Konflik Manusia dan Harimau dalam Angka

Baru-baru ini kita membaca kasus seekor harimau sumatera betina yang tewas akibat jerat satwa liar yang dipasang pemburu di kawasan hutan Taman Nasional Gunung Leuser. Jenis konflik ini hanyalah salah satu dari empat konflik manusia dan harimau sumatera.

Ada empat jenis konflik manusia dan harimau. Yang pertama adalah insiden harimau liar atau (stray tiger incidents) saat harimau ditemukan berkeliaran di sekitar pemukiman penduduk atau desa sehingga menimbulkan ketakutan namun tidak ada korban baik dari sisi manusia maupun harimaunya.

Jenis konflik kedua saat harimau memangsa ternak sehingga ternak terluka atau terbunuh (livestock attack). Jenis konflik ketiga adalah saat harimau menyerang manusia yang mengakibatkan korban terluka atau terbunuh (human attack). Dan jenis konflik keempat saat harimau dibunuh oleh manusia baik dengan racun, jerat, senapan atau alat-alat lain yang menyebabkan kematian harimau (tiger being killed).

Dari data yang diperoleh dalam buku “Spatio – Temporal Patterns of Human Tiger Conflicts in Sumatra 2001 – 2016”, konflik keempat dimana harimau dibunuh oleh manusia dengan jerat, racun atau alat-alat lain menempati posisi terakhir dalam jumlah konflik manusia dan harimau.

Berdasarkan data yang dikumpulkan dari tahun 2001-2016, tercatat 1065 kasus konflik antara manusia dan harimau di seluruh wilayah pulau Sumatera.

Jumlah konflik terbanyak adalah konflik harimau memangsa ternak dengan 376 kasus. Kasus terbanyak kedua adalah insiden harimau liar yang berkeliaran di sekitar pemukiman penduduk/desa dengan jumlah 375 kasus.

Kasus manusia diserang langsung oleh harimau sehingga manusia terluka atau terbunuh berjumlah 184 kasus. Sementara kasus harimau mati akibat jerat, racun, tembakan senapan dan alat-alat lainnya mencapai 130 kasus.

@SumatranTigerID

Tiger Dukung Pengembangan Sistem SMART

Proyek Sumatran Tiger memberikan bantuan berupa perangkat komputer yang akan dipakai untuk pangkalan data patroli SMART. Peralatan komputer yang disediakan adalah: 4 unit Desktop komputer dilengkapi dengan UPS, 4 unit printer laserjet, 4 unit wifi portabel dan 1 unit scanner ADF (Automatic Document Feeder).

Dengan tersedianya peralatan komputer database SMART, data kegiatan patroli dapat direkam secara baik sehingga kegiatan patroli dapat dipantau dan dianalisis untuk perencanaan dan peningkatan patroli.

Tersedianya peralatan komputer untuk pusat data SMART merupakan tahap awal untuk membangun sistem SMART di Taman Nasional Berbak Sembilang (TNBS). TNBS akan menetapkan personil yang menjadi operator SMART melalui surat keputusan kepala balai.

Selanjutnya akan dilakukan pelatihan operator SMART oleh mitra Organisasi Internasional Non Pemerintah yaitu Zoological Society of London (ZSL). Penyerahan komputer akan dilakukan setelah pelatihan penerapan SMART pada 21-25 Agustus ini.

Dalam rangka membangun sistem SMART, proyek juga mendukung kegiatan patroli pengamanan hutan berbasis SMART oleh Balai TNBS. Sebelum pelaksanaan patroli dilakukan briefing persiapan patroli dengan narasumber ZSL. Dalam rapat persiapan tersebut ZSL memaparkan teknik pelaksanaan patroli berbasis SMART guna mengoptimalkan dukungan dari proyek.

Kegiatan Patroli berbasis SMART yang selama ini dilaksanakan adalah patroli TPPU (Tiger Protection Patrol Unit) yang dikelola oleh ZSL dengan melibatkan beberapa petugas Polhut TNBS.

@SumatranTigerID

Indonesia Peringati Hari Konservasi Alam Nasional

Indonesia memeringati Hari Konservasi Alam Nasional (HKAN) hari ini, Kamis, 10 Agustus 2017 . Puncak acara HKAN yang bertema “Konservasi Alam, Konservasi Kita” ini akan diselenggarakan di Taman Nasional (TN) Baluran Situbondo dan Festival Taman Nasional/Taman Wisata Alam (TWA) di Banyuwangi, Provinsi Jawa Timur pada tanggal 8-13 Agustus 2017.

Peringatan HKAN merupakan kampanye gerakan konservasi alam untuk meningkatkan kesadaran pentingnya konservasi alam, dan menumbuhkan peran publik dalam menyelamatkan keanekaragamanan hayati, kawasan konservasi dan lingkungan hidup.

“HKAN 2017 bermakna bahwa konservasi alam itu pada hakikatnya adalah untuk kehidupan umat manusia serta makhluk hidup lainnya, sehingga diharapkan konservasi alam dapat menjadi budaya bangsa Indonesia,” ujar Is Mugiono, Direktur Pemanfaatan Jasa Lingkungan Hutan Konservasi (PJLHK) Kementerian LHK.

Peringatan HKAN 2017 juga akan diperingati oleh Unit Pelaksana Teknis (UPT) Direktorat Jenderal KSDAE di seluruh Indonesia.

Terkait penentuan lokasi puncak HKAN 2017 di Taman Nasional Baluran, menurut Is Mugiono dikarenakan TN Baluran merupakan salah satu dari lima TN pertama yang dibentuk di Indonesia, dan memiliki ekosistem savana dan satwa yang khas sehingga dijuluki “Little Africa van Java”.

Sejak ditetapkannya HKAN oleh Presiden RI melalui Keputusan Presiden Nomor 22 Tahun 2009. KLHK telah rutin menyelenggarakan dan mengembangkan peringatan HKAN.

Pada tahun 2014, HKAN mulai dilaksanakan di alam terbuka yaitu di TN Gunung Halimun-Salak, selanjutnya tahun 2015 di TN Ujung Kulon, dan terakhir tahun lalu di TN Bali Barat.

Selain Workshop di Jakarta, peringatan HKAN 2017 akan dimeriahkan dengan berbagai kegiatan yang dapat diikuti oleh masyarakat dan pelajar antara lain, pemberian penghargaan kepada para penggiat konservasi alam, Pameran Konservasi Alam, Jambore Nasional Konservasi Alam, Buyan Jungle Run, Bersih Pantai dan Penanaman Mangrove, Nonton Bareng Film “Bumiku”, serta Sepeda Jelajah Nusantara.

Sumber: Jaringan Pemberitaan Pemerintah

Inilah Sejarah World Tiger Day

Hari Harimau Dunia atau World Tiger Day diperingati setiap tanggal 29 Juli. Peringatan ini bertujuan untuk meningkatkan kesadaran akan konservasi harimau di seluruh dunia.

Peringatan ini dimulai pada tahun 2010 bersamaan dengan Saint Petersburg Tiger Summit di Rusia. Para ahli menyadari bahwa ancaman terhadap eksistensi harimau semakin tinggi. Berbagai organisasi penyelamat binatang bersatu padu dan menggalang dana guna menyelamatkan spesies yang cantik ini.

Tujuan peringatan Global Tiger Day adalah memastikan harimau mendapat perlindungan yang layak dan habitatnya semakin luas, tidak sebaliknya. Hal ini hanya bisa terwujud jika dunia menyadari pentingnya konservasi harimau.

Populasi harimau terus menurun akibat berbagai faktor diantaranya adalah akibat dampak perubahan iklim, perburuan liar dan urbanisasi (di Indonesia termasuk deforestasi atau penggundulan hutan).

Urbanisasi dan deforestasi memicu alih fungsi lahan sehingga habitat harimau semakin sempit dan mangsa semakin langka. Hal ini memicu terjadinya konflik antara harimau dan manusia. Harimau keluar dari habitatnya yang semakin rusak dan mencari mangsa di wilayah penduduk terdekat. Perburuan liar dan perdagangan organ-organ tubuh harimau masih terus berlangsung dipicu oleh mitos yang salah, yang menganggap bagian tubuh harimau bisa dikonsumsi sebagai makanan penambah vitalitas.

Ancaman perubahan iklim juga memicu penurunan habitat harimau. Kenaikan permukaan air laut mengancam kelestarian hutan dan habitat harimau di seluruh dunia. Beberapa laporan memerkirakan bahwa harimau akan musnah hanya dalam waktu 15 tahun.

Sumber: World Tiger Day

 

Sumatran Tiger Dukung Kemah Konservasi

Unit implementasi proyek (PIU) Sumatran Tiger di Bukit Barisan Selatan selenggarakan rapat koordinasi perdana yang dihadiri oleh staf Balai Besar Taman Nasional Bukit Barisan Selatan dengan mitra lembaga swadaya masyarakat dan instansi terkait pada 18 Maret 2017.

Rapat koordinasi ini dilaksanakan berkenaan dengan pelaksanaan Kemah Konservasi di Bandar Lampung pada tanggal 31 Maret sampai 2 April 2017 di Sekolah Usaha Perikanan Menengah Negeri Kotaagung, Kabupaten Tanggamus, Provinsi Lampung.

Rapat koordinasi ini ditindaklanjuti melalui rapat pada 20 Maret 2017 di Ruang Rapat Balai Besar TNBBS yang dihadiri oleh 13 orang yang terdiri dari 11 orang dari TNBBS dan 2 orang dari Tiger Project.

Rapat koordinasi dengan mitra NGO dilaksanakan sehari setelahnya pada 21 Maret 2017 yang dihadiri oleh pihak TN BBS (8 orang) UNILA PILI (2 orang), WWF (2 orang), WCS 2 orang, RPU YABI (1 orang) dan Tiger Project (2 orang).

Semua mitra mendukung kegiatan Kemah Konservasi yang berlangsung sukses tersebut. Sebanyak 328 kader konservasi turut serta dalam acara yang dihadiri oleh Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Ibu Siti Nurbaya.

Kemah Konservasi ini bertujuan untuk meningkatkan rasa cinta terhadap aksi konservasi terutama aksi pelestarian harimau sumatera. Kemah ini juga menjadi media pendidikan lingkungan. Dalam kemah ini juga dikampanyekan dan disosialisasikan upaya pelestarian TNBBS untuk menjadi habitat terbaik harimau sumatera di dunia.

Kemah Konservasi kali ini bersamaan dengan Hari Bhakti Rimbawan ke-34 2017 serta merayakan Hari Hutan Internasional sebagai momentum penyadartahuan hutan sebagai bagian penting bagi kehidupan.

@SumatranTigerID

Sumatran Tiger Gelar Pelatihan Penyegaran METT

Dalam upaya mendukung upaya Ditjen KSDAE dan selaras dengan output proyek, di kuartal I Project Management Unit (PMU) Sumatran Tiger bersama dengan Direktorat Kawasan Konservasi mengadakan Pelatihan Penyegaran para fasilitator METT dan sekaligus membahas perbaikan Panduan Penilain Efektivitas Kawasan Konservasi di Indonesia (Indonesia tailored METT) yang akan digunakan secara luas di Indonesia. Kegiatan dilakukan di Resort Jambul Luwuk – Bogor selama 4 hari di Maret 2017.

Pelatihan ini dihadiri sekitar 30 orang yang merupakan fasilitator yang pernah dilatih sebelumnya, yang berasal baik dari Ditjen KSDAE; Mitra LSM (FFI; WCS; FHK); perguruan tinggi (IPB; UNAND; Univ Gorontalo; Universitas Papua); dan proyek lainnya (GIZ Forclime; USAID Lestari). Dalam menjalankan kegiatan ini, proyek bekerja sama dengan beberapa lembaga, yakni Direktorat Kawasan Konservasi; USAID-LESTARI; GIZ FORCLIME; dan WCS berupa sharing pembiayaan sebagaimana disepakati dalam rapat-rapat pembahasan sebelumnya.

Kelompok Fasilitator METT dibentuk melalui SK Direktur Kawasan Konservasi Nomor SK.27/KK/PPKK.1/5/2016. Pelatihan ini dilakukan di kuartal I tahun 2017.

Kelompok Fasilitator ini telah dipersiapkan sejak tahun 2015 untuk mendukung kebiijakan KSDAE dalam meningkatkan efektivitas pengelolaan kawasan konservasi menggunakan alat METT.

Guna meningkatkan kapasitas fasilitator, Ditjen KSDAE bersama mitranya telah menghadirkan Vice Chair World Commission on Protected Area (WCPA) sekaligus salah satu author METT, Prof Marc Hocking (Queensland University).

Pada kesempatan tersebut sekaligus dibahas dokumen Penyempurnaan Panduan Penilaian Efektivitas Kawasan Konservasi di Indonesia (Indonesia tailored METT) dan akan segera dilanjutkan proses penerbitannya.

@SumatranTigerID

Inception Workshop Berlangsung Sukses

Salah satu milestone proyek Sumatran Tiger di kuartal I adalah penyelenggaraan Inception Workshop pada tanggal 27-28 Februari 2017. Tujuan dari pertemuan ini adalah untuk memperkenalkan proyek kepada semua pemangku kepentingan sehingga muncul rasa memiliki dan turut bertanggung jawab dalam mencapai suksesnya tujuan.

Selain itu pertemuan bertujuan melihat kembali dan mendiskusikan Logical framework proyek serta mengusulkan perubahan-perubahan yang diperlukan akibat adanya perbedaan kondisi terkini dengan saat penyusunan dokumen proyek.

Inception workshop dilakukan dan diawali dengan “kick off” proyek yang dilakukan oleh Sekretaris Ditjen KSDAE mewakili pemerintah. Hadir dalam acara ini sejumlah lembaga pemerintah, mitra LSM, perguruan tinggi, media massa dan UNDP Regional Office – Bangkok.

Tidak terdapat usulan perubahan Logical framework proyek, namun penambahan informasi mengenai kondisi terkini capaian-capaian indikator proyek yang diharapkan dapat digunakan dalam monitoring dan evaluasi keberhasilan proyek saat Mid-term Review.

Perubahan kondisi ini terjadi karena ada kesenjangan waktu cukup signifikan saat proyek disusun sejak tahun 2012 hingaa disahkan pada tahun 2016. Secara khusus laporan Inception Workshop disajikan tersendiri sesuai dengan mekanisme yang ada.

@SumatranTigerID

Page 2 of 212