19 Personil Dilatih Pantau Populasi Harimau Sumatera

Balai Besar Taman Nasional Kerinci Seblat (BBTNKS) bekerjasama dengan Pusat Diklat SDM Lingkungan Hidup dan Kehutanan, serta didukung oleh Sumatran Tiger Project,  menyelenggarakan “Pelatihan Pemantauan Populasi Harimau Sumatera”, kepada personil pengelola kawasan konservasi dan mitranya. Kegiatan ini dilaksanakan pada tanggal 8 – 13 Oktober 2018, di Kota Sungai Penuh Provinsi Jambi. Sebanyak 19 peserta yang mengikuti pelatihan berasal dari Balai Besar TN Kerinci Seblat, Balai Besar TN Gunung Leuser, Balai Besar TN Bukit Barisan Selatan, Balai Besar KSDA Sumatera Utara, Balai KSDA Jambi, Balai KSDA Bengkulu – Lampung, KPH Lampung, KPHP Unit 1 Kerinci, PT. Supreme Energy Muara Labuh, Pusat Rehabilitasi Harimau Sumatera Dharmasraya (PR-HSD), Fakultas MIPA Universitas Andalas, Fakultas Kehutanan Universitas Muhammadiyah Sumatera Barat, Fakultas Kehutanan Universitas Jambi, dan Institution  Conservation Society – ICS.

Pelatihan ini dilaksanakan berdasarkan Peraturan Direktur Jenderal Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem Nomor : P. 11/KSDAE/SET/KUM./11/2017 tentang Pedoman Pemantauan Populasi Harimau Sumatera Direktur Jenderal Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem, dengan mengacu kurikulum PUSDIKLAT KLHK sesuai Keputusan Kapusdiklat SDM LHK Nomor : SK. 5/Dik/PEPE/Dik-2/1/2018 tentang Kurikulum Pelatihan Pemantauan Populasi Harimau Sumatera, dengan materi: Kebijakan KLHK dalam konservasi harimau sumatera, Nilai penting konservasi harimau sumatera, Bioekologi harimau sumatera, Pengenalan pemantauan dan kamera penjebak, Desain survei, Basis data dan pengelolaan data, Metode pemantauan populasi (okupansi & kepadatan populasi), Pelaksanaan pendugaan dan pemantauan harimau sumatera, serta penyusunan rencana aksi.

Dalam sambutan pembuka, mewakili Kepala BBTNKS, Agusman, S.P, M.Sc., menyampaikan salah satu indikator kinerja utama Ditjen KSDAE – KLHK adalah meningkatnya populasi 25 spesies satwa dilindungi prioritas, termasuk didalamnya satwa harimau sumatera. Saat ini, untuk melakukan pemantauan populasi harimau sumatera, kita belum memiliki metodologi yang seragam, baik dikarenakan kesenjangan pengetahuan dan pemahaman, keterbatasan sumber daya manusia ataupun hal lainnya. Pelatihan ini penting sekali dilaksanakan, dan kita berterimakasih kepada Sumatran Tiger Project yang dapat memfasilitasi pelatihan ini.

Tim Pengajar dalam pelatihan ini berasal dari PUSDIK SDM LHK dan Para pihak lain yang relevan dengan materi yang diajarkan, yaitu: Dr. Ir. Novianto Bambang W, M.Si dan Ir. Waldemar Hasiholan, M.Si., Irene Margareth R. Pinondang – SINTAS Indonesia, Wido R. Albert – FFI IP dan Tomi Ariyanto – ZSL IP.

Di akhir kegiatan, Ir. Rusman, selaku Kepala Bidang Teknis Konservasi BBTNKS meminta kepada seluruh peserta yang merupakan perwakilan dari 14 institusi/lembaga ini, untuk dapat mengembangkan pengetahuan yang telah diperoleh. “Melalui kegiatan Pelatihan Pemantauan Populasi Harimau Sumatera, diharapkan peserta dapat melakukan perencanaan survei dan monitoring, menganalisa data dan memberikan rekomendasi pengelolaan terkait konservasi harimau sumatera”, pesannya.

@RonaldSiagian

TNKS Lakukan Sosialisasi di Sekolah Polisi Negara

Proyek Sumatran Tiger hari ini, Jum’at, 21 September mendukung Balai Besar Taman Nasional Kerinci Seblat melakukan sosialisasi “Perlindungan Keanekaragaman Hayati dan Pengenalan Kawasan Taman Nasional Kerinci Seblat” kepada Siswa Sekolah Polisi Negara (SPN) Bukit Kaba – Polda Bengkulu di Curup, Kabupaten Rejang Lebong, Provinsi Bengkulu.

Kepala Sekolah Polisi Negara (SPN) Bukit Kaba Polda Bengkulu, AKBP Abdul Muis, S.I.K menyatakan, “Sosialisasi Perlindungan Keanekaragaman Hayati dan Pengenalan Kawasan Taman Nasional Kerinci Seblat kepada siswa akan sangat efektif karena pengetahuan tersebut akan menyebar ke seluruh wilayah Provinsi Bengkulu.

“Siswa sejak awal sudah mendapatkan pengenalan dan akan ditempatkan di sejumlah bagian, termasuk Reskrimsus. Mereka menjadi tidak asing lagi dengan isu perlindungan keanekaragaman hayati dan Kawasan Taman Nasional Kerinci Seblat,” tuturnya.

Sebanyak 45 orang petugas/personil SPN dan 125 siswa SPN hadir dalam acara sosialisasi ini. Kepala Sekolah Polisi Negara menyambut hangat sosialisasi ini dan berharap bisa dilakukan berkelanjutan setiap tahunnya di SPN.

Kepala Balai Besar TNKS, Tamen Sitorus, di tempat terpisah juga mendukung rencana pelaksanaan sosialisasi secara berkelanjutan. “Kita sama-sama menjalankan undang-undang, dan perlu bersinergi ke depannya,”tuturnya.

Sosialisasi perlindungan keanekaragaman hayati dan pengenalan kawasan Taman Nasional Kerinci Seblat juga dilaksanakan di PT. Supreme Energy Muara Laboh, Kabupaten Solok Selatan, Provinsi Sumatera Barat dengan peserta 40 orang dan di PT. Brantas Abipraya – PLTMH Muaro Sako, Kabupaten Pesisir Selatan, Provinsi Sumatera Barat dengan peserta 40 orang. Kegiatan berlangsung sesuai agenda dan mendapatkan sambutan hangat dari Kepala SPN. Kedua pimpinan perusahaan juga memberikan apresiasi kepada TNKS yang telah menginisiasi kegiatan ini.

@SumatranTiger

Tim Patroli TNKS Kembali Berprestasi

Tim patroli Balai Besar Taman Nasional Kerinci Seblat kembali menunjukkan prestasinya. Bekerja sama Kepolisian Resort Mukomuko, Provinsi Bengkulu, tim patroli berhasil melakukan penangkapan terhadap pelaku perburuan dan perdagangan harimau sumatera pada hari Rabu, tanggal 5 September 2018 di jalan lintas Bengkulu – Padang, Desa Bunga Tanjung, Kecamatan Teramang Jaya, Kabupaten Mukomuko.

Bulan lalu pada tanggal 14 Agustus, tim yang sama juga berhasil menangkap 2 pelaku di Jalan Lintas Bangko – Kerinci, Desa Pulau Rengas, Kecamatan Merangin, Provinsi Jambi.

Tersangka yang ditangkap bulan ini bernama Heri alias Ujang warga Desa Bunga Tanjung. Barang bukti yang diamankan dari pelaku berupa satu (1) lembar kulit harimau Sumatera dengan panjang 135 cm beserta tulang-belulang seberat 4 kg.

Harimau sumatera memiliki nilai penting dalam menjaga ekosistem hutan, diantaranya sebagai satwa predator penyeimbang populasi satwa-satwa yang lain. Dengan kata lain, melindungi harimau dapat melindungi hutan dan keanekaragaman hayati yang ada di dalamnya.

Kepala Balai Besar TNKS, Drs. Tamen Sitorus, M.Sc., mengungkapkan, TNKS merupakan salah satu lokasi habitat harimau sumatera yang diharapkan menjadi tempat pelestarian populasi harimau sumatera di Indonesia.

“Apabila perdagangan harimau terus terjadi di sekitar wilayah TNKS, ini akan menjadi kerugian bagi masyarakat yang tinggal di sekitar kawasan TNKS khususnya, dan masyarakat Sumatera pada umumnya.” ujar Tamen. “Oleh sebab itu, saya meminta dukungan kepada seluruh masyarakat dan para pihak terkait untuk bersama-sama melestarikan satwa yang terancam punah dan dilindungi undang-undang ini,” tambahnya lagi.

@SumatranTigerID

BBTNKS Undang ‘Stakeholders’, Sinkronisasi Rencana Kerja 2018

Sungai Penuh, 9 November 2017 – Balai Besar Taman Nasional Kerinci Seblat duduk bersama dengan para pemangku kepentingan (stakeholders) guna membahas sinkronisasi rencana kerja di 2018.

Stakeholders dimaksud dalam hal ini adalah: pemerintahan daerah yang dihadiri oleh BPDAS HL Agam Kuantan; Perusahaan-perusahaan, yaitu PT. Tidar Kerinci Agung (TKA) di Bungo, PT. Supreme Energy Muara Labuh, PT. Tirta Sakti (PDAM) di Kerinci dan PT. Pertamina Geothermal Energy di Lempur; akademisi/ahli dari Universitas Andalas; proyek-proyek konservasi di Kawasan TNKS, yaitu Sumatran Tiger dan FP II (KfW); LSM FFI; LSM ICS di Solok Selatan; serta LSM Lingkar Institut di Bengkulu.

Pertemuan ini berlangsung selama 2 hari yaitu tanggal 8-9 November 2017, di Kota Sungai Penuh. Agenda hari pertama adalah pemaparan program kerja tahun 2018 dari semua peserta undangan, sedangkan agenda hari kedua adalah sinkronisasi rencana kerja tersebut. Sumber dana operasional kegiatan ini adalah Hibah Luar Negeri Proyek Transforming Effectiveness of Biodiversity Conservation in Sumatera Priority Landscapes (proyek Sumatran Tiger).

Sinkronisasi Rencana Kerja Tahun 2018 antara BBTNKS dengan stakeholders yang beraktivitas di dalam dan di sekitar kawasan TNKS memberikan manfaat tersendiri bagi pengelola kawasan TNKS.

Bagian penting yang menjadi tujuan pertemuan ini adalah untuk menghindari tumpang tindih program yang dapat mengakibatkan tidakefektifan. Program kerja yang dimiliki stakeholders BBTNKS diharapkan akan semakin menguatkan pengelolaan kawasan taman nasional. Hasil sinkronisasi rencana kerja tahun 2018 akan digunakan sebagai bahan/materi dalam pembuatan Dokumen Rencana Kerja Tahun 2018 BBTNKS.

Pelestarian kawasan konservasi merupakan tanggung jawab seluruh pihak, baik pengelola maupun para pihak yang menggunakan jasa lingkungan dari kawasan konservasi tersebut.

Pertemuan ini juga memberikan manfaat tersendiri bagi stakeholders yang diundang, sekaligus membuka wawasan terhadap upaya-upaya konservasi apa saja yang dapat diprogramkan di dalam dan di sekitar kawasan TNKS.

Dalam hal ini TNKS berharap untuk kedepannya akan semakin banyak mitra yang membuat program-program konservasi yang dilaksanakan khususnya di sekitar kawasan TNKS, semata-mata bagi pelestarian kawasan Taman Nasional Kerinci Seblat dan keanekaragaman hayati di dalamnya.

@SumatranTigerID

Proyek Dukung Patroli Rimba Berbasis SMART di TNKS

Kawasan TNKS dengan luasan 1,389 juta ha terletak di 4 provinsi berpotensi menghadapi tekanan (gangguan) berupa pengambilan dan perburuan tumbuhan dan satwa liar, penebangan, pembukaan lahan dan pertambangan. Selain itu, pemantauan keanekaragaman hayati dan fitur alam di dalam kawasan TNKS juga perlu dilakukan secara berkelanjutan.

Guna menekan ancaman dan melakukan pemantauan potensi sumber daya alam di Taman Nasional Kerinci Seblat, proyek Sumatran Tiger mendukung pelaksanaan patroli rimba pada tanggal 29 September, di Seksi PTN Wilayah IV Sangir, Kabupaten Solok Selatan, Provinsi Sumatera Barat.

Balai Besar TNKS (BBTNKS) melibatkan masyarakat melalui pengangkatan anggota masyarakat di sekitar kawasan TNKS sebagai Masyarakat Mitra Polhut (MMP). Langkah ini menjadi alternatif bagi pengelola (BBTNKS) untuk memaksimalkan pengamanan kawasan.

Patroli rimba ini dilakukan oleh anggota Polisi Kehutanan di Seksi Pengelolaan TN Wilayah IV Sangir, MMP Resor Sungai Lambai dan MMP Resor Batang Suliti. Patroli ini targetnya dilaksanakan hingga ke zona inti kawasan TNKS. Petugas/tim akan menggunakan sistem camp berpindah dari satu titik ke titik lainnya di dalam hutan dan keluar di lokasi yang berbeda untuk memperluas wilayah patroli.

SMART (Spatial Monitoring and Reporting Tool) merupakan sistem pengelolaan data kegiatan lapangan yang bermanfaat untuk mengukur serta meningkatkan kinerja pengelolaan dalam mencapai tujuan-tujuan pengelolaan. Patroli rimba di Seksi PTN Wilayah IV Sangir dilaksanakan menggunakan sistem SMART untuk perekaman dan pengolahan data/informasi dari hasil patroli.

@SumatranTigerID

Proyek Tiger Gelar Sosialisasi di TNKS

Sebagai langkah awal kegiatan proyek maka dilakukan sosialisasi dan pertemuan koordinasi antara para pihak dimaksud untuk membangun komunikasi, menyamakan persepsi dan untuk mensinergikan kegiatan-kegiatan konservasi keanekaragaman hayati yang ada di lanskap Taman Nasional Kerinci Seblat (TNKS).

Kondisi harimau terkini berdasarkan hasil monitoring harimau dan satwa mangsanya di core area harimau TNKS, serta kunci sukses penegakan hukum kasus-kasus kejahatan satwa liar juga didiskusikan dalam kegiatan sosialisasi dan pertemuan koordinasi proyek tersebut. Pertemuan ini dilaksanakan pada tanggal 28 April 2017 di Hotel Odua Weston Jambi, Kota Jambi.

Kemitraan tingkat lanskap terkait dengan kasus perdagangan satwa liar illegal selanjutnya diharapkan dapat dikembangkan dan dioperasikan di lanskap TNKS. Metode penyampaian materi sosialisasi dilakukan secara lisan menggunakan alat bantu proyektor dan dilanjutkan dengan sesi diskusi dan tanya jawab yang diarahkan oleh moderator.

Dalam pertemuan ini disampaikan paparan mengenai proyek Transforming Effectiveness of Biodiversity Conservation in Priority Sumatran Landscapes oleh Bapak Rudijanta selaku National Project Manager (NPM) GEF-Tiger. Bapak Ir. Rusman selaku Kabid. Teknis konservasi BBTNKS menyampaikan pengelolaan kawasan taman nasional berkaitan dengan pelestarian satwa liar dilindungi. Sementara paparan kondisi harimau di core area harimau dan permasalahannya disampaikan oleh tim Fauna dan Flora Internasional (FFI), tim program Pelestarian Harimau Sumatera Kerinci Seblat (PHSKS) dan tim program Monitoring Harimau Sumatera Kerinci Seblat (MHSKS).

Bapak Krismanko Padang sebagai narasumber dari Balai KSDA Provinsi Jambi menyampaikan paparan kunci sukses penegakan hukum atas kasus kejahatan tumbuhan dan satwa liar dilindungi.

Secara keseluruhan kegiatan ini berjalan dengan baik dan sesuai dengan apa yang telah direncanakan. Pengamanan kawasan hutan sebagai habitat satwa liar, pelestarian biodiversity, serta penegakan hukum kasus kejahatan tumbuhan dan satwa liar dilindungi di dalam dan sekitar kawasan TNKS membutuhkan kerjasama antar stakeholder, sehingga tidak dapat berjalan sendiri-sendiri.

Diperlukan komunikasi yang baik agar terjalin sinergitas antara pengelola TNKS, Gakkum, BKSDA, Dinas Kehutaan, Polri dan juga NGO/LSM.

Tujuan dan sasaran proyek tersampaikan dengan baik dan antusiasme peserta dalam mendukung proyek Sumatran Tiger cukup tinggi, terlihat dari keinginan peserta untuk dapat dilibatkan dalam implementasi proyek.

@SumatranTigerID