitas upaya konservasi harimau sumatra dalam rangka mencapai target tersebut, KLHK bersama para mitra kerjanya melakukan pemantauan secara berkala dan sistematik melalui kegiatan Sumatra Wide Tiger Survey (SWTS).

SWTS pertama yang pernah dilaksanakan antara tahun 2007 hingga 2009 mengungkap bahwa 72% wilayah survei masih dihuni oleh harimau sumatra. Menurut banyak ahli, kondisi tersebut dikatakan masih baik. STWS pertama juga telah menjadi rujukan utama dalam penyusunan beberapa dokumen strategis konservasi harimau sumatra, baik dalam skala nasional maupun internasional.  Setelah kurang lebih 10 tahun, KLHK dan mitra kerja sedang melaksanakan SWTS kedua. Sesuai dengan fungsi utamanya, kegiatan STWS kedua ini dilaksanakan untuk mengevaluasi efektivitas upaya konservasi harimau sumatra yang telah berjalan dalam kurun waktu 10 tahun terakhir.

Direktur Jenderal KSDAE, Wiratno, memberikan arahan yang dibacakan oleh Direktur Bina Pengelolaan Ekosistem Esensial, Tandya Tjahjana, pada acara peluncuran survei tersebut di Hotel Menara Peninsula, 13 Maret 2019. “Kementerian LHK terus berkomitmen dan menjalin kerjasama yang baik dengan para pihak terkait dalam upaya pelestarian harimau sumatra di alam. Program konservasi juga berkembang dalam 10 tahun terakhir. Saya berharap dengan pelaksanaan kegiatan SWTS kedua ini, dukungan dan partisipasi aktif para pihak terhadap upaya pelestarian harimau sumatra dan satwa liar lainnya semakin meningkat dan dapat disinergikan dengan kebijakan pembangunan wilayah di daerah,” ujarnya.

Direktur Konservasi Keanekaragaman Hayati, Indra Exploitasia menyatakan bahwa kegiatan SWTS kedua ini penting untuk dilaksanakan mengingat semakin tingginya ancaman terhadap kelestarian harimau sumatra di alam. “Selain informasi terkait wilayah sebaran harimau sumatra, output yang diharapkan dari kegiatan STWS kedua yaitu terkait dengan data kondisi populasi dan sebaran satwa mangsa, penyakit dan genetik di seluruh kantong habitat harimau sumatra, sehingga dapat memetakan kesenjangan aktivitas konservasi yang dilakukan,” ujarnya. Selanjutnya seluruh data, informasi dan kajian hasil kegiatan SWTS nantinya akan terpusat di database Direktorat Jenderal KSDAE dan selanjutnya menjadi acuan arahan kebijakan konservasi tidak hanya harimau sumatra akan tetapi juga satwa badak, orangutan, gajah dan satwa liar lainnya di Pulau Sumatra.

Hariyo T. Wibisono, Koordinator Pelaksana SWTS menyatakan, “SWTS 2018-2019 adalah kegiatan survei satwa liar terbesar di dunia, baik dalam hal kemitraan, sumber daya manusia yang terlibat, maupun luasan wilayah. Sebanyak 74 tim survei (354 anggota tim) dari 30 lembaga diturunkan untuk melaksanakan survei di 23 wilayah sebaran harimau seluas 12,9 juta hektar, yang 6.4 juta hektar di antaranya adalah habitat yang disurvei pada SWTS pertama.” Tercatat 15 unit pelaksana teknis (UPT) KLHK, lebih dari 10 KPH, 21 LSM nasional dan internasional, dua universitas, dua perusahaan, dan 13 lembaga donor yang telah bergabung mendukung kegiatan SWTS.

Prof. Dr. Gono Semiadi, LIPI, menerangkan bahwa ada beberapa hal yang ingin dihasilkan dari SWTS kedua ini. “Kami mengharapkan dapat menemukan proporsi area yang menjadi wilayah hidup harimau, informasi mengenai keragaman genetika populasi di masing-masing kantong habitat, meningkatkan kapasitas teknis nasional, serta beberapa dokumen strategi konservasi harimau seperti yang dihasilkan oleh SWTS pertama.”

Survei ini tidak hanya melibatkan pemerintah namun juga seluruh pemangku kepentingan dalam upaya penyelamatan harimau. “Survei pada 2007-2009 adalah survei harimau pertama terbesar di dunia. Dengan kolaborasi di masa lalu yang berhasil, kami yakin bahwa saat ini kami bisa mengulang kembali kesuksesan lewat kerjasama yang baik lintas organisasi. Keterlibatan multipihak ini merupakan langkah maju dalam membangun disain konservasi yang komprehensif di level pemerintah pusat maupun pemerintah daerah,” ujar Munawar Kholis, Ketua Forum HarimauKita (FHK).

–##–

Kontak Media (narahubung):

  1. KKH, KLHK : Desy S. Chandradewi (+62 812-9542-679)
  2. Koordinator Pelaksana SWTS : Hariyo T. Wibisono (+62 812-1099-557)
  3. Ketua Forum HarimauKita : Munawar Kholis (+62 811-1101-281)

Buku Panduan Pemantauan Populasi Harimau Sumatera

Sumatran Tiger Project bekerja sama dengan Direktorat Konservasi Keanekaragaman Hayati, Direktorat Jenderal KSDAE, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, telah menerbitkan buku “Panduan Pemantauan Populasi Harimau Sumatera”. Bagi rekan-rekan yang berminat mendapatkan buku ini silahkan unduh melalui tautan berikut: “Panduan Pemantauan Populasi Harimau Sumatera”

@SumatranTigerID

Asian Waterbird Census 2018: Tim Temukan Burung Langka di Pantai Cemara

Dalam menyemarakkan Asian Waterbird Census 2018 yang berlangsung dari tanggal 6-21 Januari 2018, Indonesia melalui Balai TN Berbak-Sembilang dan Balai KSDA Jambi menyelenggarakan Monitoring Burung Air Migran di Pantai Cemara, Kabupaten Tanjung Jabung Timur (Tanjabtim), Provinsi Jambi, dari tanggal 15-17 Januari 2018. Kegiatan ini didukung oleh GEF-UNDP Sumatran Tiger Project.

Pantai Cemara diketahui sebagai salah satu lokasi singgah burung air migran yang sedang bermigrasi dari bagian utara ke bagian selatan bumi. Pantai Cemara juga merupakan bagian dari Berbak Ramsar Site sejak 1992, dan ditetapkan oleh Gubernur Jambi sebagai kawasan perlindungan burung air migran pada melalui SK Gubernur Jambi No.456 tahun 1996.

Kegiatan monitoring ini bertujuan untuk melakukan pendataan jenis dan jumlah populasi burung migran di Pantai Cemara dan mempromosikan Pantai Cemara sebagai salah satu lokasi wisata minat khusus untuk pengamatan Burung Air Migran, sehingga dapat meningkatkan pendapatan ekonomi masyarakat sekitar Pantai Cemara dan TN Berbak-Sembilang. Promosi ini diharapkan juga menumbuhkan minat pengamatan burung (birdwatching) di kalangan pelajar dan masyarakat Provinsi Jambi, serta meningkatkan perhatian masyarakat dan Pemda Tanjabtim terhadap konservasi Pantai Cemara.

Kegiatan ini melibatkan para pemangku kepentingan yang terdiri dari Dinas Pariwisata Pemda Tanjabtim, Organisasi penggiat wisata di Jambi, mahasiswa dan mahasiswi Universitas Jambi, NGO lokal dan internasional (Gita Buana, Zoological Society of London dan Wetlands International Indonesia Program), serta masyarakat Desa Pantai Cemara.

Dalam kegiatan ini, tim pengamat burung migran menemukan 30 jenis burung air di Pantai Cemara dengan total populasi 13.357 individu yang didominasi oleh Biru-laut Ekor-blorok (Limosa lapponica), Biru-laut Ekor-hitam (Limosa limosa), Cerek-pasir Mongolia (Charadrius mongolus), Trinil Bedaran (Xenus cinereus), dan Kedidi Besar (Calidris tenuirostris).

Salah satu jenis Trinil yg teramati adalah Trinil Lumpur Asia (Limnodromus semipalmatus) dengan status IUCN near threaten, dimana jumlah populasinya di dunia diperkirakan hanya 23.000 ekor.  Dari 30 jenis Burung Air tersebut 2 Jenis merupakan jenis residen yaitu Kuntul Kecil (Egretta garzetta) dan Cangak Merah (Ardea purpurea).

Tim juga berhasil menemukan burung air migran yang diberi bendera oranye (dipasang di Victoria, Australia), bendera putih ( dipasang di North Island, New Zealand), dan bendera hitam-putih (dipasang di Chongming Dao-China).

Kawasan Pantai Cemara memiliki potensi sebagai obyek wisata namun memerlukan improvement berupa infrastruktur untuk memudahkan akses mencapai lokasi.  Keberadaan burung migran dapat menjadi daya Tarik wisata minat khusus bagi wisatawan dalam negeri dan luar negeri.  Saat ini untuk mencapai Pantai Cemara dapat dilakukan melalui darat menggunakan kendaraan roda dua atau melalui laut menggunakan speedboat. Namun masih sulit karena jalan dan jembatan yang rusak serta ombak yang tinggi pada musim angin barat (Oktober – April).

Beberapa hal perlu menjadi perhatian terhadap kondisi pantai Cemara adalah adanya abrasi yang tinggi dan aktivitas masyarakat yang menggunakan roda dua untuk mengambil kerang di pantai. Kedua hal ini dapat mengancam fungsi Pantai Cemara sebagai lokasi singgah Burung Air Migran.

Rekapitulasi Hasil Monitoring Burung Air Migran di Pantai Cemara

No. Nama Jenis Nama Lokal Jumlah Individu Keterangan
Pantai Cemara  
1 Egretta garzetta Kuntul kecil                        13 Residen
2 Ardea purpurea Cangak merah                          2 Residen
3 Actitis hypoleucos Trinil pantai                        31 Migran
4 Charadrius alexandrinus Cerek tilil                      654 Migran
5 Charadrius leschenaultii Cerek-pasir besar                      344 Migran
6 Charadrius mongolus Cerek-pasir Mongolia                   2.276 Migran
7 Charadrius dealbatus White-faced Plover                          4 Migran
8 Pluvialis fulva Cerek kernyut                        30 Migran
9 Pluvialis squatarola Cerek besar                      166 Migran
10 Calidris ferruginea Kedidi golgol                      108 Migran
11 Calidris tenuirostris Kedidi besar                   1.054 Migran
12 Calidris alba Kedidi putih                          6 Migran
13 Calidris ruficollis Kedidi leher-merah                        52 Migran
14 Xenus cinereus Trinil bedaran                   1.916 Migran
15 Tringa totanus Trinil kaki-merah                        44 Migran
16 Tringa nebularia Trinil kaki-hijau                      964 Migran
17 Tringa stagnatilis Trinil rawa                        48 Migran
18  Tringa glareola Trinil semak                          2 Migran
19 Limosa limosa Biru-laut ekor-hitam                   2.106 Migran
20 Limosa lapponica Biru-laut ekor-blorok                   3.368 Migran
21 Limnodromus semipalmatus Trinil lumpur Asia                        30 Migran
22 Numenius phaeopus Gajahan penggala                        14 Migran
23 Numenius arquata Gajahan besar                          5 Migran
24 Numenius madagascariensis Gajahan timur                          3 Migran
25 Sterna hirundo Dara-laut kecil                        47 Migran
26 Sterna albifrons Dara-laut kecil                          9 Migran
27 Sterna caspia Dara-laut Kaspia                        16 Migran
28 Sterna bengalensis Dara-laut Benggala                        15 Migran
29 Sterna bergii Dara-laut jambul                          7 Migran
30 Chlidonia hybridus Dara-laut kumis                        23 Migran
Jumlah total                13.357 Burung Lokal dan Migran 

 

Narahubung

Unit Manajemen Proyek Sumatran Tiger

Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan

Gd. Manggala Wanabakti, Blok 1, Lt.15, Ruang B7 Jl. Gatot Subroto, Senayan, Jakarta, 10270

Telp: +62 21 578 52990

Email: info@sumatrantiger.id

Area Perlindungan Intensif Dukung Peningkatan Populasi Harimau

Proyek Sumatran Tiger, Tim Taman Nasional Bukit Barisan Selatan (TNBBS) dan WCS-IP (Indonesia Program) bekerja sama melaksanakan patroli SMART dan pemasangan kamera perangkap (camera trap) guna mengamankan area perlindungan intensif (intensive protection zone) yang berperan penting dalam peningkatan populasi harimau sumatera di Taman Nasional Bukit Barisan Selatan.

Patroli pengawasan kawasan konservasi merupakan pendekatan utama untuk memastikan perlindungan keanekaragaman hayati di dalam kawasan konservasi.

Untuk memastikan efektivitas dari kegiatan patroli diperlukan sebuah sistem yang tidak hanya dapat digunakan untuk menangani aktivitas-aktivitas ilegal, tetapi juga sebuah sistem yang dapat menyimpan informasi hasil kegiatan patroli secara sistematis untuk kemudian digunakan dalam mengidentifikasi wilayah-wilayah yang rawan akan kegiatan ilegal.

Spatial Monitoring and Reporting Tool (SMART) adalah sistem yang didesain untuk menfasilitasi transformasi data patroli ke dalam bentuk spasial yang dapat memberikan memberikan informasi yang bermanfaat bagi pengelola kawasan konservasi dalam perencanaan kegiatan pengamanan maupun penegakan hukum.

Proyek Sumatran Tiger mendukung WCS dalam melaksanakan kegiatan patroli berbasis SMART di Taman Nasional Bukit Barisan Selatan (TNBBS), khususnya di Area Perlindungan Intensif (Intensive Protection Zones) yang mencakup 7 resor dari 17 resor yang ada di dalam kawasan Taman Nasional Bukit Barisan Selatan. Hal ini sejalan dengan upaya meningkatkan efektivitas pengelolaan kawasan konservasi prioritas di Sumatra yang menjadi salah satu komponen utama proyek.

Area Perlindungan Intensif atau Intensive Prodution Zones, diputuskan melalui Keputusan Direktur Jenderal PHKA No SK.152/IV-Set/2015 Tahun 2015 tentang Kebijakan Pembangunan Area Perlindungan Intensif (Intensive Protection Zone) sebagai upaya peningkatan populasi badak sumatera.

Pada perkembangannya penetapan IPZ tidak hanya bermanfaat bagi spesies badak namun juga bagi spesies kunci lain seperti harimau dan gajah sumatera.

Dari hasil survei kamera perangkap yang dilaksanakan oleh tim WCS, tingkat kepadatan populasi harimau meningkat dari 1,6 harimau/100 km2 pada 2002 menjadi 2,8 harimau /100 km2 pada 2015. Proporsi individu harimau jantan dan betina adalah 1:3.

WCS dan TN BBS dalam periode 21 Mei hingga 20 November 2015 telah menyelesaikan survei populasi harimau dan satwa mangsa dengan menggunakan kamera pengintai. Sebanyak 65 grid berhasil dipasangi kamera berhadapan dengan dua grid tidak bisa diambil data karena kamera hilang.

Hasil survei 2015 ini menjadi dasar untuk survei yang akan dilakukan pada 2018 guna menilai apakah populasi harimau mengalami peningkatan sejalan dengan semakin efektifnya pengamanan di kawasan konservasi.

Proyek Sumatran Tiger Tim mendukung 43 perjalanan (trips) patroli yang dilaksanakan oleh TNBBS dan WCS-IP dengan menempuh jarak 1.472, 33 km dan 229 hari patroli dalam periode Mei-September 2017.

Tim patroli menemukan 25 pelaku aktivitas illegal di wilayah ini dengan 17 pelaku ditemukan di wilayah IPZ dan 8 pelaku ditemukan di wilayah non-IPZ. Tim juga menemukan 70 kasus penggunaan kawasan hutan secara tidak syah di TN BBS dimana sebanyak 25 kasus berada di wilayah IPZ dan 45 kasus berada di kawasan Non-IPZ.

Kasus pembalakan liar yang ditemukan sebanyak 2 kasus (dua-duanya di wilayah Non-IPZ). Tim patroli menemukan 15 aktivitas perburuan (6 di IPZ dan 9 di non-IPS), 4 aktivitas pengambilan HHBK (1 di IPZ dan 3 di Non-IPZ), 19 akses jalan (4 di IPZ dan 15 di Non-IPZ) serta 46 alat & transportasi (27 di IPZ dan 19 di Non-IPZ).

Tim patroli telah memberi tindakan untuk aktivitas illegal tersebut termasuk mendokumentasikan dan memusnahkan jerat harimau dan satwa liar agar tidak bisa digunakan lagi.

@SumatranTigerID

TN Berbak Sembilang Gelar Workshop Ekosistem Lahan Basah

Jambi, 22 Nopember 2017 – Dalam rangka penyusunan Rencana Pengelolaan Jangka Panjang Kawasan Taman Nasional Berbak tahun 2018-2027, Balai Taman Nasional Berbak dan Sembilang melalui Proyek Sumatran Tiger – GEF – UNDP melaksanakan Workshop Ekosistem Lahan Basah Berbak dan Workshop Species Kunci Berbak yang dilaksanakan pada tanggal 21-22 Nopember 2017 di Hotel Odua Weston Jambi.

Kegiatan workshop ini ditujukan untuk mengeksplorasi data dan informasi terkait kawasan TN Berbak untuk merumuskan kembali nilai-nilai penting kawasan TN Berbak dalam penyusunan RPJP TN Berbak tahun 2018-2027 terutama terkait Konservasi lahan basah (wetland) dan species kunci yang merupakan nilai penting yang menjadi mandat utama ditetapkanya kawasan TN Berbak menjadi Taman Nasional.

Kegiatan ini dihadiri oleh stakeholder terkait dalam pengelolaan TN Berbak (Bappeda Propinsi, Dinas Kehutanan Propinsi, BKSDA Jambi, BTNBS, UPT Tahura Rangkayo Hitam, Bappeda Muara Jambi, Bappeda Tanjung Jabung Timur, ZSL, Gita Buana, Wetland Internasional Pinang Sebatang) kegiatan workshop tersebut melibatkan narasumber yang kompeten dalam bidang konservasi lahan basah dan spesies flora-fauna khususnya kawasan Berbak yaitu: Direktorat KK Ditjen KSDAE, Direktorat BPEE Ditjen KSDAE, Direktorat KKH Ditjen KSDAE, Sdr. Yus Rusila Noor- Wetland Internasional, Dr. Cherita Yunnia – Tenaga Ahli Kemenko Maritim, Nursanti-Universitas Jambi, Dr. Dolly Priyatna- member of Tapir Specialist Group-IUCN SSC, Sdr. Yoan Dinata-ZSL, Sdr. Iding Ahmad Haidir-Karya Siswa (S3) KemenLHK, Dr. Irawati-Peneliti LIPI, Dr. Asmadi Saad-Tenaga Ahli BRG, Nursanti, S.Hut, M.Si.-Pengajar Fakultas Kehutanan Universitas Jambi dan Sdr. Madari- Pelaku Sejarah TNB. Proses diskusi workshop dipandu oleh Kristiani Fajar Wianti-Pengajar Fakultas Kehutanan UGM.

Kegiatan workshop yang dilaksanakan selama dua hari ini dibuka secara resmi oleh Kepala Balai TN Berbak dan Sembilang Ir. Pratono Puroso, M.Sc

Pelaksanaan acara workshop ini diharapkan dapat memberikan rekomendasi untuk proyeksi pengelolaan ekosistem lahan basah dan spesies penting di TN Berbak kedepanya hingga terbentukanya satu Dokumen Rencana Pengelolaan Jangka Panjang (RPJP) sebagai pedoman dalam pengelolaan Kawasan TN Berbak.

Rencana Pengelolaan Jangka Panjang (RPJP) merupakan rencana pengelolaan yang disusun berdasarkan hasil inventarisasi potensi kawasan dan penataan kawasan dalam zona/blok dengan memperhatikan fungsi kawasan, aspirasi para pihak dan rencana pembangunan daerah. Rencana pengelolaan akan membantu pengelola untuk memenuhi mandat pengelolaan khusus yang telah ditetapkan bagi suatu kawasan konservasi. Mandat ini merupakan alasan utama perlindungan kawasan (key feature versi IUCN atau Outstanding Universal Value versi UNESCO) dan menjadi indikator utama keberhasilan pengelolaan.

@SumatranTigerID

BBTNKS Undang ‘Stakeholders’, Sinkronisasi Rencana Kerja 2018

Sungai Penuh, 9 November 2017 – Balai Besar Taman Nasional Kerinci Seblat duduk bersama dengan para pemangku kepentingan (stakeholders) guna membahas sinkronisasi rencana kerja di 2018.

Stakeholders dimaksud dalam hal ini adalah: pemerintahan daerah yang dihadiri oleh BPDAS HL Agam Kuantan; Perusahaan-perusahaan, yaitu PT. Tidar Kerinci Agung (TKA) di Bungo, PT. Supreme Energy Muara Labuh, PT. Tirta Sakti (PDAM) di Kerinci dan PT. Pertamina Geothermal Energy di Lempur; akademisi/ahli dari Universitas Andalas; proyek-proyek konservasi di Kawasan TNKS, yaitu Sumatran Tiger dan FP II (KfW); LSM FFI; LSM ICS di Solok Selatan; serta LSM Lingkar Institut di Bengkulu.

Pertemuan ini berlangsung selama 2 hari yaitu tanggal 8-9 November 2017, di Kota Sungai Penuh. Agenda hari pertama adalah pemaparan program kerja tahun 2018 dari semua peserta undangan, sedangkan agenda hari kedua adalah sinkronisasi rencana kerja tersebut. Sumber dana operasional kegiatan ini adalah Hibah Luar Negeri Proyek Transforming Effectiveness of Biodiversity Conservation in Sumatera Priority Landscapes (proyek Sumatran Tiger).

Sinkronisasi Rencana Kerja Tahun 2018 antara BBTNKS dengan stakeholders yang beraktivitas di dalam dan di sekitar kawasan TNKS memberikan manfaat tersendiri bagi pengelola kawasan TNKS.

Bagian penting yang menjadi tujuan pertemuan ini adalah untuk menghindari tumpang tindih program yang dapat mengakibatkan tidakefektifan. Program kerja yang dimiliki stakeholders BBTNKS diharapkan akan semakin menguatkan pengelolaan kawasan taman nasional. Hasil sinkronisasi rencana kerja tahun 2018 akan digunakan sebagai bahan/materi dalam pembuatan Dokumen Rencana Kerja Tahun 2018 BBTNKS.

Pelestarian kawasan konservasi merupakan tanggung jawab seluruh pihak, baik pengelola maupun para pihak yang menggunakan jasa lingkungan dari kawasan konservasi tersebut.

Pertemuan ini juga memberikan manfaat tersendiri bagi stakeholders yang diundang, sekaligus membuka wawasan terhadap upaya-upaya konservasi apa saja yang dapat diprogramkan di dalam dan di sekitar kawasan TNKS.

Dalam hal ini TNKS berharap untuk kedepannya akan semakin banyak mitra yang membuat program-program konservasi yang dilaksanakan khususnya di sekitar kawasan TNKS, semata-mata bagi pelestarian kawasan Taman Nasional Kerinci Seblat dan keanekaragaman hayati di dalamnya.

@SumatranTigerID

Ke Way Canguk Kami Akan Kembali

UNDP Regional Office di Bangkok diwakili oleh Tashi Dorji, Regional Technical Advisor (RTA) UNDP bersama dengan tim dari Proyek Sumatran Tiger, GEF, Biro Kerjasama Luar Negeri, Direktorat Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem KLHK dan UNDP Indonesia baru saja menyelesaikan kunjungan ke bentang alam Bukit Barisan Selatan, yang menjadi salah satu lokasi Proyek Sumatran Tiger.

Kunjungan lapangan ini dilaksanakan selama empat hari dari tanggal 20-23 Oktober 2017. Pada hari pertama, Jum’at, 20 Oktober 2017, tim berangkat dari Jakarta menuju Lampung melalui perjalanan udara dilanjutkan dengan perjalanan darat menuju Kota Agung, Kabupaten Tanggamus, yang menjadi lokasi Kantor Balai Besar Taman Nasional Bukit Barisan Selatan (TN BBS).

Agus Wahyudiono, Kepala Balai Besar TN BBS dan Ismanto, Kepala Bidang Teknik Konservasi Balai Besar TN BBS sekaligus Pejabat Pembuat Komitmen Proyek Sumatran Tiger bersama staf dan mitra LSM menyambut tim dengan hangat dan berdiskusi membahas upaya konservasi di Balai Besar TN BBS.

Dalam diskusi tersebut Agus menyatakan, kerja sama dengan mitra taman nasional sangat penting karena tidak semua kegiatan di balai besar bisa dibiayai oleh Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN). “Kerja sama yang baik dengan mitra-mitra taman nasional diperlukan untuk meningkatkan indikator kinerja tiga spesies kunci yaitu harimau sumatera, gajah dan badak,” tuturnya.

Selain bermitra dengan Balai Besar Taman Nasional Bukit Barisan Selatan (BB TN BBS), Proyek Sumatran Tiger juga menggandeng Wildlife Conservation Society (WCS) di bentang alam ini. Tashi Dorji beserta tim berkesempatan mengunjungi kantor WCS setelah berdikusi dengan Balai Besar TN BBS.

WCS memiliki Wildlife Response Unit (WRU) yang bertugas mengurangi konflik antara manusia dan harimau yang terjadi di desa-desa di sekitar taman nasional. WCS juga memiliki tim patroli SMART yang bekerja sama dengan balai melakukan pemantauan dan pengawasan di wilayah TN BBS. Proyek Sumatran Tiger turut mendukung inisiatif-inisiatif tersebut.

Dua diskusi dengan mitra menjadi pembuka kegiatan kami di bentang alam Bukit Barisan Selatan. Keesokan harinya pada Sabtu pagi, 21 Oktober 2017, kami berkesempatan mengunjungi Stasiun Penelitian Way Canguk yang dikelola oleh WCS. Stasiun penelitian ini terletak di Taman Nasional Bukit Barisan Selatan bagian selatan.

Perjalanan menuju Way Canguk harus kami tempuh menyebrangi sungai besar dan beberapa sungai kecil, menerobos hutan belantara untuk mencapai pusat penelitian ini.

Perjalanan menuju ke Way Canguk berjalan lancar. Sungai Pemerihan bisa kami sebrangi dengan berjalan kaki. Tim WCS, polisi hutan, Balai Besar Taman Nasional Bukit Barisan Selatan mendampingi kami sepanjang perjalanan. Diperlukan waktu sekitar dua jam bagi seluruh tim untuk mencapai Pusat Penelitian Way Canguk.

Pusat penelitian Way Canguk memiliki empat bangunan utama yang berfungsi sebagai tempat menginap, perpustakaan, lokasi riset, sekaligus kantor. Satu bangunan lagi digunakan untuk dapur dan tempat makan bersama. Kami tiba di lokasi di tengah hujan gerimis sekitar jam 12.00 siang.

Setelah istirahat dan makan siang, pada sore hari sekitar jam 15.00, Tashi Dorji bersama anggota tim kembali masuk hutan untuk melihat lokasi pengamatan tumbuhan dan satwa liar bersama dengan tim WCS, polisi hutan dan tim BB TNBBS.

Sepanjang perjalanan, Tashi beserta tim sempat mengamati beberapa pohon raksasa dan jejak satwa liar seperti babi hutan, rusa, bertemu dengan owa dan siamang dan melihat lokasi sarang burung rangkong yang terancam oleh perburuan liar. Tashi juga sempat merasakan air tawar dari akar merah yang sering dikonsumsi oleh tim patroli hutan saat mereka kesulitan menemukan sumber air tawar yang bersih.

Tim WCS di Pusat Penelitian Way Canguk berhasil mengidentifikasi 348 jenis pohon, 56 jenis mamalia (8 jenis primata), 47 jenis katak, 7 jenis reptil dan 207 jenis burung yang menjadi bagian dari keanekaragaman hayati wilayah ini.

Setelah mengunjungi pusat pengamatan lapangan WCS, kami kemudian kembali ke Stasiun Penelitian Way Canguk untuk berdiskusi, beristirahat dan bermalam. Hujan deras menyirami bumi Way Canguk Sabtu malam. Hujan terus mengguyur hingga Minggu pagi hari.

Derasnya hujan membuat anggota tim khawatir atas kondisi Sungai Pemerihan. Kekhawatiran ini terbukti karena air Sungai Pemerihan yang sebelumnya bisa kami lewati dengan berjalan kaki, hari itu meluap akibat hujan deras yang mengguyur sepanjang malam hingga pagi hari.

Namun kekhawatiran itu bisa teratasi oleh kesigapan tim WCS dan Balai Besar Taman Nasional Bukit Barisan Selatan yang sudah mempersiapkan fasilitas penyebrangan darurat menggunakan ban dalam traktor dibantu dengan tali pengaman dan pelampung untuk semua anggota tim.

Menyebrang sungai di tengah arus yang deras menjadi pengalaman yang tidak terlupakan bagi seluruh anggota tim. Proses penyebrangan ini kami rekam dalam video yang akan kami tayangkan di jaringan komunikasi Sumatran Tiger.

Setelah berhasil menyebrang Sungai Pemerihan dengan selamat, kami kembali berjalan kaki menuju titik berkumpul di Desa Pemerihan untuk membersihkan diri. Baju, celana dan sepatu boots kami semuanya basah dan kotor penuh lumpur. Kami juga harus mengecek keberadaan pacet, binatang pengisap darah, yang menempel di tubuh kami, walau jumlahnya tak lagi sebanyak saat kami tiba di Stasiun Penelitian Way Canguk sehari sebelumnya.

Setelah membersihkan diri, Tashi dan seluruh anggota tim mengunjungi Rhino Camp yang dikelola oleh Yayasan Badak Indonesia dan Pekon Margo Mulyo. Di Pekon atau Desa Margo Mulyo ini, WCS bekerja sama dengan Proyek Sumatran Tiger mengembangkan kandang ternak anti harimau (tiger-proof enclosures/TPE) guna mencegah terjadinya konflik harimau dan satwa liar. Ternak adalah salah satu aset perekonomian utama yang dimiliki oleh penduduk.

Menurut Firdaus Rahman, Landscape Program Manager Bukit Barisan Selatan, WCS Indonesia Program, WCS mencatat, dari awal tahun 2016 hingga Oktober 2017, telah terjadi 46 kasus konflik manusia dan harimau (KMH) di desa-desa di sekitar Taman Nasional Bukit Barisan Selatan.

Menurut Pak Sairin, penduduk desa yang kandangnya menjadi lokasi percontohan TPE, konflik satwa liar tidak hanya terjadi dengan harimau, namun juga dengan satwa-satwa liar lain, seperti beruang. “Beruang sering menyerang ternak kami, menghisap darahnya hingga mati,” ujarnya. Sehingga keberadaan TPE sangat bermanfaat untuk mengurangi konflik satwa liar.

Manfaat lain diungkapkan oleh Ibu Sugiati, istri Pak Sairin. Ketika satwa liar gagal menyerang ternak di kandang TPE yang sudah terlindungi, satwa liar cenderung tidak kembali dan mencari target di kandang lain yang belum menerapkan sistem TPE. Efeknya, ia dan anak-anak merasa lebih aman. “Kami sekarang tidak lagi takut keluar pada pagi dan malam hari untuk berkebun, belajar dan beraktivitas,” tuturnya.

Proyek Sumatran Tiger hingga akhir masa proyek pada 2020, akan terus bekerja sama dengan para pemangku kepentingan untuk meningkatkan aksi konservasi di Bukit Barisan Selatan.

Sinergi bersama WCS, Balai Besar Taman Nasional Bukit Barisan Selatan, pemerintah pusat, pemerintah daerah dan masyarakat diperlukan untuk menciptakan solusi konservasi yang berkelanjutan. Bukti-bukti sinergi tersebut kami temukan dalam kunjungan kami kali ini. Kunjungan yang sangat berkesan. Ke Way Canguk, kami akan kembali.

@SumatranTigerID

 

TN Kerinci Seblat Fasilitasi Pelatihan Komunikasi

Sungai Penuh, 5 Oktober 2016 – Proyek Sumatran Tiger menggelar pelatihan komunikasi dan advokasi dengan tema “Mewujudkan Generasi Pelindung Harimau Sumatera” yang diselenggarakan pada hari Kamis, 5 Oktober 2017 di Hotel Kerinci, Sungai Penuh, Provinsi Jambi, Sumatera.

Kepala Bagian Tata Usaha Balai Besar Taman Nasional Kerinci Seblat, Agusman, S.P. M.Sc membuka acara pelatihan yang diikuti oleh 29 peserta ini. “Kami berterima kasih atas inisiatif Proyek Sumatran Tiger melaksanakan pelatihan komunikasi dan advokasi ini. Taman Nasional sangat memerlukan bantuan para mitra untuk menggaungkan pentingnya konservasi harimau sumatera,” ujarnya.

Acara pelatihan ini melibatkan wartawan, staf humas masyarakat (humas), komunitas pecinta lingkungan, perwakilan Direktorat Konservasi Keanekaragaman Hayati (KKH) dan perwakilan Global Environment Facility (GEF).

Dalam kesempatan pertama Dr. Wilson Novarino, ahli harimau dari Universitas Andalas menyampaikan perkembangan terbaru kondisi spesies harimau sumatera, populasinya, tantangan dalam upaya konservasi harimau sumatera.

Secara khusus Dr. Wilson juga mengupas manfaat pelestarian populasi harimau sumatera dalam menjaga keseimbangan ekosistem. Menurut Dr. Wilson harimau memiliki peran ekologis dan sosial. “Ketika harimau musnah, akan musnah pula kebanggan dan kebudayaannya,” ujarnya.

Sebagai predator utama, menurut Dr. Wilson, harimau menjaga keseimbangan keanekaragaman hayati dengan mengontrol populasi satwa yang menjadi mangsanya seperti babi hutan. Jika tidak terkontrol, populasi babi hutan berpotensi merusak ekosistem dalam hutan terutama saat mereka membuat sarang. “Harga kulit harimau tidak sebanding dengan nilai kerugian akibat kerusakan lingkungan dan bencana, saat populasi harimau berkurang,” tuturnya.

Setelah peserta mendapatkan informasi terbaru mengenai harimau sumatera, Hizbullah Arief, Communication and Reporting Specialist dari Project Management Unit (PMU) Sumatran Tiger, Jakarta, memaparkan strategi komunikasi dan advokasi pelestarian harimau sumatera .

Menurut Arief, semua pihak bisa saling berbagi peran dalam mengkomunikasikan dan menggaungkan isu konservasi harimau sumatera. Arief kemudian memaparkan 10 strategi guna menciptakan berita yang positif yang memberikan solusi dan inspirasi kepada masyarakat.

Peran masing-masing pihak ini dijabarkan dalam pelatihan advokasi yang bertujuan mengubah sikap dan perilaku masyarakat agar mendukung upaya konservasi harimau sumatera, spesies yang menjadi sImbol keseimbangan dan kesehatan ekosistem di pulau Sumatera.

Kampanye #WeAreTigers

Selain pelatihan komunikasi dan advokasi, Proyek Sumatran Tiger juga meluncurkan kampanye sosial media dengan tagar #WeAreTigers – Kami adalah Generasi Pelindung Harimau dengan melibatkan semua peserta.

Semua peserta pelatihan adalah champion yang ke depannya berkomitmen membantu kampanye dan aksi konservasi harimau sumatera, habitatnya dan pelestarian ekosistem di Sumatera.

Kampanye ini sekaligus menjadi awal terbentuknya forum komunikasi harimau sumatera di Kerinci Seblat yang bertujuan untuk mendekatkan jaringan komunikasi resmi pemerintah dan taman nasional dengan awak media dan komunitas, untuk mendukung upaya penegakan hukum, penciptaan kesadaran di masyarakat akan pentingnya konservasi harimau sumatera.

Dalam acara ini setiap peserta mendapatkan PIN khusus #WeAreTigers sebagai bukti mereka menjadi bagian dari jaringan Generasi Pelindung Harimau Sumatera.

Acara ini kemudian ditutup dengan foto bersama para champion yang bertekad untuk menerapkan hasil pelatihan komunikasi dan advokasi dalam mendukung aksi dan kampanye konservasi harimau Sumatera.

Acara pelatihan ini selanjutnya juga akan dilaksanakan di 3 bentang alam lain yang menjadi lokasi Proyek Sumatran Tiger yaitu di Gunung Leuser, Berbak Sembilang dan Bukit Barisan Selatan.

@SumatranTigerID

Konflik Manusia dan Harimau Memuncak di 2010

Konflik manusia dan harimau terus meningkat dari tahun 2001 dan mencapai puncaknya pada tahun 2010. Pada tahun tersebut tercatat 162 konflik yang terjadi didominasi oleh kasus harimau memangsa ternak dan harimau berkeliaran di sekitar desa atau pemukiman penduduk.

Setelah tahun 2010, jumlah insiden konflik manusia dan harimau terus menurun hingga 2016. Penurunan jumlah konflik manusia dan harimau ini kemungkinan dipicu oleh peningkatan jumlah harimau yang dibunuh dan dipindahkan.

Dalam periode 2001-2016, jumlah harimau yang mati dibunuh dan dipindahkan terus meningkat. Tercatat 130 harimau yang mati akibat konflik antara manusia dan harimau. Hanya 5 harimau yang dipindahkan ke lokasi konservasi lain paska konflik. Sebanyak 43 harimau dikirim ke kebun binatang.

Jumlah harimau yang lari paska konflik mencapai 879 harimau. dari jumlah tersebut sebanyak 8 harimau lari dalam kondisi terluka. Jumlah harimau yang mati dan dipindahkan ini bisa berdampak negatif terhadap populasi harimau.

@SumatranTigerID

Konflik Manusia dan Harimau dalam Angka

Baru-baru ini kita membaca kasus seekor harimau sumatera betina yang tewas akibat jerat satwa liar yang dipasang pemburu di kawasan hutan Taman Nasional Gunung Leuser. Jenis konflik ini hanyalah salah satu dari empat konflik manusia dan harimau sumatera.

Ada empat jenis konflik manusia dan harimau. Yang pertama adalah insiden harimau liar atau (stray tiger incidents) saat harimau ditemukan berkeliaran di sekitar pemukiman penduduk atau desa sehingga menimbulkan ketakutan namun tidak ada korban baik dari sisi manusia maupun harimaunya.

Jenis konflik kedua saat harimau memangsa ternak sehingga ternak terluka atau terbunuh (livestock attack). Jenis konflik ketiga adalah saat harimau menyerang manusia yang mengakibatkan korban terluka atau terbunuh (human attack). Dan jenis konflik keempat saat harimau dibunuh oleh manusia baik dengan racun, jerat, senapan atau alat-alat lain yang menyebabkan kematian harimau (tiger being killed).

Dari data yang diperoleh dalam buku “Spatio – Temporal Patterns of Human Tiger Conflicts in Sumatra 2001 – 2016”, konflik keempat dimana harimau dibunuh oleh manusia dengan jerat, racun atau alat-alat lain menempati posisi terakhir dalam jumlah konflik manusia dan harimau.

Berdasarkan data yang dikumpulkan dari tahun 2001-2016, tercatat 1065 kasus konflik antara manusia dan harimau di seluruh wilayah pulau Sumatera.

Jumlah konflik terbanyak adalah konflik harimau memangsa ternak dengan 376 kasus. Kasus terbanyak kedua adalah insiden harimau liar yang berkeliaran di sekitar pemukiman penduduk/desa dengan jumlah 375 kasus.

Kasus manusia diserang langsung oleh harimau sehingga manusia terluka atau terbunuh berjumlah 184 kasus. Sementara kasus harimau mati akibat jerat, racun, tembakan senapan dan alat-alat lainnya mencapai 130 kasus.

@SumatranTigerID

Page 1 of 212